Sungguh berat beban hidup yang di jalani Sri Qonita, karena harus membesarkan anak tanpa suami. Ia tidak menyangka, suaminya yang bernama Widodo pamit ingin mencari kerja tetapi tidak pernah pulang. Selama 5 tahun Sri jatuh bangun untuk membesarkan anaknya. Hingga suatu ketika, Sri tidak sanggup lagi hidup di desa karena kerja kerasnya semakin tidak cukup untuk biaya hidup. Sri memutuskan mengajak anaknya bekerja di Jakarta.
Namun, betapa hancur berkeping-keping hati Sri ketika bekerja di salah satu rumah seorang pengusaha. Pengusaha tersebut adalah suaminya sendiri. Widodo suami yang ia tunggu-tunggu sudah menikah lagi bahkan sudah mempunyai anak.
"Kamu tega Mas membiarkan darah dagingmu kelaparan selama 5 tahun, tapi kamu menggait wanita kaya demi kebahagiaan kamu sendiri"
"Bukan begitu Sri, maafkan aku"
Nahlo, apa alasan Widodo sampai menikah lagi? Apakah yang akan terjadi dengan rumah tangga mereka? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Dari kaca mobil angkut, Widodo memperhatikan Sally dan Ara yang baru turun dari taksi. Widodo menatap putrinya yang berlari ke dalam pagar mengulum senyum. Hanya dengan melihat begini saja, rasa kangennya pada Ara sudah terobati.
Sementara Sally masih berdiri menatap angkutan yang berada di komplek ini merasa curiga, selama tinggal di rumah ini tidak pernah ada angkutan mangkal, maupun lewat. Mengingat penduduk komplek rata-rata mempunyai kendaraan.
Merasa diperhatikan, Widodo pun melesat pergi. Ia tahu watak Sally, bisa-bisa istrinya itu memanggil satpam komplek untuk mengintrogasi dirinya, terlebih melihat penampilannya seperti ini bisa disangka maling.
**************
Di kediamannya, Prasetyo duduk di sofa. Bibirnya senyum-senyum, tangannya sibuk mengetik pesan lalu mengirim kepada seseorang.
Dia tidak tahu jika sang ibu memperhatikan dari samping. "Kamu sudah jatuh cinta lagi Pras, sama siapa?" Bu Gayatri pun ikut duduk di sebelahnya.
"Hehehe... ibu..." Pras salah tingkah.
"Siapa, kok malah cengengesan"
"Kalau aku jujur, apa ibu akan merestui..." Pras khawatir sang ibu tidak akan setuju. Pras meletakkan handphone di atas meja ingin membahas ini dengan serius.
"Ibu itu tidak pernah melarang kamu senang dengan wanita manapun pun Pras" bu Ratri memberi gambaran seperti apa wanita yang bisa dijadikan pendamping. Yaitu baik, sholehah, dan tidak emosional seperti Belinda.
"Wanita kali ini sudah masuk kriteria Bu, ibu mengenalnya kok"
"Sri" potong bu Ratri.
"Benar Bu, sekali tepuk dapat dua" Pras tersenyum.
"Ibu setuju, tapi tidak boleh pacaran, kalau kalian sudah siap, langsung lamar" tegas bu Ratri yang tidak mau anaknya pacaran terlalu lama seperti ketika dengan Belinda.
"Mau aku juga begitu Bu, tapi Sri belum memberi jawaban"
"Kamu ini, Pras. Ibu pikir kalian sudah saling cinta" Bu Ratri menepuk pundak putranya. Namun, ia bersedia membantu putranya.
Dua bulan setelah dari ragunan, walaupun Sri belum memberi lampu hijau kepada Pras, tapi mereka semakin dekat. Seperti pagi ini Pras mengantar Sri mencari sekolah. Karena satu bulan lagi tiba waktunya Laras masuk SD, Pras yang mengantar cari sekolah.
"Maunya swasta atau negeri Sri?" Tanya Pras yang sedang menyetir, menoleh sekilas ke sisi kiri di mana Sri duduk.
"Apa saja Mas, yang penting tidak terlalu jauh dari ruko" Sri tidak ingin Laras lelah jika terlalu jauh.
Pras terus menjalankan mobilnya sudah tahu sekolah yang Sri mau. Begitu tiba di depan sekolah swasta, seperti keluarga kecil mereka berjalan bergandengan memasuki gerbang sekolah tersebut posisi Laras di tengah-tengah.
"Aku mau sekolah di sini ya, Bun?" Laras senang sekali membayangkan menggunakan seragam kebesaran SD.
"Mudah-mudahan diterima sayang..." Sri pun sudah cocok dengan sekolah itu, selain tidak jauh dari ruko juga strategis.
Begitu tiba di depan kantor sekolah, Pras mengajak mereka menemui petugas ppdb menanyakan persyaratan masuk sekolah itu.
"Saya bisa melihat akta putri Bapak?" Tanya petugas.
Sementara Sri mengeluarkan dokumen milik Laras yang diminta petugas kepada Pras, tanpa Pras tanyakan.
"Selamat bergabung di sekolah ini Dek, belajar yang pintar semoga sukses" ucap petugas setelah memeriksa akta Laras.
