"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 30
Rumah minimalis bernuansa putih modern itu, terasa sangat asing malam ini. Padahal selama empat tahun terakhir, Dinda hafal setiap sudutnya luar kepala.
Mulai dari letak gelas favorit Ervin di dapur, sisi kasur yang selalu dipenuhi aroma parfum suaminya, hingga suara pintu kamar mandi yang sedikit macet setiap kali ditutup terlalu keras.
Namun sekarang—semuanya terasa berbeda.
Karena tak ada lagi status yang mengikat mereka. Tak ada lagi sebutan suami istri. Yang tersisa hanyalah kenangan yang masih tertinggal di setiap sudut rumah.
Dinda berdiri cukup lama di depan pintu kamar mereka, sebelum akhirnya masuk perlahan. Tatapannya langsung jatuh pada ranjang besar di tengah ruangan.
Dan seketika, dadanya terasa nyeri lagi. Di tempat itu—ia pernah tertawa bersama Ervin. Menangis bersama, berpelukan—saling menguatkan.
Bahkan saling bermimpi tentang anak-anak yang suatu hari akan memenuhi rumah mereka. Namun sekarang, semua mimpi itu sudah mati.
Perlahan, Dinda berjalan mendekati lemari pakaian. Dan untuk pertama kalinya—wanita itu sadar bahwa separuh isi lemari tersebut masih dipenuhi pakaian Ervin.
Kemeja kerja pria itu masih tergantung rapi. Jam tangan favoritnya masih berada di kotak kecil dekat cermin. Bahkan parfum yang biasa dipakai Ervin masih tersimpan di tempat semula.
Seketika air mata Dinda kembali jatuh.
Karena semuanya masih terasa seperti rumah mereka. Padahal tidak lagi.
Dengan tangan gemetar, Dinda mengambil salah satu kemeja hitam milik mantan suaminya. Dan bodohnya—aroma khas Ervin masih tertinggal samar di sana.
Saat itu juga, pertahanan wanita tersebut runtuh lagi. Didekapnya kemeja itu erat ke dada sambil menangis tanpa suara.
Karena sesakit apa pun semua yang terjadi—ia tetap merindukan laki-laki itu. Sangat merindukannya.
“Aku benci...” isaknya lirih. “Kenapa aku masih sayang sama kamu?”
*****
Sedangkan di sisi lain kota—Ervin juga berada dalam keadaan yang tidak jauh berbeda.
Pria itu duduk sendirian di ruang tamu apartemen dengan lampu yang bahkan belum dinyalakan sejak tadi. Ruangan gelap, sunyi, dan terasa dingin.
Padahal dulu, ia selalu merasa rumah adalah tempat paling nyaman untuk pulang. Namun kini—tempat itu justru terasa menyiksa.
Tatapannya kosong menatap map cokelat di atas meja.
Surat perceraian.
Satu lembar kertas yang resmi mengakhiri seluruh hidup yang selama ini ia bangun bersama Dinda. Ervin tertawa kecil, pahit sekali.
“Gila...” gumamnya lirih. “Sekarang gue beneran sendiri.”
Tangannya mengusap wajah kasar. Namun sesaat kemudian, pria itu justru menangis lagi. Tangisan laki-laki dewasa yang terdengar begitu hancur.
Karena baru hari ini ia benar-benar sadar—kehilangan Dinda terasa seperti kehilangan arah hidupnya sendiri.
Brak!
Tanpa sadar Ervin memukul meja cukup keras hingga gelas di atasnya jatuh pecah. Namun pria itu bahkan tidak peduli.
Kepalanya terasa penuh. Suara Dinda terus terngiang di pikirannya.
Aku pulang ya, Mas.
Kalimat sederhana itu berhasil menghancurkan dirinya sepenuhnya.
Karena dulu—Dinda selalu pulang sebagai istrinya. Namun sekarang, wanita itu pergi sebagai orang lain.
“Mas...” Suara pelan Jenita membuat Ervin menoleh.
Wanita itu berdiri di ambang pintu sambil menggendong bayi kecil mereka yang sudah tertidur.
Tatapan Jenita langsung berubah sedih melihat kondisi pria tersebut. Kemejanya kusut, matanya merah, dan wajahnya benar-benar kehilangan kehidupan.
“Aku bawain makan.”
“Aku nggak lapar.” Jawaban Ervin terdengar datar.
Jenita menggigit bibir bawahnya pelan. Karena semakin hari, ia semakin sadar, bahwa kebahagiaan yang dulu ia kejar ternyata dibangun di atas penderitaan banyak orang.
