bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.
Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
si kecil diantara remaja
Matahari pagi belum sepenuhnya muncul saat Jinyu sudah bangun dan bersiap. Koper kecilnya telah dikemas semalam dari baju-baju hangat, beberapa buku, dan oleh-oleh dari Ibu su berupa kue kering buatan sendiri. Di luar, Ayah Su sudah menunggu dengan mobil jip militer.
Ibu su memeluknya erat di pintu. Air matanya tak terbendung meski berusaha tersenyum. "Nak, jaga diri baik-baik. Kalau kangen, tulis surat. Ibu akan baca berulang-ulang."
"Iya, Bu. Jangan khawatir." Jinyu membalas pelukan itu hangat.
Kakak Ketiga—Su Weimin—cemberut sejak tadi. "Yuyu, nanti kalau aku jago bela diri, aku akan jemput kamu. Janji."
Jinyu tersenyum. "Aku tunggu, Kakak Ketiga."
Ayah Su menggandeng tangannya menuju mobil. Kakak Pertama dan Kakak Kedua sudah pamit lebih awal karena harus kembali ke asrama masing-masing, tapi pesan mereka masih terngiang: "Jaga diri, Adik."
Mobil melaju meninggalkan kompleks militer. Jinyu menatap ke belakang, melihat Ibu Liu dan Kakak Ketiga melambai hingga lenyap dari pandangan. Dadanya terasa hangat dan perih bersamaan.
["Mengharukan,"] sistem berkomentar. ["Tapi kau tidak akan menangis, kan?"]
Ratu iblis tidak pernah menangis.
["Hmm."]
Yoyo yang melingkar di pergelangan tangannya hanya diam, ikut merasakan.
Perjalanan ke pegunungan memakan waktu hampir seharian. Mobil jip melaju meninggalkan kota, melewati desa-desa kecil dengan sawah menghijau, hutan bambu yang rimbun, dan jalan setapak berliku yang mulai menanjak. Semakin tinggi, udara semakin sejuk. Ayah Su sesekali menjelaskan pemandangan, tapi Jinyu lebih banyak diam, mengamati.
Menjelang sore, mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi. Dikelilingi pegunungan tinggi dengan puncak-puncak menjulang, lembah ini seperti dunia lain. Di tengahnya, sebuah kompleks barak kayu besar berdiri kokoh. Lapangan luas terbentang di depan, dengan berbagai rintangan dan perlengkapan latihan. Bendera merah berkibar di tiang tinggi.
"Ini dia," kata Ayah Su pelan. "Kamp pelatihan khusus. Hanya orang tertentu yang tahu tempat ini."
Mobil berhenti di gerbang kayu besar. Dua penjaga bersenjata memeriksa surat izin, lalu memberi hormat. Mereka dipersilakan masuk.
Saat mobil memasuki area barak, Jinyu melihat puluhan remaja berkumpul di lapangan. Usia mereka bervariasi dari yang tampak 10 tahun hingga yang hampir dewasa. Seragam mereka sama: baju latihan hijau. Mereka sedang dalam posisi istirahat, mungkin menunggu pengarahan.
Begitu mobil berhenti, semua mata tertuju pada Jinyu saat ia turun.
Gadis kecil berbaju merah, rambut cokelat tergerai, kulit putih, postur tegap tapi tingginya... 1,2 meter, sama seperti anak 7-8 tahun pada umumnya.
"Hei, lihat itu!"
"Anak baru?"
"Wah, umurnya berapa, ya? 10 tahun?"
"Mungkin 9. Tingginya segitu."
Jinyu mendengar bisik-bisik itu, tapi tidak bereaksi. Ia berjalan di samping Ayah Su menuju bangunan utama.
Dari kerumunan, seorang remaja laki-laki bersiul pelan. "Cantik juga. Rambutnya aneh, warnanya cokelat. Mungkin campuran?"
Yang lain menyikutnya. "Jangan macam-macam. Dia masih kecil."
