NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Pagi yang cerah kembali menyapa Desa Sukamaju, membawa aroma tanah basah yang khas dan embun yang perlahan menguap di antara pucuk-pucuk daun kelapa. Setelah malam yang penuh dengan tangisan tobat, pengakuan dosa, dan pelukan hangat yang meruntuhkan segala ego, atmosfer di dalam rumah panggung Pak Rahman berubah total. Tidak ada lagi gurat ketegangan yang mencekam, tidak ada lagi bisik-bisik penuh curiga di sudut kamar, dan tidak ada lagi pandangan dingin yang saling dilemparkan. Rumah tua itu seolah baru saja disiram oleh air suci yang sejuk, meninggalkan rasa lega yang teramat sangat di dalam dada setiap penghuninya.

Sesuai dengan janjinya, Fandi benar-benar membuktikan ucapannya. Sejak fajar menyingsing dan azan subuh baru saja selesai berkumandang, batang hidungnya sudah tidak kelihatan lagi di dalam rumah. Pemuda yang biasanya masih mendengkur di balik selimut tipisnya itu kini sudah pergi ke sawah bersama Pak Rahman. Dengan sukarela, Fandi membantu memikul karung-karung pupuk yang berat dan turun langsung ke lumpur untuk membersihkan sela-sela tanaman padi yang mulai ditumbuhi rumput liar. Ada gairah baru di matanya, sebuah pembuktian bahwa tobatnya bukan sekadar hiasan bibir.

Sementara itu, kesibukan pagi juga melanda bagian dalam rumah. Di dapur yang masih berbau asap kayu, Bu Aminah yang sudah tampak sehat dan bertenaga sedang sibuk menggoreng pisang di atas wajan besar. Tangannya dengan cekatan membolak-balik adonan, dibantu oleh Lisa yang bertugas menyiapkan piring beralas daun pisang. Di ruang tengah, suasana tak kalah hidup. Gelak tawa renyah Ali terdengar bersahut-sautan saat bocah kecil itu bermain dengan Rika, menciptakan harmoni kedamaian yang sudah sangat lama tidak terdengar di bawah atap rumah tersebut.

Di sudut ruang tengah, Tina tampak sibuk mengenakan hijab nya dan bersiap-siap. Hari ini dia berencana pergi ke kebun cokelat milik keluarganya yang terletak di pinggir jalan desa. Kebun itu sudah agak lama tidak diurus dengan benar sejak badai masalah keuangan melanda mereka.

"Lisa! Ayo cepat, nanti kita kesiangan!" seru Tina sambil memakai caping bambunya di dekat pintu depan. "Kalau kita kesiangan, udaranya keburu panas dan kita tidak akan sempat memetik semua buah cokelat yang sudah matang."

"Iya, iya, Kak! Tunggu dulu, sebentar lagi selesai!" sahut Lisa setengah berteriak dari arah dapur, tergesa-gesa meniriskan beberapa potong pisang goreng terakhir yang baru saja diangkat dari penggorengan panas.

Bu Aminah yang melihat anak bungsunya buru-buru segera mengambil selembar kertas koran dan daun pisang bersih. "Lisa, ini bungkus pisang gorengnya. Bawa yang banyak untuk mengganjal perut kalian di kebun nanti. Siapa tahu kalian kerjanya sampai siang dan telat pulang rumah," ujar Bu Aminah dengan senyum keibuan yang terus mengembang sejak pagi tadi.

"Iya, Ma. Terima kasih," jawab Lisa, menerima bungkusan hangat itu dengan riang lalu bergegas menyusul kakaknya yang sudah menunggu di depan rumah.

Mereka berdua berangkat menuju kebun dengan menggunakan sepeda jengki tua yang rantainya sudah agak longgar. Tina bertindak sebagai pengemudi di depan, mengayuh pedal dengan ritme yang teratur, sementara Lisa duduk menyamping di boncengan belakang sambil mendekap erat bungkusan pisang goreng yang masih mengepulkan uap hangat.

