Ren Abraham, seorang anak laki-laki yatim piatu bertekad untuk menjadi kuat setelah desanya di hancurkan oleh para penyembah iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pendeta Merah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ren vs Gram
Ren menghilangkan pedang terbangnya, membuat dirinya terjun ke bawah dan lolos dari semua peluru meriam yang datang kearahnya, dia sudah memutuskan untuk melakukan pertarungan di darat daripada di udara, jumlah lawan lebih banyak dan juga memiliki sebuah meriam.
Gram yang menyadari niat Ren, mendecakkan lidahnya, dia pergi menemui para bawahannya, lalu memberi mereka semua instruksi.
" Jarak dekat ikut denganku, jarak jauh bersiap di belakang, bajingan itu ingin melakukan pertempuran darat! "
" Baik bos! "
Enam orang mengikuti Gram, sisanya tetap di belakang dan mempersiapkan meriam.
Melalui Aura Deteksi, Ren menyadari jika beberapa orang bergerak menuju kearahnya,dan beberapa tetap di tempatnya.
' Mereka berpisah, empat orang di belakang kemungkinan adalah pemegang meriam, manusia biasa tidak akan bisa mendeteksiku, salah satu dari bandit yang datang kesini pasti Mage barusan! '
' Dia memiliki kemampuan deteksi yang luar biasa, menggunakan pengalamanku sebagai penduduk desa ini untuk memisahkan mereka tidak akan berhasil '
'... Prioritas utama adalah mengalahkan Mage itu, jika dia menghilang, mengalahkan para bandit yang tersisa menjadi urusan yang sangat mudah '
' Setelah dia datang, aku akan memaksanya bertarung jauh dari yang lain agar para bawahannya tidak menggangu, setelah para pemegang meriam itu datang, aku akan langsung pergi jika masih belum mengalahkan Mage itu '
Setelah menetapkan rencananya, Ren menekan kehadirannya semaksimal mungkin, bersembunyi di rumah yang hancur.
Pedang Aura muncul di samping Ren lalu terbang menjauh darinya, bersembunyi di salah satu atap rumah warga.
Gram melihat semua yang Ren lakukan melalui Magic Sense, dia melihat Ren yang sedang bersembunyi, melihat Pedang Aura yang melayang di atap rumah warga.
' Melihat lokasinya, apa dia berencana untuk menggunakan dirinya sebagai pengalih perhatian lalu menggunakan pedang itu untuk menusukku dari belakang? '
' Hmph... tidak mungkin! '
Sebuah lingkaran sihir dengan simbol air di tengahnya, terbentuk di pikirkan Gram, setiap Rune yang ada di hubungan oleh garis-garis yang kemudian membentuk pola geometri.
Peluru air terbentuk di samping Gram lalu melesat kearah pedang Aura yang Ren buat, menghantam bilah hingga membuatnya patah.
Ren menginjak pedang terbang yang baru saja dia buat, terbang keatas, disana dia akhirnya bisa melihat Gram dan para bawahannya.
Dia sudah menduga rencana untuk menusuk Gram dari belakang akan gagal, kemampuan deteksi Gram terlalu hebat untuk membuat rencana ini berhasil.
Sepuluh pedang Aura muncul di sekitar Ren, dan langsung melesat kearah Gram dan yang lain.
Berbeda dengan Gram yang memiliki teknik sihir pertahanan, para bawahannya yang hanya manusia biasa akan mati jika terkena pedang Aura, karena hal itu mereka dengan cepat berlari kearah rumah-rumah terdekat untuk berlindung.
!
Gram akhirnya menyadari jika semua orang berpisah, dan setelah melihat senyuman di wajah Ren, dia akhirnya tahu niat anak laki-laki tersebut.
" Kalian..."
Sebelum Gram menyelesaikan kata-katanya, salah satu pedang Aura menghantam permukaan penghalang miliknya.
" Ahh! "
" Bos tolong! "
Dua bandit yang telat bersembunyi gagal menghindari pedang Aura milik Ren, sisanya berhasil selamat dengan bersembunyi di balik tembok.
Tanpa berlama-lama Ren langsung terbang mendekati Gram, sebelum pihak lain selesai membuat lingkaran sihir, dia mendarat di depannya dan langsung mengayunkan Oblivion yang di lapisi Aura.
