NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Pewaris Berbahaya

Dijodohkan Dengan Pewaris Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Berita tentang aliansi Maheswara dan Pradipta meledak di seluruh penjuru negeri seperti bom waktu yang sengaja diledakkan di pusat bursa saham. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah penandatanganan berkas resmi di hadapan notaris, narasi tentang "Pernikahan Megah Abad Ini" telah menguasai halaman utama media cetak, portal berita daring, hingga forum-forum diskusi bisnis kelas atas. Publik di luar sana diliputi rasa penasaran yang luar biasa terhadap sosok Alyssa Carissa Pradipta gadis dari keluarga yang nyaris tenggelam, yang tiba-tiba berhasil memikat sang Pewaris Berbahaya yang terkenal tidak tersentuh.

Namun, di balik layar kaca yang menampilkan romansa korporasi yang sempurna, realita yang dihadapi Alyssa adalah sebuah prosesi mekanis yang sangat melelahkan dan dingin.

Griya tawang Alvaro mendadak berubah menjadi markas operasional bagi puluhan vendor pernikahan kelas atas yang ditunjuk langsung oleh kediaman utama Maheswara. Mulai dari perancang busana pengantin legendaris, ahli perhiasan, konseptor dekorasi internasional, hingga tim humas Maheswara Group yang mengawasi setiap jengkel gerak-gerik dengan ketat. Semua persiapan dilakukan secara besar-besaran, tanpa memedulikan biaya, demi satu tujuan tunggal: menampilkan kekuatan absolut Maheswara di mata dunia.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Alyssa merasa jiwanya perlahan terkikis.

"Nyonya Alyssa, tolong tegakkan bahu Anda sedikit lagi. Kami perlu memastikan potongan kerah gaun pengantin sutra ini jatuh dengan presisi di tulang selangka Anda," ucap seorang perancang busana senior sembari menusukkan jarum pentul di sekitar pundak Alyssa.

Alyssa berdiri di atas podium bundar kecil di tengah ruang tengah griya tawang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar setinggi langit-langit. Tubuhnya dibalut oleh contoh gaun pengantin haute couture berwarna putih gading yang bertahtakan ribuan payet mutral murni. Gaun itu sangat indah, mahakarya yang diinginkan oleh setiap wanita di dunia, namun bagi Alyssa, gaun itu tak lebih dari sekadar kostum sandiwara.

Ia merasa persis seperti boneka yang dipajang di etalase toko mewah. Benda mati yang diukur, dihias, dan disesuaikan agar memenuhi standar kelayakan publik sang pemilik modal.

"Apakah detail mutiaranya terlalu berat, Nyonya?" tanya asisten desainer dengan sikap yang teramat sopan.

"Tidak. Lakukan saja apa yang menurut kalian terbaik," jawab Alyssa datar, suaranya terdengar kosong. Sifat beraninya kini dipaksa bertransformasi menjadi ketabahan yang luar biasa. Ia tahu, setiap jepretan kamera dari tim humas yang mendokumentasikan proses ini akan menjadi konsumsi publik untuk menaikkan nilai saham Maheswara Group yang sempat goyang.

Sementara itu, di ujung ruangan yang berbatasan dengan koridor sayap kiri, Alvaro Regantara Maheswara berdiri menyandarkan tubuhnya pada pilar marmer hitam. Pria berumur 28 tahun itu memegang secangkir kopi hitam tanpa gula, menatap proses pengukuran itu dengan sepasang mata elang yang sedingin es.

Alvaro tetap bersikap dingin dan menjaga jarak yang sangat tegas. Selama proses persiapan besar-besaran ini berlangsung, ia tidak pernah sekalipun mengeluarkan opini tentang estetika gaun, konsep dekorasi, atau daftar menu makanan yang disodorkan vendor. Baginya, semua ini hanyalah runtunan operasional bisnis yang harus diselesaikan.

