NovelToon NovelToon
Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.

Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Kasus Baru

 Di dalam ruangan rawat, terlihat Eric terbaring di atas ranjang rumah sakit yang tertutup rapi dengan selimut berwarna biru muda. Tangan kanannya terbalut gips tebal dan digantungkan pada penyangga kain agar tidak bergerak sembarangan. Di sisi ranjang, Anqi duduk dengan posisi menghadap laptop yang terbuka di atas meja kecil. Ia tampak sangat fokus, jari-jarinya bergerak lincah mengetik dan sesekali berhenti untuk memeriksa data yang tertera di layar.

Sorot pandangan seolah beralih mendekat, memperlihatkan wajah Eric secara lebih jelas. Pria itu memang sudah terjaga, namun tatapannya terlihat sayu, dipenuhi rasa sedih dan emosi yang mendalam. Matanya tidak lepas menatap Anqi yang duduk di sampingnya, sesekali ia menunduk dan memandangi gips yang membalut tangannya, seolah masih sulit menerima apa yang baru saja menimpanya.

Tak lama kemudian, Anqi mengangkat wajahnya dan menyadari Eric sedang memperhatikan keadaan tangannya. Ia segera menutup sebagian layar laptopnya dan menatap pria itu dengan perhatian.

“Kau kenapa? Apakah terasa sakit, atau butuh sesuatu?” tanya Anqi dengan suara lembut.

Eric menggeleng pelan, lalu menarik napas panjang sebelum menjawab dengan nada yang agak berat: “Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kau pulang saja, Anqi. Tidak perlu menemaniku terus di sini. Aku benar-benar bisa menjaga diriku sendiri, dan perawat juga akan datang memeriksaku secara berkala.”

Anqi hanya terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis dan menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi lebih baik aku mengerjakannya di sini sambil menemanimu. Tidak mengganggu kok.”

Setelah mengatakan itu, Anqi kembali menatap layar laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya. Di layar terlihat pesan dan berkas yang dikirimkan Mira, berisi laporan mengenai sebuah kasus baru.

Anqi mulai membaca isinya dengan seksama. Kasus tersebut menceritakan tentang seorang wanita yang telah dikurung dan dibekap oleh pacarnya sendiri selama dua tahun penuh. Selama itu, wanita itu mengalami kekerasan fisik yang sangat kejam: ia dipukuli secara terus-menerus, hingga terdapat bukti visum medis yang menyatakan bahwa matanya dirusak hingga membuatnya buta, sudut mulutnya dirobek, dan kakinya ditusuk berkali-kali menggunakan pisau tajam.

Semua keterangan dan bukti itu tercantum jelas dalam laporan yang sedang dibaca Anqi. Awalnya, kondisi wanita itu sudah sangat kritis dan nyawanya hampir tidak tertolong. Namun, karena tidak ada jalan lain, pria itu akhirnya terpaksa membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Di sanalah kesempatan terakhir wanita itu muncul. Ia berhasil meminta bantuan kepada salah seorang dokter yang merawatnya, yang ternyata juga menjabat sebagai jaksa penuntut umum.

Berkat pertolongan itu, wanita itu kini berada di tempat aman dan sedang menjalani masa pemulihan. Sementara itu, pelaku kekerasan tersebut berhasil melarikan diri dan saat ini sedang dalam daftar pencarian aktif pihak kepolisian.

Anqi menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Eric yang masih memandangnya. “Kasus ini sungguh sangat berat,” gumamnya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Selama dua tahun ini, ia menanggung penderitaan yang begitu kejam dan mengerikan. Syukurlah ia masih memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari kekejaman itu.”

Eric mendengarkan dengan seksama, lalu mengangguk perlahan. “Aku berharap wanita itu secepatnya pulih, dan pelakunya segera tertangkap dan menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya.”

Tidak lama kemudian, suara dering ponsel terdengar memecah keheningan ruangan. Eric meraih ponselnya dengan hati-hati menggunakan tangan kirinya, lalu mengangkatnya.

“Halo, selamat siang,” sapa Eric pelan.

Di seberang sambungan, terdengar suara petugas kepolisian yang menjelaskan: “Selamat siang, Pak Eric. Kami menghubungi untuk memberitahukan hasil penyelidikan sementara terkait kecelakaan yang Bapak alami. Kami sudah berhasil melacak data kendaraan yang diduga terlibat. Namun, sejauh ini kami baru berhasil mengidentifikasi plat nomor dan data kepemilikan mobilnya saja. Dari catatan yang ada, mobil itu terdaftar atas nama seorang wanita.”

