Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak Yang Tak Terduga
"Aku Aldo. Mungkin nama ini sudah tak asing lagi bagimu," ucapnya seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi beludru merah yang empuk. Gerakannya terasa begitu santai dan luwes, sama sekali tidak kaku atau canggung layaknya orang yang sedang berada di bawah tekanan berat. "Aldo Pratama. Umurku dua puluh enam tahun. Pekerjaanku psikolog forensik, meski belakangan ini lebih banyak waktuku kuhabiskan untuk mengajar di universitas daripada menangani kasus langsung di lapangan."
Aku mengangguk perlahan, berusaha menyerap satu per satu keterangan yang baru saja ia sampaikan. Psikolog forensik… batinku bergumam. Jadi bukan lulusan teknik dari ITB yang bekerja di perusahaan asing besar, persis seperti yang selalu dikabarkan Mama. Atau mungkin, Mama memang hanya menyebutkan latar belakang pendidikannya di sana, dan akulah yang terlalu cepat berasumsi bahwa ia pasti bergerak di bidang teknik.
"Kenapa memilih jalan menjadi psikolog forensik?" tanyaku kemudian. Sebenarnya rasa penasaranku belumlah terlalu mendalam, namun aku butuh topik pembicaraan apa pun untuk memecah keheningan yang mulai terasa makin menekan dan canggung di antara kami. Lagipula, pertanyaan itu terasa paling aman untuk diajukan—tidak terlalu masuk ke urusan pribadi, namun juga tidak terkesan datar atau klise belaka.
Aldo mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Karena aku selalu penasaran dengan cara berpikir dan perilaku manusia. Ingin tahu alasan di balik segala tindakan mereka. Kenapa ada orang yang sanggup melakukan hal‑hal yang sama sekali tidak masuk akal? Kenapa ada yang rela menyakiti sesamanya demi keuntungan sesaat saja? Dan kenapa rasa cinta—yang seharusnya menjadi hal terindah dalam hidup—bisa berubah menjadi racun yang perlahan merusak segalanya?"
Aku terdiam seketika. Dua alasan terakhir yang ia sebutkan—tentang orang yang saling menyakiti dan tentang cinta yang berubah menjadi racun—terasa begitu tajam, seolah‑olah sengaja ditujukan tepat ke arahku sendiri. Atau mungkin ini hanya perasaanku belaka? Bisa jadi aku sudah terlalu lama hidup dalam kecurigaan akibat sikap Reza, sehingga kini aku selalu berprasangka bahwa setiap orang yang kutemui pasti memiliki maksud tersembunyi di balik ucapannya.
"Kamu… sedang berusaha menyelidiki aku, ya?" tanyaku, berusaha tetap terdengar santai meski jantungku mulai berdegup kencang menahan rasa gugup.
Aldo tersenyum tipis—senyum yang sama sekali bukan senyum menyindir, bukan pula senyum menggoda. Melainkan senyum yang terasa tulus dan terbuka. "Apakah ada hal dalam dirimu yang perlu diselidiki, Tari?"
Aku menarik napas panjang, membiarkan udara masuk dan keluar perlahan. "Setiap manusia pasti memiliki rahasia, Aldo. Tak perlu ada yang menyelidiki pun, rahasia itu tetap ada."
"Setuju sepenuhnya," jawabnya mantap seraya mengangguk. "Namun ingatlah satu hal: rahasia itu berbeda dengan kebohongan. Rahasia adalah hal yang kau simpan karena waktunya belum tepat untuk dibagi kepada orang lain. Sedangkan kebohongan adalah hal yang kau ubah atau rekayasa semata‑mata karena kau merasa takut."
Aku menatapnya lekat‑lekat. Kata‑katanya terdengar begitu dalam dan berat—terlalu dalam untuk sekadar percakapan pembuka di pertemuan pertama. Namun entah mengapa, tak ada satu pun kalimatnya yang terasa dipaksakan atau dibuat‑buat. Ia mengucapkannya dengan nada bicara yang biasa saja, persis seperti orang yang sedang menjelaskan hal sederhana, misalnya warna langit hari ini atau suhu udara di luar sana.
