Mati karena peluru lalu jiwa bertransmigrasi ke dalam raga seorang yang ternyata adalah seorang figuran tanpa nama yang miskin. Anin pun bertekad untuk merubah takdir nya memanfaatkan wajah polos raga barunya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak rapuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 3
Ara duduk sendirian di karpet bulu ruang tengah, Pramudita sudah pergi ke kantor karena ada urusan penting. Larasati juga keluar karena harus berkumpul dengan teman sosialita nya. Ara di tinggalkan dengan beberapa pelayan dan bodyguard.
Perhatian Ara teralihkan karena ada suara rame rame dari luar senyum nya mengembang sempurna melihat kedatangan segerombolan anak remaja yang memakai seragam sekolah.
Ara berjalan menghampiri mereka. "Kak Silviana" panggil nya dengan ceria. Orang-orang itu menatap Ara bingung
"Adik lo Sil? Imut banget!"
Mendapatkan tatapan datar dari Silviana, Ara tersenyum kikuk. Dalam hati ia sungguh merasa kesal. Ingin sekali ia menjambak rambut anak ingusan seperti Silviana ini. Tokoh fiksi saja belagu.
"Papa sama mama lagi di luar kak," ucap Ara. Sengaja untuk menarik perhatian.
"Gue udah tau!" ketus Silviana.
"Masuk guys gue ganti baju dulu." ucap Silviana
Ara ingin sekali memukul Silviana. "Kalian teman-teman kak Silviana?" Daripada kesal dengan Silviana. Lebih baik Ara cari muka saja dengan mereka. Karena mereka adalah tokoh penting di sini. Male lead dan juga teman-teman nya
"Kenalin aku Elara, dipanggil Ara. Adik angkat kak Silviana, kalian siapa?"tanya Elara
"Gue Julian Halim panggil aja abang ganteng" goda Julian sambil mengedipkan matanya.
Puk
"Gak usah ganjen lo kadal gurun! Kenalin neng, aa paling tampan di sini. Marco Adhitama" Berbeda dengan Julian yang tampangnya seperti playboy abal-abal. Wajah Marco tipekal cowok softboy.
"Kalo gue Darian Guntara, ini kembaran gue Darius Guntara. Panggil senyaman lo aja" Walau namanya Darian tapi sikapnya berlawanan arah dengan nama nya itu. Darian tidak berisik tapi kalem. Kalau Darius lebih ke cuek dan tidak peduli dengan sekitar kecuali Silviana.
"Dia Arsen Mahendra." sambung Darius.
"Sorry ya Ara, orang nya emang gitu" imbuh Julian tak enak
"Enggak papa kok. Kalian mau minum gak? Ara ambilin deh." Kekesalan Ara yang awalnya mula mereda muncul kembali karena melihat respon Arsen yang acuh.
"Eh gak usah." tolak Marco Pasalnya, Ara itu kecil. Takut tak kuat mengangkat nampan.
"Di bantuin bibi pelayan kok, tunggu di sini ya!" ucap Elara
Belum sempat Marco menahan. Ara sudah berlari kecil menuju dapur Julian tertawa melihat itu.
"Lucu banget anying!" ucap Julian
Guntur mendelik mendengar ucapan temannya. "Dasar pedofil lol" hina nya sambil melempar bantal sofa
Silviana yang sudah berganti pakaian turun lalu duduk di samping Arsen. Yang tentunya di sambut Arsen dengan senang hati.
"Caelah pacaran terus, gak ingat tempat!" cibir Julian.
"Main game kuy!" ajak Marco yang langsung di angguki mereka. Mereka pun mabar kecuali Silviana. Gadis itu lebih memilih untuk melihat Arsen yang main game dengan lihai.
"Silviana! Kamu ini keterlaluan sekali membiarkan Ara membawa nampan, dia baru keluar dari rumah sakit."ucap marah Pramudita
Pramudita merebut nampan di tangan Ara lalu meletakkannya di atas meja dengan tidak santai.
"Aku tidak menyuruh dia!" jawab Silviana. Ara memegang lengan Pramudita membuat pria itu menoleh.