Angin pagi berembus lembut, menerpa wajah kedua bersaudara itu saat sepeda tua mereka menyusuri jalanan aspal desa yang diapit oleh rimbunnya pohon-pohon. Di sepanjang jalan, suasana terasa begitu damai, hanya ada suara kicauan burung pipit dan derit rantai sepeda yang berputar.

"Kak..." Lisa membuka percakapan, sedikit mendekatkan wajahnya ke punggung Tina agar suaranya tidak tersapu angin. "Teman mengajar Kakak di sekolah PAUD itu... yang menggantikan Kakak, dia sudah berangkat ke kota?"

Tina mengangguk pelan, matanya tetap fokus menatap jalanan yang sedikit berlubang di depan. "Iya, dia sudah berangkat dua hari yang lalu menggunakan bus pagi."

Lisa terdiam sejenak, menatap pemandangan hamparan sawah di sisi jalan dengan pandangan menerawang. "Coba kalau waktu itu Kakak yang menerima tawaran pelatihan dari yayasannya Pak Andry itu... Pasti sekarang Kakak sudah jalan-jalan dan belajar banyak hal baru di kota besar kan, Kak? Tidak perlu repot-repot memetik cokelat di kebun pagi-pagi begini."

Tina tersenyum tipis mendengar penuturan polos adiknya. "Kamu ini bicara apa, sih, Lis? Semua yang terjadi itu sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Kakak percaya, dari setiap penolakan atau kesulitan yang Kakak pilih kemarin, pasti ada rencana lain yang lebih baik sebagai penggantinya kelak."

"Hmph... kalau ternyata tidak ada penggantinya bagaimana? Kalau kita tetap begini-begini saja?" tanya Lisa lagi, nada suaranya terdengar sedikit pesimis.

Mendengar kepasrahan adiknya yang mulai kambuh, Tina dengan gemas sedikir menggerakkan tangan kirinya ke belakang, lalu mencubit pelan pinggang Lisa sembari tangan kanannya tetap kokoh mengemudi setang sepeda.

"Aduh! Aduh, Kak! Ampun, sakit tahu!" jerit Lisa spontan, tubuhnya menggeliat di atas boncengan hingga membuat jalannya sepeda sempat oleng ke kanan dan ke kiri.

"Makanya, mulutnya jangan bicara yang tidak-tidak. Masih pagi sudah pesimis begitu," tutur Tina sambil tertawa kecil, kembali menstabilkan laju sepedanya.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di lokasi tujuan. Begitu sepeda tua mereka berhenti dan diparkirkan di bawah pohon peneduh, kedua bersaudara itu melangkah masuk ke dalam area kebun cokelat keluarga mereka.

Namun, begitu sepasang matanya menyapu pandangan ke sekeliling kebun, Lisa langsung terdiam sejenak. Langkah kakinya tertahan di atas tumpukan daun-daun kering. Wajahnya yang semula ceria perlahan berubah menjadi agak muram saat melihat kondisi deretan pohon cokelat di hadapannya. Banyak dahan yang meranggas, buah-buah muda yang menghitam karena terserang hama, dan semak belukar yang tumbuh liar menjalar hingga ke batang pohon.

"Tuh kan, Kak..." gumam Lisa dengan nada lemas, menunjuk ke arah barisan pohon di sebelah kanan mereka.

"Apa yang 'tuh kan'?" tanya Tina sambil menurunkan keranjang bambu dari pundaknya.

"Cokelat kita... sudah banyak yang mau mati, Kak. Kalau kondisinya rusak begini, bagaimana buahnya bisa dijual dengan harga mahal? Lalu... bagaimana dengan tabungan untuk biaya kuliahku nanti?" tanya Lisa, kekhawatiran tentang masa depannya setelah lulus sekolah kembali mencuat ke permukaan.

Tina menghentikan kegiatannya sejenak. Ia berjalan mendekati adiknya, lalu menepuk pundak Lisa dengan lembut untuk menyalurkan ketenangan. "Lisa, dengarkan Kakak. Abah itu punya dua bidang kebun cokelat di desa ini. Yang di sebelah barat kondisinya jauh lebih bagus dan terawat. Jadi, kamu tidak perlu khawatir berlebihan seperti ini."

