NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Ruangan makan yang luas dan megah itu terasa jauh lebih tenang dari yang diperkirakan. Hanya ada Nenek Xin, Kakek Xin, dan dirinya yang duduk di sekitar meja makan panjang yang dihiasi bunga segar.

Xin Fuyang, Huo Feilin, maupun Xin Yuning tampaknya masih sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak turun untuk makan malam.

Bagi Xin Yi, suasana hening seperti ini justru jauh lebih nyaman. Tidak ada tatapan tajam, tidak ada sindiran halus, dan tidak ada rasa canggung yang mencekik.

"Nak, ini bebek merah kesukaan Nenek, pasti kamu juga suka. Makan yang banyak ya, biar cepat gemuk dan putih," kata Nenek Xin antusias, menaruh sepotong daging bebek berwarna merah mengkilap ke dalam mangkuk Xin Yi.

Tak mau kalah, Kakek Xin juga ikut menyodorkan piring berisi sayuran hijau dan menuang semangkuk kecil sup bening yang masih mengepulkan uap hangat.

"Makan sayur juga, supaya tanganmu cepat sembuh dan badannya sehat," ujar lelaki tua itu lembut.

Xin Yi menatap tumpukan makanan di mangkuknya. Perhatian mereka begitu tulus, begitu hangat, dan melimpah ruah. Dinding es yang selama ini membeku di hatinya perlahan mulai mencair sedikit.

Setidaknya, di rumah asing ini, ada dua orang tua yang benar-benar menyayanginya tanpa syarat.

"Jangan sungkan, Xin Yi," kata Kakek Xin sambil tersenyum lembut. "Anggap saja ini rumahmu sendiri. Kita adalah keluarga, darah daging sendiri. Tidak perlu ada jarak."

"Benar," sambung Nenek Xin sambil mengelus punggung tangan cucunya yang sudah dibalut perban rapi. "Mulai hari ini, hidupmu harus bahagia. Tidak perlu susah-susah lagi seperti dulu."

Xin Yi mengangguk patuh. "Terima kasih, Nek, Kek."

Ia mulai menyantap makanan itu perlahan. Rasanya sangat lezat, jauh lebih enak dari masakan sehari-harinya. Namun, di dalam hatinya, gadis itu memiliki pemikiran sendiri.

Hidup bahagia?

Ia tidak menyangkal bahwa hidup di sini akan mudah, penuh kemewahan, dan tidak perlu khawatir soal makan atau uang. Tapi... apakah itu definisi bahagia bagi semua orang?

Bagi Xin Yi, hidup di pulau kecil itu meski penuh kekurangan, tangan kasar, dan harus bekerja keras... justru terasa sangat bebas dan menyenangkan. Ia bisa pergi ke mana saja, bernapas dengan lega, tertawa bersama tetangga, dan merasa damai dengan alam.

Kata 'bahagia' versi Nenek mungkin adalah kemewahan dan kenyamanan yang dia dapatkan disini. Tapi versi Xin Yi... bahagia itu adalah kebebasan yang kini mungkin mulai terenggut darinya.

Namun, ia tak berniat membantah. Ia hanya akan menyimpan pendapatnya sendiri, menikmati makanan lezat ini, dan berterima kasih atas niat baik mereka.

Dua minggu berlalu begitu cepat. Waktu yang singkat namun terasa seperti tahunan bagi Xin Yi yang harus beradaptasi dengan segala kemewahan dan aturan yang kaku di kediaman keluarga Xin.

Hari ini adalah hari pertamanya bersekolah.

Xin Fuyang terlihat sangat antusias—ia sendiri yang mengurus semua administrasi dan biaya sekolah. Ia ingin putrinya mendapatkan pendidikan terbaik, seolah ingin menebus kesalahannya di masa lalu dengan cara membanjirinya kemudahan.

Xin Yi hanya mendengarkan, lalu mengangguk pasif. Tidak ada antusiasme, tidak juga penolakan. Ia hanya menjalani apa yang sudah diatur.

Dan kini, ia duduk di kursi belakang mobil yang sama nyamannya dengan sebelumnya. Mobil melaju mulus meninggalkan gerbang besar kediaman Xin, menuju arah kota.

