Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemilik SENA Group
Mobil Kevin melaju menuju arah rumah Nadia.
"Kemaren Nadia gak masuk, katanya gak enak badan. Hari ini juga masih belum masuk. Apa demamnya parah ya?"
Jeni khawatir, tadi dia menelpon Nadia tapi tidak di jawab karena Nadia sedang bicara dengan Diana.
"Coba telpon lagi sayang!"
Jeni pun kembali menelpon. Kali ini Nadia menjawab telponnya.
"Halo, beb. Lo dimana?"
(Jeni... Beb gue...)
Suara Nadia serak dan gemetar, membuat Jeni khawatir.
"Beb, lo kenapa? Gue bentar lagi nyampe rumah lo."
(Gue di rumah sakit.)
"Apa?! Rumah sakit mana?"
(Sentra Medika)
"Oke, gue kesana sekarang."
Jeni langsung menutup panggilan tanpa bertanya alasan Nadia bisa berada di rumah sakit.
"Sayang Nadia di rawat di rumah sakit Sentra Medika."
"Demamnya sampai separah itu?"
"Sepertinya begitu."
"Ya udah, kita ke rumah sakit sekarang." Kevin memutar arah mobilnya. "Rumah sakit Sentra Medika milik keluarga Bastian. Bastian juga kerja di sana."
Jeni mengangguk paham. "Bagus deh, semoga Nadia baik-baik aja. Ngebut aja sayang. Nadia sendirian."
"Keluarganya?"
"Ibu sama kakaknya di Bandung. Nadia itu tipe yang kalau sakit gak mau ngerepotin keluarganya. Kita aja kadang gak dikasih tau kalau dia lagi gak baik-baik aja."
"Sepertinya Nadia sangat mandiri."
"Iya, Nadia memang begitu."
Mobil melaju cukup kencang dan dalam waktu kurang dari dua puluh menit, mereka tiba di rumah sakit.
Jeni melangkah cepat nyaris berlari. Dia langsung menuju bagian pendaftaran.
"Mbak, bisa cek pasien atas nama Nadia ada di kamar berapa ya?"
"Baik mbak, tunggu sebentar." Wanita berpakaian seragam rumah sakit itu pun memeriksa di komputernya.
Kevin yang tidak mau repot, langsung menelpon Bastian. Tapi, tidak ada jawaban.
"Ada empat orang dengan nama Nadia. Nadia yang mbak cari sakit apa?"
"Oh teman saya, demam. Mungkin tipes." ucap Jeni ragu.
"Yang sakit tipes atau demam gak ada yang namanya Nadia, mbak. Adanya sakit jantung, gagal ginjal, kanker payudara dan pasien kecelakaan laka lantas."
"Hah?! Gak ada pasien lain dengan nama Nadia yang dirawat karena demam?"
"Tidak ada mbak. Teman mbak usianya berapa?"
"20 tahun."
"Satu satunya pasien dengan nama Nadia, usia 20 tahun itu pasien kecelakaan laka lantas."
Jeni panik. "Sayang, gimana? Atau Nadia benaran kecelakaan?!"
"Sayang tenang. Coba telpon lagi Nadia nya."
Jeni yang baru mengeluarkan ponselnya, langsung berhenti saat melihat Bastian yang baru keluar dari lift.
"Kak Bas!" teriaknya berlari cepat menghampiri Bastian yang sedang berjalan berbarengan dengan Diana.
Kevin menyusul dengan langkah pelan dan menatap bingung kearah Diana.
"Loh Jeni! Siapa yang sakit?" tanya Bastian khawatir.
"Teman gue kak. Dia di rawat di sini. Tapi gue gak tau kamarnya dimana?"
Mata Bastian beralih menatap pada Kevin. "Bro." Sapanya dan mereka pun melakukan tos.
"Nama teman kamu siapa?"
"Nadia."
Bastian diam sebentar, menatap Diana yang ternyata juga menatap padanya setelah mendengar nama yang disebut Jeni barusan.
"Sakit apa teman kamu?"
"Katanya demam. Tapi tadi aku nanya di sana, gak ada satu pun pasien dengan nama Nadia yang demam dirawat di sini."
Bastian menghela napas sebentar. "Aku baru aja keluar dari ruangan pasien yang namanya juga Nadia. Dia seumuran kamu, tapi dia bukan pasien demam, dia pasien kecelakaan."
"Ciri-ciri nya?" Tanya Jeni memastikan.
"Em, sedikit lebih rendah dari kamu. Rambutnya panjang..."
"Gigi gingsul sebelah kiri?" Lanjut Jeni menebak.
"Iya."
"Itu pasti Nadia sayang." ucap Jeni pada Kevin.
"Bro, bisa antar kita ke ruangan itu?"
"Ya tentu saja."
"Aku pulang duluan ya." celetuk Diana.
"Oke. Take care!"
Saat Diana hendak melangkah pergi, Kevin malah menghalangi jalannya yang membuat Jeni bingung.
"Kamu ngapain di sini?" selidik Kevin.
