Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Iri
Adara berlari kecil menuruni anak tangga, seperti anak kecil. Sementara Junia melangkah mengikutinya dari belakang.
“Eyangg! Lula mana?” Gadis itu celingukan mencari Lula. Binatang berbulu peliharaan neneknya.
“Jangan lari-larian di tangga, Nak. Astagfirullah! Kamu mau kepalamu bocor lagi karena jatuh dari tangga itu?” Eyang Haris menatap cucunya itu dengan tatapan cemas.
Adara terkekeh kecil. “Adara udah gede, Eyang. Nggak akan jatuh lagi dari tangga!” ucapnya sok.
“Duduk! Ayo makan. Kasihan suamimu sudah lapar,” perintah Eyang Ratna.
“Calon suami, Eyangg!” protes Adara.
Rafka hanya tertawa kecil melihat interaksi menggemaskan Adara bersama kakek dan neneknya itu. Dia benar-benar berubah seperti gadis kecil.
“Eyang… boleh nggak Adara usir Rafka sama Mufasa?” tanya Adara tiba-tiba.
Mereka semua tersentak kaget mendengar pertanyaan Adara. Mufasa pun sampai tersedak mendengar hal random yang keluar dari mulut gadis itu.
“Lo… jahat banget gila!” ujar Mufasanya. Ia tak bersuara, hanya mulutnya saja yang bergerak dan Adara memahami ucapan Mufasa.
“Kenapa, Sayang? Rafka membuat kamu kesal?” tanya Eyang Haris.
“Enggak Eyang!” Rafka buru-buru klarifikasi. “Rafka nggak ngapa-ngapain, kok.”
“Terus kenapa tiba-tiba Adara mau ngusir kalian?” tanya Eyang Ratna bingung.
Adara tertawa kecil. “Soalnya Adara mau makan dengan bebas tanpa pake cadar. Kan kalo ada dua pria jelek ini Dara nggak bisa makan dengan bebas, Eyang.”
Haris dan Ratna tertawa mendengar celotehan cucunya itu.
“Sekali ini aja ya, Nak. Eyang pengen makan bareng-bareng sama kalian,” ucap Eyang Haris. “Nanti kalau kamu udah nikah sama Rafka kan tinggal Mufasa aja yang kita usir.”
Mereka semua tertawa mendengar candaan Eyang Haris. Suasana makan terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Usai makan, mereka bersiap-siap untuk pulang karena hari mulai sore. Eyang meminta mereka untuk menginap, tapi Rafka ada pekerjaan esok hari di Yogyakarta. Dan dia harus berangkat malam ini bersama Mufasa.
Adara duduk berjongkok di pinggir kolam, menatap ikan warna-warni cantik yang menari-nari.
“Adara…” suara panggilan lembut itu membuat Adara menoleh.
Kepalanya mendongak untuk menatap pria tinggi tegap yang berdiri dengan jarak satu meter di hadapannya.
“Iya, Raf. Kita mau berangkat sekarang?” tanya Adara.
“Sebentar lagi. Aku mau ngomong sesuatu dulu…” ucap Rafka.
“Soal apa?” Adara tampak penasaran.
“Junia… teman baru kamu itu…” Rafka menghentikan kalimatnya. “Sejak kapan kalian saling kenal?”
“Kemarin.” jawab Adara cepat. Aku kan udah cerita tadi pas kita ngobrol sama Eyang.
Rafka menarik napas kasar. “Aku cuma mau ngasih kamu sedikit nasehat. Aku harap kamu jangan terlalu membuka diri untuk orang yang baru kamu kenali.”
“Aku paham, Raf. Tapi Junia gadis yang baik, kok. Dia juga pakai cadar. Kamu jangan khawatir,” jawab Adara dengan suara riang.
“Iya aku percaya sama kamu. Tapi lebih baik kamu tetap waspada, ya…” ucap Rafka lembut.
“Iya, Rafka…” Adara mengangguk.
“Kamu suka ikannya?” tanya Rafka saat melihat Adara menatap ikan itu dengan mata berbinar.
“Iya. Mereka cantik!” puji Adara.
“Nanti kita mampir buat beli ikan hias ya. Untuk teman kamu di apartemen,” ucap Rafka cepat.
“Beneran?” tanya Adara senang.
Rafka mengangguk. “Semua hal yang menurut kamu cantik bakal aku hadiahkan ke kamu, Dara.” ucap Rafka.
“Huh! Tapi kamu nggak bisa hadiahin bintang walaupun aku bilang bintang itu cantik!” Adara beranjak dari duduknya. “Wlee kalah!” ledeknya lalu pergi meninggalkan Rafka.
Rafka hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Adara. “Jadi pengen bawa dia kabur ke KUA! Ini terlalu gemass!” gumam Rafka.
—
Esoknya, Adara memutuskan untuk beristirahat seharian di rumah. Ia hanya menempel di ruang tengah dengan laptop bertengger di pangkuannya, mengetik bab baru untuk bukunya yang akan terbit bulan depan.
Sementara Junia duduk di karpet, menggambar bunga-bunga kecil di buku sketsanya, sambil sesekali mengendus wangi diffuser lavender yang memenuhi ruangan.
“Hari ini kamu nggak keluar?” tanya Junia tanpa menatap.
“Nggak dulu. Badan capek.” jawab Adara santai. “Besok soalnya aku mau pergi lagi.”
“Ke mana?” tanya Junia.
Junia cuma mengangkat bahu. Diam itu bukannya nyaman, tapi tidak menyakitkan juga. Hanya ada rasa asing yang sulit ditempatkan. Ia jarang menjumpai orang yang hidupnya tampak begitu… teratur.
Dan entah kenapa, justru hal itu membuat dadanya terasa berat sejak kemarin.
