Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Setelah menjebloskan Hendrik ke penjara, tak sulit bagi Arga untuk melacak keberadaan Bimo CS. Anak buahnya telah lama mengintai kawanan predator itu. Ternyata, motif mereka terus memburu Ayu adalah ketakutan; mereka tahu Ayu masih menyimpan kartu as berupa file asli bukti kejahatan mereka di dalam kameranya. Bukti yang diserahkan ke polisi bertahun-tahun lalu hanyalah salinan, sementara bukti primer yang bisa menghancurkan mereka selamanya masih berada di tangan Ayu.
Arga menyeringai puas. Satu per satu, iblis yang membuat hidup Yura menderita telah mendapatkan hukuman yang setimpal.
Arga kembali mengunjungi makam Yura. Hari ini, pusara itu tampak lebih berwarna dengan seikat bunga segar yang ia bawa. Ia mendongakkan kepala, menatap langit yang tampak lebih biru, seolah alam semesta ikut merestui langkahnya.
"Sekarang kamu sudah bisa tenang, Ra. Maafkan aku karena terlambat menyadari semua ini," ucap Arga lirih, jemarinya mengusap nisan yang dingin itu. "Andai saja dulu aku lebih peka, mungkin kamu tidak akan menderita sendirian terlalu lama."
Arga menghela napas panjang, ada kelegaan yang menyeruak di dadanya. "Aku juga sudah menemukan Tante Esti. Sekarang dia hidup jauh lebih baik.Aku nyuruh seseorang untuk merawat dan menjaganya Ra. Dia tidak akan kekurangan apa pun lagi."
Ingatan Arga kemudian beralih pada sosok gadis yang kini menjadi pusat semestanya: Ayu. Ia menatap tulisan nama Yura di pusara itu dengan tatapan penuh permohonan.
"Ra... aku akan mencintai Ayu sekarang, persis seperti harapanmu. Aku janji, setelah aku menemukannya nanti, aku akan memperlakukannya dengan sangat baik. Aku akan mencintainya sehebat aku mencintaimu dulu. Restui aku ya, Ra. Sekarang aku pulang, besok aku akan datang lagi."
Setelah membacakan doa singkat, Arga meninggalkan area pemakaman. Ia melangkah dengan tegap, kembali menuju kursi CEO yang sempat ia tinggalkan karena keterpurukan. Arga yang lemah telah mati, digantikan oleh Arga yang penuh kendali.
Di kantor, Alvin menepuk pundak adiknya itu saat melihat Arga sudah kembali siap dengan setelan jas formalnya, siap terjun ke medan pertempuran bisnis yang menjadi kewajibannya.
"Terima kasih untuk segalanya, Vin. Aku janji akan menjadi Arga yang lebih baik mulai sekarang," ucap Arga mantap.
"Bagus, Ga. Aku senang mendengarnya," balas Alvin dengan senyum lega. "Jangan sampai terpuruk lagi karena wanita, itu sangat tidak jantan!" ledek Alvin yang disambut kekehan kecil dari Arga.
"Tidak untuk sekarang, Vin. Tapi satu hal yang harus kalian tahu... aku tidak akan melepaskan Ayu begitu saja. Aku harap kalian mengerti itu."
Alvin mengangguk paham. "Baiklah, tapi tolong jangan buat Mama khawatir lagi ya, kasihan dia."
"Katakan saja pada Mama... cepat atau lambat, aku akan membawa calon menantunya pulang ke rumah ini," jawab Arga dengan sorot mata penuh keyakinan.
Alvin tersenyum bangga, menepuk pundak sang adik sekali lagi sebelum melangkah keluar dari ruangan. Arga kini berdiri sendirian di balik meja besarnya, menatap pemandangan kota dari jendela kaca. Pencariannya pada Ayu bukan lagi tentang tuntutan atau dendam, melainkan tentang masa depan yang ingin ia bangun di atas restu masa lalu.
Dan kini Tuhan sepertinya kembali berpihak padanya ketika wanita yang ia cari selama lima tahun itu terbaring di ranjang yang sama dengannya.
Sinar matahari pagi Amsterdam menyeruak masuk melalui celah gorden yang tersingkap. Saat Ayu perlahan membuka matanya, sosok Arga sudah berdiri tegak di sisi jendela kamar yang besar, membelakangi cahaya. Pipi Ayu langsung memanas, semburat merah menjalar hingga ke leher saat kilasan kejadian semalam berputar di kepalanya.
