Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang suami yang mencintainya dengan kesabaran menyakitkan.
Apakah cinta yang pernah mereka bangun akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disini Hati Yang Berlabuh
Mereka tidak berhenti di gedung pernikahan megah dengan pilar-pilar marmer tinggi, atau
ke ballroom hotel berbintang dengan lampu kristal yang menyilaukan.
Motor tua itu berhenti di depan sebuah bangunan sederhana. Sebuah Kantor Urusan Agama (KUA) kecil di pinggiran kota, tempat cat dinding mulai mengelupas dan lampu neon di teras berkedip redup—lelah menyala terlalu lama.
Meisyah turun dari motor. Kakinya masih gemetar, bukan karena dingin, tapi karena antisipasi menatap pintu masuk itu dengan ragu. Apakah ini benar? Apakah ia siap?
Namun, saat ia melangkah mendekati teras, langkahnya terhenti.
Di bawah atap teras yang sedikit bocor di sudut kiri, sudah ada beberapa orang berdiri menunggu tidak seperti kerumunan tamu undangan berpakaian formal tersenyum palsu, juga bukan para kolega bisnis ayahnya datang melihat status sosial.
Di sana, berdiri Ayah Andra pria tua dengan kemeja flanel usang disetrika rapi, meski warnanya sudah pudar. Di sampingnya, Ibu Andra, perempuan mungil berkerudung sederhana, tangannya meremas ujung selendang dengan gugup.
Di belakang mereka—berbaris rapi seperti anak-anak sekolah diajak piknik— sekelompok anak panti asuhan. Mereka mengenakan pakaian seadanya, beberapa bahkan memakai sandal jepit berbeda warna, tapi wajah mereka berseri-seri, penuh rasa ingin tahu.
Berdiri paling depan, dengan tangan dilipat di dada dan wajah berusaha keras terlihat galak, adalah Rei sahabat Andra, matanya tidak bisa menyembunyikan antusiasme, mengangguk singkat pada Meisyah, sebuah salam hormat penuh ketulusan.
Di sisi lain, Anya dengan Kapten melambai kecil begitu melihatnya, lambaian lembut akrab, seolah mereka sudah kenal bertahun-tahun.
Ibu Dewi, perempuan paruh baya dengan wajah lelah namun matanya sangat hangat. Ia tersenyum tanpa meminta apa pun, seolah berkata tanpa suara: “Kamu aman di sini, Nak Kamu diterima apa adanya dan kami sangat sayang dengan mu."
Meisyah merasa napasnya tersangkut di tenggorokan. Matanya melebar, menatap satu per satu wajah-wajah itu.
“...Mas…” bisiknya, suaranya hampir tertelan suara hujan.
Andra, baru saja mematikan mesin motor, menoleh mengikuti arah pandang Meisyah.
“Iya,”.
“Mereka…” Meisyah menunjuk ragu ke arah kerumunan kecil itu. “Mas bilang kepada mereka… kalau hari ini penting?”
Andra mengangguk. “Mereka keluarga Mas, Mei. Dan sekarang, mereka juga keluargamu.”
Ia tidak menjawab hanya air mata haru selama ini tertahan di balik tembok es hatinya karena tidak pernah membayangkan, dalam mimpi terliar nya—bahwa hari pernikahan akan seperti ini.
Tidak ada gaun pengantin putih berlapis harganya setara rumah kecil, tidak ada ratusan tamu undangan berpura-pura sopan. Dan tidak ada kamera profesional mengarahkan lensa menangkap momen sempurna yang direkayasa.
Tapi ada sesuatu yang jauh lebih nyata.
Ada orang-orang yang benar-benar hadir bukan karena undangan atau kewajiban sosial, tapi karena mereka peduli.
Ibu Andra pertama bergerak menggenggam tangan Meisyah, kasar, hangat, dan kering.
“Kamu dingin, Nak,” katanya lembut menyapu tubuhnya masih mengenakan gaun pesta basah kuyup.
Meisyah menatapnya, bingung. Ia tidak terbiasa disapa dengan kelembutan seperti itu. Tidak terbiasa dipanggil “Nak” oleh seseorang yang bukan ibunya sendiri—ibunya yang asli, tadi malam justru mengusirnya.
“Maaf kami Nak…” lanjutnya pelan, “kami gak bisa kasih banyak, hiasan bunga, makanan mewah. Maafkan kami.”
Mei menggeleng kuat, air matanya semakin deras.“...ini udah lebih dari cukup, Bu,” ucapnya pecah. “Ini… ini segalanya.”
" Ibu sudah siapkan pakaian pengantin untukmu, jangan dilihat dari apapun bentuknya." Ia tersenyum lembut
Ayah Andra hanya mengangguk pelan dari kejauhan. Pria itu tidak banyak bicara, seperti Andra. Tapi tatapannya penuh penerimaan tidak menilai dari gaun kotornya atau statusnya kabur dari rumah. Ia menerima sebagai perempuan yang memilih anaknya.
