Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Di mulai
Di dalam kamar Nova berdiri di depan jendela, ia membukanya dan merasakan udara dingin yang berhembus menerpa kulitnya. Rambutnya sedikit berkibar, di taman ia melihat seorang gadis berjubah biru sedang menatap ke arahnya, tak lama setelah Nova melihat ke arahnya gadis itu pergi bersama dua gadis lainnya.
“Menarik sekali,” gumamnya.
Kemudian Nova menutup jendela, lalu ia duduk bersila, punggungnya tegak napasnya mulai teratur, matanya perlahan terpejam. Fluktuasi energi di sekitar Eldoria mulai tersedot ke kamarnya, membuat semua orang yang merasakan itu menjadi heran, termasuk tetua Silas.
“Apa yang terjadi? Kenapa hawa disini seketika berubah drastis?” ucapnya sambil memindai ke sekitarnya.
Fluktuasi energi di sekitarnya mengalir ke satu titik, dimana tempat itu adalah ruang peristirahatan dari anggota The Grifindor. Tuan Silas dan beberapa pengawal nya langsung menuju ke arah ruang peristirahatan Nova dan yang lainnya.
Begitu mereka sampai, fluktuasi energi di tempat itu sangat besar sehingga tetua Silas sangat takjub.
“Apakah energi ini berasal dari anak itu?”
Tak berselang lama Gonor dan Nona Zoya keluar saat merasakan kehadiran tetua Silas dan yang lainnya.
“Tetua juga merasakannya?” tanya Nona Zoya.
Tetua Silas mengangguk.
“Anak itu, bukan anak yang biasa. Energi sebesar ini tidak bisa di serap oleh sembarangan orang, bahkan diriku saja belum tentu bisa melakukannya.”
Area itu tiba-tiba menjadi ramai, nyaris semua petinggi ada disana termasuk para pemudanya. Mereka semua berkumpul dan bertanya, siapa yang sedang melakukan meditasi dan menyerap energi besar yang hanya bisa di lakukan oleh orang setingkat tetua.
Helios yang berada disana maju mendekat dengan dagu yang sedikit terangkat, dengan angkuhnya ia berkata.
“Ini hanya trik biasa, semua orang bisa melakukannya,” ucapnya sambil menatap ke arah Nona Zoya.
Nona Zoya yang merasa anggotanya sedang di rendahkan, tak terima dengan ucapan Helios itu sehingga auranya melonjak tinggi, membuat semua orang terkejut, Helios tak menyangka aura Nona Zoya meningkat drastis meskipun belum mencapai puncaknya.
Berbeda dari pertemuan sebelumnya, aura Nona Zoya tak sebesar itu, tapi kali ini. Helios dan yang lainnya sangat terkejut saat melihat lonjakan energi dari tubuh Nona Zoya nyaris mencapai puncaknya.
“Nona Zoya, hentikan itu!” tetua Silas langsung menengahi, Helios sampai terdorong beberapa meter karena tekanan dari tetua Silas.
Nona Zoya langsung menarik auranya. Begitupun dengan Helios.
Di tengah kegaduhan itu, sosok yang menjadi pemicu keributan itu keluar dari balik pintu, dan berjalan dengan santainya.
“Ada apa ini?” tanya dia dengan polosnya.
Semua orang langsung menatap ke arahnya. Nova terdiam sejenak, kemudian ia menyadari bahwa semua orang berkumpul disini karena dirinya sedang meningkatkan kultivasi jiwanya.
“Ahh, maaf ini semua pasti karena aku,” lanjutnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Ethan dan yang lainnya hanya bisa menahan tawanya, terlebih ekspresi Helios dan Amond, berubah menjadi muram karena merasa sedang di permainkan.
Tetua Silas mendekat, sambil menepuk pundak Nova.
“Kau sangat berbakat nak. Baiklah, kalau begitu setelah pengujian tingkat selesai, datang temui aku..” ucapnya sembari tersenyum, kemudian ia menatap semua orang satu persatu. “Semuanya bubar, dan beristirahatlah, karena besok pengujian tingkat di mulai pagi sekali.”
Di sudut lain, Nona Seraphine menatap Nova dengan penuh kekaguman. Sebelum dia membalikan tubuhnya, ia menyunggingkan senyum saat Nova melihat tepat ke arahnya.
Sementara Nova hanya mengangguk pelan sebagai respon. “Itu gadis yang tadi, cukup cantik,” batinnya.
Calista yang menyadari itu, hanya bisa mendengus kesal saat Nova melempar senyum ke arah Nona Seraphine.
