"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAS POL
"Tadi gimana?" tanya Kak Rafly penasaran, Niar baru saja selesai mandi, mau istirahat sambil ngemil di depan TV, sudah ditodong hasil pertemuan dengan Zaldy. Bisa kasih nafas dulu gak sih, palingan nanti Zaldy juga laporan ke Kak Rafly.
"Aman!"
"Lah emang Zaldy pencuri, kamu bilang aman segala. Aneh!" sewot Kak Rafly dan membuat Niar tertawa sebelum makan camilan. "Buruan napa, Dek!"
"Ih, nanti juga bilang ke Kakak, ah. Gak mungkin gak cerita, orang dekatnya ke kakak daripada ke aku!" tolak Niar.
"Ya kan abang mau dengar dua versi, agar kalau ada kesalah pahaman abang sebagai wali kamu bisa menengahi."
Niar tersenyum simpul, "Wali? Duh mendadak rasanya calon pengantin nih," masih saja Niar meledek sang abang.
"Jadi gimana sih?" kali ini ibu yang nimbrung, karena beliau sudah dikasih tahu Rafly perihal Zaldy.
"Intinya Niar memberi kesempatan pada Zaldy untuk dekat dengan Niar dan menerima keseriusan dia. Cuma bagaimana ke depannya, silahkan atur sama kamu, Kak."
"Lah kan yang mau nikah kamu, Dek. Kok diatur kakak?"
"Ya maksudnya, aku dan dia akan bicara setelah dia meminta izin ke kakak, mengutarakan niatnya dan pandangan ke depan bagaimana. Kalau kakak oke, ya aku akan ngobrol serius sama dia!"
"Ya Allah, anakku akhirnya mau menikah," peluk ibu pada si bungsu. Tetap ya, sebagai ibu juga ikut khawatir kalau sang putri di usia 24 tahun, masih jomblo, ada kekhawatiran jadi perawan tua, sungguh sedih jadi ibu. Meski semua keputusan soal menikah tetap di tangan Niar.
"Yakin ya? Kalau misal Zaldy mau melamar kamu, gak boleh mundur, dan gak boleh mempermainkan hati orang. Ingat, usahakan hidup tanpa menyakiti hati orang lain!"
"Wah kalau menyakiti orang mungkin ada lah, Kak!"
"Siapa? Gesta?" Niar mengangguk.
"Itu urusan dia, selagi kamu tidak memberi harapan dan janji manis sama dia, artinya kamu tidak terikat sama dia!" Niar mengangguk saja, cuma kalau mendengar Niar bakal dilamar orang pasti dia juga merasa sakit hati. Tapi biarlah, dia sendiri juga berulah tanpa mau mengerti rasa cemburu Niar, sejak SMA malah.
Rafly pun mengajak bertemu Zaldy. Menuju cafe pria itu, Rafly sudah siap mengintrogasi calon iparnya itu. Tak menyangka saja, pertemuan tak sengaja malah lebih cepat ke tahap serius, semoga jodoh. Harapan Rafly.
Zaldy baru saja datang dari kampus, langsung menuju ke meja di mana Rafly berada. "Maaf ya, telat 5 menit!" ujar Zaldy sembari meletakkan tas kerjanya.
"Jadi dosen sesibuk ini ya, Zal?" tanya Rafly basa-basi.
"Iya, apalagi masuk waktu bimbingan, bisa dikejar mahasiswa layaknya artis," curhat Zaldy dan disambut tawa oleh Rafly, duh garing banget guyonan para pria tua ini.
"Gimana, Niar?" tanya Rafly meminta penilaian Zaldy terhadap adiknya, setelah pertemuan kemarin sore.
"Saya semakin yakin sama dia, Raf. Dia tegas banget, dan terlihat punya prinsip. Bahkan dia sangat jujur kalau malas PDKT sama laki-laki baru. Pikirannya memang tidak mau pacaran, sesuai dengan harapan saya, Raf. Dengan umur segini, gak perlu lah pacaran segala."
"Rencananya?"
"Kalau boleh minggu depan langsung saya lamar, sebulan atau dua bulan langsung nikah juga gak pa-pa, hanya saja saya juga menghormati keputusan Niar."
"Adakah syarat tertentu?" tanya Rafly agar saat diskusi dengan Niar akan diajukan oleh Rafly.
