NovelToon NovelToon
Inara, My Baby Sugar

Inara, My Baby Sugar

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Patahhati / Tamat
Popularitas:739.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: miss ning

Season 1

Inara hanya coba-coba mencari sugar Daddy supaya bisa lanjut sekolah. Namun siapa sangka Sean yang merupakan Daddy sugar Inara justru mempersunting dirinya. Karena hanya wanita itu yang mampu membuat dirinya menjadi lelaki sejati.

Mau tahu maksudnya? baca kisahnya ya👍❤️

Season 2

Alex dan Seira adalah saudara angkat. Sebuah jebakan untuk Seira membuat Alex harus menolong adiknya dengan merusak kehormatan yang seharusnya dia jaga.

Alex ingin bertanggungjawab namun Seira menolak dengan alasan tidak ada cinta diantara mereka.

Setelah kejadian itu Seira kuliah di luar negeri dan Alex tetap di Indonesia. Hubungan keduanya pun semakin merenggang. Dan itu membuat Alex frustasi.

Hingga akhirnya dia memilih untuk tidak menikah di usianya yang sudah kepala tiga.

Semua wanita cantik dia tolak. Tidak ada yang cantik baginya kecuali Seira. Adik sekaligus gadis yang dia cintai.

Bagaimana kisah Alex dan Seira? apakah mereka bersatu?

Baca kisahnya hanya di Noveltoon 👍🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss ning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kutukan

Flashback on

Seorang anak kecil berusia 6 tahun begitu bahagia saat dirinya berhasil mengendarai sepeda mini berwarna pink dengan sempurna tanpa bantuan roda tambahan di samping kanan maupun kiri. Sepeda yang merupakan hadiah ulang tahun dari mamanya.

"Ma, lihat ma Inara sudah bisa naik sepeda." teriak Inara kecil kepada sang mama yang sedang mengambil air minum di dalam tas kecil yang sempat dia siapkan sebelum pergi ke taman dekat rumah mereka.

"Ma lihat ma, Inara bisa Ma." Inara terus berteriak memberi tahu sang mama untuk melihat dirinya yang berhasil mengayuh sepeda tanpa terjatuh. Senyum gadis kecil itu terus menghiasi pipi chubby dengan rambut yang diikat dua sama rata di samping kanan dan kiri. Bergoyang-goyang mengikuti gerakan kepala saat bergerak.

"Iya sayang hati-hati lihat ke depan. Awas nanti jatuh." nasehat mama untuk Inara.

"Tenang aja ma Inara bisa kok." ucap gadis itu dengan penuh keyakinan.

"Ma, Inara boleh kesana?"

"Kemana sayang jangan jauh-jauh."

"Cuma ke bunderan itu ma." tunjuk Inara pada tempat yang ingin dia tuju.

Mama Inara mengangguk mengijinkan putrinya untuk pergi ke tempat yang masih dapat dijangkau pandang oleh dirinya.

Dari arah berlawanan terlihat segerombolan anak SMA yang terlihat saling dorong mendorong dengan kasar.

"Apa, kalo berani sini Lo!!" tantang seorang pemuda kepada Sean.

"Siapa takut." Sean maju dengan penuh percaya diri. Tanpa ada rasa takut sedikitpun di dirinya.

"Sialan berani sekali kau merebut Gisel dariku." ucap pemuda itu dengan penuh emosi.

"Siapa yang merebut, dia sendiri yang datang padaku." balas Sean dengan nada santai.

"Jangan banyak omong Lo." pemuda itu melayangkan sebuah pukulan ke wajah Sean. Namun sayang pukulannya hanya melayang di udara karena Sean berhasil menghindar membuat pemuda itu bertambah kesal.

"Cuma itu." ledek Sean dengan senyum mengejek.

Pemuda itu kembali melayangkan pukulan berkali-kali ke arah Sean dengan penuh emosi.

"Tidak kena." Sean menjulurkan lidah meledek pemuda bernama Gilang.

"Sial." teriak Gilang melampiaskan kekesalannya.

"Apa hanya itu kemampuanmu ?"ledek Sean tepat di depan wajah Gilang yang masih mengatur nafasnya.

Tangan Gilang kembali mengepal berusaha menyalurkan sisa tenaga yang ada ke tangan kanannya. Tangan yang akan dia gunakan untuk memukul kembali Sean.

Disisi lain Rio hanya melihat Sean dengan santai tanpa ada rasa ingin membantunya. Karena Rio yakin sepupunya itu mampu mengatasi masalah kecil seperti ini.