Yang mengantarnya hari ini bukan ayahnya. Xin Fuyang sedang dalam perjalanan bisnis keluar kota—entah benar-benar urusan kerja atau hanya mencari alasan untuk menghindari momen pengantaran yang canggung. Sementara itu, Huo Feilin dan Xin Yuning... sejak hari kedatangan Xin Yi, mereka seolah menghilang. Mereka memilih tinggal di kediaman keluarga Huo dan belum kembali lagi ke rumah utama.

Xin Yi menyadarinya, tapi ia tidak peduli. Bahkan Kakek dan Nenek Xin pun tampaknya mengerti. Mereka tidak memaksa, tidak membujuk.

Mereka tahu bahwa hati manusia butuh waktu untuk menerima kenyataan pahit, dan memaksanya hanya akan menimbulkan pertengkaran. Biarlah mereka menenangkan diri dulu.

"Kita sampai sebentar lagi, Nona Xin," suara Wang Te memecah keheningan dari kursi depan. Pria itu tetap setia menjadi penghubungnya dengan dunia luar.

"Mm," Xin Yi hanya menjawab dengan gumaman pelan, matanya menatap jalanan kota yang sibuk di luar jendela.

Ia akan masuk ke kelas 12 SMA. Sama seperti saat ia masih di pulau, jadi usianya tidak akan terpaut jauh dengan teman-teman barunya nanti—termasuk dengan sepupunya, Xin Yiran, yang sudah bersekolah di sana lebih dulu.

Sekolah baru... Teman baru... Dunia baru., batin Xin Yi bergumam.

Ia menarik napas panjang, menetralkan detak jantungnya. Tidak ada yang perlu ditakuti. Ia sudah bertahan hidup sendirian di pulau yang keras, apa lagi yang bisa menyakitinya di sini selain rasa dingin dan sikap acuh tak acuh orang-orang?

Mobil mulai memperlambat lajunya, memasuki area gerbang sekolah yang megah dan tertata rapi. Saatnya memulai babak baru dalam kehidupan "putri keluarga Xin" ini.

Di dalam mobil, sebelum turun, Xin Yi menyempatkan diri merapikan penampilannya. Dengan gerakan cepat dan terbiasa, ia mengikat rambut panjangnya yang kini sudah bersih dan berkilau menjadi kuncir kuda tinggi—gaya sederhana yang membuat wajahnya yang bulat dan matanya yang besar terlihat semakin jelas.

Ia mengenakan seragam sekolah dengan sangat rapi: kancing ditutup sempurna, rok disetrika licin, dan dasi diikat dengan presisi. Meskipun baju itu baru dan mahal, cara ia memakainya terlihat kokoh dan tegas, berbeda dengan siswi lain yang mungkin lebih mementingkan gaya.

Tas punggung sederhana digendongnya di bahu. Xin Yi melangkah turun dari mobil dan berjalan mengikuti langkah Wang Te yang berjalan tegap di depannya menuju gedung utama sekolah.

Namun, langkah kakinya seolah menjadi pusat perhatian seluruh area sekolah.

Di sekolah elit ini, hampir semua siswa memiliki kulit putih bersih, perawatan mahal, dan penampilan yang sempurna. Maka, kehadiran Xin Yi dengan warna kulit kecokelatan alami yang terbakar matahari, serta aura yang kuat dan liar, terlihat sangat mencolok—seperti seberkas cahaya gelap di tengah ruangan yang terang benderang.

Bisik-bisik mulai terdengar di mana-mana. Tatapan penasaran, tatapan meremehkan, dan tatapan selidik tertuju padanya.

"Wah, lihat tuh... kulitnya gelap sekali. Seragamnya sama dengan kita tapi kelihatan beda sekali?"

"Mungkin anak angkat? Atau anak pungut dari desa yang tiba-tiba jadi kaya?"

"Lihat mobilnya mahal, dari Keluarga siapa ya? Berarti dia orang penting kan?"

Pikiran-pikiran liar bermunculan. Ada yang menduga dia adalah kerabat jauh yang baru ditemukan, ada yang mengira anak dari selingkuhan yang akhirnya dibawa pulang untuk diakui, dan ada juga bisikan jahat yang mulai menyebar...

"Kelihatan banget kan... anak haram ya? Dulu dibiarin hidup miskin di desa, baru sekarang dijemput buat diakui. Pantesan kulitnya item dan kelihatan kasar gitu."

