Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Cemburu
Tepat pukul dua belas siang, Samudra akhirnya sampai di kamar hotel. Ia membuka pintu, dan—
Langkahnya langsung terhenti sesaat.
Samira dan Binar ternyata sudah siap.
Binar berdiri di dekat kasur dengan dress bunga-bunga, rambutnya dikuncir rapi. Wajahnya cerah, seolah sudah tidak sabar untuk keluar.
Sementara Samira…
Samudra tanpa sadar sedikit terdiam.
Ia mengenakan celana kulot panjang yang sopan. Namun atasannya tanpa lengan, memperlihatkan bagian bahu dan lengannya dengan jelas.
Tidak berlebihan. Tidak juga terlalu terbuka.
Tapi—
Bagi Samudra, itu cukup membuatnya… salah fokus.
“Itu kenapa atasanmu kelihatan banget?” tanya Samudra akhirnya, nada suaranya terdengar lebih serius dari yang ia kira.
Samira menoleh, sedikit bingung. Ia lalu melihat dirinya sendiri sekilas.
Ia memang memakai atasan tanpa lengan, bahan ringan yang terasa adem.
“Kenapa, Mas?” jawabnya santai. “Bagus kok. Ini juga adem dipakai.”
Memang tidak ada yang salah. Bahkan jika dilihat secara umum, itu masih tergolong wajar.
Namun Samudra menggeleng pelan.
“Bawahannya nggak apa-apa,” ujarnya.
“Tapi atasannya… kamu ganti, atau pakai kardigan.”
Samira langsung menarik napas kecil. Ekspresinya berubah sedikit.
“Loh, ini kenapa lagi, Mas?” protesnya pelan.
“Ini nggak terlalu terbuka kok. Banyak juga yang pakai kayak gini.”
Ia menatap Samudra.
“Aku juga sudah siap dari tadi. Tinggal berangkat.”
Samudra terdiam sejenak. Tatapannya masih tertuju pada Samira.
“Aku tahu,” jawabnya pelan.
“Tapi aku nggak suka.”
Jawaban itu membuat Samira sedikit terkejut.
“Kenapa?” tanyanya, kali ini lebih serius.
Samudra tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pelan, lalu berjalan mendekat.
“Karena aku gak mau milik aku dilihat sama orang lain…” ucapnya pelan.
Samira mengernyit.
“Kenapa?”
Samudra menatapnya lurus.
“Aku gak suka milik aku dilihat sama orang lain.”
Samira langsung terdiam.Ia langsung teringat kejadian di restoran tadi malam. Aria yang menatapnya cukup lama.
“Mas…” ucapnya pelan.
“Aku nggak nyaman,” lanjut Samudra jujur.
Bukan marah.
Bukan menyuruh.
Tapi…
Lebih seperti mengungkapkan apa yang ia rasakan. Samira terdiam beberapa detik. Tatapannya sedikit melunak.
“Jadi ini karena itu?” tanyanya pelan.
Samudra mengangguk kecil.
“Iya.”
Hening.
Lalu—
Samira menghela napas pelan.
“Kamu cemburu lagi?” tanyanya.
Samudra tidak menyangkal.
“Iya.”
Jawaban jujur itu lagi. Samira menunduk sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Mas ini ya…” gumamnya.
Ia berjalan ke arah koper, mengambil satu kardigan tipis.
“Ini aku pakai, ya?” ujarnya sambil mengangkat sedikit pakaian itu.
Samudra memperhatikannya.
“Iya.”
Samira lalu mengenakan kardigan tersebut. Penampilannya tetap sama, hanya saja kini lebih tertutup.
Ia berbalik menghadap Samudra.
“Sudah?” tanyanya.
Samudra mengangguk pelan.
“Sudah.”
Binar yang sejak tadi memperhatikan akhirnya ikut bersuara,
“Papa… Mama cantik!”
Samira langsung tersenyum lebar.
“Terima kasih, sayang.”
Samudra ikut tersenyum tipis.
“Iya… cantik.”
Namun kali ini—
Tatapannya berbeda.
Samira sedikit salah tingkah, lalu cepat-cepat meraih tasnya.
“Ya sudah, kita berangkat?” ucapnya.
Samudra mengangguk.
“Ayo.”
Ia menggenggam tangan Binar, sementara Samira berjalan di sampingnya.
@@@
Sesampainya di restoran, mereka langsung memesan makanan.
Suasana cukup ramai, tapi tetap nyaman. Binar duduk di tengah, sesekali memainkan tab yang diberikan Samira tentu dengan batas waktu.
“Nanti kalau makan, tab-nya Mama simpan ya,” ujar Samira lembut.
“Iya, Mama,” jawab Binar tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Samira hanya tersenyum kecil.
Sementara itu, Samudra duduk di seberangnya. Tatapannya sempat tertuju pada Samira beberapa detik, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Lalu—
“Aku mau ngomong sama kamu… boleh?” tanya Samudra akhirnya.
Samira langsung menoleh.
“Boleh dong. Mau ngomong apa, Mas?”