"Apakah kamu memang biasa bicara seperti ini kepada orang baru yang dikenal?" tanyaku lagi.
"Seperti bagaimana maksudmu?"
"Seperti… sedang berdiri di depan kelas dan memberi kuliah pada mahasiswa."
Aldo tertawa kecil—suara tawa yang renyah, membuat bahunya tampak naik turun perlahan. "Maafkan ya. Kebiasaan yang sulit hilang. Memang begini sifat kebanyakan dosen, suka sekali menggurui orang lain."
"Setidaknya kamu sadar akan kebiasaanmu itu," sahutku.
"Mengetahui kesalahan diri sendiri adalah langkah paling awal untuk berubah," jawabnya tenang.
Aku pun ikut tersenyum. Pria ini sungguh berbeda dari orang lain yang pernah kutemui. Aku belum tahu pasti apakah perbedaan itu akan membawa hal baik atau buruk bagiku nanti, tapi satu hal yang jelas: ia sama sekali tidak membosankan. Berbeda jauh dari kebanyakan pria yang diperkenalkan keluarga—yang biasanya bersikap terlalu kaku, terlalu menjaga tata krama, dan penuh dengan kata‑kata manis kosong yang tak ada habisnya.
Tak lama kemudian, pelayan datang membawa pesanan kami ke meja.
Di hadapan Aldo, diletakkan secangkir kopi hitam Amerika yang pekat—tanpa gula, tanpa krim, tanpa campuran apa pun selain kopi dan air panas. Aku bisa melihat uap putih yang masih mengepul naik dari permukaannya, membawa aroma khas yang tajam dan sedikit pahit menusuk hidung.
Sebaliknya, di depanku tersaji cangkir keramik putih berisi teh bunga chamomile yang masih hangat. Aroma bunganya yang lembut dan menenangkan segera tercium memenuhi udara di sekitar meja, menciptakan perpaduan yang indah namun kontras dengan aroma kopi yang kuat di sebelahnya.
"Kopi Amerika tanpa gula sama sekali," ujarku, sambil mengamati cangkirnya dengan rasa ingin tahu. "Pasti rasanya sangat pahit."
"Kopi itu tidak perlu dimaniskan agar enak," jawab Aldo seraya menyerupai minumannya perlahan, seolah menikmati setiap tetesnya. "Karena kopi sendiri sudah memiliki karakter rasa yang kuat dan utuh."
"Kalau dengan teh?" tanyaku lagi.
Aldo mengalihkan pandangannya ke arah cangkirku. "Teh chamomile… lembut, hangat, dan menenangkan batin. Sangat pas diminum di pagi hari yang masih dingin dan berkabut seperti saat ini."
Aku sedikit mengangkat alis, takjub. "Kamu ternyata tahu jenis teh ini juga?"
"Aku tahu banyak hal, Tari," jawabnya sambil tersenyum misterius. "Tapi aku takkan membagikan semuanya kepadamu hari ini saja. Nanti kamu malah cepat bosan mendengarkanku."
"Dan dari mana kamu bisa memastikan aku tidak akan bosan sejak pertemuan pertama ini?" tantangku balik.
Aldo menatapku cukup lama—tatapan yang teliti, seolah sedang berusaha membaca sesuatu yang tersembunyi di balik sorot mataku. Lalu ia kembali tersenyum tipis. "Aku tahu dari matamu sendiri. Matamu bercerita bahwa kamu sudah sangat bosan dengan segala hal yang itu‑itu saja, yang berulang tanpa perubahan. Kamu butuh sesuatu yang baru. Sesuatu yang berbeda."
Jantungku berdetak makin cepat dan keras. Aku tak yakin apakah ia sedang berusaha menganalisis kepribadianku secara mendalam, atau sekadar berbicara berdasarkan pengamatan biasa saja. Namun satu hal yang pasti: kata‑katanya itu langsung menancap tepat ke dalam hati, menyentuh sisi diriku yang selama ini tak pernah berani kuakui—bahkan kepada diriku sendiri sekalipun.
Aku memang bosan…
Bosan dengan kebiasaan Reza yang selalu sama dan tak pernah mau berubah.
Bosan dengan pertengkaran dan drama rumah tangga muda yang terus berulang tanpa ujung.
