Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.
Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.
Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wu Wei
Pelayan itu merinding dari ujung kaki hingga ke tengkuk. Lututnya gemetar tanpa bisa ia kendalikan, keringat dingin mengalir di punggungnya.
“Ba, baik, Nona, saya akan keluar.” ucapnya terbata, suaranya nyaris bergetar.
Tanpa berani menatap lagi, pelayan itu segera berbalik dan melangkah cepat menuju pintu. Ia membuka pintu dengan tergesa, lalu keluar dari kamar seolah dikejar sesuatu yang mengerikan.
Pintu tertutup.
Kriiit—duk.
Begitu pintu tertutup rapat, aura mencekam itu menghilang seketika. Wu Zetian kembali ke sisi ranjang. Ekspresinya melunak saat menatap Selir Zhen Zu.
“Sekarang kau aman, Bibi. Minumlah. Aku di sini, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi.” Ucapnya pelan sambil mengangkat pil itu sekali lagi.
Wu Zetian kembali duduk di sisi ranjang. Ia menopang tubuh Selir Zhen Zu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengangkat cangkir berisi air bening yang tampak jernih luar biasa. Rupanya cangkir itu telah ia isi dengan air suci yang ia ambil dari dimensi Lilac.
“Bibi, minumlah pil ini bersama air ini. Rasanya mungkin tidak enak, tapi ini dapat membantu mengeluarkan semua racun yang ada dalam tubuhmu.” ucap Wu Zetian pelan namun mantap,
Selir Zhen Zu menatap pil di telapak tangan Wu Zetian dengan ragu. Tangannya gemetar saat menerima pil tersebut. Namun tak bisa mengeluarkan satu kata pun di mulutnya.
"Percayalah padaku, Bi. Semua akan baik-baik saja setelah ini." Akhirnya selir Zhen Zu pun menggerakkan kepalanya naik turun sebagai tanda bahwa ia sudah yakin pada Wu Zetian.
“Awalnya mungkin akan terasa sangat tidak nyaman, namun, setelah itu tubuhmu akan jauh lebih ringan. Aku berjanji.”
Selir Zhen Zu menarik napas panjang, lalu memasukkan pil itu ke mulutnya. Wu Zetian segera mendekatkan cangkir ke bibirnya.
“Pelan-pelan,” katanya.
Setelah beberapa teguk, pil itu akhirnya tertelan. Wu Zetian meletakkan cangkir ke meja, lalu berdiri perlahan.
“Sekarang dengarkan aku baik-baik, Bibi, apa pun yang terjadi setelah ini, jangan menahan diri. Racun itu harus keluar sepenuhnya.” ucapnya sambil mengangkat tangan.
Ia kemudian mengatupkan kedua telapak tangannya, menggumamkan mantra pendek. Udara di sekitar mereka bergetar lembut.
“Tenang saja, aku sudah membuat ruangan ini kedap suara. Agar tidak akan ada seorang pun yang mendengar apa yang terjadi di sini.” Katanya lagi dengan nada rendah, “
Beberapa menit berlalu.
Awalnya, Selir Zhen Zu hanya merasa perutnya menghangat. Namun rasa hangat itu berubah cepat menjadi nyeri menusuk. Wajahnya memucat, napasnya terengah dan tangannya mulai mencengkeram kain seprai.
Wu Zetian langsung siaga. Ia bangkit, bergegas menuju bilik kecil kamar mandi, mengambil sebuah wadah porselen, lalu kembali dengan cepat. Ia meletakkannya tepat di depan Selir Zhen Zu.
“Condongkan tubuhmu ke depan, apapun yang ingin keluar, jangan ditahan.” ucapnya sigap.
Belum sempat Selir Zhen Zu menjawab, rasa mual itu memuncak. Tubuhnya membungkuk, dan racun berwarna kehitaman dengan bau amis yang menyengat pun keluar dengan keras ke dalam wadah.
Wu Zetian refleks memalingkan wajahnya sedikit.
"Bau ini mengingatkanku dengan keadaanku yang lalu. Sangat amis, dan membuat kepalaku terasa berdenyut." Ucapnya sambil memegang pelipisnya.
Aku sudah cukup merasakannya dulu. Aku tidak tahan lagi. Aku harus keluar untuk mengambil nafas.
Wu Zetian melangkah mundur, menutup hidung dengan lengan bajunya.
“Aku akan keluar sebentar, kau teruskan saja sampai tubuhmu terasa lebih ringan. Aku akan kembali.” Katanya dengan suara tetap stabil.
Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu perlahan di belakangnya. Begitu berada di luar, Wu Zetian menghirup udara malam dalam-dalam.
Aku akan menunggu sebentar sebelum kembali.
Langkahnya kemudian beralih menyusuri koridor kediaman.
Sekalian saja aku berkeliling. Sudah lama aku tidak berjalan santai di tempat ini.
Ia berjalan tanpa tujuan jelas, melewati taman kecil, paviliun, dan lorong-lorong batu yang terasa asing sekaligus familiar.
"Tenang sekali," Wu Zetian menyipitkan mata, sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Tidak ada suara Wu Fanghua. Artinya tidak ada wajah menjengkelkan yang mengganggu hariku selama disini."
Saat melintasi sebuah jembatan kecil di atas kolam teratai, langkahnya melambat. Di seberang sana, berdiri seorang pria muda berpakaian rapi dengan posturnya tegap, wajahnya tenang.
Wu Wei.
"Kakak tertua.."
Wu Zetian menundukkan pandangan sedikit, melanjutkan langkahnya.
Dulu, dia selalu melindungi Wu Zetian. Hingga pada saat Selir Bao Yu berhasil meracuni pikirannya, sejak saat itu pula Wu Zetian sudah tidak pernah memiliki teman lagi sekaligus kakak yang selalu membelanya.
Ia melewati Wu Wei tanpa menoleh, seolah pria itu hanyalah orang asing.
Lebih baik begini.
Namun dari sisi lain, Wu Wei justru terdiam.
"Gadis itu.. Mengapa aku merasa pernah melihatnya?"
Matanya mengikuti sosok Wu Zetian yang menjauh, dadanya terasa aneh.
“Hei, kau, nona. Aku ingin berbicara denganmu.” Panggil Wu Wei tiba-tiba.
Wu Zetian berhenti.
Tch.. apa lagi yang dia inginkan? Aku bahkan tidak ingin bertemu dengannya.
Dengan enggan, ia berbalik dan menatap Wu Wei datar.
“Ada apa?” ucapnya singkat, tanpa gelar, tanpa hormat.
Wu Wei mengangkat alis.
“Kau benar-benar tidak tahu sopan santun. Tapi tidak apa. Aku bukanlah orang yang gila hormat. Terus terang, aku merasa wajahmu terasa familiar. Apakah kau pernah bertemu denganku sebelumnya?”
Wu Zetian menjawab singkat, “Ya.”
“Di mana?” tanya Wu Wei cepat.
“Di sini.”
Wu Wei mengernyit. “Aku serius, Nona.”
“Aku juga serius dengan perkataanku.”
Hening sejenak.
Wu Wei menghela napas kecil. “Baiklah. Kalau begitu, siapa namamu?”
Wu Zetian menatapnya lurus, tanpa emosi, tanpa ragu.
“Aku, Wu Zetian.” ucapnya pelan namun jelas.
Nama itu jatuh di udara seperti batu yang dilempar ke permukaan air tenang. Wu Wei membeku.
Untuk sesaat, dunia di sekelilingnya seakan berhenti bergerak. Angin yang berdesir di atas kolam teratai terasa menjauh, suara dedaunan seakan menghilang. Matanya menatap wajah gadis di depannya dengan lebih saksama.
"Wu… Zetian?". Dadanya terasa seperti dihantam sesuatu yang keras.
Tidak mungkin. Adikku yang satu itu penakut. Selalu menunduk dan selalu diam.
Namun gadis di hadapannya berdiri tegak. Bahunya lurus, sorot matanya tajam dan penuh kendali seolah dunia di sekelilingnya hanyalah papan catur.
“Kau.. jangan bercanda denganku.” Wu Wei melangkah satu langkah ke depan tanpa sadar.
Wu Zetian tidak bergerak. Tatapannya tetap lurus, bahkan sedikit dingin.
“Aku tidak bercanda.”
Wu Wei menelan ludah.
“Itu nama adikku.”
“Memang.” Nada Wu Zetian tetap datar, nyaris tanpa emosi.
Lihatlah wajahmu. Kau bahkan tidak mengenali wajah adikmu lagi. Batinnya dengan menyeringai melihat ekspresi Wu Wei.
________________
Yuhuuu~🌹
Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖
Jangan lupa mampir di karya terbaru author yaa. Kalian bisa cek di profil Author.🤍
See you~💓