"Papa jangan marah. Ini bukan kemauan kak Silviana kok." ucap Elara
"Tetep aja, harusnya dia larang kamu! Sekarang masuk kamar."Ucap pramudita tegas
Ara menggeleng. la belum mendekati para tokoh, rugi kalau membiarkan mereka lolos hari ini.
"Elara Maheswari masuk ke kamar!" titah Pramudita, mutlak. Dengan terpaksa Ara menurut.
"Silviana, papa sudah bilang di chat kan? Ara bakal jadi adik kamu. Jadi kamu harus jaga Ara" ujar Pramudita.
"Aku gak butuh adik pa!"Ucap Silviana ketus
Arsen menyentuh bahu Silviana.
"Om, seharusnya ambil keputusan jangan sepihak. Harus dengerin pendapat Sil.." ucap Arsen dijeda
Pramudita dengan datar langsung memotong ucapan Arsen. "Orang luar tidak layak mengomentari urusan keluarga ku. Dan apa ini Silviana? Kamu membawa banyak laki-laki ke dalam rumah? Kamu tidak berpikir konsekuensi dari pandangan tetangga?"
"Pa mereka teman-teman Silviana!"ucap Silviana marah
"Apa susah nya memiliki teman perempuan Silviana?! Bukankah mama sudah pernah bilang, jangan lagi berteman dengan anak laki-laki!"ujar Pramudita marah
"Om maaf nih menyela, tapi kami mau kerja kelompok," sela Darius agar Silviana tidak terpojok. Ucapan Darius di iyakan oleh mereka. Ara yang mengintip di balik tembok berdecak kesal. Rupanya mereka sudah sangat dekat dengan Silviana, sampai-sampai rela berbohong seperti itu.
Tak ingin membuat suasana hatinya semakin buruk. Ara lekas masuk ke kamar menunggu kedatangan Larasati
"Lain kali kerjakan di tempat lain! Saya tidak mau mendapatkan rumor menjijikkan." sarkas Pramudita. Pria itu berjalan meninggalkan ruang tengah.
"Sil lo gak papa?" tanya Darian Silviana menggeleng
"maaf ya kalian harus jadi dengar itu dari papa aku" ucap Silviana
"Gak masalah Sil, santai ajalah" sahut Marco sambil tersenyum.
"Ayo, katanya mau ngerjain tugas?" jahil Julian kepada Darius.
"Ck" decakan Darius membuat Julian tertawa di ikuti yang lain.
"Loh apa ini kok rame?" Larasati kaget melihat keadaan ruang tengah yang terlihat agak berantakan. Beberapa kulit kacang berserak di lantai.
"Kita tadi kerja kelompok tante," jawab Marco , melirik Darius. Darius yang di lirik mendengus. Tidak bosan kah mereka mengejeknya sejak tadi?
"Jangan lupa bereskan ya, soalnya nanti ada semut. Takut Ara jadi bentol-bentol." Setelah mengatakan itu Larasati berlalu meninggalkan mereka
Silviana termenung di tempatnya. Biasanya mama nya kalau pulang dari luar selalu memeluk atau mencium nya walau Silviana menolak
"Sil kita pulang dulu ya udah sore banget nih."
Lamunan Silviana buyar la mengangguk sambil tersenyum. "Hati-hati jangan ngebut ya"
Sebelum Arsen pergi, laki-laki itu menyempatkan diri untuk mencium kening Silviana yang langsung di soraki oleh teman-temannya.
"Ingat tempat woy!"
"Jadian aja udah Sen!"
"Kiw kiw!"
Arsen mengabaikan itu.
"Kalo ada apa-apa telepon aku ya." Silviana mengangguk menanggapi ucapan Arsen karena merasa malu akibat tingkah Arsen
Silviana melambaikan tangannya mengiringi kepergian Arsen dkk. Senyumnya tak luntur sampai ia masuk ke kamar
"Kali ini kamu bisa tersenyum manis Silviana, tapi liat aja ke depannya kamu akan sering menangis." gumam Ara yang keluar dari kamarnya dengan alasan ingin menemui Larasati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambunggggggggggg
semangat buat auto ya 💪💪💪