"Karena kau Gisel memutuskan ku." teriak Gilang dengan sebuah pukulan yang sudah dia layangkan tepat di depan wajah Sean. Kali ini Sean tidak menghindar. Dia menggenggam erat tangan Gilang dan memelintirnya ke belakang hingga pemuda itu berteriak kesakitan.

"Aaaa." teman-teman Gilang yang tadi hanya menonton mulai bangkit setelah mendengar teriakan dari pimpinan mereka. Baru selangkah ke depan Rio dan kawan-kawan berhasil menghadang langkah mereka.

"Eits kalian mau kemana?" tanya Rio dengan sebuah lollipop yang dia mainkan di mulutnya sedari tadi.

"Minggir kalian."

"Sudahlah biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka." ucap Rio yang masih berdiri di hadapan mereka.

Sementara di tempat lain Inara yang melaju dengan sepedanya tidak menyadari adanya keributan itu pun dengan mama Inara yang sedang menerima panggilan telepon dari papa Inara. Pandangan mulai teralih saat ada sedikit perdebatan dalam sambungan telepon.

Inara menambah kecepatan laju sepedanya ingin segera sampai pada bundaran taman yang ditengahnya ada sebuah air mancur kecil dengan ikan-ikan hias berwarna warni yang sengaja dipelihara oleh pengelola taman untuk memperindah taman.

Tanpa Sean duga Gilang berhasil mendorongnya kebelakang dengan kekuatan penuh sehingga dia tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya. Dan tubuhnya menghantam tepat di ban depan sepeda membuat Inara terlempar ke belakang beberapa meter dengan pantat yang menyentuh tanah terlebih dahulu. Dan itu cukup kuat hingga Inara berteriak kesakitan.

"Aaahh, sakiiiittttt. Mama!!!" teriak Inara.

Semua mata berpusat pada gadis kecil yang masih terduduk di tanah memegang bagian perut bawah yang terasa sakit akibat benturan dengan tanah yang cukup kuat. Inara terus memanggil mamanya dengan air mata yang terus membasahi kedua pipinya.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Sean mendekat ke arah Inara.

"Mama!!" teriak Inara.

Sean semakin panik saat gadis kecil yang baru saja dia tabrak semakin histeris memanggil orang tuanya.

Sedetik setelah memutus sambungan mama Inara mendengar teriakan putrinya. Matanya langsung membulat saat putrinya terduduk dengan beberapa pemuda mengelilingi tubuh kecil anaknya.

"Apa yang terjadi. Inara." batin mama Inara berlari kencang ke arah putrinya.

"Apa yang kalian lakukan!" teriak mama Inara mendorong salah satu pemuda yang tak lain adalah Sean.

"Mama. Hiks hiks." Inara menangis tersedu di dalam dekapan sang mama.

"Jawab!! Apa yang kalian lakukan terhadap putriku!" teriak mama Inara menatap satu persatu pemuda yang berada di hadapannya.

"Maaf Tante, tadi..." belum sempat Sean menyelesaikan ucapannya Inara berteriak histeris saat melihat darah sudah membasahi celana bagian intinya.

"Ini..." mama Inara yang sudah dewasa tahu itu apa. Kemungkinan selaput dara Inara terkoyak saat terjatuh tadi. Dan untuk memastikannya dia harus pergi ke dokter terlebih dahulu.

"Kau angkat putriku dan bawa ke mobil sekarang." perintah mama Inara kepada Sean.

Tiba di rumah sakit Inara langsung dibawa ke ruangan untuk diperiksa oleh dokter spesialis. Dalam hati seorang ibu semoga apa yang dia pikirkan bukan itu yang terjadi.

Sean yang ikut mengantar Inara menunggu di kursi besi panjang yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Ditemani oleh Rio yang juga ikut ke rumah sakit.

Lima belas menit berlalu dokter pun keluar dari ruangan.

"Keluarga pasien."

"Saya ibunya dok, bagaimana keadaan putri saya?"

"Putri ibu baik, hanya saja ada hal yang harus saya sampaikan kepada ibu."

"Apa itu dok?" tanya mama Inara yang begitu penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh lelaki berjas putih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya.

"Hymen atau yang kita kenal sebagai selaput dara milik anak ibu sudah koyak dan itu yang menyebabkan pendarahan tadi. Untuk itu ibu jangan khawatir saya akan memberi surat keterangan bahwa anak ibu masih perawan sehingga ibu tidak perlu cemas di masa depan mengenai kehidupan putri ibu."

Meskipun demikian hati ibu mana yang tidak khawatir saat putrinya disangka tidak perawan saat berhubungan dengan suaminya kelak. Walaupun ada surat keterangan apakah suaminya kelak akan percaya.