"Tapi tetap saja, Kak... harganyanya kan naik turun. Bagaimana kalau aku benar-benar tidak bisa kuliah karena uangnya tidak cukup?" keluh Lisa lagi, matanya mulai berkaca-kaca menatap batang-batang pohon yang meranggas.

Tina menggelengkan kepala perlahan, menatap adiknya dengan pandangan penuh ketegasan sekaligus kasih sayang. "Kamu ini belum apa-apa sudah menyerah duluan, Lis. Hidup itu jangan terlalu banyak diisi dengan ketakutan. Ingat, rezeki itu datangnya dari segala arah, bukan cuma dari kebun cokelat ini saja. Tugas kita sekarang adalah berusaha dan merawat apa yang kita punya saat ini. Mengerti?"

Lisa menarik napas panjang, mencoba mencerna kata-kata bijak kakaknya, lalu mengangguk pelan. "Iya, Kak. Mengerti."

"Nah, kalau begitu ayo cepat bantu memetik buah yang sudah menguning!" perintah Tina, kembali menghidupkan suasana. Ia menyerahkan sebuah galah bambu kecil yang ujungnya sudah dipasangi pisau pengait kepada Lisa. "Tapi ingat, petik yang warnanya benar-benar sudah jingga tua saja."

Lisa menerima galah itu dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggaruk kepala yang tidak gatal. "Tapi Kak... kalau sudah kita petik sebanyak ini, bagaimana caranya kita bawa buah-buah cokelat ini pulang ke rumah? Sepeda kita kan tidak punya keranjang besar di belakangnya."

Tina terkekeh, tangannya sudah mulai memetik buah cokelat yang berada di jangkauan tangannya sendiri. "Nanti sore kan ada Abah yang akan datang mengambilnya pakai motor tua atau gerobak. Selalunya juga memang kayak begitu kan? Kita yang datang memetik hari ini, terus besok pagi atau sorenya Abah yang pergi mengangkut semuanya ke rumah untuk dijemur. Ayo cepat bergerak, nanti kita keburu siang dan udaranya panas!"

"Iya, Kak, iya!" sahut Lisa, akhirnya mulai menggerakkan galah bambunya ke arah buah cokelat yang bergelantungan di dahan atas.

Suasana kebun yang semula sunyi kini mulai diramaikan oleh suara patahan tangkai buah cokelat yang jatuh ke tanah. *Pluk! Pluk!* Buah-buah berbentuk lonjong dengan warna kuning itu mulai terkumpul satu demi satu.

Di tengah kesibukan memetik itu, Lisa kembali membuka mulutnya, tampaknya kebiasaan banyak bicaranya tidak bisa hilang begitu saja. "Kak... coba kalau Kak Fandi tobatnya dari dulu, ya? Pasti kebun cokelat yang di pinggir jalan ini tidak akan sempat terlantar sampai kayak gini. Pasti buahnya sudah lebat dan kita tinggal memanen banyak uang."

Tina yang sedang membungkuk mengambil buah cokelat di tanah langsung mendongak, menatap adiknya dengan tatapan melotot. "Lisa... kamu ini masih banyak bicara saja ya dari tadi? Cepat petik buahnya, jangan mengeluh terus!"

"Iya, Kak, ini juga sedang memetik, kok! Hehe," sahut Lisa sambil tertawa jahil, kembali fokus menarik dahan cokelat di atasnya.

Tina menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya, namun di sudut bibirnya, sebuah senyuman kebahagiaan terukir dengan sangat jelas. Hari itu berjalan dengan begitu damai, tanpa ada perdebatan yang menyakitkan hati, tanpa ada air mata kesedihan, dan tanpa ada beban utang yang mencekik pundak mereka lagi. Sambil memandangi langit biru yang cerah di atas sela-sela daun pohon cokelat, Tina memanjatkan sebuah doa yang sangat tulus di dalam hatinya; ia sangat berharap agar keluarganya akan selalu seperti ini, hidup dalam kedamaian dan kebersamaan yang utuh hingga akhir masa.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!