Bosan dengan hidup yang terasa seperti roda kincir tempat hamster berlari—terus bergerak, terus berputar, namun tak pernah maju ke mana‑mana.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku yang sebenarnya," kataku, berusaha mengalihkan perhatian agar ia tak terlalu jauh masuk ke dalam isi kepalaku.
"Pertanyaan mana?" ulangnya.
"Aku sempat bertanya: kenapa kamu bersedia datang ke pertemuan perjodohan ini? Katamu sendiri kamu tak suka dipaksa‑paksa atau diatur orang lain. Tapi nyatanya kamu tetap ada di sini."
Aldo kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tangannya menggenggam cangkir kopi itu, namun tak segera diminum. Ia hanya memutarnya perlahan dengan gerakan berulang yang teratur, seolah‑olah sedang memberi waktu bagi pikirannya untuk menyusun jawaban yang tepat.
"Aku datang karena penasaran," jawabnya akhirnya, dengan nada yang serius.
"Penasaran dengan apa?"
"Dengan wanita yang berani mengambil keputusan mengakhiri hubungan dengan kakakku."
Dunia di sekitarku terasa seakan berhenti berputar seketika.
Dadaku mendadak terasa sesak napas. Kedua kakiku—yang sedari tadi kusilangkan dengan rapi dan tenang—kini terasa lemas dan lembek persis seperti tersengat arus listrik halus yang menjalar ke seluruh persendian.
"Kamu… sudah tahu semuanya?" suaraku keluar hampir berupa bisikan yang tertahan.
"Aku sudah tahu sejak awal," jawab Aldo dengan nada datar dan tenang, tanpa ada perubahan sedikit pun di wajahnya. "Aku tahu kamulah mantan kekasih Reza. Aku tahu kalian baru saja berpisah kemarin sore. Aku tahu kakakku sempat mengamuk sepanjang malam—membanting pintu, berteriak‑teriak sendiri di kamar, hingga membuat Ibuku sendiri merasa sangat cemas dan stres karenanya."
"Kalau begitu… kenapa kamu tetap mau bertemu denganku?"
Aldo menatapku tepat ke manik mataku. "Karena aku ingin melihat dengan mata kepala sendiri, sosok wanita seperti apa yang sanggup membuat kakakku kehilangan kendali atas dirinya sendiri."
Aku terdiam seribu bahasa. Mataku mulai terasa panas di sudut‑sudutnya—bukan karena aku hendak menangis di hadapannya, melainkan karena rasa sakit lama yang baru saja berusaha kubur dalam‑dalam kini kembali muncul lagi ke permukaan. Rasa sakit yang sudah kucoba lupakan sejak pagi tadi, sejak aku bertekad takkan memikirkan Reza lagi hari ini.
"Aku sama sekali tak bermaksud membuatmu merasa tak nyaman atau tersinggung," kata Aldo, nada bicaranya kini menjadi jauh lebih lembut dan rendah. "Aku hanya berusaha jujur kepadamu, Tari."
"Kamu terlalu jujur, Aldo. Kadang kejujuranmu terasa terlalu tajam."
"Dan bukankah lebih baik berterus terang seperti ini, daripada saling menutupi hal penting dengan kebohongan?"
Aku menghela napas panjang yang berat. "Itu tergantung keadaannya. Ada kalanya kebohongan itu jauh lebih baik, demi menjaga hati orang lain agar tidak terluka oleh kebenaran yang pahit."
"Itulah yang sering dikatakan orang‑orang, sekadar untuk membenarkan kebiasaan mereka berbohong dan berpura‑pura," bantahnya halus namun tegas.
"Aldo…" aku memotong, hendak menjelaskan lebih jauh.
"Aku mengerti maksudmu," potongnya kali ini sambil mengangkat tangan kanannya sedikit, seolah memintaku bersabar. "Aku sadar ini semua berjalan terlalu cepat. Kita baru saja berkenalan, dan aku sudah membahas hal‑hal yang berat dan pribadi. Tapi begini saja caraku. Aku tak suka basa‑basi berlebihan. Aku tak suka berpura‑pura menjadi orang lain. Kita dipertemukan di sini oleh keinginan orang tua kita, bukan karena kita berdua yang merencanakannya. Jadi, setidaknya ada satu hal yang bisa kita berikan satu sama lain: kejujuran sepenuh hati."