"Semua ini gara-gara pemuda itu." geram mama Inara menghampiri Sean yang duduk memainkan ponselnya.

"Kau semua ini karena kau Hymen putriku rusak karena kau." mama Inara menarik kerak seragam yang dipakai oleh Sean.

"Permen?" ucap Sean.

Rio yang suka dengan pelajaran biologi tahu apa itu Hymen sehingga dia menepuk kening saat sepupunya tidak tahu apa itu Hymen.

"Jangan becanda anak muda."

"Maaf Tante saya tidak tahu apa maksud tante." ucap Sean saat kerah bajunya ditarik semakin kuat.

"Dengar baik-baik anak muda, Sebelum putriku menemukan lelaki yang mau menerima dia apa adanya dan bahagia dengan pernikahannya maka aku bersumpah senjata yang kau miliki simbol dari kelelakian mu itu yang selalu kau tutupi dan menempel itu tidak akan berfungsi dengan baik. Tidak akan pernah bangun sebelum putriku bahagia. Tidak ada satupun wanita yang bisa membangunkannya kecuali sebelum putriku bahagia. Dan jika putriku tidak bahagia maka untuk menghilangkan sumpahku kau harus membahagiakan putriku. Ingat itu baik-baik."

Jedder

Terdengar suara petir yang begitu keras setelah mama Inara mengucapkan sumpah serapahnya. Entah karena cuaca sedang mendung atau apa hanya Tuhan yang tahu.

"Ibu ngomong apa sih. Sudah ya saya akan bertanggungjawab. Semua biaya anak ibu ditanggung oleh saya sampai dia subuh total. Karena apa? karena rumah sakit ini milik keluarga saya." ucap Sean kemudian berbalik meninggalkan mama Inara yang masih terlihat marah,kesal,sedih,kecewa semua melebur menjadi satu.

"Maaf ya Tante kami permisi." pamit Rio sopan membungkukkan badan di depan ibu Inara.

"Anak muda ingatlah ucapan ku tadi." Sean hanya melambaikan tangan tanpa membalikkan tubuhnya menanggapi ucapan mama Inara yang terdengar seperti omong kosong untuk Sean.

Flashback Off

"Begitulah ceritanya, apa kau sudah ingat sekarang?" tanya Rio.

Inara terdiam pikirannya berusaha mencari kepingan memori dimana dan kapan peristiwa itu terjadi. Dan dalam memori otaknya yang tersisa adalah saat dia melihat sebuah tanda lahir di telinga bawah bagian kanan pemuda SMA yang dulu menggendong nya saat ke rumah sakit.

"Jadi..." Inara menutup mulutnya saat menyadari pemuda itu adalah Sean.

"Kau sudah ingat?" tanya Rio saat melihat ekspresi wajah Inara. Inara mengangguk sebagai jawaban.

"Lalu apa kau masih belum percaya jika itu bukan anak Sean?" Inara menggeleng. Kini dia yakin Sean hanya melakukan itu dengan dirinya. Dan sekarang dia harus menemui suaminya.

Sementara Sean....

Spesial untuk kalian yang suka komen dan like♥️🙏

Komen kalian membuatku semangat💪💪💪.

1
Meily Agustin
𝗸𝗼𝗸 𝗻𝗮𝘂𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝘀𝗶𝗵, 𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗶𝗻𝗮𝗿𝗮 𝗻𝗮𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮
Nur Adam
smgt untuk krya mu thoir
Meily Agustin
kayanya kk tirinya inara deh
Phiphiet Safitri
luar biasa
Sri Peni
cerita bagus hny kadang2 bingung dgn tokohnya di sesion 1 inara tp di sesion 2 naura
Sri Peni
semakin bingung kok inara jd naura
Sri Peni
yg ben|er itu naura atau irana
etna winartha
mana lanjutnya thor
juwita
mampir
Suci Trisa
semoga cepat hamil
Evi Rachmawati
kak santii... lanjut doong please... tanggung niih jd ga itu alex sm seira
Evi Rachmawati
kak.. lanjut doong
kalea rizuky
banyak typo
guntur 1609
kok naura. mksdnya inara
guntur 1609
pantas waktu pertama x berhubungan Inara tdk mengeluarkan darah perawanya
guntur 1609
hahah kasihan babang sran
guntur 1609
mngkn adnan pun punya niat jahat juga nih
guntur 1609
dasar babang Sean jahil
guntur 1609
lah brti jawanya Sean sugar daddy nya mila
guntur 1609
alasan saja. kau cerai saja lah bidoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!