Eric mengangguk perlahan meski tidak terlihat oleh lawan bicaranya. “Baiklah, saya mengerti. Saya serahkan sepenuhnya proses penyelidikan ini kepada pihak kepolisian. Silakan lanjutkan pencarian dan pengusutan lebih lanjut. Terima kasih atas informasinya.”

Setelah mengucapkan terima kasih, Eric menutup telepon dan meletakkan ponselnya kembali di meja samping ranjang.

Anqi yang mendengar sebagian percakapan itu menoleh dan bertanya dengan nada penasaran, “Siapa yang menelepon tadi? Ada apa?”

Eric hanya tersenyum tipis, berusaha terlihat santai. “Tidak ada apa-apa, hanya urusan biasa. Tidak perlu dipikirkan.”

Tanpa menambahkan penjelasan lebih lanjut, Eric membalikkan tubuhnya membelakangi Anqi, seolah hendak melanjutkan istirahat.

Melihat sikapnya yang tiba-tiba menutup diri, Anqi hanya bisa terdiam. Namun di dalam hatinya, muncul banyak pertanyaan yang mengganjal. Siapa sebenarnya yang menelponnya? Dan mengapa raut wajahnya terlihat begitu tegang dan khawatir meski ia berusaha menyembunyikannya? batinnya.

Ia membiarkan Eric beristirahat, namun rasa ingin tahu terus terbayang di pikirannya.

Tidak lama kemudian, ponsel Anqi berdering. Ia melihat nama Mira tertera di layar ponselnya. Karena tidak ingin mengganggu ketenangan Eric, ia segera menutup berkas yang sedang dibacanya, lalu berjalan pelan menuju pintu dan keluar ruangan itu untuk mengangkat telepon.

“Hallo, Mira. Ada apa?” tanya Anqi begitu sambungan terhubung.

“Anqi, aku menelpon mu untuk membahas kasus mengenai wanita yang disekap itu,” ucap Mira dengan jelas. “Kita perlu mengawasi perkembangannya. Bisakah kau mengurusnya lebih lanjut? Coba hubungi pihak kepolisian untuk meminta keterangan lebih detail dan data yang sudah mereka miliki. Kita harus memastikan keamanan korban dan membantu pengejaran pelaku.”

“Baik, aku mengerti. Aku akan menindaklanjutinya. Sebenarnya aku juga berniat untuk menyelidikinya sedikit sebelum berkoordinasi lebih lanjut,” jawab Anqi tegas.

Setelah mengakhiri percakapan, ia kembali masuk ke dalam ruangan. Saat membuka pintu, ia melihat Eric sedang berusaha meraih gelas berisi air di meja samping tempat tidur. Dengan satu tangan yang terbalut gips, gerakannya terlihat sulit dan agak terhuyung.

“Tunggu, biar aku saja!” seru Anqi sambil berlari kecil mendekat. Ia segera mengambilkan gelas itu dan membantu menopang tubuh Eric agar bisa minum dengan nyaman.

Setelah minum dan meletakkan gelasnya, Eric menatapnya dengan tatapan bertanya. “Tadi kau ke mana? Apa ada yang penting?”

Anqi mengangguk pelan. “Iya, ada sedikit urusan kantor. Aku harus pergi sebentar, boleh? Kalau ada apa-apa, panggil perawat saja ya. Aku akan kembali secepat mungkin.”

Eric mengerutkan kening, merasa ada yang disembunyikan. “Urusan apa? Apa yang ingin kau selidiki?”

Anqi terdiam sejenak, lalu menjawab terus terang. “Mengenai kasus wanita yang kita bicarakan tadi. Aku harus ke kantor polisi untuk berkoordinasi dan membantu prosesnya. Aku ingin memastikan korban mendapatkan keadilan.”

Mendengar itu, wajah Eric langsung berubah serius. “Sebaiknya kau tidak terlalu terlibat dalam pencarian pelakunya. Kita tidak tahu seperti apa orang itu, apakah dia berbahaya atau tidak. Aku takut dia bisa melukaimu juga.”

Anqi tersenyum tipis, lalu menatap Eric. “Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku akan berhati-hati.”

Ia segera mengambil tasnya yang terletak di kursi, namun sebelum melangkah pergi, ia kembali mendekat dan memegang tangan Eric dengan lembut.

“Aku berjanji akan kembali secepatnya. Jadi beristirahatlah, tidak perlu memikirkanku,” ucapnya lembut namun meyakinkan.

Eric menatap mata Anqi dalam, lalu menghela napas panjang. “Baiklah, tapi berjanjilah untuk berhati-hati. Jangan bertindak sembarangan.”

“Tentu saja,” jawab Anqi, lalu melepaskan pegangannya dan berjalan menuju pintu.

1
Putri Shalima
Mohon dukungannya ya teman-teman 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!