Aku diam sejenak, mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia tidak salah. Ia memang hanya… berbeda dari kebanyakan orang. Dan entah bagaimana, perbedaan sikapnya itu justru perlahan membuat dadaku terasa lebih lega dan tenang.
"Baiklah kalau begitu," jawabku akhirnya, lalu mulai memperkenalkan diri dengan lengkap. "Aku Tari. Tari Winata. Umurku dua puluh satu tahun. Saat ini aku masih kuliah jurusan Sastra Indonesia. Aku sangat suka menulis cerita pendek, dan kadang kala juga menulis puisi jika ada waktu luang atau suasana hati yang mendukung. Aku sama sekali tak suka kopi—terutama yang pahit tanpa gula seperti milikmu itu. Tubuhku juga punya alergi terhadap udang, tapi anehnya aku tetap gemar makan hidangan laut, jadi sering kali aku memakannya diam‑diam dan keesokan harinya badanku penuh bentol gatal. Aku juga suka begadang kalau sedang mengerjakan tugas kuliah, tapi sebaliknya aku sangat benci harus bangun pagi‑pagi sekali. Dan aku…"
Ucapanku terhenti di tengah jalan.
Aldo menatapku dengan sorot mata yang sulit kutafsirkan—campuran antara rasa terhibur, rasa serius, rasa ingin tahu, dan sesuatu yang lain… sesuatu yang tampak seperti kekaguman yang halus.
"Lanjutkan ceritamu," desaknya pelan.
"Aku baru saja mengakhiri hubungan dengan kakakmu kemarin," lanjutku dengan keberanian yang terkumpul sekuat tenaga. "Dan sejujurnya, sampai detik ini aku belum sepenuhnya bisa melupakan masa lalu itu. Jadi jika kamu berharap ada hal istimewa yang bisa tumbuh di antara kita mulai pertemuan ini saja… maafkan aku, tapi aku belum siap untuk hal baru."
Aldo tak langsung menjawab. Ia hanya kembali menyerupai kopinya, perlahan dan tenang, seolah sedang membiarkan ucapanku itu meresap masuk ke dalam pikirannya.
"Aku tak mengharapkan apa‑apa darimu, Tari," katanya setelah meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja. "Aku datang hanya dengan satu keinginan: ingin berkenalan denganmu. Itu saja."
"Berkenalan? Untuk tujuan apa?"
Aldo mengangkat bahunya santai. "Untuk memuaskan rasa penasaranku yang tadi itu. Dan siapa tahu, setelah saling kenal, kita bisa menjadi teman yang baik."
"Teman saja?"
"Ya, teman biasa. Tak ada ikatan lebih dari itu. Kamu bilang belum bisa melupakan masa lalumu… dan aku pun sejujurnya juga belum sepenuhnya lepas dari sesuatu yang pernah terjadi dalam hidupku."
Aku mengangkat alis, terkejut mendengar pengakuannya itu. "Kamu? Belum bisa melupakan apa?"
Aldo tersenyum tipis—senyum yang kali ini terasa getir dan pahit, hingga membuat dadaku ikut terasa sedikit sesak melihatnya. "Ceritanya cukup panjang dan rumit. Nanti saja akan kuceritakan padamu, kalau kita sudah mulai akrab dan tak saling asing lagi."
Aku pun tak memaksanya untuk bercerita lebih jauh. Aku hanya mengangguk mengerti, lalu kembali menyerupai teh chamomileku yang kini suhunya sudah pas, tak terlalu panas lagi.
Di luar sana, rintik hujan gerimis masih terus turun perlahan. Butiran‑butiran air menempel di permukaan kaca jendela besar, lalu bergerak turun berirama, saling bertemu dan melebur menjadi satu—persis seperti air mata yang ditahan agar tak jatuh deras. Aku memandangi pemandangan itu sejenak, lalu kembali menatap Aldo yang duduk di hadapanku.
Ia sedang menatapku.