Xin Yi mendengarnya. Pendengarannya yang tajam karena latihan bela diri menangkap setiap kata meski diucapkan berbisik.

Namun, wajahnya tidak berubah sedikitpun—tidak memerah karena malu, tidak juga menunduk karena takut. Ia tetap berjalan tegak, pandangan lurus ke depan, seolah-olah semua komentar itu hanyalah suara angin lalu yang tak perlu didengarkan.

Bagi orang lain dia mungkin aneh, mungkin rendah, mungkin anak haram... tapi bagi Xin Yi, kulit kecokelatan ini adalah bukti dia hidup bebas di bawah matahari, dan tangan kasar ini adalah bukti dia bisa bertahan hidup tanpa bergantung pada siapa pun.

Ia tidak malu. Justru orang-orang yang berani menilai tanpa tahu apa-apa itulah yang sebenarnya menyedihkan.

Di dalam ruangan kepala sekolah yang ber-AC dingin, Xin Yi duduk dengan tenang di sofa tamu. Punggungnya tegak, kedua tangan diletakkan di atas pangkuan dengan rapi. Wajahnya datar, tidak menunjukkan rasa gugup sedikitpun meski sedang berada di hadapan pejabat sekolah tinggi.

Sementara itu, Wang Te lah yang berbicara. Pria itu menjelaskan berbagai hal dengan nada tegas namun sopan, memastikan semua administrasi dan kebutuhan murid baru ini sudah beres.

Setelah pembicaraan usai, Kepala sekolah segera memanggil seorang guru wanita ke ruangannya.

"Tolong antar Nona Xin Yi ke kelas 12B," perintahnya.

Guru itu mengangguk patuh, lalu menoleh ke arah Xin Yi dengan senyum ramah. "Silakan ikut saya, Nona."

Xin Yi berdiri dengan anggun, membungkuk sedikit memberi hormat pada Kepala sekolah dan Wang Te, lalu berjalan mengikuti guru itu keluar dari ruangan.

Begitu pintu ruangan tertutup, wajah Wang Te berubah menjadi lebih serius. Ia menatap lurus ke arah pria di hadapannya.

"Xin Yi adalah cucu kesayangan Tuan Besar dan Nyonya Besar keluarga Xin. Saya harap selama dia bersekolah di sini, tidak ada satu pun hal yang bisa mengganggu ketenangan atau mencelakai dia. Baik itu dari teman sekolah maupun pihak manajemen sendiri."

Kepala sekolah langsung mengerti maksud tersirat itu. Ia mengenal betul kekuasaan Kakek Xin. Dengan cepat ia menganggukkan kepala.

"Tenang saja, Tuan Wang. Saya yang akan bertanggung jawab penuh. Saya pastikan Nona Xin Yi akan mendapatkan perlakuan terbaik dan kenyamanan maksimal selama di sekolah ini."

Di lorong sekolah, bel masuk berbunyi nyaring. Para siswa berhamburan masuk ke kelas masing-masing. Xin Yi berjalan di belakang Guru Li, langkah kakinya tenang mengikuti irama langkah gurunya.

"Kelas 12B tadinya berjumlah 19 siswa," ujar Guru Li memecah keheningan sambil berjalan."Sekarang dengan kehadiranmu, jumlahnya menjadi genap 20 orang."

Xin Yi mengangguk pelan. "Baik, Guru."

Gadis itu menatap deretan papan pengumuman dan ruang kelas yang dilewatinya. Sekolah ini sangat besar dan modern, jauh berbeda dengan sekolah kecil di pulau tempatnya dulu.

"Guru Li," panggil Xin Yi pelan. "Apa saja kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah ini?"

Guru Li sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum. Ia merasa anak ini meski pendiam dan terlihat dingin, ternyata sangat sopan dan bertata krama baik.

"Banyak sekali, Nak. Ada olahraga seperti basket, tenis, renang. Ada juga seni musik, teater, hingga klub keterampilan lainnya. Nanti setelah masuk kelas, kamu bisa bertanya langsung pada Ketua Kelas nanti dia yang akan menjelaskan detailnya padamu."

"Baik, Guru. Terima kasih," jawab Xin Yi singkat.

Mereka kini sudah berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat mengkilap dengan plakat bertuliskan KELAS 12 - B.

 

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!