Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa dia pacarmu?
“Essa, kenapa dia ada di sini.”
Heyra menatap heran ketika Alex menyebut nama itu. Heyra, menoleh ke belakang mengikuti arah pandangan Alex, tetapi Heyra tidak menemukan Essa. Heyra pun berbalik yang hendak bertanya tapi Alex, sudah tidak ada di hadapannya.
Heyra pun tercengang “Alex … dimana dia.”
Sementara Alex, dia mengejar Essa, yang baru saja melayangkan pakyu. Tapi setibanya di jalan Alex, tidak menemukan gadis itu, langkah Essa terlalu cepat. Sehingga Alex, memilih untuk mencari dengan mobilnya, tapi ketika akan menuju mobil Heyra, sudah berdiri di hadapannya dan kembali menghalangi.
“Alex, ada apa denganmu. Kenapa kamu pergi begitu saja?”
“Heyra, sudah cukup! Aku sudah menuruti kemauan mu untuk makan siang, jadi jangan halangi aku lagi.”
Heyra, terdiam ia memilih mundur yang membiarkan Alex pergi. Alex , begitu marah dan itu sangat berbeda dari sifatnya, Heyra sampai berpikir siapa yang Alex sebut tadi. Mungkinkah pacarnya?
“Siapa Essa, apa wanita itu pacarnya?”
Alex mencari Essa di sepanjang jalan sekitar cafe, dan jalanan menuju apartemennya. Tetapi Alex, tidak menemukan Essa. Alex terus mencoba menghubunginya tapi tidak dijawab.
“Kemana dia, apa dia sudah pulang ke apartemen.”
Alex, pun segera melajukan mobilnya menuju apartemen. Setibanya di sana Alex, langsung turun dan berlari menuju kamarnya. Alex terus berlari di sepanjang lorong hingga langkahnya terhenti ketika di depan pintu, nafasnya terengah-engah, Alex mengatur pelan aliran nafasnya sebelum akhirnya ia menekan password lalu pintu pun terbuka.
Alex, buru-buru masuk ia ingin melihat Essa dan bertemu dengannya, dalam benaknya Alex harus menjelaskan kepada Essa tentang pertemuannya di cafe, dan tentang Heyra. Entah kenapa bagi Alex itu perlu, padahal Essa belum tentu ingin tahu tentang dia dan Heyra. Essa, hanya kesal karena Alex tidak menjemputnya.
“Sudah pulang?”
Baru saja Alex membuka sepatunya. Suara imut dan ketus itu terdengar. Alex, melirik ke arah samping kanannya, Essa, sedang menikmati mie rebus sambil menonton serial drama kesukaannya. Alex, merasa canggung karena Essa biasa-biasa saja.
“Aku kira Om akan pulang malam. Apa tadi itu kekasih Om?” Essa melirik Alex, dengan sorot mata yang tajam. Tangan kanannya masih memegang sumpit di udara.
Brakk
Alex terperanjat ketika Essa, menjatuhkan sumpit ke dalam mangkok mie nya. Matanya terbelalak ketika melihat meja yang berantakan.
“Essa, kau membuat dapur berantakan? Makanlah dengan benar, jangan membuang mie karena kesal.”
Essa melirik Alex dengan tajam. “Kenapa kau marah, seharusnya aku yang marah. Kau tahu aku menunggu satu jam, dan kau bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana.” Essa, tampak marah membuat kening Alex mengerut.
“Apa kau cemburu?” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya.
“Untuk apa aku cemburu. Aku tidak peduli Om punya simpanan sekali pun, tapi Om harus tahu … janji tetap Janji. Sebelum mendahulukan orang lain, dahulukan istrimu dulu, aku tidak peduli kamu punya pacar tapi jangan abaikan aku.”
Essa benar-benar marah. Alex, membuang nafas kasar hingga pipinya mengembung. Sementara, Essa, dia memasang wajah cemberut sambil melipat tangan dibawah dada.
“Aku, minta maaf aku salah. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”
“Ya, sudah tolong bersihkan. Aku mau pergi mandi.”
Essa melewatinya begitu saja. Meminta Alex, untuk membersihkan sisa makannya belum lagi lantai yang kotor dan berantakan. Padahal Alex sangat bersih. Namun, setelah kedatangan Essa, rumahnya menjadi neraka dalam sekejap. Essa tidak pernah membereskan, merapihkan, atau sekedar bersih-bersih yang gadis itu lakukan hanyalah membuat rumah berantakan.