Bukan tatapan yang membuatku merasa risih atau terganggu. Bukan pula tatapan yang penuh makna ganda atau harapan tersembunyi. Melainkan tatapan tenang, seolah‑olah ia sedang membaca halaman demi halaman sebuah buku yang menarik—dan akulah buku itu, yang sedang ia nikmati isinya.
"Ada apa?" tanyaku pelan.
"Bukan apa‑apa, maafkan aku," jawabnya seraya menggelengkan kepala. "Aku hanya… merasa kamu ini wanita yang sangat menarik, Tari."
"Menarik?"
"Ya. Mulai dari caramu berbicara, caramu duduk dengan sopan namun tetap tegas, hingga caramu menggenggam dan meminum teh dari cangkirmu itu. Kamu sama sekali tak berusaha menjadi orang lain, tak berpura‑pura tampak lebih baik atau lebih sempurna dari aslinya. Hal seperti itu… sungguh menyegarkan hati untuk dilihat."
Aku tersenyum malu, hingga pipiku terasa agak hangat. "Mungkin karena aku memang tak punya cukup tenaga dan energi untuk berpura‑pura menjadi orang lain."
"Justru itulah yang membuatmu terasa istimewa dan menarik di mataku," jawabnya mantap.
Tiba‑tiba ponselku yang tergeletak di meja bergetar hebat.
Aku menunduk melihat layar yang menyala, dan seketika seluruh tubuhku menegang kaku saat membaca nama yang tertera jelas di sana:
Mas Reza Sedang Menelepon…
Jantungku kembali berpacu kencang—berdentum keras, berirama tak beraturan, persis seperti ada sesuatu yang memalu bagian dalam dadaku. Tanganku yang sedari tadi santai beristirahat di sisi meja kini mulai gemetar tak tertahankan.
"Aku… aku harus mengangkat telepon ini," kataku dengan suara yang mendadak serak dan lemah.
Aldo hanya mengangguk tenang. "Silakan saja. Aku tunggu di sini."
Dengan tangan yang masih gemetar, aku menggeser tombol hijau di layar ponsel.
"H‑halo…?" suaraku terdengar begitu lemah dan goyah, bahkan di telingaku sendiri pun rasanya terdengar sangat menyedihkan.
Di seberang sambungan telepon, terdengar keheningan yang panjang. Lalu terdengar suara napas yang berat dan memburu. Hingga akhirnya terdengar suara Reza—suara yang dulu selalu membuatku merasa aman dan terlindungi, namun kini terdengar tajam dan kasar seperti silet yang siap menggores kulit.
"Tari… maafkan aku ya…"
Aku diam seribu bahasa, bibirku terkatup rapat menahan segala rasa yang berkecamuk.
"Tari? Kamu masih di sana kan?" tanyanya lagi.
"Aku masih di sini," jawabku datar—terlalu datar, sekeras apa pun aku berusaha menahan agar suaraku tak terdengar seperti orang yang sedang menahan tangis.
"Aku minta maaf atas semua kejadian kemarin. Aku sama sekali tak bermaksud bicara sekeras itu padamu. Waktu itu aku benar‑benar sedang lelah luar biasa, banyak beban pikiran dan tekanan di kantor—"
"Reza…" potongku cepat, memotong penjelasannya yang sudah terlalu sering kudengar. "Kamu selalu saja bicara hal yang sama. Setiap kali kita bertengkar atau ada masalah, kamu pasti bilang kamu lelah, kamu stres, kamu begini, kamu begitu… Kapan kamu akan benar‑benar berubah?"
Kembali terdengar keheningan panjang dari seberang sana.
"Tari… aku sungguh menyayangimu…" suaranya terdengar melemah, berusaha membujuk.
"Sayang?" ulangku, rasanya ada rasa pahit yang memenuhi mulut. "Kamu bilang sayang padaku, tapi kenapa kamu tega meninggalkanku sendirian di warung pinggir jalan kemarin? Kamu bilang sayang, tapi kenapa hampir tak pernah sekalipun kamu datang tepat waktu sesuai janji? Kamu bilang sayang, tapi kenapa kamu tak pernah mau berusaha mengerti perasaanku, tak pernah mau—"
Kalimatku tak bisa dilanjutkan lagi. Suaraku pecah seketika. Dan air mataku—yang sedari pagi tadi berusaha mati‑matian kutahan agar tak jatuh—akhirnya tumpah juga. Mengalir deras membasahi pipi, merusak sedikit riasan tipis yang kausapkan sebelum berangkat pagi ini.