Pria itu bertelanjang dada, memamerkan lekuk ototnya yang kokoh di bawah cahaya pagi, hanya mengenakan celana panjang yang melekat ketat di pinggangnya.
"Sudah bangun?" tanya Arga tanpa menoleh sepenuhnya, namun suaranya yang berat khas bangun tidur terdengar begitu intim.
"Jam... jam berapa ini?" tanya Ayu dengan suara serak.
"Jam sepuluh pagi," jawab Arga santai, kini ia berbalik dan menatap Ayu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa? Jam sepuluh?!" Ayu terlonjak kaget. "Gawat, aku sudah terlambat!"
Ayu berusaha bangkit dengan terburu-buru, namun rasa nyeri dan lemas di sekujur tubuhnya membuat dunianya seolah berputar. Tubuhnya hampir saja rubuh ke lantai jika tangan kekar Arga tidak dengan sigap menangkap pinggangnya dan menariknya kembali ke atas tempat tidur.
"Ya Tuhan... apa yang kau lakukan padaku semalam, Arga?" gerutu Ayu sembari memegangi kepalanya, berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut.
Arga terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat maskulin dan penuh kemenangan. "Apa kau benar-benar lupa siapa yang memohon minta lebih semalam, hm?"
Blush! Wajah Ayu memerah sempurna. Ia menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya, tak sanggup menatap mata Arga yang kini berkilat jahil.
"Jangan khawatirkan apa pun," lanjut Arga sembari mengusap kepala Ayu dengan lembut. "Damar sudah mengantar Geo ke sekolah pagi tadi. Dia juga ada di sana untuk menjaganya."
Mata Ayu membulat sempurna. Ia melepaskan selimutnya dan menatap Arga dengan ekspresi tak percaya. "Kau... kau sudah tahu tentang Geo?"
Arga menyeringai tipis, sebuah seringai yang menunjukkan kekuasaan mutlaknya. "Kau pikir pertemuan kita selama ini hanya suatu kebetulan, Ayunita?"
Ayu terdiam membeku. Lidahnya kelu. Ternyata selama ini ia tidak pernah benar-benar lari. Ia hanya sedang menari di atas telapak tangan Arga, menunggu waktu yang tepat bagi pria itu untuk mengepalkan jemarinya.
"Kita hanya perlu berkonsentrasi untuk satu hal sekarang... memberikan adik untuk Geo. Hanya itu," ucap Arga dengan nada yang begitu tenang, seolah sedang membicarakan jadwal bisnis biasa.
"Kau gila, Arga!" balas Ayu, suaranya naik satu oktav karena terkejut.
"Aku memang gila, Ayu. Dan aku menjadi gila karena kau yang menghilang dariku selama lima tahun," sahut Arga tanpa membantah.
Ayu segera memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap mata Arga yang begitu intens dan penuh tuntutan. Dadanya bergemuruh. "Kita tidak bisa melakukan ini lagi. Di antara kita tidak ada hubungan apa-apa."
Ayu sengaja mengucapkan itu, ia ingin memancing Arga. Ia ingin tahu, di posisi mana ia berdiri di hati pria itu sebenarnya.
"Siapa bilang kita tidak punya hubungan?" Arga mendekat, mengikis jarak hingga aroma tubuhnya kembali mengepung indra penciuman Ayu. Ia membungkuk, membisikkan kata-kata yang membuat dunia Ayu seolah berhenti berputar tepat di telinganya. "Kau milikku. Kau ibu dari putraku, dan ada satu hal lagi yang harus kau tahu, Ayunita..."
"A-pa?" tanya Ayu dengan napas tertahan.
"Kau adalah istriku yang sah.Karena Ardan telah menikahkanmu denganku."
DUARRRRRRRR
Wah...wah Arga sat...set juga ya.Mau tahu kapan Arga melakukan akad nikahnya dengan Ayu? Tunggu bab selanjutnya ya.
gak langsung ada ya Thor Bab nya jd penasaran aq /Smug//Smug/
Kapan nikah nya?
Lagian emang boleh readers di abaikan???
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???