Ketika tatapan mata mereka bertemu di pantulan cermin, Alvaro tidak memberikan binar kehangatan sedikit pun. Ia hanya menaikkan cangkir kopinya tipis, sebuah isyarat dingin yang mengingatkan Alyssa akan Pasal 7 dalam perjanjian mereka: Patuhi dan mainkan peranmu.

Alyssa membuang muka dengan cepat, menahan rasa muak yang merayap di ulu hatinya. Di dalam sangkar emas ini, dikelilingi oleh kemewahan berharga miliaran rupiah dan sorotan spekulasi publik yang kian liar, Alyssa menyadari satu hal dengan sangat jelas. Pernikahan yang akan digelar dalam hitungan hari ini bukanlah sebuah gerbang menuju kebahagiaan, melainkan sebuah panggung eksekusi megah tempat egonya akan terus diuji dalam perang dingin tanpa akhir melawan sang suami.

...****************...

Tim humas Maheswara Group yang dipimpin oleh seorang wanita paruh baya berwajah kaku melangkah mendekati podium tempat Alyssa berdiri. Wanita itu membawa sebuah tablet digital yang menampilkan draf rilis pers dan daftar pertanyaan yang telah disaring ketat untuk sesi wawancara eksklusif dengan salah satu media cetak bisnis terbesar besok pagi.

"Nyonya Alyssa, ini adalah daftar respons yang sudah disetujui oleh Tuan Besar Mahendra dan Tuan Muda Alvaro," ujar kepala humas tersebut sembari menyodorkan tablet ke hadapan Alyssa. "Anda hanya perlu menghafal poin-poin utama di sini. Ingat, tidak ada ruang untuk improvisasi. Jika mereka bertanya mengenai kondisi finansial Grup Pradipta, Anda harus menegaskan bahwa pernikahan ini didasari oleh kedekatan keluarga yang sudah terjalin lama, bukan karena motif penyelamatan modal."

Alyssa melirik layar tablet itu sekilas. Kalimat-kalimat yang tertulis di sana sangat manis, penuh bualan tentang romansa dan komitmen dua keluarga besar, yang berbanding terbalik 180 derajat dengan atmosfer mencekik yang sedang ia rasakan saat ini.

"Saya mengerti," sahut Alyssa pendek, nadanya terdengar dingin dan tajam. Sifat cerdasnya membuat ia langsung menghafal struktur teks tersebut dalam sekali pandang, namun hatinya menolak keras kebohongan publik yang dirancang begitu rapi ini. "Saya akan memastikan tidak ada satu kata pun yang meleset dari naskah konyol ini."

Di sudut ruangan, Alvaro meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong ke atas meja konsol dengan ketukan pelan yang tegas. Ia melangkah mendekati podium, membuat para desainer dan tim humas refleks melangkah mundur untuk memberikan ruang bagi sang pemilik kuasa mutlak.

"Kalian semua bisa keluar sekarang," perintah Alvaro, suaranya bariton merendah namun sarat akan otoritas yang tidak bisa dibantah. "Biarkan contoh gaun itu di sini. Aku perlu bicara berdua dengan calon istriku."

"Baik, Tuan Muda," jawab mereka serentak sebelum dengan taktis membereskan peralatan mereka dan mengundurkan diri dari griya tawang, menyisakan keheningan yang mendadak turun kembali ke titik beku.

Alyssa tetap berdiri di atas podium kecil itu, dibalut gaun pengantin megah yang berat, menatap Alvaro yang kini berdiri tepat di bawah podium dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangan elang pria berumur 28 tahun itu memindai Alyssa dari ujung kepala hingga ujung kaki, sedingin kurator saham yang sedang memeriksa nilai aset barunya.

"Wartawan yang akan datang besok pagi bukan jurnalis gosip amatir, Alyssa," ucap Alvaro tanpa basa-basi, matanya mengunci manik mata Alyssa dengan intensitas yang menekan. "Mereka dikirim oleh faksi yang bersekutu dengan Arsen untuk mencari celah dalam hubungan kita. Jika kamu menunjukkan keraguan atau ketegangan sedikit saja di depan kamera, saham Maheswara di sektor hulu akan langsung merespons dengan penurunan."

