NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 1

Dunia ini bernama emelegrand, sebuah dunia pedang dan sihir yang menjadi hal utama di dunia tersebut.

Didunia ini memiliki kekuatan sihir merupakan hal yang sangat istimewa karena mendapat berkah dari para dewa di atas.

Mereka percaya dewa di atas memberikan sihir kepada mereka untuk kehidupan mereka masing-masing.

Banyak yang seseorang menggunakan sihir menjadi penyihir, sword magic, sword man dan lainnya.

Namun kekuatan seperti itu terkadang membawa kehancuran banyak orang yang menyalahgunakan kekuatan tersebut untuk berbuat kehancuran, k

eserakahan manusia masing-masing, sehingga perang terjadi dimana-mana.

--------

Benua Vera...

Di sebuah wilayah terjadi perang yang sangat mengerikan disana tiga kerajaan di wilayah tersebut.

Mereka sedang berperang melawan seseorang disana bukan ratusan musuh atau ribuan musuh melainkan satu orang saja.

Lonceng kematian tidak lagi berdentang di Emelegrand.

Suaranya telah digantikan oleh melodi kematian yang lebih murni: deru api sihir yang melahap oksigen, jeritan logam yang beradu, dan rintihan ribuan nyawa yang terenggut dari raga.

Di Benua **Vera**, tanah yang konon diberkati oleh para dewa, kini tampak seperti kanvas yang tumpah oleh cat merah darah.

Langit yang biasanya biru cerah, kini tertutup jelaga hitam yang pekat, seolah para dewa sendiri memalingkan wajah mereka karena muak melihat keserakahan manusia.

Di pusat kehancuran ini, di sebuah dataran luas yang kini rata dengan tanah, berdiri satu sosok yang menjadi alasan mengapa tiga kerajaan terbesar di Vera menyatukan pasukan mereka dalam sebuah aliansi yang mustahil.

Dia adalah **Albus**. Sebuah nama yang berarti "Putih Bersih", merujuk pada helai rambutnya yang putih bak salju abadi di puncak gunung tertinggi.

Namun bagi ribuan tentara yang kini menjadi mayat di bawah kakinya, Albus adalah personifikasi dari kehampaan.

--- Angin berhembus membawa bau tembaga yang menyengat.

Di sekeliling Albus, hamparan padang rumput telah berubah menjadi rawa darah.

Panji-panji perang dari tiga kerajaan besar terkoyak, terinjak-injak di antara tumpukan baju zirah yang kosong.

"Hanya satu orang..." rintih seorang prajurit yang sekarat, matanya menatap kosong ke arah Albus.

"Bagaimana mungkin... satu manusia... bisa melawan berkat para dewa?"

Albus berdiri di tengah lingkaran maut itu. Jubah hitamnya yang dulu elegan kini compang-camping, menyatu dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.

Pedang di tangan kanannya, sebuah mahakarya baja tanpa ukiran sihir, telah retak di beberapa bagian.

Tangan kirinya, yang biasanya mampu memanggil badai api atau membekukan sungai dalam sekejap, kini bergetar hebat. Darah mengalir dari pelipisnya, melewati mata kirinya yang tertutup, dan menetes dari dagunya yang kokoh.

Napasnya berat, tersengal, seperti paru-parunya penuh dengan debu dan bara. "Berdiri... Albus!" teriak sebuah suara parau dari kejauhan.

Albus mendongak.

Di hadapannya, beberapa puluh meter di atas gundukan mayat, berdiri tiga sosok yang paling berkuasa di benua Vera.

Tiga raja yang seharusnya menjadi wakil dewa di bumi, kini tampak tak lebih dari sekadar orang tua yang ketakutan. -- **Raja Pedang** terengah-engah.

Lengan kanannya sudah tak berfungsi, tergantung lemas di samping tubuhnya yang penuh luka sayatan.

Ia menggunakan pedang besarnya sebagai tongkat agar tidak jatuh tersungkur. Di sampingnya, **Raja Tombak** berdiri dengan lutut yang gemetar; tombak sucinya yang legendaris telah patah menjadi dua, menyisakan sebilah kayu dan besi yang tumpul.