“Wah… akhirnya ya,” gumam Rei mencoba terlihat santai meski matanya berkaca-kaca.
Andra mendengus kecil, “ Terimakasih banyak Rei sudah banyak membantu."
“Gue saksi Ndre, gue bakal nyaksiin momen bersejarah ini.”
Kapten bersorak gembira, "Ye...Kak Mei kawin dengan Om Andra, jadi rame deh rumah panti."
Anya, yang berdiri di sebelahnya, menyenggol lengannya “Kamu ya dari dari tadi makan melulu sebelum penghulu datang, serakah.”
Mereka tertawa kecil. Tawa renyah anak-anak panti di belakang ikut terdengar, membuat suasana yang tadinya tegang dan haru menjadi cair dan hangat.
Di tengah hujan deras dan ketidakpastian masa depan—Meisyah tersenyum lega tanpa ragu.
Prosesi dimulai di dalam ruangan sempit.
Semuanya sangat sederhana. Meja kayu panjang permukaannya tidak rata. Kursi-kursi plastik biru dan merah disusun asal-asalan. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan, memberikan cahaya putih agak suram.
Tidak ada dekorasi balon, karpet merah, atau musik organ mengalun indah.
Hanya suara hujan di luar jendela—deru air menghantam atap seng— menjadi latar musik upacara mereka, alam yang jujur, tanpa rekayasa.
Meisyah duduk di dengan tangan di pangkuan, beban berat di pundaknya terlepas satu per satu.
Andra duduk di seberang menatap tenang, menenangkan badai di dalam dadanya
“Sayang takut?”
Meisyah mengangguk jujur. “…iya.”
“Mas juga.”
Meisyah tertawa kecil, tawa pendek yang melepaskan ketegangan. Dan seketika, rasa takut itu runtuh, digantikan keberanian yang aneh, " Tapi sekarang tidak lagi, ada Mas disamping."
Andra tersenyum hangat
Prosesi akad nikah dimulai.
Suara Penghulu bergema di ruangan sempit itu. Formal. Teratur. Khidmat. Setiap kata diucapkan dengan tegas, memenuhi ruang kosong di antara mereka.
Tapi di antara semua prosedur administratif itu, ada detak jantung yang lebih keras. Detak jantung dua manusia sedang mempertaruhkan sisa hidup mereka.
Andra mengucap ijab kabul, suaranya berat dan dalam. Di luar, hujan pun ikut diam mendengarkan sumpah suci itu. Angin berhenti berhembus sejenak. Dunia menahan napas. Dan ketika kata terakhir selesai diucapkan—
Hening.
Satu detik hening yang abadi.
Lalu suara Penghulu memecah kesunyian,'bagaimana saksi ?
“Sah.”
Kata itu sederhana. Singkat. Dua suku kata.
Tapi kata itu mengubah segalanya.
Anya, berdiri di pojok ruangan, bertepuk tangan kecil, wajahnya bersinar bahagia. Kapten ikutan meski berusaha melakukannya dengan gaya sok keren. Ibu Dewi tersenyum lebar mengusap sudut matanya yang basah.
Ibu Andra menutup wajahnya sejenak dengan kedua tangan, bahunya berguncang pelan. Ia menahan haru, bersyukur anaknya akhirnya menemukan pelabuhan.
Meisyah menatap tangannya sendiri.
Di jari manisnya, kini melingkar sebuah cincin. Cincin perak polos. Sederhana. Tipis. Tanpa berlian yang berkelip. Tanpa ukiran emas yang rumit.
Cincin itu dingin saat menyentuh kulitnya. Ringan secara fisik tapi rasanya paling berat. karena makna,' komitmen, janji-janji yang mereka ikrarkan bukan untuk orang tuanya.
“…ini beneran ya…” bisik Meisyah, suaranya hampir tak terdengar sulit percaya.
Andra memeluknya hangat, sembari menggenggam jemarinya“Iya, kita suami istri, Mei.”
Melihat Ayah Andra yang mengangguk bangga.
Melihat Ibu Andra yang tersenyum lewat isakan.
Melihat Kapten yang memberi jempol.
Melihat Anya dan anak-anak panti yang saling berbisik kegirangan.
Melihat Rei dan Ibu Dewi yang menjadi saksi bisu kebaikan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang sempurna, masa lalu mereka mungkin penuh luka tapi semuanya tulus.
Meisyah tidak merasa kehilangan apa pun. Ia tidak menyesal meninggalkan mansion mewahnya, meninggalkan warisan miliaran rupiah.
Karena malam itu—Ia datang ke sini dengan tangan kosong tanpa harta tanpa status, tanpa perlindungan keluarga.
Tapi ia pulang—Dengan sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun yaitu...
Keluarga.