Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Janu refleks mendorong Anela keras, lalu mengusap mulutnya cepat-cepat.
"Cewek gila!" umpatnya kesal. "Mundur lo di sana. Kalau emang gak ada apa-apa, gw pasti pergi."
Tanpa menunggu jawaban, Janu langsung membongkar rak itu. Bukan satu-satu lagi, tapi sekaligus.
Anela tetap diam. Entah karena pasrah, atau cuma ingin melihat reaksi Janu. Sampai akhirnya selembar kertas terlipat jatuh ke lantai.
Janu berjongkok, memungut, lalu membuka dan membaca cepat. Alisnya langsung mengerut, tapi ia justru tertawa pelan sambil bangkit.
"Ini... serius?" tanyanya geli, mengacungkan kertas itu.
"Aku cuma disuruh," jawab Anela datar. Terlalu datar buat situasi begini.
Raut Janu langsung datar total. "Siapa yang nyuruh?"
"Kamu gak berhak tahu."
Janu mengangguk-angguk, entah setuju atau makin muak. Ia lewat di samping Anela, sempat menyenggol pundaknya kasar.
"Oh, iya. Gw lupa bilang," gumamnya dingin sambil berbalik. "Setelah ngerasain bibir lo tadi, gw jadi sadar. Kalaupun gw ketularan, orangnya jelas bukan lo." Ia menatap Anela dari ujung mata.
"Muka lo terlalu banyak. Sampai gak ada orang yang tau mana aslinya."
Anela tak menjawab. Hanya memandangi punggung itu hilang di balik pintu. Begitu ruangan kembali sunyi, baru ia menghela napas panjang dan duduk di kursi terdekat.
Dia sudah ketahuan. Selanjutnya apa?
Janu langsung memperlihatkan kertas itu pada Juli, Okta, dan Ruby. Bukan pilihan random, Juli dan Okta paling dekat dengannya, dan Anela dekat dengan Ruby. Jadi semuanya masuk akal.
Isi kertasnya jelas: laporan tentang Ruby, Kimi, pergerakan peserta tadi malam, sampai rencana hari ini.
~
"Jadi gimana? Gak perlu kita sidang tuh anak?" tanya Juli, wajahnya sudah mulai panas.
"Gw rasa gak perlu," jawab Janu. "Dia pasti udah bingung sekarang."
Semua otomatis menatap Ruby yang cuma diam,
"Ru, jangan bengong. Gw tau lo syok bestie lo ternyata pengkhianat," ujar Okta agak tinggi.
"Rusak banget tuh anak. Tapi ini tanggung jawab lo juga."
Ruby menghela napas panjang. "Gw lagi mikir alesannya dan siapa yang suruh."
"Terus gimana? Rencana kita udah ketauan," Okta masih kesal.
"Sementara biarin dulu," kata Ruby tenang. "Janu bener. Dia pasti diem karena tau kita bakal mantau mulai sekarang."
"Rencana tetap jalan?" tanya Janu.
"Harus lah. Datanya biar orang keuangan yang atur. Kita cari cara intip kantor keamanan dulu," timpal Juli.
"Ngapain diintip? Grebek aja langsung," Janu mulai tak sabaran. "Atau mau pake cara kemarin? Tapi mereka pasti curiga kalau paket tiba-tiba ilang."
Okta mengangguk cepat. "Lebih aman kalau kita datang langsung ke kantor. Nanya paket, terus geledah-"
"Lah, kocak," potong Juli. "Lo pikir mereka bakal biarin? Inget, di sini apa-apa dinilai. Bisa gak lulus kita."
Ruby akhirnya bersuara. "Intip dulu aja. Foto bukti. Terus lampirin di data."
Semua terdiam sejenak, lalu mengangguk serempak. Tidak ada waktu buat drama. Mereka butuh eksekusi cepat.
**
Rencana mereka berjalan jauh lebih mulus dari dugaan. keesokan harinya, Janu dan Juli berhasil mendekat ke kantor keamanan, sementara yang lain pura-pura berkeliaran agar satpam pecah fokus. Dari jendela saja, paket-paket itu kelihatan ditumpuk di bawah meja.