Sementara itu, **Raja Sihir** tampak paling mengenaskan—jubah kebesarannya hangus terbakar, dan tongkat sihirnya retak, menandakan ia telah menguras seluruh mana miliknya hingga batas terakhir.

"Kenapa kau tidak mati?!" teriak Raja Pedang, suaranya pecah oleh kemarahan dan keputusasaan.

"Kami memiliki berkat dari Dewa Perang! Kami memiliki ribuan pasukan! Bagaimana mungkin seorang pendosa yang tidak memiliki iman sepertimu bisa bertahan sejauh ini?!"

Albus terbatuk, memuntahkan darah kental ke tanah.

Ia memaksakan sebuah senyum tipis—senyum yang penuh dengan keletihan sekaligus penghinaan. "Iman?" suara Albus serak, hampir seperti bisikan, namun terdengar jelas di keheningan medan perang yang mengerikan itu.

"Kalian membantai jutaan orang atas nama dewa, lalu menyebutku pendosa karena aku tidak bersujud pada patung batu? Kalian menyebut sihir ini 'berkah', padahal itu adalah rantai yang membelenggu akal sehat kalian."

Raja Sihir melangkah maju dengan terhuyung-huyung. "Kau jenius, Albus! Dalam puluhan tahun, kau mencapai apa yang kami pelajari berabad-abad! Kau bisa menjadi pelayan dewa yang paling agung! Tapi kau memilih untuk menentang langit!"

"Aku tidak menentang langit," jawab Albus, ia memaksakan kakinya yang gemetar untuk melangkah maju satu tindak.

Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari tulang rusuknya yang patah. "Aku hanya menolak untuk berlutut. Jika kekuatan yang aku miliki ini dianggap sebagai ancaman bagi dewa kalian, maka mungkin dewa kalian memang tidak sepantas itu untuk disembah."

"Tutup mulutmu, Iblis!" raung Raja Tombak. Dengan sisa tenaganya, ia melemparkan potongan tombaknya ke arah Albus.

Albus tidak menghindar.

Ia tidak lagi memiliki cukup mana untuk memanggil perisai sihir.

Dengan refleks yang hanya dimiliki oleh seorang jenius perang, ia memutar tubuhnya sedikit.

Ujung tombak itu merobek bahunya, menambah luka dalam baru di tubuhnya yang sudah hancur.

Albus tersentak, jatuh berlutut. Satu tangannya menumpu pada tanah yang becek oleh darah. "Dia sudah mencapai batasnya!" teriak Raja Sihir dengan wajah penuh harapan yang gila.

"Lihat! Mananya sudah habis! Fisiknya sudah hancur! Serang dia sekarang!" --- Meskipun dalam kondisi yang mengerikan, Albus masih bisa merasakan aliran energi di sekitarnya.

Ya, tubuhnya hancur.

Tulangnya retak di belasan tempat. Mananya kering hingga ke dasar jiwanya.

Namun, matanya yang berwarna perak redup masih memancarkan aura ketajaman yang membuat ketiga raja itu ragu untuk mendekat.

Tiga raja itu maju perlahan, seperti predator yang mengepung mangsa yang terluka parah.

Mereka kelelahan, mereka menderita, namun kebencian dan ketakutan akan keberadaan Albus memberi mereka energi tambahan. "Ini akhirnya, Albus," ucap Raja Pedang, ia mengangkat pedangnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat.

"Sejarah akan mencatatkanmu sebagai bencana terbesar di Benua Vera. Dan kami... kami adalah pahlawan yang membebaskan dunia dari kegelapanmu."

Albus menundukkan kepalanya.

Rambut putihnya yang kini kusam oleh debu menutupi wajahnya. Ia tertawa pelan, suara tawa yang terdengar sangat sedih sekaligus sangat megah.

"Pahlawan...?" Albus bergumam. "Dunia yang kalian selamatkan ini akan tetap terbakar oleh keserakahan kalian sendiri. Tanpaku, kalian akan tetap saling bunuh untuk memperebutkan siapa yang paling disayangi oleh dewa kalian."

Albus mencoba untuk berdiri sekali lagi. Setiap inci ototnya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum panas.