Alyssa tersenyum sinis, menunduk sedikit untuk mensejajarkan tatapannya dengan pria sombong di hadapannya. "Anda tidak perlu menceramahi saya tentang dinamika pasar, Tuan Alvaro. Saya tahu persis taruhannya. Fokus saja pada bagian Anda sendiri. Pastikan mata Anda tidak memancarkan keinginan untuk membunuh saya saat kita duduk berdampingan di depan kamera besok."

Rahang Alvaro mengeras mendengar balasan menohok dari Alyssa. Sifat dominannya yang terbiasa dipatuhi oleh ratusan direktur senior selalu terusik setiap kali wanita bermental baja ini membuka mulut untuk melawannya. Namun, alih-alih meledak dalam amarah, Alvaro justru melangkah naik satu tangga ke atas podium, mengikis jarak di antara mereka hingga Alyssa bisa merasakan embusan napas dingin sang suami di permukaan kulit wajahnya.

"Aku menyukai keberanianmu, Alyssa. Tapi ingat, di atas panggung pernikahan besar-besaran ini, kamu hanyalah boneka yang bergerak sesuai dengan tarikan benangku," desis Alvaro dengan nada kejam yang mutlak. "Jangan pernah lupa siapa yang memegang kendali atas hidup keluargamu saat ini."

Alyssa menahan napasnya, mencengkeram kain satin gaun pengantinnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, membalas tatapan membunuh Alvaro dengan kilat mata yang dipenuhi kebencian yang sama pekatnya. Perang dingin di antara mereka terus membakar di bawah megahnya persiapan pernikahan yang dipajang untuk dunia luar.

...****************...

Alvaro menurunkan pandangannya dari sepasang mata jeli Alyssa, beralih pada jemari gadis itu yang masih mencengkeram kuat kain sutra gaun pengantin pilihan Maheswara. Detik berikutnya, dengan gerakan lambat namun penuh intimidasi, Alvaro mengulurkan tangan kirinya. Jemarinya yang kokoh menyentuh permukaan kain tepat di atas buku-buku jari Alyssa, memaksa gadis itu untuk melepaskan cengkeramannya secara perlahan.

Sentuhan itu dingin, kaku, dan tidak menyisakan ruang bagi Alyssa untuk menolak dominasinya.

"Jangan merusak aset yang sudah kubayar mahal, Alyssa," bisik Alvaro, suaranya bariton merendah tepat di dekat telinga Alyssa, mengirimkan sensasi dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Gaun ini dibuat untuk menampilkan kesempurnaan di mata publik, bukan untuk melampiaskan amarah kekanak-kanakanmu."

Alyssa menarik tangannya kembali dengan sentakan cepat begitu Alvaro melepaskan tekanannya. Ia melangkah mundur satu tapak di atas podium bundar itu, menjaga jarak aman dari jangkauan sang predator. Sifat beraninya bergolak hebat di balik dada yang naik-turun menahan emosi.

"Aset?" Alyssa tertawa getir, sebuah tawa pendek yang sarat akan nada merendahkan. "Tentu saja. Di dalam otak bisnis Anda yang penuh dengan angka dan kalkulasi itu, manusia tidak lebih dari sekadar komoditas. Tapi ingat satu hal, Tuan Alvaro... sekuat apa pun Anda menarik benang-benang itu, boneka ini memiliki batasannya sendiri. Jangan sampai Anda menariknya terlalu keras hingga benang itu putus dan menjerat leher Anda sendiri."

Alvaro tidak membalas kalimat ancaman itu dengan kata-kata. Ia hanya menipiskan bibirnya, membentuk segaris senyuman tipis yang dingin sembari melangkah turun dari podium. Pria berumur 28 tahun itu membalikkan badan, berjalan menuju pintu kaca besar yang menghubungkan ruang tengah dengan balkon luar griya tawang, meninggalkan Alyssa sendirian di tengah ruangan yang mendadak kembali terasa luas dan sepi.

