Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman Nick
"Aku berani bersumpah demi nyawaku sendiri, sayang! Demi Tuhan, aku benar-benar tidak mengenal adikmu!" seru Arimbi, suaranya bergetar hebat menahan tangis yang hampir meledak. Jemarinya yang gemetar mencengkeram ujung taplak meja sekuat tenaga, seolah itu adalah satu-satunya penopang agar ia tidak ambruk di tempat. Ia berusaha sekuat tenaga menjelaskan kepada sang kekasih yang duduk di seberangnya. Wajah Nick yang biasanya penuh kasih sayang dan senyum hangat kini tertutup rapat oleh kabut kemarahan dan kecurigaan yang tebal, sorot matanya dingin dan tajam, membuat hati Arimbi terasa perih luar biasa.
"Aku tidak peduli! Aku tidak mau mendengar alasan apa pun! Aku tetap akan menikahimu, apa pun yang terjadi!" pekik Nick, lalu dengan kasar ia menggebrak meja kayu mahoni di hadapannya. Suara benturan keras itu memecah keheningan dan alunan musik lembut di restoran mewah itu seketika. Gelas-gelas di atas meja bergetar, beberapa tetes kopi tumpah membasahi taplak. Semua pasang mata yang sedang menikmati makan malam langsung beralih menatap ke arah mereka, bisik-bisik mulai terdengar samar-samar, tatapan penasaran dan sedikit menghakimi menyelimuti ruangan. Namun, sepasang kekasih yang tengah berdebat panas itu seolah tidak peduli pada dunia di sekitar mereka. Keduanya saling tatap, sorot mata mereka tajam bagai pedang yang siap saling menikam, penuh emosi yang meluap-luap, sakit hati, dan cinta yang bercampur aduk menjadi satu.
"Ikut aku!" seru Nick tiba-tiba, suaranya penuh otoritas yang menakutkan, nada bicaranya tidak membiarkan adanya penolakan. Tanpa menunggu jawaban, ia mencengkeram pergelangan tangan Arimbi dengan kasar, jemarinya melilit erat hingga kulit wanita itu terlihat memutih di bawah tekanan tersebut. Lalu, ia menariknya paksa berjalan keluar dari restoran itu. Langkah Nick lebar dan cepat, seolah ia sedang membawa tawanan yang berharga, bukan kekasih hatinya yang seharusnya ia jaga.
"Sayang! Lepaskan! Ke mana kita akan pergi? Nick, tolong, orang-orang melihat!" seru Arimbi, tubuhnya terseret-seret, kakinya hampir tersandung ubin lantai restoran. Ia berusaha sekuat tenaga melepaskan lengannya dari cengkraman kuat sang kekasih, namun genggaman Nick terlalu kuat, meninggalkan jejak merah yang mulai terasa perih dan panas di kulit putihnya yang halus.
"Nick, sakit... sayang, tolong lepaskan, sakit sekali..." lirih Arimbi, suaranya pecah di tengah isak tangis yang mulai tertahan, matanya sudah basah oleh air mata yang siap jatuh kapan saja.
Mendengar rintihan itu, langkah Nick mendadak terhenti tepat di tengah area parkir yang luas dan remang-remang diterangi lampu jalan yang berkedip-kedip sesekali. Angin malam bertiup cukup kencang, menerbangkan helai rambut Arimbi yang berantakan. Ia perlahan melepaskan lengan Arimbi, jemarinya gemetar hebat seolah baru menyadari kekasarannya yang luar biasa, seolah baru saja menyadari bahwa ia telah menyakiti wanita yang paling ia cintai. Kemudian ia menoleh perlahan, menatap wanita yang sudah ia cintai dengan setia selama enam tahun terakhir ini. wanita yang menjadi alasan ia bernapas, alasan ia berjuang setiap hari, dan alasan ia bermimpi tentang masa depan.
"Maaf... sayang, maafkan aku... Aku tidak sengaja..." lirih Nick, suaranya lembut namun penuh penyesalan yang mendalam dan menyakitkan saat melihat wajah Arimbi yang kini tertunduk diam, bahunya terguncang kecil menahan tangis, matanya berkaca-kaca dengan air mata yang siap jatuh membasahi pipi.
"Kamu kasar, Nick... Kamu tidak pernah sekasar ini padaku selama kita bersama..." lirih Arimbi, suaranya terdengar sangat terluka, setiap kata seolah menusuk hati Nick.
Kalimat itu bagai tamparan keras yang mendarat tepat di pipi Nick, membuatnya tersadar betapa bodohnya ia. Dengan gegas, ia mendekap tubuh mungil Arimbi ke dalam pelukannya, erat sekali, seolah takut jika ia melepaskan sedikit saja, wanita itu akan menghilang dari hidupnya selamanya, lenyap ditelan kegelapan malam. Penyesalan, rasa takut kehilangan, dan rasa tidak aman yang selama ini ia pendam bercampur aduk di dadanya, membuatnya merasa sesak napas.
