NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 : Menuju Kerajaan Elvengarden

Pagi hari istana Asterism kembali sibuk. Namun kali ini, bukan karena krisis.

Melainkan—persiapan keberangkatan.

Di halaman depan istana, beberapa kesatria dan pelayan bergerak cepat. Perbekalan dimasukkan ke dalam kereta. Senjata diperiksa kembali. Rute perjalanan dikonfirmasi

Langit pagi cerah. Udara terasa segar. Namun di balik itu—ada ketegangan tipis yang tidak terlihat.

Ferisu berdiri di balkon. Menatap ke arah gerbang utama. Perjalanannya kali ini berbeda. Bukan perang. Bukan konflik langsung. Tapi—sesuatu yang lebih rumit.

“Kerajaan elf, ya…” gumamnya pelan.

Ia tahu—tempat itu bukan sekadar tujuan. Tapi medan lain. Medan politik. Medan emosi.

Tak lama—pintu balkon terbuka. Langkah ringan terdengar.

“Persiapan sudah hampir selesai.” Suara itu milik Licia.

Ferisu menoleh.

Licia berdiri di sana. Ekspresinya tenang. Namun matanya—sedikit berbeda dari biasanya.

“Kereta sudah siap,” lanjutnya.

“Anor juga sudah menunggu di bawah.”

Ferisu mengangguk.

“Bagus.”

Di sudut ruangan—Reliza bersandar di dinding. Seperti biasa. Diam. Namun kehadirannya terasa kuat.

“Lama sekali,” ucapnya datar. “Kalau cuma pergi, kenapa repot?”

Ferisu tersenyum tipis. “Karena kita tidak tahu apa yang menunggu di sana.”

Reliza mendengus kecil. “Kalau ada yang mengganggu…” Matanya sedikit menyipit, “Aku bunuh saja.”

Licia meliriknya. Sedikit tidak nyaman. Namun tidak berkata apa-apa.

Beberapa saat kemudian—mereka bertiga turun ke halaman. Kereta sudah siap. Anor berdiri di dekatnya. Dua belati di pinggangnya seperti biasa. Matanya tajam. Mengamati sekitar.

“Kau lama,” ucapnya singkat saat melihat Ferisu. Meskipun terasa kurang ajar karena memanggil seorang raja—orang yang dia layani. Tapi Ferisu sudah memberikan izin agar tidak perlu bersikap formal terhadapnya—ia meminta Anor untuk menganggapnya sebagai teman sebaya.

“Maaf-maaf,” jawab Ferisu santai.

Namun sebelum mereka benar-benar berangkat—dua sosok muncul dari arah koridor istana.

Noa dan Erica.

Mereka berjalan mendekat. Langkahnya tidak terburu-buru. Namun jelas—mereka datang untuk satu hal.

“Jadi… hari ini ya?” Noa membuka suara.

Ferisu mengangguk. “Iya.”

Erica menyilangkan tangan. Tidak menatap langsung. “Jangan lama-lama.”

“Aku akan kembali secepatnya,” jawab Ferisu.

Noa menatapnya beberapa detik.

“Kami akan menjaga Asterism.”

Erica menambahkan—

“Jadi kau tidak punya alasan untuk khawatir.”

Ferisu tersenyum.

“Iya.”

Beberapa detik—tidak ada yang berbicara.

Lalu—Noa melangkah maju sedikit.

“Jangan lupa janji yang belum selesai.”

Ferisu mengangkat alis sedikit. Namun tidak membalas. Hanya tersenyum tipis.

Erica mendecih pelan.

“Dasar...”

“Sudah cukup,” suara Anor memotong.

“Kalau tidak berangkat sekarang, kita akan terlambat.”

Ferisu mengangguk.

Lalu—naik ke dalam kereta.

Licia mengikuti.

Reliza terakhir.

Sebelum masuk—ia sempat melirik ke arah Noa dan Erica.

Tatapannya dingin.

Seolah berkata—

“Jangan macam-macam.”

Pintu kereta tertutup.

Kusir mengangkat kendali.

“Berangkat!”

Kuda mulai berjalan. Perlahan. Meninggalkan halaman istana.

Noa dan Erica berdiri di tempat. Melihat kereta itu menjauh.

Erica menggenggam tangannya.

“Cepat kembali,” gumamnya pelan.

Noa menatap lurus ke depan.

“Kalau tidak…”

Ia berhenti sejenak.

Lalu tersenyum tipis.

“Kami yang akan menjemputmu.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kereta semakin jauh. Menuju hutan. Menuju Elvengarden. Dan tanpa mereka sadari—perjalanan ini akan mengubah banyak hal. Bukan hanya hubungan antar kerajaan. Tapi juga—hubungan di antara mereka semua.

Perjalanan menuju Elvengarden tidak terasa singkat. Namun juga tidak terasa panjang. Karena sejak meninggalkan Asterism—suasana perlahan berubah.