Diana tersenyum sebelum menjawab. "Biasa, aku lagi jalanin tugas sebagai Personal Asisten."
"Tugas? Tugas apaan di rumah sakit?"
"Ada deh, nanti juga kamu tau. Bye!" melangkah pergi begitu saja.
"Sayang ayo!" ajak Jeni menarik tangan Kevin untuk menyusul Bastian yang sudah berada di lift.
Begitu tiba di ruang rawat VIP, Jeni sempat ragu. "Apa benar Nadia? Masak sih Nadia di rawat di ruangan VIP?" gumamnya berbisik pada Kevin.
"Lihat aja dulu sayang. Kalau bukan, ya kita cari lagi."
Jeni mengangguk paham.
Bastian membuka pintu itu dan mata Jeni langsung menemukan sosok sahabat yang dicarinya.
"Beb!" serunya lantang membuat Nadia yang sedang minum hampir tersedak.
"Beb, lo kenapa? Kok bisa kecelakaan? Gimana kronologinya. Lo baik-baik aja kan? Atau ada yang terluka parah?"
Jeni memeriksa bagian tubuh Nadia, sedangkan Nadia sendiri masih bingung dan tidak diberi kesempatan untuk menjawab satu pun pertanyaan yang diajukan barusan.
"Gue nabrak mobil orang."
"What! Kok bisa, lo ngebut ya?"
"Gak, gue melamun aja waktu bawa motor, jadi ya gitu deh, nabrak."
Jeni menghela napas, dia duduk di pinggir ranjang sambil menghadap kearah Nadia yang terlihat seperti baru selesai nangis.
"Lo baru habis nangis ya?" memegang kedua bahu Nadia.
Nadia mengangguk pelan, tangannya meraih kertas putih tadi dan memberikannya pada Jeni. "Lo baca ini juga pasti nangis."
"Apa ini?"
"Baca aja."
Jeni mulai membaca.
"Apa Diana dari sini?" selidik Kevin berbisik pada Bastian yang direspon dengan anggukan oleh Bastian.
Mata Kevin melotot. "Sean?!"
"Hmm." Bastian meletakkan jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat agar Kevin tutup mulut.
"Dia kenal Nadia?"
"Hmm. Gue gak tau detailnya. Yang jelas Sean minta gue buat rawat Nadia sebaik mungkin."
"Sialan, apa-apaan ini!" rutuk Kevin penasaran, tapi tidak bisa banyak bicara saat ini.
"Lima ratus juta!" teriak Jeni lantang setelah membaca tulisan di kertas yang Nadia berikan.
Kevin melotot menatap Bastian dan Bastian hanya mengangkat kedua bahunya.
"Apa yang lima ratus juta sayang?" tanya Kevin mendekat, dia penasaran.
"Ini gak masuk akal. Ini pemerasan namanya. Kok bisa sampai sebanyak ini!" celotehnya kesal.
Kevin mengambil alih kertas itu dan membacanya. Helaan napas panjang terdengar. *Sean! Apa yang sedang lo rencanakan?
"Lo tau siapa pemilik mobil itu?" tanya Jeni.
"Gue gak tau siapa dia. Tadi sekretarisnya yang ke sini. Yang jelas dia pemilik SENA Group." tutur Nadia.
"Se, SENA Group?!" Ulang Jeni lantang, kemudian menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sayang, kita bicara diluar bentar yok!" Kevin menarik Jeni keluar dari ruangan itu.
Bastian menghela napas lega, sebentar dia tersenyum pada Nadia yang kebingungan sebelum dia meninggalkan ruangan itu.
"Sayang, SENA Group perusahaan kak Sean kan?" bisik Jeni pelan.
"Iya."
"Aku akan bicara sama kak Sean. Gak bisa, dia harus mengurangi..."
"Sayang, biar aku yang bicara sama Sean. Ini aneh. Sean gak pernah mau berurusan dengan siapapun hanya karena mobilnya rusak. Lima ratus juta itu bukan jumlah yang perlu dia perhitungkan. Sean pernah di tuduh macam-macam dan diminta membayar satu milyar pun akan dia bayar tanpa perhitungan sama sekali."
"Ya terus! Kenapa sekarang malah menekan Nadia dengan jumlah yang kamu bilang gak penting buat dia?"
"Ya itulah makanya biar aku yang nanya sama dia. Siapa tau ada sesuatu."
"Sesuatu seperti dia dendam sama Nadia? Atau dia sengaja mau menekan Nadia, gitu!"
"Gak gitu sayang, kamu tenang dulu ya."
"Gak apa-apa kok, Jeni. Sean gak bermaksud nyakitin Nadia sama sekali. Nanti juga kamu akan paham." Celetuk Bastian ikut nimbrung dengan obrolan mereka.
"Gue gak paham kak?! Kalau sampai kak Sean sengaja menempatkan Nadia dalam situasi yang sulit, gue gak akan tinggal diam!" tegas Jeni dengan sorot mata penuh dendam.
Sedangkan Bastian dan Kevin hanya bisa menghela napas sambil saling menatap.
Bersambung...