Penghalang sihir milik Gram hancur, membuat pria paruh baya tersebut mengerutkan keningnya.
Ada satu masalah yang sulit di atasi oleh seorang Warior ketika berhadapan dengan seorang Mage, tidak peduli dia Warior biasa atau Warior sejati, dan masalah ini adalah jarak.
Sebagai seorang Warior, tentunya mereka akan menggunakan metode bertarung jarak dekat, memanfaatkan kemampuan fisik mereka yang kuat sepenuhnya, tapi di hadapan seorang Mage yang dapat menembakkan sihir dari jarak jauh, kekuatan fisik seorang Warior menjadi tidak berguna.
Sebagian besar Warior biasa tidak memiliki serangan jarak jauh, dan meskipun mereka memilikinya, seorang Mage dapat dengan mudah menahannya.
Bukan hanya Warior biasa, Warior sejati juga akan kesulitan untuk melukai seorang Mage menggunakan serangan jarak jauh, itu karena Aura yang mereka gunakan adalah produk sampingan energi sihir, jika di Analogikan, energi sihir itu adalah air sementara Aura adalah uap.
" Kenapa kau tidak terus menggunakan pedang biru itu? "
" Karena itu terlalu lemah untuk melukai bajingan sepertimu "
Meski bingung, Gram membuat lingkaran sihir di dalam pikirannya, dia berhasil membeli sedikit waktu.
Bola air terbentuk di tengah-tengah Ren dan Gram, lalu meledak, cipratan air yang mengenai Ren sangat menusuk, seperti mengendarai kuda saat hujan deras.
Gram dengan cepat mundur sambil menciptakan awan untuk mengganggu Ren, tapi sayangnya, Ren sudah siap untuk hal itu.
Ren mengayunkan Oblivion secara vertikal, mengirim Bilah Aura kearah Gram.
Gram berhasil membuat penghalang sihir tepat waktu, menyelamatkan nyawa dari Bilah Aura milik Ren.
Para bandit yang selamat dengan cepat berlari kearah Ren, mengepungnya dari segala arah.
" Mati anjing! "
Ren mengayunkan Oblivion secara memutar, melepaskan Bilah Aura berbentuk lingkaran yang dengan mudah memotong tubuh para bandit yang datang menjadi dua.
Darah mereka mengalir, usus mereka keluar, cairan asam yang berada di lambung tumpah dan mengenai usus yang tergeletak di tanah.
Sebuah peluru air melesat kearah Ren, melihat hal itu Ren langsung berguling ke samping dan berhasil menghindarinya.
' Perubahan rencana, para bandit ini lebih lemah dari yang ku pikirkan, aku akan membunuh pria ini...'
Mata Ren tiba-tiba menjadi sangat perih, panas, dan gatal, seolah kemasukan bubuk cabai, membuatnya terpaksa menutup matanya.
Gram menggunakan sihirnya untuk menghilangkan lapisan air yang ada di mata Ren, membuat mata Ren tidak bisa menahan cahaya dan debu super kecil yang berterbangan di udara.
" Hahaha, mati babi! "
Lima pusaran air terbentuk di sekitar Gram, semua pusaran air itu terus mengeluarkan peluru air yang melesat kearah Ren.
Meskipun dia tidak bisa melihat, Ren masih bisa menggunakan Aura Deteksi untuk merasakan gerakan yang terjadi di sekitarnya, dia dapat dengan jelas merasakan semua peluru air yang mendekatinya.
Gram sudah tahu jika Ren masih memiliki kemampuan deteksinya, alasan dia membuat mata Ren terganggu adalah untuk memberi kesempatan pada anak buahnya yang berada di kejauhan, agar mereka tidak di temukan oleh Ren melalui deteksinya, Gram membuat awan untuk lebih mengganggu fokus Ren.
Ren pura-pura kesal, dia sudah menyadari kedatangan para bandit yang memegang meriam.
' Tunggu sebentar lagi, biarkan orang ini menjadi lebih lengah '
Di kejauhan, keempat bandit yang memegang meriam tangan mulai membidik Ren, mereka membakar sumbu dan membuat peluru meriam melesat kearah Ren.
