NovelToon NovelToon
CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.

Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. Hari Pertama

Pukul tujuh pagi tiga puluh menit. Kiera Anandita sudah berdiri tegak di depan meja kubikalnya yang terletak tepat di luar pintu ganda ruang kerja CEO. Hari ini, ia tidak lagi memakai jaket denim belepotan kopi atau celana jins robek. Kiera tampil sangat profesional dengan kemeja putih bersetrika rapi, rok span hitam di bawah lutut, dan rambut yang dicepol kencang tanpa ada satu anak rambut pun yang berani keluar jalur.

Meskipun penampilannya tampak tenang bak pembawa acara berita formal, bagian dalam dada Kiera sebenarnya sedang mengadakan konser musik metal. Jantungnya berdegup kencang setiap kali mendengar suara denting lift di lantai itu. Ia tahu, sebentar lagi sang tiran pemilik takhta Yudhistira Group akan datang membawa aura balas dendam.

*TING!*

Pintu lift di ujung lorong terbuka. Detik itu juga, seluruh staf administrasi yang berada di lantai itu mendadak menghentikan ketikan mereka. Atmosfer ruangan mendadak drop hingga beberapa derajat.

Arsenio Yudhistira melangkah keluar dengan gaya yang tidak perlu diragukan lagi kegagahannya. Setelan jas tiga potong berwarna abu-abu arang melekat sempurna di tubuh tegapnya, dipadukan dengan sepatu pantofel hitam yang sangat mengilap hingga bisa dipakai Kiera untuk berkaca. Wajah tampannya tertekuk datar, memancarkan pesona dingin yang mematikan.

Saat jarak mereka mengikis, Arsenio sengaja memperlambat langkahnya di depan meja Kiera. Ia berhenti tepat di hadapan gadis itu, lalu menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap Kiera dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang sangat kentara.

"Selamat pagi, Pak Arsenio," sapa Kiera semanis mungkin. Ia menahan diri sekuat tenaga agar tidak langsung mengabsen penghuni kebun binatang di depan wajah bosnya ini.

Arsenio tidak membalas sapaan itu dengan kata-kata ramah. Dengan satu gerakan dramatis, ia melepaskan kacamata hitamnya, lalu langsung meletakkan tas kerja kulitnya di atas meja Kiera dengan bunyi dentuman yang sengaja dikeras-keraskan.

"Masuk ke ruangan saya sekarang. Tugas pertama kamu sudah menunggu," perintah Arsenio dingin tanpa basa-basi.

Kiera menghela napas panjang di dalam hati. *“Dasar tiang listrik berjalan, baru pagi udah sok berkuasa,”* batin Kiera merutuk di balik senyuman profesionalnya yang tetap kalem. Ia segera mengambil agenda dan pulpen, lalu melangkah mengekor di belakang sang bos gila hormat itu.

Begitu Kiera melangkah masuk, ia mendapati Arsenio sudah berdiri di balik meja kerjanya yang luas, melipat kedua tangan di depan dada dengan senyuman *smirk* kelicikan yang sangat puas. Di atas meja jati kuno itu, berjejer rapi tiga puluh gelas kertas berisi kopi dari berbagai kafe terkenal di Jakarta.

Kiera mengernyitkan alisnya bingung. "Bapak mau buka cabang warung kopi di dalam ruangan?"

"Jaga bicaramu!" potong Arsenio ketus. "Kemarin, kamu sudah menodai jas ratusan juta saya dengan kopi sasetan murah. Jadi hari ini, tugas pertama kamu adalah mencicipi tiga puluh jenis kopi berbeda ini. Tebak mana kopi yang paling mahal dan mana kopi kesukaan saya. Saya beri waktu sepuluh menit. Jika salah... potong gaji kamu bulan ini saya tambah sepuluh persen."

Kiera menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya yang mulai tersulut. *“Iblis sombong, perfeksionis gila, kekanak-kanakan tingkat dewa!”* maki Kiera habis-habisan dalam hati di balik wajah cantiknya yang tetap tersenyum kalem.

Menantangnya dalam urusan kopi sama saja dengan menantang ikan untuk lomba berenang. Sebagai anak pemilik kedai kopi, Kiera melangkah maju tanpa ragu. Ia mengambil gelas pertama, menyesapnya sedikit. "Americano, biji kopi Flores Bajawa, *medium roast*, terlalu banyak air. Harganya empat puluh lima ribu."

Arsenio menaikkan sebelah alisnya, terkejut. "Kebetulan yang bagus. Lanjutkan."

Kiera mengambil gelas kelima, mencium aromanya sekilas. "Ini kopi instan sasetan tiga-dalam-satu dari pantri karyawan sebelah. Harganya tiga ribu rupiah."

Wajah Arsenio mulai berubah sedikit pias.

Terakhir, Kiera beralih ke gelas paling ujung yang aromanya sangat kuat dan elegan. Kiera menyesapnya pelan. "Ini Espresso *double shot*, biji kopi Geisha dari Panama, tingkat keasamannya pas, ada sedikit rasa buah persik dan melati di akhir. Ini kopi paling mahal, dan pasti kopi kesukaan Bapak yang hobi pamer kemewahan ini, kan?"