Jalanan batu perlahan berganti tanah. Tanah berganti akar. Dan akar—berubah menjadi bagian dari hutan itu sendiri.

Pepohonan mulai menjulang tinggi. Semakin dalam mereka masuk—semakin sunyi. Tidak ada suara burung. Tidak ada suara hewan.

“Sunyi sekali…” gumam Ferisu pelan.

Anor yang duduk di depan membuka suara.

“Lagipula tempat ini adalah wilayah Elf, mungkin saja dipasang sebuah sihir.”

Licia yang sejak tadi diam—akhirnya berbicara.

“Kita sudah dekat.” Suaranya pelan. Namun ada sesuatu di dalamnya.

Ferisu meliriknya. “Begitu yah, tapi ya... Rasanya hutan ini benar-benar berbeda."

Licia mengangguk kecil. “Ya.”

Ia menatap keluar jendela. “Seolah hutan ini sedang… melihat kita.”

Reliza yang duduk di samping Ferisu mendengus kecil. “Kalau melihat, biarkan saja.”

Matanya menyipit. “Aku juga melihat mereka.”

Tiba-tiba—kereta berhenti.

“Kenapa?” tanya Ferisu.

Anor turun lebih dulu.

Tangannya sudah berada di dekat belatinya. “Ada yang memperhatikan kita.”

Dari balik pepohonan—beberapa sosok muncul.

Elf.

Berpakaian ringan. Menyatu dengan warna hutan. Namun aura mereka—tajam. Mereka tidak berbicara. Hanya berdiri. Menghalangi jalan.

Ferisu turun dari kereta.

Licia ikut turun.

Begitu para elf melihat Licia—ekspresi mereka berubah.

“Putri Licia.” Salah satu dari mereka berbicara. Nada suaranya formal.

Licia mengangguk. “Aku kembali.”

Namun—tidak ada sambutan hangat.

“Kami menerima pemberitahuan kedatangan Anda,” lanjut elf itu.

“Namun…” Matanya beralih ke Ferisu, “siapa manusia ini?”

Udara terasa berat. Anor langsung bersiap.

Reliza—tersenyum tipis.

Ferisu tetap tenang.

“Aku Ferisu.”

Belum sempat melanjutkan—elf itu memotong.

“Kami tahu siapa kau.”

Nada suaranya berubah sedikit lebih dingin.

“Raja Asterism.”

Beberapa elf lain mulai berbisik.

Tatapan mereka—jelas tidak ramah.

“Wilayah ini bukan untuk manusia,” ucap salah satu dari mereka.

Licia melangkah ke depan. Ekspresinya tegas. “Dia datang atas undanganku.”

Hening.

“Dan atas izin Raja Lorien,” lanjutnya.

Beberapa elf saling pandang. Ragu.

Namun—tatapan mereka tetap dingin.

“Kami akan mengawal kalian,” kata pemimpin mereka akhirnya.

“Jangan menyimpang dari jalur.” Nada itu—bukan permintaan. Tapi peringatan.

Perjalanan dilanjutkan.

Namun kali ini—tidak sendiri. Para elf bergerak di antara pepohonan. Hampir tidak bersuara. Seperti bayangan.

Ferisu melihat sekeliling.

Hutan ini… berbeda.

Ia bisa merasakan—aliran mana yang kuat. Lebih murni. Lebih hidup.

Namun juga—lebih waspada.

Reliza mendekat sedikit. Berbisik pelan, “Mereka tidak suka padamu.”

Ferisu tersenyum tipis. “Aku tahu.”

Reliza menyipitkan mata.

“Kalau mereka menyentuhmu—”

“Aku tahu,” potong Ferisu.

Reliza mendecih.

Namun tidak melanjutkan.

Beberapa waktu kemudian—cahaya mulai terlihat di depan. Dan saat mereka keluar dari jalur pepohonan—pemandangan itu terbuka. Sebuah kerajaan—yang menyatu dengan hutan. Rumah-rumah berada di batang pohon. Jembatan gantung menghubungkan satu sama lain. Dan di pusatnya—Pohon Dunia. Sangat besar. Menjulang tinggi ke langit. Memancarkan cahaya lembut.

Ferisu terdiam. “Indah.”

Licia menatap tempat itu. Matanya sedikit bergetar. “Aku pulang.”

Namun—di balik keindahan itu—ia tahu.

Tempat ini—bukan lagi rumah yang sama.

Kereta perlahan memasuki wilayah utama. Tatapan para elf mengikuti mereka. Beberapa penasaran. Beberapa dingin. Beberapa—jelas tidak suka. Dan di suatu tempat—di dalam kerajaan itu—seseorang sudah menunggu.

Dengan perasaan—yang tidak sederhana.

1
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
K_P
😓
angin kelana
visual keren👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!