' Sekarang! '
Ren muncul di depan Gram yang sedang tersenyum, gerakannya sangat cepat hingga tidak bisa di ikuti oleh mata manusia.
Tanpa berlama-lama, Ren langsung mengayunkan Oblivion, memenggal kepala Gram dengan mudah, membuat para bandit di kejauhan sangat terkejut.
Apa yang baru saja Ren gunakan adalah teknik bernama Flash Steps, Ren mengkonsentrasikan Aura di bawah kakinya lalu meledakkan nya, membuat terdorong ke depan dengan sangat cepat.
Alasan Ren tidak menggunakan teknik ini dari awal adalah resikonya sangat tinggi, jika saja dia gagal mengendalikan Aura yang melindungi tubuhnya, ledakan Aura yang terjadi di kakinya akan membuat kakinya patah, selain itu, jika Ren terlalu berlebihan dalam membuat ledakan, dia akan bergerak terlalu jauh dan menabrak sesuatu.
Flash Steps adalah teknik tingkat rendah dan juga berbahaya, Ren berpikir jika Kaisar Pedang mempelajarinya karena terpaksa.
' Kuh... meskipun ini ketiga kalinya aku mencoba teknik ini, tetap saja rasanya sangat sakit, kakiku terasa seperti baru saja menendang batu besar '
Karena bos mereka sudah mati, para bandit yang memegang meriam itu dengan cepat melarikan diri, berpencar agar Ren bingung ketika mengejar mereka.
Ren tidak akan mengejar para bandit itu untuk sekarang, dia melepas ranselnya dan mengambil ramuan penyembuhan, dia membuka tutupnya lalu menuangkan isinya ke wajahnya.
Setelah beberapa saat Ren akhirnya bisa melihat lagi, tapi matanya masih terasa sedikit perih.
' Mereka masih belum pergi jauh, aku akan menangkap salah satu dari mereka untuk bertanya berapa pertanyaan '
Ren membuat pedang terbang dan dengan cepat terbang menuju salah satu bandit yang melarikan diri, dengan kecepatannya, dia dapat dengan mudah menyusul target.
Bandit itu melihat Ren datang, membuatnya semakin ketakutan.
Ren mendarat di atas bandit tersebut, mendorongnya jatuh ke tanah dengan kakinya.
" Jawab pertanyaanku jika tidak ingin mati? "
Kata Ren dengan nada dingin, dia menginjak bandit tersebut untuk mencegahnya kabur.
" B-baik..."
" Pertama, darimana kau mendapatkan meriam tangan? "
" Ko-kota Lonor, dari seorang wanita bangsawan bernama Erin von Trysa "
Dia lagi, Ren semakin penasaran dengan orang bernama Erin von Trysa ini.
" Kenapa dia memberikanmu itu? "
" A-aku tidak tahu... d-dia juga memberikan meriam tangan ke para bandit selain kami, dan buku berisi teknik sihir kepada orang-orang seperti bos "
Ren memegangi dagunya, karena para kesatria sihir masih belum menangkapnya, Erin von Trysa ini pasti sebuah nama palsu, jika dia memakai nama aslinya, para kesatria sihir akan sangat mudah menemukannya melalui nama keluarganya.
' Meminta geng-geng di kota Lonor untuk membawa seorang wanita secara paksa, memperkuat kekuatan anggota kriminal '
" Seperti apa penampilannya? "
" A-aku tidak tahu, hanya bos yang pernah bertemu langsung dengannya "
" Cih... seharusnya aku tidak langsung membunuhnya "
" Apa lagi yang Erin von Trysa lakukan, yang kau tahu? "
" A-aku tidak tahu "
" Kenapa kau memilih desa ini sebagai markas mu? "
" K-kami... Erin von Trysa meminta kami untuk menggali semua makam yang ada di desa ini..."
Mata Ren menjadi sangat dingin" Aku tidak melihat ada satupun makam yang dibongkar tadi? "
" Itu karena kami sudah merapikannya "
" Lalu apa yang kalian lakukan setelah menggali makam? "
" M-mengambil tengkorak yang ada di dalam makam..."
Ren mengayunkan Oblivion untuk menebas leher bandit tersebut, setelah itu dia membuat pedang terbang dan terbang menuju makam ibunya.