Aldo memperhatikanku dengan tenang. Ia tak bersuara sedikit pun. Ia hanya merogoh saku jaketnya, mengambil sekotak tisu bersih, lalu meletakkannya perlahan di atas meja, tepat di samping tanganku yang gemetar.
Aku mengambil selembar tisu itu, mengusap air mata yang terus menetes, dan berusaha sekuat tenaga mengatur napas agar kembali teratur.
"Dengar, Reza… aku sudah muak," kataku, suaraku masih bergetar namun tegas. "Aku sudah muak dengan semua ini. Aku sudah muak dengan sikapmu yang tak pernah mau berubah."
"Tapi aku sungguh sayang padamu, Tari! Kenapa kamu tak mau mengerti?!" serunya dengan nada yang mulai meninggi.
"Rasa sayang itu tak cukup hanya dengan kata‑kata yang diucapkan saja, Reza! Sayang itu harus dibuktikan dengan perbuatan! Sayang itu berarti berusaha saling menjaga dan mengerti! Dan selama ini… kamu tak pernah benar‑benar berusaha untukku!"
Tanpa menunggu jawaban lagi darinya, aku langsung memutuskan sambungan telepon itu.
Dadaku naik turun dengan cepat. Tanganku masih gemetar hebat. Air mata pun masih terus mengalir, meski sudah kausap berkali‑kali dengan tisu.
"Aku… maafkan aku," kataku pada Aldo, merasa sangat malu. "Maafkan aku kamu jadi harus menyaksikan semua kekacauan ini di depan matamu."
Aldo hanya menggeleng pelan. "Tak ada hal yang perlu kamu minta maafkan, Tari."
"Tadi aku seharusnya—"
"Bukan," potongnya lembut namun tegas. "Kamu tak seharusnya melakukan apa‑apa selain apa yang baru saja kamu lakukan tadi." Aldo menatapku dengan sorot mata yang—entah mengapa—tak ada sedikit pun rasa kasihan yang membuatku merasa kecil atau rendah. Yang ada hanyalah rasa pengertian yang dalam. "Kamu berhak marah. Kamu berhak kecewa. Kamu pun berhak menangis sepuas hatimu. Ingatlah, ini baru sehari berlalu sejak kalian berpisah. Tak ada orang waras yang berharap kamu bisa baik‑baik saja seketika."
"Aku… aku sendiri pun tak tahu bagaimana seharusnya aku bersikap," akuku jujur. "Selama berhubungan dengannya, aku sudah terbiasa memaafkan segala kesalahannya, apa pun yang terjadi."
"Kebiasaan memang hal yang paling sulit untuk diubah," sahutnya pelan.
"Ya… sangat sulit."
"Namun ingatlah satu hal: kamu sudah memulainya dengan langkah yang benar. Kamu sudah berani berkata ‘tidak’ padanya. Itu adalah langkah yang sangat besar dan berani."
Aku menatap Aldo lekat‑lekat. Wajahnya tetap teduh dan tenang, persis seperti saat pertama kali ia masuk ke dalam kafe ini tadi.
"Apakah kamu memang selalu bersikap begini pada orang lain?" tanyaku.
"Begini bagaimana maksudmu?"
"Selalu tenang, sabar, dan penuh pengertian."
Aldo tersenyum tipis. "Tak selamanya begitu. Dulu aku juga pernah berbeda. Tapi aku belajar. Belajar dari kesalahan‑kesalahan yang pernah kulakukan sendiri di masa lalu."
"Kesalahan apa yang kau maksud itu?"
Aldo menghela napas panjang. Ia menyerupai sisa kopinya yang mungkin sudah mulai dingin, lalu meletakkan kembali cangkirnya ke meja.