"Satpam pada bego apa gimana?" gumam Janu sambil melihat hasil-hasil foto mereka yang benar-benar jelas.
"Kepinteran malah. Sini, biar gw yang urus," kata Juli sambil mengulurkan tangan.
Juli langsung minta Bu Salma mencetaknya, lalu melampirkannya ke file yang sudah disusun anak keuangan.
Soal Bu Salma dan Clarissa?
Keduanya sama sekali tidak tahu apapun, Semua yang ditanyakan tak bisa mereka jawab. Mereka pun sama bingungnya, tapi memilih menunggu sampai pelatihan selesai delapan hari lagi.
Bu Salma bahkan makan seadanya juga sama seperti peserta lain. Juli sempat sedih karena tak bisa melakukan apapun untuk pacarnya itu.
Selain itu, para pembimbing juga tidak diizinkan keluar area pelatihan, jadi jelas mereka tak punya akses untuk membeli atau mengambil apa pun. Semua terlihat panik sendiri. Entah panik sungguhan, atau cuma akting.
Setelah membahas semuanya, peserta akhirnya menyimpulkan satu hal: Yang main licik hanyalah staf administrasi dan keamanan.
Para pembimbing dan peserta? Buta total.
Sementara itu, Anela sejak ketahuan kemarin sama sekali tidak keluar kamar kecuali mengambil makanan. Tidak ada yang menegur. Bahkan Ruby pun cuma melirik sekilas tanpa komentar, lebih sibuk menenangkan pacarnya yang meledak-ledak.
"Liat tuh, kayak gak ada apa-apa. Aku udah bilang dari awal kan, By? Dia tuh aneh tau," omel Kimi begitu Anela menghilang di koridor atas.
Ruby sempat mikir, kapan Kimi pernah bilang Anela aneh? Yang Ruby tidak tahu, itu cuma asumsi Kimi sendiri sejak awal. Dari iri- cemburu - curiga. Lengkap.
"Biarin aja. Nanti caku ngomong sama dia," ujar Ruby pelan.
"Lo serius gak tau apa-apa, Ru?" tanya Marey penasaran.
Ruby menggeleng, padahal kepalanya sudah penuh teori konspirasi.
~
Setelah makan malam, Ruby akhirnya izin ke Kimi. Baru bilang satu kalimat, "Aku ngobrol sama Nela dulu ya", Kimi langsung pasang wajah jutek level maksimal. Dan tentu saja, ngotot pengen ikut.
"Aku cuma ngobrol sebentar. Gak apa-apa ya. kamu ngumpul dulu sama yang lain, nanti aku nyusul," bujuk Ruby sabar.
"Yakin cuma ngobrol? Dia itu suka sama kamu, By. Gimana kalau dia malah nyosor? Aku aja belum, masa dia duluan. Aku gak rela loh," sungut Kimi sambil manyun.
"Udah sering disosor kan? Apa lagi? Gak mungkin juga aku biarin dia aneh-aneh. Jangan curigaan, sayang. Aku gak mungkin-"
"Cuma ciuman doang," Kimi nyeletuk sambil buang muka.
Ruby mengernyit. Heran benar. Kenapa Kimi sering dengan sengaja memancing agar dia kelepasan? Mereka belum lama jadian, di asrama pula. Ruby ingin menjaga Kimi, setidaknya sampai yakin Kimi sepenuhnya memilih dia. Karena siapa juga yang bisa menjamin setelah keluar nanti Kimi tidak kembali dekat dengan cowok?
"Yaudah, nanti aku kasih. Tapi sekarang aku
ngomong sama Nela dulu ya."
Komi menyipit curiga, tapi akhirnya-dengan drama berlapis-lapis-mengangguk juga. Ruby mengantarnya ke kamar Febi, lalu įalan ke kamar Anela.
Sesampainya di depan kamar, Ruby mengetuk. Begitu pintu terbuka, Anela tersenyum hangat seperti biasa. Tidak kaget, tapi lebih seperti menunggu momen ini.