"Untuk saat ini enggak, kecuali kalau Niar mau bertemu dulu sama saya, pembahasan intern sebagai calon suami istri," Rafly mengangguk. Memang sang adik menyerahkan urusan Zaldy pada Rafly, hanya saja keduanya juga berhak menentukan komitmen untuk hubungan mereka.
Rafly pun mengutarakan hasil pertemuan dengan Zaldy, lelaki itu tak mau berlama-lama dan tak mau pacaran, dan Rafly menyarankan agar Niar bertemu lagi dengan Zaldy, membahas komitmen sebelum ke tahap lamaran ataupun ke pernikahan.
Zaldy memang berniat serius, setelah bertemu dengan Rafly ia langsung menghubungi Niar. Mengajak kembali, dan membuat janji temu untuk melanjutkan keseriusan di antara keduanya.
Sabtu pagi, Zaldy menjemput Niar ke rumah. Bertemu Rafly dan juga ibu mereka. Niar heran saja, kenapa saat dekat dengan Zaldy rasanya dipermudah, hatinya pun tak ada keraguan meski mereka baru kenal.
Mereka menuju ke sebuah cafe, setiap bertemu dengan Niar, Zaldy tak mau ke cafenya sendiri, khawatir karyawannya meledek. Bahkan Zifa dan Umi saja tak tahu perkembangan hubungan Niar- Zaldy. Setiap ditanya, Zaldy selalu bilang doakan saja ya, Mi. Niar mau sama saya, agar Umi segera punya menantu, Zaldy masih usaha pendekatan melalui kakak Niar.
"Mungkin kamu sudah diberitahu Rafly, terkait keseriusan saya sampai ke jenjang pernikahan," ucap Zaldy memulai obrolan mereka. Masih tetap sama, duduk berhadapan masih canggung.
"Iya sudah, Bang!" ucap Niar menyakinkan diri bahwa dia bertemu dengan pria matang, tentu sudah tak main-main saat dekat. Pikirannya ya membangun rumah tangga.
"Kamu siapnya kapan untuk saya lamar?" tanya Zaldy, berusaha demokratis dan memberikan kenyamanan pada Niar untuk terbuka, tak mau terlalu mendikte juga. Sebagai laki-laki kalau bisa hari ini akad, ya bakal ia lakukan.
"Sebenarnya soal lamaran atau bahkan menikah itu gampang, hanya saja kita yang belum kenal lebih dalam menurut saya penting sekali membahas hal-hal yang menurut saya urgent!" ucap Niar, sama seperti pacaran dengan Gesta dulu, dia akan bilang apa yang ada dipikirannya agar pasangan Niar tahu sejak awal karakter dan kepribadiannya.
"Boleh, contohnya?"
"Pertama soal status. Apakah Bang Zaldy memang benar-benar masih lajang? Bukan milik orang lain, dan tidak sedang menunggu kedatangan orang lain?" tanya Niar memastikan status Zaldy yang benar-benar jomblo atau pura-pura jomblo. Gak lucu kan, kalau sudah siap menikah eh di akhir acara ada perempuan yang mengaku kekasih atau cinta pertama Zaldy. Bisa-bisa Niar kembali patah hati dan kecewa, lalu buntu bagaimana move onnya.
"Saya sendiri. Saya tidak punya pacar, saya tidak punya janji pada siapa pun khususnya perempuan. Saya juga tidak pernah pacaran, kalau pun di masa lalu pernah naksir, saya pastikan rasa itu sudah tidak ada," jawab Zaldy tegas dan pandangan matanya hanya tertuju pada Niar.
Boleh geal-geol gak sih, itu artinya Niar adalah perempuan pertama yang diseriusin oleh Zaldy.
"Baik, terima kasih sudah jujur. Kalau dari saya, saya pun single, saya juga tidak punya janji ataupun menjanjikan hubungan dengan laki-laki lain, selain Bang Zaldy. Namun, saya punya mantan. Dia beberapa kali mengajak saya balikan, namun saya juga beberapa kali menolaknya. Dia adalah bos di kantor saya, dan kami memang sering berinteraksi. Apakah itu menjadi ganjalan hubungan kita nanti?" tanya Niar serius, karena ia tak mau pasangannya nanti cemburu bila Niar berinteraksi dengan si bos.
lanjut pasti nya..
lanjotkan kak🤭
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