Dengan usaha yang luar biasa, ia berhasil menegakkan punggungnya.

Ia berdiri tegak menghadap ketiga raja tersebut, meski matanya mulai mengabur dan kesadarannya perlahan menghilang.

Darah terus mengucur dari luka-lukanya, membasahi tanah Emelegrand untuk terakhir kalinya.

Di bawah langit yang hitam, di tengah ribuan mayat yang membeku, sang jenius berambut putih itu tetap berdiri—bukan sebagai penyembah dewa, bukan sebagai iblis, melainkan sebagai seorang manusia yang bebas hingga napas terakhirnya.

Ketiga raja itu mengangkat senjata mereka secara bersamaan.

Di detik-detik yang terasa membeku itu, hanya ada keheningan yang menyesakkan, sebuah penghormatan tanpa kata bagi musuh paling mengerikan yang pernah dilahirkan oleh dunia.

Langit Emelegrand seolah menahan napas. Keheningan yang mencekam itu pecah seketika saat ketiga raja, didorong oleh sisa-sisa adrenalin dan ketakutan yang mendarat di puncak saraf, melesat maju secara bersamaan.

Mereka tidak lagi bertarung dengan kehormatan; mereka bertarung untuk memastikan bahwa monster berambut putih ini benar-benar lenyap dari muka bumi.

Albus melihat mereka datang.

Dalam pandangannya yang mulai mengabur dan berwarna kemerahan karena darah yang masuk ke mata, gerakan mereka tampak lambat, namun tubuhnya tidak lagi mampu merespons dengan kecepatan pikiran jeniusnya. "Mati kau, penghina Dewa!" raung Raja Sihir.

Albus mencoba mengumpulkan sisa-sisa mana di dalam sirkuit sihirnya yang sudah retak.

Ia berniat memanggil ledakan api neraka untuk membakar segala yang ada di hadapannya dalam satu dentuman terakhir.

Ujung jarinya mulai memercikkan cahaya biru pucat—tanda elemen petir dan api yang mencoba menyatu.

Namun, sebelum mantra itu sempat terucap, sebuah hawa dingin yang menusuk tulang menjalar dari bawah kakinya. *Krak!* Es setajam silet dan sekeras baja tiba-tiba merambat dari tanah, membelenggu kaki Albus hingga sebatas pinggang.

Raja Sihir telah memprediksi gerakannya. Dengan sisa mana terakhirnya, sang raja mengunci mobilitas Albus. "Tidak akan ada pelarian lagi, Albus!" teriak Raja Sihir dengan wajah yang pucat pasi,

pembuluh darah di keningnya hampir pecah karena memaksakan sihir es tingkat tinggi tersebut. Albus terperanjat.

Matanya melebar saat menyadari kakinya kini telah menjadi satu dengan daratan yang membeku.

Di saat yang bersamaan, Raja Pedang telah berada di jangkauan serang.

Bilah pedang raksasa yang sudah tak utuh itu bersinar dengan aura keemasan yang redup—sisa berkat Dewa Perang.

*Jleb.*

Suara logam yang menembus daging dan mematahkan tulang rusuk terdengar begitu nyata di telinga Albus.

Pedang itu menghujam tepat di ulu hati, menembus jantungnya hingga ujung bilahnya keluar dari punggung. "Uhukk!" Albus memuntahkan darah dalam jumlah besar, membasahi baju zirah emas Raja Pedang. Tubuhnya tersentak hebat.

Rasa sakit itu melampaui apa pun yang pernah ia rasakan, sebuah sensasi dingin yang diikuti panas membara yang menjalar ke seluruh sistem sarafnya. "Ini... untuk sepuluh ribu prajuritku yang kau bantai!" desis Raja Pedang tepat di depan wajah Albus.

Matanya penuh dengan dendam yang mendarah daging.

Dalam kondisi jantung yang terkoyak, insting Albus masih bekerja.

Dengan sisa tenaga yang mustahil secara logika, ia mengangkat tangan kanannya yang masih memegang pedang retak, berniat menebas leher Raja Pedang dalam serangan bunuh diri.