---
Hari berikutnya, barulah rumah kembali hidup. Adara bangun pagi dengan energi berbeda. Selesai sarapan, ia berdiri di depan rak bukunya yang rapi, mengambil beberapa bundel novel dan memasukkannya ke dalam totebag putih besar.
“Kamu ikut, ya,” katanya sambil mengancing blazer pastel yang serasi dengan jilbabnya.
“Ke mana?” Junia mengernyitkan dahinya.
“Acara bedah buku sekalian book signing,” jelas Adara.
“Ketemu penggemar?” tanya Junia lagi.
Adara tertawa kecil. “Iya mirip seperti itulah,” ujarnya.
Junia terdiam lalu mengangguk pelan.
“Kamu mau ikut?” tanya Adara. “Pasti bosen kan kalau di apartemen doang.”
“Boleh?” tanyanya.
“Boleh dong!”
“Ya udah aku mau ikut. Penasaran acaranya kayak gimana…” lirih Junia.
“Oke bagus! Kebetulan aku juga nggak ada temen karena Ayumi belum pulang.” Adara tampak senang.
***
Kota Jakarta tampak terlalu hidup, seolah hiruk pikuknya tidak pernah memberikan kesempatan untuk jeda. Junia hanya duduk di kursi penumpang, memperhatikan semuanya lewat jendela mobil.
Acara diadakan di sebuah toko terbesar di Jakarta. Panggung kecil, deretan kursi, meja panjang untuk penandatanganan, dan banner besar bertuliskan nama Adara Naqia Selvira sudah tersusun rapi. Seketika, banyak yang sudah menunggu. Remaja putri, ibu-ibu muda, bahkan beberapa pria muda yang mengaku membaca karyanya karena “penasaran”.
Junia terpaku.
Adara melangkah ke panggung dengan anggun. Meski wajahnya ditutupi cadar, mereka semua tau bahwa Adara sedang tersenyum sumringah.
MC membuka acara, dan acara berlangsung dengan lancar. Junia hanya memperhatikan Adara, sesekali memberi tepuk tangan, mengikuti yang lainnya.
Setelah sesi tanya jawab, fans mulai mengantre, membawa buku-buku best seller yang Adara tulis.
“Kak Adara, aku suka banget semua karya kakak!” seorang gadis berseru.
Adara tertawa kecil sambil menandatangani sampul bukunya.
“Alhamdulillah kalau suka. Makasih udah baca, ya. Semoga kalian bisa mengambil sisi baik dari buku yang saya tulis.”
Junia memperhatikan semuanya dari sofa kecil di pojok ruangan. Ada rasa iri yang mengendap pelan-pelan. Iri pada semua yang Adara punya, uang, ketenaran dan juga fakta bahwa hidup Adara seperti tidak punya luka.
Acara selesai menjelang sore. Adara menerima buket bunga, hampers, dan beberapa hadiah kecil.
“Adara!” Suara panggilan itu membuat Adara menoleh.
“Pak Farel.” Adara menyapa dengan ramah.
“Terima kasih, ya. Berkat kamu acara hari ini lancar. Pembaca sangat senang karena bisa bertemu dengan kamu,” jelas Farel Abraham—CEO penerbitan buku tempat Adara bekerja sama.
“Terima kasih juga karena bapak sudah memikirkan kenyamanan saya di acara ini,” jawab Adara sopan.
Farel tersenyum tipis. “Coba saja kamu menerima lamaran saya, Adara. Karir kamu pasti akan lebih melejit dari pada sekarang. Kamu tau kan, banyak perempuan yang menjadi semakin terkenal setelah berpacaran dengan saya.”
“Oh tidak! Ya Allah! Aku udah terlalu capek denger omong kosong laki-laki ini!” batin Adara.
“Kamu tau kan artis terkenal Varinka Huzzel? Dia itu mantan pacar saya. Dia dulu tidak terlalu terkenal, tapi setelah pacaran dengan saya, dia jadi terkenal,” ucap Farel panjang lebar.
“Saya malahan minta kami jadi istri, lho. Bukan pacar. Belum ada perempuan yang saya minta untuk jadi istri selain kamu. Kamu tuh cocok banget jadi istri saya. Yakin deh karir kamu akan melejit setelah menikah dengan saya dan saya pastikan, saya akan selalu mendukung kamu Adara.”
“Maaf pak, saya kan sudah jelaskan kalau saya sudah punya tunangan. Lagipula saya sudah terkenal, Pak. Nggak mau lebih terkenal lagi karena itu merepotkan.” Adara tertawa kecil. “Kalau gitu saya pulang dulu ya, Pak!” pamit Adara lalu bergegas menarik tangan Junia untuk pergi dari sana.
“Dia siapa, Dar?” tanya Junia penasaran.
“CEO penerbitan buku-buku aku.” Adara menghela napas kasar. “Huh, dia memang menyebalkan. Terlalu percaya diri! Aku udah bilang kalau sudah punya calon suami tapi dia masih ngotot.” Adara memutar malas bola matanya.
“Dia suka sama kamu?” tanya Junia.
“Iya. Dia pernah melamar, ngasih cincin gitu. Tapi tentu aja aku tolak. Aku udah punya Rafka,” jelas Adara.”Memang sih dia baik, hampir sempurna keliatannya. Minusnya ya seperti yang kamu liat tadi. Terlalu percaya diri!” Adara mengangkat bahunya.
“Ya sudah yuk kita pulang!”
Junia mengangguk. Sesekali ia menoleh ke belakang, menatap pria bernama Farel itu. “Dia dicintai pria sempurna seperti itu tapi di sia-siakan?” batin Junia.
Lagi. Dia merasa semakin iri dengan kehidupan Adara.
***
Bersambung
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.