Di dalam bangunan utama, Ayah Su bertemu dengan seorang pria paruh baya dengan wajah keras seperti batu. Tubuhnya tegap, matanya tajam, dan bekas luka di pelipis kirinya menambah kesan garang. Ia mengenakan seragam militer sederhana tapi rapi.
"Komandan Lei," sapa Ayah Su dengan hormat. "Ini putri saya, Su Jinyu."
Jinyu membungkuk sopan. "Selamat sore, Komandan Lei."
Komandan Lei menatap Jinyu dari atas ke bawah. Matanya menyipit. "Tingginya bagus. Postur tegap. Usia 10 tahun, ya? Cocok untuk program ini."
Jinyu menggeleng pelan. "Maaf, Komandan. Saya bukan 10 tahun."
Komandan Lei mengerutkan dahi. "Berapa?"
"Empat tahun, Komandan. Tepatnya 4 tahun 7 bulan."
Hening.
Komandan Lei menatap Ayah Su, lalu kembali ke Jinyu, lalu ke Ayah Su lagi. "Yichen, ini serius?"
Ayah Su mengangguk. "Serius, Komandan. Putri saya memang tinggi di atas rata-rata usianya. Tapi kemampuannya sudah teruji. Komandan Xu sendiri yang merekomendasikannya."
Komandan Lei menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya, lalu menatap Jinyu dengan tatapan baru, campuran antara heran, kagum, dan agak pusing.
"Jadi maksudmu, selama ini aku pikir peserta tambahan yang disebut 'istimewa' itu anak 10 tahun, ternyata... balita?"
Jinyu tersenyum tipis. "Saya bisa mengikuti latihan, Komandan. Saya janji tidak akan merepotkan."
"Bukan itu masalahnya," Komandan Lei berjalan mondar-mandir. "Program ini untuk usia 10-17 tahun. Materi latihannya berat. Fisik, mental, strategi, semuanya dirancang untuk remaja. Kau masih..." Ia menunjuk Jinyu, "...sebesar itu."
Jinyu diam. Ia mengerti keraguan itu. Tapi ia juga tahu kemampuannya.
"Ayah," panggilnya pelan. "Boleh aku tunjukkan pada Komandan?"
Ayah Su mengangguk. "Silakan."
Jinyu melangkah ke tengah ruangan. Ia melihat sebuah kursi kayu di sudut. Dalam dua langkah, ia sudah di sana, melompat ke sandaran kursi, berputar di udara, mendarat dengan satu tangan, lalu berguling dan kembali berdiri di hadapan Komandan Lei, semua dalam hitungan detik.
Komandan Lei terbelalak. Gerakan itu mulus, cepat, presisi. Bahkan prajurit dewasa butuh latihan lama untuk bisa seperti itu.
"Itu... kau latihan di mana?"
"Dengan Ayah di rumah, Komandan. Dan program Kakek Xu selama sebulan terakhir."
Komandan Lei terdiam lama. Lalu ia tertawa—tawa keras yang menggema di ruangan. "Komandan Xu... kau benar-benar memberiku kejutan." Ia menatap Jinyu dengan penuh minat. "Baik. Aku terima kau di sini. Tapi ingat, tidak ada keringanan. Kau ikut aturan yang sama dengan yang lain."
"Siap, Komandan."
Ayah Su pamit dengan berat hati. Di gerbang barak, ia memeluk Jinyu sekali lagi. "Jaga diri, Yuyu. Kalau ada masalah, tulis surat. Atau minta telepon markas, mereka akan hubungi Ayah."
"Iya, Ayah. Ayah juga jaga kesehatan. Sampaikan salam pada Ibu dan kakak-kakak."
Ayah Su mengusap kepala Jinyu, lalu masuk ke mobil. Jip itu melaju perlahan meninggalkan lembah. Jinyu berdiri di gerbang, menatap hingga mobil lenyap di balik pepohonan.