Dan sekarang—karma itu perlahan menghantam semuanya.
“Kamu nangis lagi ya?” tanya Jenita lirih.
Ervin tertawa kecil hambar. “Kayaknya akhir-akhir ini kerjaan gue cuma nyesel dan nyesel.”
Kalimat itu sukses membuat hati Jenita terasa nyeri. Karena ia tahu—penyesalan Ervin benar-benar nyata. Namun semuanya sudah terlambat.
“Aku boleh jujur nggak?” ujar Jenita tiba-tiba.
Ervin diam. Dan wanita itu melanjutkan dengan suara pelan—
“Kadang aku iri sama Mbak Dinda.”
Pria itu perlahan mengangkat wajahnya. Sedangkan Jenita tersenyum kecil penuh luka.
“Karena sampai sekarang...” air matanya mulai jatuh. “Orang yang paling kamu cintai tetap dia.”
Suasana langsung berubah sunyi. Ervin memejamkan mata cukup lama. Karena ia tidak bisa menyangkalnya.
Sedalam apa pun ia mencoba bertanggung jawab pada hidup yang sekarang—hatinya masih penuh oleh Dinda.
“Aku jahat ya?” bisik Jenita lirih.
“Jen—”
“Aku pikir kalau aku cukup sabar, suatu hari kamu bakal cinta sama aku... sebesar kamu cinta sama dia.” Tangisan wanita itu pecah pelan.
“Tapi ternyata aku salah.”
Dan untuk pertama kalinya—Ervin benar-benar tidak punya jawaban apa pun.
*****
Tiga hari setelah perceraian mereka resmi,
Dinda mulai mencoba kembali bekerja seperti biasa. Walaupun sebenarnya, dirinya masih terasa kosong.
Senyumnya tidak lagi sama. Tatapannya lebih sering melamun.
Bahkan beberapa kali Bu Indri memergokinya diam terlalu lama di depan layar iPad tanpa menggambar apa pun.
“Kamu belum makan dari tadi, Din.” Suara Bu Indri membuat Dinda tersadar. Wanita itu langsung mengulas senyum kecil.
“Nanti aja, Bu.”
Namun sang atasan justru duduk di sampingnya perlahan. Tatapannya melembut penuh iba.
“Masih kepikiran?”
Air mata Dinda hampir jatuh lagi. Namun ia buru-buru menunduk.
“Aku kira aku kuat,” bisiknya lirih. “Ternyata pisah sama orang yang kita cinta sesakit ini ya, Bu.”
Bu Indri langsung menggenggam tangan wanita tersebut lembut. “Karena kamu tulus.” Kalimat sederhana itu justru membuat dada Dinda semakin sesak.
Karena memang benar. Ia terlalu tulus mencintai Ervin. Sampai-sampai setelah dihancurkan pun, hatinya masih tetap memilih laki-laki itu.
Tiba-tiba—suara kecil yang sudah sangat familiar kembali terdengar dari arah depan butik. “Maaa!”
Refleks kepala Dinda langsung menoleh cepat. Dan benar saja—Glenka datang dengan langkah kecil tertatih sambil tertawa riang ke arahnya.
Seketika, hati Dinda terasa hangat lagi.
Bayi mungil itu langsung memeluk kakinya erat seolah sudah sangat merindukannya.
“Ya ampun...” Dinda langsung jongkok lalu menggendong tubuh kecil tersebut. “Kamu nyariin aku ya?” Glenka tertawa kecil sambil mencubit pipi Dinda gemas.
Bu Indri pamit beranjak karena kebetulan ada tamu yang mencarinya.
Sedangkan beberapa langkah di belakang mereka—Raka berdiri sambil memperhatikan keduanya diam-diam.
Namun kali ini, tatapan pria itu tampak jauh lebih berat dari biasanya. Seolah ada sesuatu yang sedang ia pikirkan sangat keras.
Dan benar saja. Karena beberapa detik kemudian, ponselnya kembali berdering.
Nama yang muncul di layar membuat rahang Raka menegang. Sedangkan senyum di wajahnya perlahan menghilang.
Dinda yang menyadari perubahan itu langsung mengernyit bingung. “Kamu kenapa?”
Raka langsung mematikan layar ponselnya cepat. Namun sorot matanya berubah semakin rumit.
“Aku kayaknya...” pria itu menghela napas panjang. “Beneran harus pergi, Din.”