Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: API DI DALAM NADA
Galeri itu kini berubah menjadi medan perang antara teknologi sunyi dan emosi yang meledak. Pasukan khusus bergerak maju dengan gerakan terkoordinasi sempurna, tanpa sepatah kata pun. Mereka menggunakan "Senjata Hening"—peluru sonik yang mematikan saraf motorik tanpa suara.
"Elara, sekarang!" Kai berteriak, menariknya ke tengah panggung proyektor yang sudah hancur.
Elara berdiri tegak. Ia melihat sekeliling—dunia yang serba abu-abu, tentara yang tanpa ekspresi, dan Kai yang tangannya mulai memancarkan cahaya keemasan yang berubah menjadi oranye panas. Ia tahu apa yang diminta Kai. Bukan lagi simfoni surgawi, melainkan jeritan kehidupan.
Elara menarik napas sedalam-dalamnya. Ia tidak lagi menggunakan teknik opera yang terkontrol. Ia mengeluarkan suara dari dasar jiwanya—sebuah teriakan melodi yang tajam, liar, dan penuh dengan gairah.
"AAAAAAAHHHHHHH——!"
Suara itu menghantam ruangan. Bersamaan dengan itu, Kai menghantamkan telapak tangannya ke lantai logam galeri. Simbol emas itu bereaksi terhadap frekuensi suara Elara, namun kali ini ia tidak memancarkan cahaya putih yang tenang.
Sebuah gelombang warna merah darah memancar keluar dari tangan Kai.
Di mata Kai yang monokrom, merah ini terasa seperti api yang membakar matanya. Ia bisa merasakan emosinya meluap—amarah atas kematian ayahnya, cintanya yang meluap pada Elara, dan rasa haus akan kehidupan yang nyata.
*WUUUUUZZZZ!*
Gelombang merah itu menyapu pasukan khusus. Seketika, topeng tanpa ekspresi mereka retak. Para tentara itu jatuh berlutut, bukan karena terluka fisik, tapi karena mereka mendadak dibanjiri oleh emosi yang telah mereka matikan selama bertahun-tahun. Salah satu dari mereka mulai menangis tersedu-sedu; yang lain berteriak amarah, melemparkan senjatanya ke dinding.
"Sistemnya... sistemnya sedang berbalik!" teriak seorang operator di markas pusat melalui radio yang bocor ke telinga Kai. "Spektrum Merah sedang menginfeksi jaringan pusat!"
Cahaya merah itu merambat melalui kabel optik, keluar dari gedung galeri, dan menyebar ke papan-papan iklan di seluruh ibu kota. Kota yang tadinya tenang dan patuh mendadak terbangun.
Di jalanan, orang-orang yang tadinya berjalan seperti robot mulai berhenti. Mereka mulai merasakan detak jantung mereka sendiri. Pasangan yang sudah lama tidak bicara mendadak bertengkar hebat, lalu berpelukan dengan tangis yang meledak. Keheningan Agung telah berakhir, digantikan oleh hiruk-pikuk kehidupan yang berantakan.
"Kai! Lihat tanganmu!" Elara berteriak.
Tangan Kai tidak hanya bersinar; kulitnya mulai retak, memancarkan energi merah yang tampak seperti lava. Spektrum Merah adalah energi yang destruktif bagi wadah manusia.
"Aku harus menuntaskannya, Elara!" Kai mengerang menahan sakit. "Jika aku berhenti sekarang, pemerintah akan mengisolasi gelombang ini dan mengubahnya menjadi amarah yang terkendali untuk perang!"
Kai memejamkan mata dan mengirimkan seluruh kesadarannya ke dalam jaringan digital yang dulu dihuni ayahnya. Ia melihat "hutan data" yang luas. Di sana, ia menemukan jantung dari sistem kendali global—sebuah algoritma bernama *'Luminance-Zero'*.
Tanpa ragu, Kai menyuntikkan "virus" Merah-nya ke dalam inti algoritma tersebut.
*KABOOOOM!*
Server utama di bawah gedung Lumina Corp meledak. Seluruh sistem pengawasan kota padam. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Ibu Kota benar-benar gelap dari teknologi, namun terang oleh emosi manusia.
Kai terhempas ke belakang, tubuhnya membentur pilar batu. Cahaya merah di tangannya padam, menyisakan luka bakar yang lebih parah dari sebelumnya. Ia terengah-engah, pandangannya menggelap.
Elara segera menghampirinya, mendekapnya di tengah debu galeri yang runtuh. "Kau berhasil, Kai. Kau membangunkan mereka."
Kai terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya. Ia melihat ke arah jendela galeri yang pecah. Di luar, langit tidak lagi putih. Langit itu berwarna hitam pekat, namun dihiasi oleh ribuan lampu dari rumah-rumah warga yang mulai menyala—lampu yang dinyalakan oleh tangan manusia yang kini memiliki keinginan sendiri.
"Dunia... dunia tidak lagi butuh pelukis seperti aku, Elara," bisik Kai lemah. "Mereka sudah mulai melukis nasib mereka sendiri."
"Tapi kau butuh aku," Elara mencium keningnya. "Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Di kegelapan galeri, di tengah sisa-sisa reruntuhan, mereka mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Namun kali ini, bukan langkah kaki militer. Itu adalah langkah kaki warga sipil—orang-orang yang tadi berada di sekitar galeri, yang datang membawa senter dan kain medis, ingin menolong "si pembawa warna" yang telah membebaskan mereka.
Kai menutup matanya dengan senyum tipis. Ia masih buta warna, tapi di dalam hatinya, ia baru saja melihat spektrum yang paling indah: merahnya kehendak bebas manusia.
Namun, di antara kerumunan itu, sebuah bayangan tetap berdiri diam. Seseorang yang tidak terpengaruh oleh Spektrum Merah. Seseorang yang mengenakan kalung dengan simbol yang sama dengan simbol emas di tangan Kai, namun berwarna hitam kelam.