"Aku... aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, sayang..." gumam Nick di telinga Arimbi, suaranya bergetar hebat, napasnya hangat dan memburu di leher wanita itu. "Ketahuilah, aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini, lebih dari hidupku sendiri. Aku rela jika hubungan persaudaraanku dengan Nathan akhirnya harus hancur lebur, hancur sampai tak bisa diperbaiki lagi! Aku tidak peduli! Aku tidak mau melihat kau bersama Nathan! Aku tidak rela kau menjadi adik iparku! Bahkan... bahkan meskipun kau sudah pernah tidur dengan Nathan..." desis Nick, kata-kata itu keluar di sela-sela isak tangisnya yang tertahan, pelukannya semakin erat seolah ingin menyatukan tubuh mereka menjadi satu, seolah ingin menyerap semua rasa sakit yang ia berikan.
"Nick!" seru Arimbi dengan keras, suaranya melengking memecah keheningan malam. Dengan sekuat tenaga yang tersisa, didorong oleh rasa marah dan kekecewaan yang meledak, ia mendorong tubuh Nick kasar hingga tubuh kekasihnya itu terhuyung mundur, kehilangan keseimbangan, dan berhasil menabrak bodi samping salah satu mobil mewah yang terparkir di dekat mereka. Suara dentuman logam terdengar cukup keras, meninggalkan penyok kecil yang mungkin tak terlihat namun terasa jelas bagi Nick.
"Jika kau tidak mempercayaiku, lebih baik kita putus saja sekarang juga! Aku sudah capek, Nick! Aku benar-benar capek diperlakukan seperti ini, capek dituduh hal-hal yang tidak pernah aku lakukan!" seru Arimbi, nafasnya naik turun menahan amarah yang meledak-ledak, air matanya kini mengalir deras membasahi pipinya, jatuh satu per satu seperti butiran berlian yang pecah.
"Harus berapa kali aku bilang, hah? Berapa kali?! Aku tidak kenal Nathan! Bagaimana mungkin aku bisa pacaran dan tidur bersamanya? Bahkan untuk mengenalnya saja aku tidak! Aku bahkan tidak tahu wajahnya seperti apa! Apa maksudmu menuduhku sejahat ini, Nick? Apa cinta kita selama ini tidak berarti apa-apa bagi kepercayaanmu?!" sengit Arimbi, matanya menatap tajam menembus jiwa Nick, penuh kekecewaan yang mendalam dan rasa sakit yang tak terlukiskan.
"Sayang! Dengar aku dulu! Tolong dengar aku! Aku tidak masalah dengan itu, sungguh! Aku tidak peduli dengan masa lalu atau apa pun yang mungkin terjadi! Aku harus jelaskan bagaimana sih agar kau percaya? Jangan takut untuk jujur padaku! Aku akan tetap mencintaimu apa pun adanya, aku akan tetap memilikimu! Jujur saja, sayang, aku siap menerimamu dengan segala kekurangan dan apa pun yang ada padamu..." seru Nick, berusaha merayu sang kekasih, suaranya memohon, langkahnya maju selangkah mencoba mendekat kembali, tangannya terulur ingin menyentuh lengan Arimbi namun ragu.
"Bedebah ya lu! Udah deh, gue malas ngomong sama lu! Gue capek, hati gue capek diperlakukan kayak gini!" seru Arimbi, emosinya meledak hingga logat Betawinya keluar secara tidak sadar. tanda yang sangat jelas bahwa ia benar-benar sudah di puncak kesabaran, sudah di titik terendah rasa sakitnya. Tanpa menoleh lagi, tanpa mempedulikan panggilan Nick, ia berbalik badan dan berjalan menjauh dari Nick dengan langkah cepat dan tegas, meninggalkan pria itu terpaku di tempatnya, terpana dan hancur.
"Arimbi! Apa maksudmu? Ke mana kau pergi? Jangan tinggalkan aku! Arimbi!" teriak Nick, suaranya pecah dan serak, tatapannya nanar melihat punggung kekasihnya yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di balik kegelapan malam dan deretan mobil yang terparkir. Hanya ada angin malam yang menjawab teriakannya.
"Apa artinya ini semua, sayang? Apa kau benar-benar lebih memilih Nathan daripada aku? Apa aku yang sudah menemani mu bertahun-tahun, yang sudah berkorban segalanya untukmu, yang sudah mencintaimu dengan setia, kalah begitu saja oleh Nathan yang baru bersama mu dalam hitungan bulan? Apa cinta kita selama ini hanya sekadar ilusi bagimu? Apa semua janji kita hanya omong kosong belaka?" gumam Nick pelan, kata-kata itu terasa pahit di lidahnya, terbuang sia-sia di udara malam karena sudah tidak bisa didengar lagi oleh Arimbi yang telah pergi meninggalkannya dengan hati yang hancur berkeping-keping, sendirian di tengah parkiran yang sepi dan gelap.