Ruby duduk di kursi kerja, sementara Anela duduk di pinggir kasur. Seperti biasa, Ruby tidak basa-basi.
"Kamu lapor kemana? Apa salah satu staf di sini mata-mata Charley? Kupikir ngelaporin kegiatan pelatihan gak cukup, jadi mereka butuh tau aku ngapain aja di asrama.'" Suara Ruby datar, tapi menusuk. Anela malah tersenyum tipis.
"Karena penyamaranku udah ketauan, apa aku harus ngomong formal sekarang?"
Alis Ruby naik. "Jangan bilang kamu mata-mata orang tuaku,"
Anela mengangguk. "Benar. Lebih tepatnya nyonya Fianca. Beliau bilang saya harus berbaur senatural mungkin. Karena itu saya bikin drama supaya anda makin dijauhi semua orang."
"Ngomongnya biasa aja. Aneh denger kamu ngomong gitu." Ruby mendengus. "Jadi cewek itu yang nyuruh kamu? Akting kamu hebat banget, sampai aku mikir kamu ini benar-benar temanku."
Anela mengernyit sedikit saat Ruby bilang 'cewek itu' Terlalu aneh untuk menyebut ibu sendiri seperti itu. Tapi ia tahu hubungan keduanya memang lebih seperti teman.
"Setelah kejadian di sungai, aku udah ngerasa yang lain gak nyaman sama kamu. Aku benci liat kamu kayak dikasihani. Maksudku... kamu anak bosku," Anela kembali dengan gaya bicara biasanya. "Kejadian di gudang itu murni gak sengaja. Tapi reaksi mereka lumayan, jadi sekalian aja kubuat makin jauh. Mereka cuma orang biasa, gak pantas jadi teman kamu. Berani banget nyindir-"
"Nela," Ruby memotong, tenang tapi tegas. "Sikap mereka wajar. Aku lebih suka mereka jujur daripada muka dua. Aku emang kesepian... sampai Kimi datang. Tapi kenapa dia bilang kamu suka aku?"
Anela menelan ludah. Kali ini benar-benar gugup.
"Aku manggil dia ke perpustakaan, terus... suruh dia jauhin kamu. Kubilang aku suka kamu, tapi itu cuma pancingan. Aku pengen tau apa yang dia rencanain. Dia mencurigakan banget. Aku yakin kamu juga ngerasa, seenggaknya waktu awal-awal,."
"Dia cuma cewek polos yang kepoan."
"Aku tau. Dia dari keluarga Suheru, cuma keluarga biasa. Kamu tau sendiri, sering banget keluarga lain nyuruh anak mereka ngincer kamu demi keuntungan. Setelah diselidiki, sekarang aku udah gak ganggu dia lagi."
Ruby menghela napas. "Kamu lupa satu hal. Gak ada yang tau aku ikut pelatihan tahun ini."
"Bisa aja ada staf yang kerja sama dengan pihak luar"
"Oke, bisa aja. Tapi apa kamu yakin staf yang kamu kasih laporan itu gak bocor ke yang lain? Tes ini mungkin cuma mainan, tapi jangan sampai ngerusak keseruan terakhir di tempat ini. Paham?"
Anela langsung mengangguk. "Paham. Utusan nyonya pasti bisa dipercaya."
"Oke. Siapa orangnya?" Ruby melipat tangan.
"Amar."
Amar. Staf keamanan. Muda, pendiam, nyaris tak kelihatan, Terlalu cocok jadi kaki tangan. Sesuai dengan ciri khas orang-orang Charley.
Setelah semua jelas, Ruby berdiri dan pergi begitu saja. Ia membiarkan Anela kembali ke tugasnya, tapi hatinya panas juga. Ibunya bilang ingin Ruby bersikap sebagai peserta biasa, tapi malah dikuntit. Mengawasi? Serius?
"Apa dia takut gw bikin ulah? Padahal dia sendiri biang onar pas muda. Kadang tuh orang suka gak sadar diri," gumam Ruby kesal sambil melangkah ke kamar Febi menjemput pacarnya.
.