Begitu sosok Alvaro menghilang di balik pintu kaca, Alyssa memejamkan matanya rapat-rapat. Bahunya yang sejak tadi ditegakkan dengan paksa seketika merosot turun. Beratnya gaun pengantin bertahtakan mutiara murni itu kini terasa dua kali lipat lebih menekan fisiknya, seolah ratusan rantai kasat mata sedang benar-benar mengunci kebebasannya di atas podium ini.

Ia melirik ke arah meja kaca tempat tablet digital milik tim humas tadi tergeletak. Besok pagi, sandiwara besar pertama mereka di hadapan media bisnis akan dimulai. Di luar sana, publik sedang menanti kisah cinta dongeng korporasi yang manis, sementara di dalam dinding marmer hitam ini, yang ada hanyalah sepasang manusia yang saling membenci di balik topeng keserasian.

Alyssa menarik napas dalam-dalam, mengunci kembali seluruh kerapuhannya ke dalam sudut hati yang paling dalam. Ia harus membersihkan pikirannya, menghafal naskah wawancara itu hingga tanpa cela, dan bersiap menghadapi sorotan kamera esok hari. Sembari memanggil pelayan wanita untuk membantunya melepaskan gaun pengantin yang menyesakkan itu, Alyssa bersumpah dalam hati bahwa kemegahan persiapan ini tidak akan pernah bisa menjinakkan mental bajanya. Babak pembuka dari persiapan pernikahan besar-besaran ini telah ditutup dengan kebekuan yang mutlak, bersiap menyongsong badai publikasi yang akan bergulir dalam hitungan jam.

1
THE GIRL COOL😑
peransaran gue sama foto nya
THE GIRL COOL😑
wkwkwk! pas di meja makan gue sampe mau ketawa untuk ke tahan😭
THE GIRL COOL😑
gue baca nya ngakak banget!!! bagus thor kau berbakat👍👍👍😍
reyanzarayyanfahlevy_: hehehhe bisa aja😍, masih pemula kakak😭😍
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
🤣🤣🤣
THE GIRL COOL😑
gue kadang heran... Alvaro sama cewek nya Alyssa sama "AL" depan nya😍
reyanzarayyanfahlevy_: iyaaaapppp🤭
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
brak² aja🤣 sabar²👍
reyanzarayyanfahlevy_: wkwkwk🤣🤣
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
gue baca peraturannya kesel cok
THE GIRL COOL😑
Berarti si Al Siapa namanya Si ceweknya itu nggak usah membuat makanan buat dia nggak boleh nyiapin apalah Pokoknya nggak boleh gituan dilarang sekalian gitu biar Alvaro nya tuh gua kesel
THE GIRL COOL😑
wow sok kali ini alvaro🤣🤣🤣
THE GIRL COOL😑
seangkuh itukah seangkuh itukah Alvaro
reyanzarayyanfahlevy_
Aku Bangga dengan Karya Ku...........
THE GIRL COOL😑
gue yg baca aja sakit cok🤣
THE GIRL COOL😑: yg alvaro bilang kalau apa gitu ada lah😭😭🤣🤣🤣
total 2 replies
THE GIRL COOL😑
kejambah woiii😭😭😭
reyanzarayyanfahlevy_: wekduyyy
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
jjangan di kasihani al!!!
reyanzarayyanfahlevy_: 😭🤭🤭 wkwkwkwk🤣🤣
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
jijik
THE GIRL COOL😑
terharu wehhh😭
THE GIRL COOL😑
di jodohi emang gak enak, bukti nya kk aku
THE GIRL COOL😑: serius!!!
total 2 replies
THE GIRL COOL😑
isss sombong
THE GIRL COOL😑
bagusss menunjukan ke dewasaan yg kuat💪💪
THE GIRL COOL😑: hehehe🤭
total 9 replies
THE GIRL COOL😑
aduhhhh alvaro
reyanzarayyanfahlevy_: wkwk😭😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!