Alex, tidak terima dengan perintah itu. Ia menengok gadis comel itu yang melangkah ke dalam kamar tapi Alex, tidak akan membiarkannya.
Seketika tubuh Essa condong ke belakang. Seseorang menariknya, hingga berputar 180°, sedetik matanya membola, mulut yang menganga saat Alex, menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
Keduanya spechlees, tidak ada niat Alex, untuk memeluk istri kecilnya, ia hanya ingin menarik Essa menuju meja dapur bukan malah memeluknya seperti ini.
Essa, tertegun, matanya terpana menatap pupil coklat yang indah dibalik kacamata, juga bibir yang sexy dan menggoda ingin sekali meraupnya, menyesapnya dengan ganas. Sedetik tengkuk lehernya berbunyi, sesuatu yang kental dan cair tertelan di dalam sana.
Oh, Tuhan apa yang aku pikirkan. Tidak, mungkin Om Alex, akan menciumku, kan. Apa karena pikir aku cemburu lalu dia melakukannya, dia akan menciumku.
Tidak … tidak … aku belum pernah melakukannya, apa yang harus aku lakukan. Menutup mata? Ya, aku harus menutup mata, biasanya adegan dalam film seperti itu.
Essa, terus bergumam dalam hatinya. Essa, menghela pelan nafasnya diikuti dengan kelopak mata yang tertutup. Sedetik, kening Alex mengerut—bibirnya kanannya terangkat, menatap ngeri gadis di depannya.
Alex, langsung mendorong tubuh Essa, yang menuntunnya langsung ke meja dapur. Seketika wajah Essa bingung.
“Apa ini Om? Kenapa kau membawaku ke sini?”
“Perlu diingat kamu bukan seorang putri. Dan di sini tidak ada pembantu, siapa yang membuat dapur kotor maka orang itulah yang harus membersihkannya.” Alex, berkata dengan tegas, lalu memberikan sarung tangan dan sabun kepada Essa.
“Jangan pernah menyuruh atau memerintahku, bersihkan sendiri.”
Bibir Essa mencebik, Alex, berlalu pergi menuju kamarnya lalu keluar meninggalkan apartemen. Alex, pulang hanya untuk memastikan Essa ada, dan ia akan kembali ke kantor.
Essa, terus memonyongkan mulutnya. Sambil, membasuh panci dan mangkok gadis itu tidak henti mengumpat.
“Dasar, Om gila! Aku pikir dia mau menciumku, ternyata menyuruhku untuk mencuci piring. Ih, malu banget aku, pipiku tidak merah, kan? Apa yang harus aku lakukan ketika bertemu dengannya. Aku, tidak bisa menyembunyikan wajahku,” katanya dengan wajah sedih.
Essa merasa sedih karena tingkahnya tadi. Kenapa dia harus memejamkan mata, apa dia mengharapkan itu? Bagaimana jika Alex, menyadarinya.
“Oh, tidak!”
Essa, menyimpan piring bersih itu lantas mengepel meja hingga mengkilap. Namun, bayangan bibir sexy tadi kembali terngiang. Essa tiba-tiba tersenyum, menopang kedua tangan di atas meja, meletakkan kedua telapak tangannya di bawah dagu, sambil senyum-senyum ia membayangkan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.
Saking indahnya mata Essa ikut terpejam. Namun, detik demikian Alex kembali. Pria itu lupa memakai jasnya, hingga harus mengambilnya lagi. Tetapi, langkah Alex, malah berhenti, netrany tertarik pada Essa, yang terduduk di meja makan.
Alex, penasaran hingga ia melangkah pelan mendekati Essa.
“Kenapa dia?” Alex, mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Essa, berharap gadis itu membuka matanya.
Wajahnya menunduk, hanya untuk melihat sedang apa gadis itu. Namun, siapa sangka mata Essa terbuka, bersamaan dengan wajah Alex, yang berjarak dekat dengannya. Bibirnya hanya beberapa centi saja, akan menempel sempurna. Serta mata indah itu membuat Essa terpaku.
“Essa,” panggil Alex, tapi Essa masih diam.
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.