Namun, dunia ini seolah memang sudah tak menginginkannya lagi. *Srak!* Sebuah kilatan perak melintas. Raja Tombak, dengan gerakan secepat kilat meski tubuhnya penuh luka, mengayunkan patahan tombaknya seperti pisau raksasa.

Dalam satu tebasan horor, lengan kanan Albus terlepas dari bahunya.

Pedang itu jatuh, berdenting di atas es, masih digenggam oleh jemari yang kini tak lagi bernyawa.

Darah menyembur dari bahu Albus yang buntung, melukis warna merah pekat di atas es putih yang membelenggunya.

Albus tidak lagi berteriak; suaranya telah hilang, digantikan oleh suara serak napas yang keluar dari paru-paru yang bocor. Raja Tombak tidak berhenti di situ.

Dengan wajah yang bengis, ia memutar posisi tombaknya dan menghujamkan bagian tumpul yang patah itu tepat ke perut Albus,

menembus organ dalam dan memaku tubuh pria itu semakin kuat ke tanah. "Kau hanyalah manusia, Albus," bisik Raja Tombak dengan napas tersengal.

"Manusia tidak seharusnya mencoba menjadi lebih tinggi dari para Dewa." Dunia di sekitar Albus mulai menggelap.

Suara teriakan para raja dan desir angin di Benua Vera perlahan menjauh, terdengar seperti suara dari dasar sumur yang dalam.

Pandangannya memudar, menyisakan titik-titik cahaya yang mulai padam satu demi satu.

Ia bisa merasakan hangat darahnya sendiri yang membanjiri tubuhnya, kontras dengan dinginnya es yang membekukan kakinya. Jantungnya memberikan denyutan terakhir yang lemah—sebuah upaya sia-sia untuk memompa kehidupan ke otak yang sudah kehilangan oksigen.

*Jadi, beginilah akhirnya?* pikir Albus di dalam sisa kesadarannya yang kian menipis. *Sendirian... di bawah langit yang membenciku.* Ia teringat masa puluhan tahun yang ia habiskan untuk berlatih, untuk memahami rahasia semesta tanpa perlu bersujud pada entitas yang tak terlihat.

Ia teringat bagaimana ia disebut jenius, bagaimana ia dicintai sekaligus ditakuti.

Kini, semua kejayaan itu hanyalah debu di tengah padang mayat ini.

Tangannya yang tersisa terkulai lemas di sisi tubuhnya.

Kepalanya tertunduk perlahan, rambut putihnya yang kini merah oleh darah menutupi wajahnya yang pucat pasi.

Albus ingin bergerak, setidaknya untuk meludah ke arah mereka yang menyebut diri mereka hamba Tuhan, namun sel-sel tubuhnya sudah menyerah pada maut. Meskipun nyawanya telah dicabut oleh kegelapan,

ada satu hal yang membuat ketiga raja itu melangkah mundur dengan rasa ngeri yang baru. Albus tidak tumbang.

Meski jantungnya telah berhenti berdetak, meski satu lengannya telah hilang, meski perutnya tertembus tombak dan kakinya membeku,

sosok itu tidak roboh ke tanah.

Ia tetap berdiri tegak, terpaku oleh pedang dan es, menjadi monumen mengerikan dari sebuah perlawanan yang tak masuk akal.

Matanya tertutup rapat, seolah-olah ia hanya sedang tertidur di tengah badai.

Ekspresi wajahnya tidak lagi menunjukkan kesakitan, melainkan sebuah kedamaian yang aneh—sebuah ketenangan dari seseorang yang akhirnya bebas dari beban dunia yang memuakkan.

Di medan perang Vera yang hancur, di hadapan tiga raja yang kini jatuh terduduk karena kelelahan dan syok emosional, Albus sang jenius tak beriman mati dengan cara yang paling terhormat sekaligus mengerikan.

Ia mati sambil berdiri, menantang dunia dan dewa hingga detik paling akhir.

Keheningan panjang menyelimuti Emelegrand, menandai berakhirnya sebuah era yang dihancurkan oleh satu orang, dan dimulainya era ketakutan bagi mereka yang

masih Bersambung...

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
lily
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!