["Sendirian lagi,"] sistem berkomentar. ["Tapi kali lain rasanya."]
Iya. rasanya lain.
Yoyo melingkar erat di pergelangannya, memberi kehangatan.
Sore harinya, Jinyu diperkenalkan ke semua peserta. Lapangan dikumpulkan, seratusan remaja berdiri dalam barisan rapi. Komandan Lei berdiri di depan, Jinyu di sampingnya.
"Perkenalkan anggota baru," suara Komandan Lei menggema. "Su Jinyu. Mulai hari ini, ia akan bergabung dalam pelatihan."
Sunyi. Semua menatap Jinyu dengan rasa ingin tahu.
Seorang remaja laki-laki mungkin 15 tahun berseru dari barisan, "Komandan, umurnya berapa?"
Komandan Lei tersenyum tipis. "Jinyu, katakan sendiri."
Jinyu melangkah maju, menatap seratus pasang mata yang tertuju padanya. Dengan suara tenang dan jelas, ia berkata, "Nama saya Su Jinyu. Umur saya 4 tahun. Senang berkenalan dengan kakak-kakak semua."
Hening.
Lalu pecah keributan.
"EMPAT TAHUN?!"
"Apa-apaan ini?"
"Dia setinggi itu umur 4 tahun?"
"Gila!"
Seorang gadis remaja mungkin 13 tahun berteriak, "Itu mustahil! Anak 4 tahun mana ada yang setinggi itu?"
Yang lain menimpali, "Iya! Tingginya sama seperti adikku yang 8 tahun!"
Jinyu hanya diam, menunggu mereka reda. Komandan Lei mengangkat tangan, dan semua langsung diam.
"Dia benar-benar 4 tahun," tegas Komandan Lei. "Dan kalian akan lihat sendiri kemampuannya. Jangan remehkan dia hanya karena usia."
Seorang remaja laki-laki di barisan depan dan paling tua, mungkin 17 tahun bersiul pelan. "Menarik."
Setelah pengarahan, Jinyu diantar ke kamarnya. Sebuah kamar kecil di ujung barak, terpisah dari kamar-kamar lain. Alasannya: usia. Tak mungkin ia sekamar dengan remaja 15-17 tahun. Kamar itu sederhana dengan ranjang kayu, meja kecil, lemari, dan jendela menghadap ke hutan.
Jinyu duduk di ranjang, merapikan barang-barangnya. Dari jendela, ia bisa melihat barisan pegunungan menjulang di kejauhan. Udara dingin menusuk, tapi selimut tebal sudah disiapkan.
Malam turun cepat di pegunungan. Suara-suara aneh mulai terdengar suara serangga malam, burung hantu, mungkin juga binatang liar. Jinyu tidak takut. Ia sudah terbiasa dengan hal-hal lebih menyeramkan.
Yoyo muncul, melingkar di pangkuannya.
Shshsss~ "Sendirian lagi di tempat asing."
Kau ada di sini.
Shshsss~ "Iya. Tapi tetap..."
["Aku juga ada,"] sistem menambahkan. ["Meskipun cuma suara."]
Jinyu tersenyum. Kalian berdua sudah cukup.
Ia menatap ke luar jendela. Bulan purnama bersinar terang, menerangi puncak-puncak gunung. Angin malam berdesir, membawa aroma pinus dan tanah basah.
Besok, latihan dimulai. Besok, ia harus membuktikan diri di hadapan seratus remaja yang meragukannya.
Tapi Jinyu tidak gentar.
Dia adalah mantan ratu iblis. Dia telah melewati hal-hal yang jauh lebih berat.
Dan dia punya misi: menjadi kuat, melindungi keluarga yang telah memberinya rumah.
Besok, pikirnya. Aku akan tunjukkan pada mereka.
Ia merebahkan diri, memejamkan mata. Yoyo melingkar di perutnya, sistem diam memantau.
Malam pertama di pegunungan.
Awal dari petualangan baru.