Arsenio mematung di tempatnya berdiri. Tebakan Kiera seratus persen akurat. Rencana balas dendam yang sudah disusun Arsenio sejak subuh tadi hancur lebur dalam waktu kurang dari tiga menit.

Melihat wajah Arsenio yang mendadak linglung dan kaku, Kiera tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum puas. "Gimana, Pak Bos? Tebakan saya benar semua, kan? Jadi, potongan ganti rugi jas Bapak gak jadi ditambah, ya?"

Arsenio buru-buru berdehem keras, memalingkan wajahnya yang mendadak terasa agak panas karena malu. "I-itu... itu cuma keberuntungan pemula! Jangan sombong kamu! Bersihkan semua gelas ini sekarang!"

*“Sabar Kiera, sabar... orang sabar kuburannya luas,”* rapalan mantra itu terus bergema di hati Kiera selagi ia membereskan meja.

---

Namun, penderitaan Kiera tidak berhenti sampai di situ. Alih-alih membiarkannya bekerja dengan tenang setelah lulus ujian kopi, Arsenio justru mulai bertingkah semakin ajaib dan mematikan kewarasan. Hal-hal sepele yang keluar dari mulut sang CEO sukses membuat Kiera tidak berhenti geleng-geleng kepala dan menarik napas dalam-dalam sepanjang hari.

"Kiera!" panggil Arsenio lima belas menit kemudian, menunjuk ke arah tumpukan dokumen di pojok meja dengan ekspresi horor seolah melihat bom aktif. "Kenapa klip kertasnya warna-warni begini?! Saya sudah bilang, saya hanya mau klip kertas warna perak metalik! Warna-warni begini merusak estetika dan membuat mata saya iritasi!"

Kiera mematung di tempat, memandangi klip kertas warna merah dan biru yang dituduh sebagai tersangka kriminal. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan demi menjaga kewarasan. *“Iritasi mata mata lu peyang! Cuma gara-gara klip kertas doang naga bener ngamuknya, dasar iblis gila!”* jerit Kiera dalam hati, sementara wajah cantiknya tetap memamerkan senyum profesional yang luar biasa anggun.

"Baik, Pak. Saya ganti sekarang," jawab Kiera dengan suara yang ditekan selembut mungkin.

Belum sempat Kiera menyelesaikan urusan klip kertas, Arsenio kembali berteriak dari meja kerjanya. Kali ini, ia sedang memandangi sebuah map laporan dengan penggaris di tangan kanannya.

"Kiera! Kemari kamu!"

Kiera melangkah mendekat, mencoba tetap tenang. "Ada apa lagi, Pak?"

"Kamu lihat ini!" Arsenio mengetuk-ngetuk penggarisnya ke atas kertas. "Jarak antara logo perusahaan dan judul laporan ini harusnya tepat dua koma satu sentimeter! Tapi setelah saya ukur, ini dua koma tiga sentimeter! Selisih nol koma dua sentimeter! Kamu mau membuat mata saya juling karena tata letak yang tidak simetris ini, hah?!"

Kiera menatap penggaris di tangan Arsenio dengan pandangan tidak percaya. Ia benar-benar geleng-geleng kepala menghadapi tingkat *neurotik* akut bosnya. Selisih nol koma dua sentimeter diukur pakai penggaris besi?! *“Ya Gusti... cabut sajalah nyawa bapak-bapak ini sekarang, atau cabut nyawa saya aja sekalian biar gak usah dengerin kegilaan ini!”* Kiera memaki habis-habisan dalam hati, meratapi nasib sialnya.

"Maaf, Pak. Saya cetak ulang sekarang," ucap Kiera, tersenyum paksa hingga pipinya terasa kram.

Puncaknya adalah saat jam makan siang. Kiera membawakan sekotak tisu baru sesuai permintaan Arsenio. Namun, saat Arsenio menarik selembar tisu tersebut, wajah sang CEO langsung berubah mendung tebal.

"Kiera... apa ini?" tanya Arsenio dengan suara bergetar menahan amarah, memandangi selembar tisu di tangan seolah itu adalah racun berwujud kain.

"Tisu antiseptik sesuai perintah Bapak," jawab Kiera, mulai lelah lahir batin.

"Tisu ini bermotif bunga emboss, Kiera! Saya kan sudah bilang, saya hanya pakai tisu polos tanpa tekstur karena tisu bermotif kasar bisa merusak pori-pori wajah saya yang berharga ini! Kamu sengaja ingin menyabotase ketampanan saya?!" raung Arsenio dramatis.

Kiera menarik napas dalam-dalam sampai dadanya terasa sesak. Kali ini, ia benar-benar memejamkan mata selama tiga detik penuh untuk menahan tangannya agar tidak menyumpal mulut Arsenio pakai satu kotak tisu tersebut. Baru setengah hari bekerja di sini, Kiera benar-benar dibuat capek mental oleh Arsenio. Segala drama klip kertas, selisih milimeter laporan, hingga motif tisu sukses menguras habis seluruh energi kehidupannya.

*“Bener-bener pewaris iblis menjelma jadi CEO! Kalau bukan demi cicilan motor dan bayar jas sialan itu, udah saya ulek muka gantengmu itu pake cobek, Pak!”* umpat Kiera dalam hati, sementara di luar, wajah cantiknya hanya tersenyum manis sambil mengangguk patuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!