NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

​"CUKUP! BERHENTI!"

​Teriakan Mori menggema di seluruh sudut kedai kopi "Melodi Juara". Suaranya yang melengking sanggup menghentikan ketegangan antara Vano dan Lian yang sudah hampir saling cengkeram kerah baju. Mori berdiri dengan napas memburu, matanya berkaca-kaca bukan karena sedih, tapi karena amarah dan rasa lelah yang memuncak.

​"Gue menang debat buat sekolah, bukan buat jadi bahan rebutan kalian! Gue muak!" Mori menyambar tasnya, berbalik, dan lari keluar kedai tanpa menoleh lagi.

​Di pinggir jalan, ia segera menyetop taksi yang kebetulan lewat. Begitu masuk ke dalam kabin mobil yang dingin, hal pertama yang ia lakukan adalah mematikan ponselnya. Ia tidak mau mendengar notifikasi permintaan maaf dari Vano, atau pesan-pesan provokatif dari Lian. Ia butuh sunyi.

​Sampai di rumah, Mori langsung merebahkan diri di atas kasur tanpa mengganti baju. Ia memejamkan mata, mencoba menghapus bayangan wajah Lian di ruang guru, pelukan di panggung debat, hingga kejadian memalukan di toilet. Tiga jam ia tertidur karena kelelahan mental.

​Pukul delapan malam, Mori terbangun. Dengan ragu, ia menyalakan ponselnya. Ratusan pesan masuk, tapi satu pesan di grup sahabatnya membuat matanya membulat.

​Jessica: “GUYS! Malam ini Lian balapan di sirkuit lama! Lawannya anak SMA Cakrawala yang tadi kalah debat! Ayo nonton, mumpung malam Minggu!”

​Mori mendengus. Balapan lagi? Dasar red flag, batinnya. Ia berniat mengabaikan pesan itu, namun telepon dari Nadya masuk bertubi-tubi.

​"Mori! Ayo dong ikut! Cuma lo yang bisa bikin Lian fokus. Katanya dia lagi emosi banget gara-gara lo lari tadi sore. Kalo dia nggak fokus, bisa kecelakaan dia di lintasan!" desak Nadya di seberang telepon.

​"Gue nggak peduli, Nad," jawab Mori bohong.

​"Plis, Mor! Sekali ini aja. Kita semua udah di jalan jemput lo!"

​Setengah jam kemudian, Mori sudah berada di dalam mobil Jessica menuju pinggiran kota. Ia hanya mengenakan celana jeans hitam dan hoodie putih, mencoba tampil se-anonim mungkin.

​Sirkuit lama itu sangat ramai. Bau bensin dan suara raungan mesin motor memenuhi udara. Di tengah kerumunan, di bawah lampu sorot yang terang, Mori melihat Lian.

​Lian mengenakan jaket balap kulit berwarna hitam-merah. Dia terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dan berbahaya. Namun, pemandangan di sekitarnya membuat Mori ingin muntah. Setidaknya ada empat atau lima cewek berpakaian minim sedang mengerumuninya—ada yang mengelap keringatnya, ada yang memegangi helmnya, dan ada yang terang-terangan bergelayut di lengannya.

​Lian tampak menanggapi mereka dengan tawa tipis, sampai matanya yang tajam menangkap sosok gadis ber-hoodie putih di kejauhan.

​Lian langsung berdiri, mengabaikan cewek-cewek itu seolah mereka hanya pajangan. Ia berjalan menembus kerumunan menuju arah Mori.

​"Lo ke sini karena kangen mau nonton gue, ya, Baby Girl?" ucap Lian dengan tingkat kepercayaan diri yang melangit.

​Mori menatapnya datar, meski jantungnya mulai berulah lagi. "Gue dipaksa Nadya. Kalo bukan karena dia, gue lebih milih nonton dokumentari sejarah di rumah daripada liat lo dikerubung lalat kayak tadi."

​Lian tertawa, tangannya bergerak cepat mencubit dagu Mori. "Cemburu itu tanda sayang, Mor. Liat aja nanti, piala ini buat lo."

​Balapan dimulai. Suara ban yang berdecit di aspal membuat Mori tanpa sadar meremas ujung hoodie-nya. Saat motor Ninja hitam Lian melesat seperti kilat, menyalip lawan-lawannya di tikungan tajam yang berbahaya, Mori terpaku.

​Ia menatap kagum pada ketangkasan Lian. Cowok itu terlihat sangat menyatu dengan mesinnya, pemberani, dan tanpa rasa takut. Namun, segera setelah kesadaran itu muncul, Mori menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ingat Mori, dia red flag. Dia bahaya!

​Agnes yang berdiri di sampingnya menyenggol bahu Mori sambil tersenyum penuh arti. "Jangan bohong sama mata lo sendiri, Mor. Lo kagum kan sama dia?"

​Mori hanya diam, pura-pura tidak dengar.

​Putaran terakhir. Lian memacu motornya hingga mencapai garis finis sebagai urutan pertama. Sorak-sorai pecah. Lian melepas helmnya, rambutnya yang basah oleh keringat berantakan dengan cara yang sangat estetik.

​Tiba-tiba, seorang cewek—salah satu dari gerombolan tadi—langsung lari dan memeluk Lian dari depan. Mori yang melihat itu memutar bola matanya dan berniat berbalik untuk pulang.

​Namun, Lian dengan tegas melepaskan pelukan cewek itu. Matanya tetap terkunci pada Mori. Lian berjalan mendekati Mori di depan ratusan orang yang sedang menonton.

​Mori menegang. Ia ingin mundur, tapi kerumunan di belakangnya mengunci posisinya. Lian berhenti tepat di depan Mori. Tanpa aba-aba, Lian menarik tengkuk Mori, mendekatkan wajahnya.

​Mori menutup mata, mengira Lian akan menciumnya di depan umum. Namun, Lian tidak mencium bibirnya. Lian mengecup kening Mori dengan sangat lama dan dalam, sementara tangannya yang lain memegang pinggang Mori, menariknya mendekat hingga tak ada jarak.

​Keadaan mendadak hening sesaat, sebelum akhirnya sorakan "CIEEE!" dan siulan menggoda meledak lebih keras dari suara mesin motor.

​"Kemenangan gue nggak sah kalau nggak dapet 'berkah' dari Baby Girl gue," bisik Lian tepat di depan bibir Mori setelah melepaskan kecupannya.

​Mori mematung. Sentuhan bibir Lian di keningnya terasa sangat hangat dan meninggalkan sensasi terbakar yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia bisa merasakan tatapan iri dari cewek-cewek di sana, tapi yang paling ia rasakan adalah detak jantungnya sendiri yang sudah tidak bisa lagi diajak kompromi.

​"Lian... lo bener-bener... gila," lirih Mori dengan napas tersengal.

​Lian hanya tersenyum kemenangan, lalu ia merangkul pundak Mori dengan bangga, membawa gadis itu menuju podium kemenangan seolah ingin memamerkan pada dunia bahwa meskipun ia adalah "bendera merah" yang berbahaya, ia hanya akan berkibar untuk satu orang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!