Samudra menarik napas pelan, lalu berkata,
“Kalau misalnya suatu saat… atau dalam waktu dekat ini… aku ajak kamu makan siang atau makan malam bareng teman-teman aku… kamu mau nggak?”
Samira sedikit terkejut. Pertanyaan itu…
Tidak pernah ia bayangkan akan keluar dari Samudra. Namun tanpa ragu, ia menjawab,
“Aku sih mau-mau saja. Nggak keberatan sama sekali.”
Ia tersenyum kecil.
“Kalau suatu hari aku diajak ketemu teman-teman kamu, klien kerja kamu, aku bisa kok.”
Samudra menatapnya, memastikan.
“Serius? Kamu nggak keberatan?”
Samira menggeleng pelan.
“Nggak.”
Lalu, dengan suara yang lebih lembut, ia menambahkan,
“Justru aku senang kalau kamu kenalin aku ke teman-teman kamu, Mas.”
Selama ini—
Samira selalu berada di belakang.
Sebagai istri yang… tidak pernah benar-benar diperkenalkan. Bukan karena tidak sah. Tapi karena tidak pernah diberi dianggap.
Dan hari ini—
Untuk pertama kalinya, ada harapan. Samudra menangkap itu. Ia tersenyum tipis.
“Oke. Kalau begitu, nanti kalau ada kesempatan… aku ajak kamu, ya.”
Samira mengangguk.
“Iya.”
Namun beberapa detik kemudian, Samudra kembali berbicara.
“Tapi kalau boleh jujur…”
Samira menatapnya.
“Tadi sebenarnya Pak Bastian sempat ngajak kita makan siang bareng. Kamu sama Bibi.”
Samira sedikit terkejut.
“Terus?”
“Aku tolak.”
“Kenapa?” tanya Samira spontan.
Samudra menjawab tenang,
“Karena aku butuh persetujuan kamu.”
Ia menatap Samira lurus.
“Aku nggak mau ambil keputusan sepihak. Takutnya kamu nggak nyaman.”
Samira terdiam.
Beberapa detik.
“Mas…” ucapnya pelan.
“Iya?”
“Makasih ya… sudah ngertiin aku.”
Ia tersenyum.
“Lain kali, kamu tinggal bilang saja. Kalau aku lagi bisa, pasti aku ikut kok.”
Samudra mengangguk.
“Iya.”
@@@
Tak lama kemudian, makanan datang. Aroma hangat langsung memenuhi meja. Samira mengambil tab dari tangan Binar.
“Sudah ya, sekarang makan dulu.”
“Iya…” jawab Binar, sedikit enggan tapi tetap menurut.
Samudra tersenyum melihat itu. Ia lalu mengambilkan makanan untuk Binar, meniupnya sedikit sebelum diberikan.
“Hati-hati, masih panas.”
“Iya, Papa.”
Samira memperhatikan dari samping.
Lagi-lagi…
Pemandangan sederhana. Tapi terasa sangat berarti.
@@@
Di tengah makan, Samudra tiba-tiba berkata pelan,
“Mir…”
Samira menoleh.
“Iya, Mas?”
“Ada satu lagi yang mau aku bilang.”
Samira mengernyit kecil.
“Apa?”
Samudra terdiam sebentar. Seolah memilih kata. Lalu—
“Nanti… kalau aku ajak kamu ketemu klien…”
Ia berhenti sejenak.
“Aku bakal kenalin kamu sebagai istri aku.”
Sendok di tangan Samira terhenti. Matanya sedikit membesar.
Untuk beberapa detik—
Ia tidak bisa berkata apa-apa. Kalimat itu…
Adalah sesuatu yang selama ini hanya ia simpan sebagai harapan.
Harapan kecil.
Dan sekarang—
Diucapkan langsung oleh Samudra.
“Mas…” suaranya pelan.
“Iya?”
Samira tersenyum. Tapi kali ini… Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Iya… aku mau.”
Samudra mengangguk pelan. Sementara di tengah mereka—
Binar yang tidak paham apa-apa hanya berkata polos,
“Papa… aku mau tambah ayam.”
Keduanya langsung tertawa kecil. Dan suasana kembali hangat.
@@@
Setelah selesai makan siang, mereka sempat berjalan keluar restoran.
Udara siang terasa hangat, tapi tidak terlalu menyengat.
Binar yang berjalan di tengah-tengah, tiba-tiba menarik tangan Samira.
“Mama… Bibi mau es krim,” pintanya dengan suara manja.
Samira langsung tersenyum.
“Habis makan, langsung es krim?”
Binar mengangguk cepat.
“Iya!”
Samudra yang mendengar itu menggeleng kecil, tapi sudut bibirnya terangkat.
“Ya sudah,” ujarnya. “Kita cari yang dekat saja.”
Tak jauh dari sana, mereka menemukan sebuah kedai es krim kecil dengan desain yang lucu dan warna-warni.
Begitu masuk, udara dingin langsung menyambut.
“Mau yang mana?” tanya Samira sambil menggendong Binar agar bisa melihat pilihan rasa.
“Yang pink!” tunjuk Binar antusias.
“Strawberry, ya,” tebak Samira.
“Iya!”