"Aamiin" jawab Sri, Pras dan juga laras bersamaan.
Setelah selesai, mereka pun kembali pulang, dalam perjalanan Laras bergembira karena sebentar lagi akan masuk sekolah.
"Ciee... yang mau pakai baju merah putih" ucap Pras lalu bertanya ingin membeli seragam kapan.
"Aku sudah membeli kok Mas" Sri mengatakan jika Laras minta dibelikan seragam merah putih ketika kepasar.
"Sudah dicuci, digosok sama Bunda, Om" Laras menambahkan.
Pras manggut-manggut lalu menatap Laras dari kaca spion. Laras di belakang sudah asik dengan boneka, kesempatan ini digunakan Pras untuk berbicara serius kepada Sri.
"Sri, permintaan aku ketika di ragunan itu belum kamu jawab, aku menunggu Sri" ucap Pras penuh harap.
Sri membetulkan posisi duduknya lalu menoleh Pras. "Mas sudah memikirkan matang-matang, aku ini janda punya anak, Mas" Sri masih ragu khawatir timpang rumah tangganya nanti.
"Kalau soal itu tanpa kamu beritahu, aku sudah tahu sejak lama, Sri. Terus kenapa jika kamu janda? Aku tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Bagi aku siapapun kamu tetap di hati aku Sri" jujur Prasetyo. Dulu ketika menjalin hubungan dengan Belinda, Belinda lebih tua darinya pun Pras tidak pernah ada masalah.
"Tapi aku takut jika Belinda suatu saat datang dan mengganggu rumah tangga kita, Mas" Sri sudah pernah menikah berujung sakit hati dan sekarang tidak mau terulang lagi.
"Jadi Dia alasan kamu menolak aku? Jangan khawatir Sri" Pras menceritakan setelah kejadian menyiram Sri dengan air panas, Belinda keluar dari restoran lalu pulang ke negaranya.
"Memang dari negara mana Belinda Mas?"
"Dari luar negeri, negara yang sama dengan Sally. Bahkan semua keluarganya memang berada disana" Pras melanjutkan ceritanya. Belinda datang ke Indonesia karena ikut Sally.
"Sudah jelas sekarang Sri, mau kan kamu menjadi istriku?"
"Satu pertanyaan lagi, dan ini yang paling penting Mas, apakah Ibu akan menerima calon menantu sepertiku?" Sri tahu bahwa bu Ratri orang paling baik, tapi yang membuat Sri ragu bu Ratri akan mempermasalahkan statusnya yang bukan anak remaja lagi.
"Kamu seperti belum mengenal ibu saja, Sri" Prasetyo menjelaskan jika bu Ratri mendukung seratus persen.
Mendengar cerita Pras, Sri kini yakin, bu Ratri memang sangat menyayangi dirinya. "Aku mau Mas" pada akhirnya Sri memutuskan.
"Horeee... punya Papa baru..." seru Laras tertawa cekikikan, rupanya anak itu diam di jok belakang, tapi nguping. Mengundang tawa Pras, dan juga Sri.
"Sekarang kita mau kemana?"
"Mau kemana Mas? Pulang" Sri memotong, ia tidak mau meninggalkan Yani dan bibi yang sedang sibuk di ruko. Saat ini karyawan Sri nambah satu orang yang bagian memasak nasi rames karena jualan sampai malam.
"Kamu aku antar pulang, tapi Laras biar aku ajak jalan-jalan boleh tidak, Sri?" Prasetyo mengatakan ingin mengajak Laras ke restoran miliknya.
"Asiiik... jalan-jalan lagi" Laras sudah senang padahal Sri belum membolehkan. "Bun... boleh ya..." Laras menggoyang pundak Sri dari belakang.
Tidak ada pilihan, Sri pun akhirnya mengangguk. "Tapi harus sopan ya, tidak boleh membuat malu Om Prasetyo" pesan Sri, walaupun ia tahu jika putrinya anak yang baik.
"Pasti Bun"
Tiba di depan ruko Sri pun turun, kemudian Laras pindah ke depan atas permintaan Pras. Pras menjalankan mobilnya menuju restoran. Sesekali terkekeh ketika ngobrol dengan Laras tentang anak-anak.
Pras berhenti bertanya ini itu ketika sadar bahwa mobil dibelakang mengikutinya. "Siapa orang itu?" Batin Prasetyo lalu mempercepat laju kendaraan karena tidak nyaman mobilnya diikuti.
Hingga tiba di depan restoran, mobil di belakang masih mengikutinya. Bahkan sudah masuk pun mobil sejuta umat tersebut masih mengikuti dan ikut parkir.
Pras membiarkan tapi tetap waspada, berpikir positif jika orang itu hanya ingin makan di restoran miliknya. "Ayo sayang" Prasetyo mengait jemari Laras mengajak masuk restoran.
"Tunggu" pria yang mengikuti menghentikan langkah Pras.
...~Bersambung~...
hrse libur kerja selesaikan dng cepat tes DNA mlh pilih kantor di utamakan.
dr sini dah klihatan pras gk nganggap penting urusan kluarga. dia gk family man.
kasian sri dua kali nikah salah pilih suami terus.