Nona Zoya dan Gonor langsung memberi arahan kepada Ethan dan yang lainnya untuk segera beristirahat dan membiarkan Nova bersama keduanya.
“Nova, apa yang sebenarnya sedang kau lakukan tadi?” tanyanya dengan sorot mata yang di penuhi rasa keingintahuan.
Nova mengusap kepalanya sesaat.
“Hanya sedang memulihkan energiku, Nona. Aku tidak menyangka jika meditasiku mengakibatkan kegaduhan, maaf.”
Nona Zoya tersenyum.
“Sudahlah, lebih baik sekarang kau istirahat.”
Setelah itu Nova kembali ke dalam kamarnya, sementara Nona Zoya dan Gonor masih berada di ruang santai.
“Gonor, aku yakin kekuatan dia tidak biasa. Bahkan aku saja ragu untuk mencoba melawan anak itu,” ucapnya.
Gonor mengangguk pelan.
“Jika Nona ragu, maka bagaimana denganku? Menatap matanya saja aku merasakan tekanan yang tak biasa.”
Keduanya kembali diam dan tenggelam di dalam pikirannya masing-masing.
***
Pagi hari setelah matahari terbit setengah dari balik gunung, semua orang sudah berkumpul di halaman belakang yang cukup luas. Nyaris seukuran lapangan sepak bola, mereka berjajar sesuai warna jubah manor mereka masing-masing.
Tetua Silas berdiri di atas sebuah podium bersama para petinggi, termasuk Nona Zoya. Aura tetua Silas begitu besar sehingga membuat semua orang dapat merasakannya.
“Baiklah, pengujian tingkat tahun ini akan segera dimulai...” ucapnya sengaja menjeda kalimatnya sambil memperhatikan semua pemuda yang akan mengikuti pengujian ini, “Peraturannya cukup sederhana, tim siapa yang lebih dulu sampai menuju puncak gunung, tepatnya kuil keabadian akan menjadi pemenang dan mendapatkan apresiasi serta hadiah yang menjanjikan, tentunya.”
Semua pemuda yang ada disana besorak gembira, namun berbeda dengan Nova ia tak menunjukan reaksi yang terlalu berlebihan.
Semua orang menyiapkan barang mereka masing-masing, dari persediaan dan tenda serta pakaian ganti. Hanya Nova yang tak terlihat membawa satupun perlengkapan.
“Lihat bocah itu, dia pikir ajang ini untuk bermain-main saja, bahkan dia tak terlihat menyiapkan apapun,” ucap Amond sambil menatap ke arah Nova yang berdiri di samping Ethan.
Pemuda yang lainnya berpendapat sama dengan Amond, mereka bahkan tak segan mengejek Nova dan teman-temannya.
Sementara Nova hanya bersikap tenang, orang-orang tidak tahu saja bahwa ia memiliki penyimpanan tak terbatas di dalam gelang dimensi yang ia pakai.
“Nova, apa kau yakin hanya membawa tas kecil itu saja?” tanya Ethan.
Nova mengangguk yakin.
“Tentu saja, aku sudah menyiapkannya disini.” jawab Noba sambil menepuk tas gendong kecilnya yang terlihat kosong dan tak berisi.
Calista dan yang lainnya hanya mendengarkan saja, percakapan di antara keduanya itu. Kemudian mereka fokus kembali mendengarkan aturan dari para petinggi dan tetua Silas.
“Baiklah, anak-anak. Selama perjalanan kalian, ada beberapa sumber daya yang tersembunyi, serta poin penting yang akan menjadi penentu kemenangan kalian nanti, gunakan kemampuan kalian selama ajang ini berlangsung, dan ingat. Kami tidak menoleransi kecurangan poin, di luar itu kalian bebas...” lanjut tetua Silas. “Kalian boleh saling menguji kekuatan, dan satu lagi, kalian jangan saling membunuh.”
Beberapa pemuda terlihat senang ketika aturan pengujian tingkat di tahun ini sedikit berbeda, akan ada pertarungan sengit dan saling merebut poin.
“Kecurangan apa yang di maksud?” tanya Nova kepada Ethan.
Ethan menoleh sekilas lalu menjelaskan.
“Maksudnya adalah, kita dilarang mencuri hasil poin yang di dapat tim lain. Misal saat semua orang sedang beristirahat, kita di larang mencuri poin dari mereka, jika saling merebut saat di perjalanan itu baru di perbolehkan.”
Nova mengangguk paham, peraturan itu tidak terlalu rumit baginya dan cukup mudah.