Samudra memesan es krim untuk mereka. Untuk Binar, strawberry. Untuk Samira, cokelat. Sementara ia sendiri memilih vanilla.
Mereka duduk di salah satu meja kecil.
Binar langsung sibuk menikmati es krimnya dengan penuh semangat.
“Enak!” serunya.
Samira tertawa kecil, lalu mengusap sedikit es krim yang menempel di sudut bibir putrinya.
“Pelan-pelan, nanti dingin.”
Sementara itu, Samudra yang duduk di seberangnya sempat melirik ke arah sekitar. Dan di sanalah seseorang berdiri tidak jauh dari meja mereka.
Seorang wanita.
Matanya langsung tertuju pada Samudra. Beberapa detik. Lalu—
“Samudra?”
Suara itu membuat Samudra menoleh. Dan dalam sekejap—
Ekspresinya berubah.
“Vania?”
Wanita itu tersenyum lebar, lalu berjalan mendekat.
“Ya ampun, kamu? Lama banget nggak ketemu!” ujarnya spontan.
Samudra berdiri sedikit.
“Iya… lama banget.”
Samira yang duduk di sana hanya bisa diam, memperhatikan. Vania kemudian melirik ke arah meja.
“Oh…” senyumnya melebar.
“Kamu sama keluarga?”
Samudra mengangguk.
“Iya.”
Ia lalu sedikit menggeser tubuhnya.
“Ini istri aku, Samira.”
Samira sedikit terkejut. Namun ia tetap tersenyum dan mengangguk sopan.
“Halo…”
Vania langsung tersenyum ramah.
“Hai! Aku Vania… teman lama Samudra.”
Nada suaranya hangat, tapi penuh percaya diri.
“Wah, akhirnya ya…” lanjutnya sambil melirik Samudra.
Samira tidak sepenuhnya mengerti maksudnya. Namun ia tetap tersenyum.
“Iya…”
Vania lalu menoleh ke arah Binar.
“Ini anak kamu?” tanyanya.
Samudra mengangguk.
“Iya.”
“Lucu banget,” puji Vania.
Binar hanya tersenyum malu, lalu kembali fokus ke es krimnya. Beberapa detik mereka berbincang.
Tentang kabar.
Tentang pekerjaan.
Tentang hal-hal lainnya.
Namun—
Samira mulai merasakan sesuatu. Cara Vania berbicara. Cara ia menatap Samudra. Terlalu aneh untuk seorang teman.
Seolah mereka punya banyak cerita di masa lalu.
Dan Samudra… Terlihat begitu menikmati setiap ceritanya.
Samira terdiam.
Tangannya perlahan menggenggam sendok lebih erat. Tidak mengatakan apa-apa. Namun perasaannya mulai berubah.
“Ya sudah, aku nggak mau ganggu,” ujar Vania akhirnya.
“Tadi cuma kaget saja lihat kamu di sini.”
Ia tersenyum.
“Senang ketemu lagi, Sam.”
Samudra mengangguk.
“Iya.”
Lalu—
Vania melirik ke arah Samira.
“Senang juga kenal kamu.”
Samira mengangguk tipis.
“Iya…”
Dan tanpa banyak kata lagi, Vania pun pergi.
@@@
Beberapa detik setelah itu—
Hening.
Binar masih sibuk dengan es krimnya. Namun suasana di antara Samira dan Samudra…
Berubah.
Samira menunduk, pura-pura fokus pada es krimnya.
“Teman lama?” tanyanya akhirnya, pelan.
Samudra menoleh.
“Iya.”
“Dekat?” tanya Samira lagi.
Samudra terdiam sejenak.
“Dulu… iya.”
Jawaban itu jujur. Tapi justru membuat dada Samira terasa sedikit sesak.
“Oh…” gumamnya.
Ia mencoba tersenyum.
Tapi tipis.
Samudra memperhatikannya.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
Samira menggeleng.
“Nggak apa-apa.”
Namun kali ini Samudra tidak langsung percaya. Ia sedikit mendekat.
“Kamu cemburu?”
Samira langsung menoleh.
“Enggak…” jawabnya cepat.
Samudra mengangkat alis sedikit.
“Mir…”
Samira menarik napas pelan. Lalu akhirnya—
“Iya…” ucapnya pelan.
Jujur.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menahan itu. Samudra terdiam beberapa detik.
Lalu—
Tanpa banyak kata—
Ia mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Samira di atas meja.
Pelan.
“Tadi aku kenalin kamu sebagai istri aku,” ujarnya.
Samira menatapnya.
“Iya…”
“Dan itu bukan cuma ke dia,” lanjut Samudra.
“Tapi ke semua orang nanti.”
Nada suaranya tenang.
Tapi tegas.
Samira terdiam.
Perlahan…
Rasa tidak nyaman itu mereda. Digantikan sesuatu yang lebih hangat.
“Mas…” ucapnya pelan.
“Iya?”
Samira tersenyum kecil.
“Nggak jadi cemburu.”
Samudra tersenyum tipis.
“Bagus.”
Di samping mereka—
Binar tiba-tiba berseru,
“Papa! Mama! Es krim Bibi habis!"
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!