"Dulu aku juga pernah bersikap sama persis seperti Reza," akunya perlahan, dengan nada yang terdengar berat. "Mungkin tak sama persis dalam segala hal, tapi aku juga pernah menyakiti hati orang yang mencintaiku, semata‑mata karena aku terlalu memikirkan ego dan kepentinganku sendiri. Aku juga pernah keras kepala, tak mau mengubah kebiasaan buruk, dan merasa diriku selalu benar. Hingga akhirnya aku kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku… semata‑mata karena aku terlalu bodoh untuk melihat dan terlalu lambat untuk berubah."
Aku terdiam mendengar pengakuan itu.
"Itulah sebabnya aku bisa mengerti apa yang kamu rasakan, Tari," lanjut Aldo dengan pandangan yang dalam dan tulus. "Bukan karena aku orang yang baik atau sempurna. Tapi karena aku sendiri pernah berada di posisi sebagai pihak yang bersalah, dan pernah merasakan betapa sakitnya kehilangan akibat kesalahan sendiri."
Kata‑katanya itu terasa menembus jauh ke dalam hatiku—tak menyakitkan, justru membawa rasa lega yang luar biasa. Seolah ia sedang berkata kepadaku: “Kamu tak sendirian merasakan hal berat ini. Aku pun pernah ada di sana.”
"Terima kasih…" ucapku lirih, tanpa sadar.
"Untuk apa berterima kasih?"
"Karena… karena kamu tak pernah menghakimi diriku apa adanya."
Aldo tersenyum hangat. "Tak ada hal dalam dirimu yang pantas dihakimi, Tari. Hidup ini adalah proses belajar yang tak berkesudahan. Kamu sedang belajar mengenal diri sendiri dan orang lain. Aku pun masih terus belajar. Kita semua sama‑sama belajar menjalani hidup."
***
Sisa waktu satu jam berikutnya kami habiskan dengan percakapan yang jauh lebih ringan, santai, dan menyenangkan.
Aldo bercerita banyak hal mengenai pekerjaannya—tentang bagaimana ia membantu pihak kepolisian menganalisis pola pikir pelaku kejahatan, bagaimana ia harus tetap tenang dan dingin meski berhadapan dengan kisah kejahatan yang mengerikan, serta bagaimana pengalaman itu mengajarinya bahwa manusia tak pernah bisa diprediksi sepenuhnya tingkah lakunya.
Sebaliknya, aku pun bercerita tentang kegemaranku menulis—mulai dari bagaimana aku mulai menulis sejak masih duduk di bangku SMP, bagaimana almarhumah Nenek menjadi sumber inspirasi terbesarku, hingga impianku yang terpendam: suatu hari kelak ingin bisa menerbitkan sebuah novel lengkap karyaku sendiri.
"Kamu pasti akan mampu mewujudkannya," ucap Aldo dengan nada yakin. "Gaya tulisanmu sangat indah dan mengalir."
"Kamu belum pernah membaca tulisanku sama sekali," bantahku sambil tersenyum.
"Aku sudah membaca cerpenmu yang dimuat di majalah kampus UI edisi bulan lalu," jawabnya santai. "Berjudul ‘Hujan di Ujung Malam’. Tulisan itu sungguh bagus dan menyentuh hati."
Mataku terbelalak tak percaya. "Kamu… kamu membaca majalah kampus UI?"
"Kadang aku membacanya, kalau sedang ada waktu luang atau sekadar bosan di kantor."
"Dan kamu benar‑benar membaca tulisanku itu?"
"Tentu saja. Dan aku sangat menyukainya. Gaya bahasamu mengalir begitu saja, tak kaku dan tak dipaksakan. Rasanya seperti kamu sedang bercerita langsung kepada pembaca."
Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Pria ini—yang baru saja kukenal beberapa jam yang lalu—ternyata sudah membaca tulisanku, mengingatnya dengan baik, dan bahkan menyukainya. Hal itu membuat hatiku terasa hangat tak terkira.
"Terima kasih banyak…" ucapku pelan, hampir tak terdengar.
"Kenapa kamu jadi malu begitu?" godanya halus.
"Aku… aku memang tak terbiasa dipuji orang lain seperti ini."
"Kenapa begitu?"
"Entahlah… mungkin karena aku kurang percaya diri pada kemampuanku sendiri."
Aldo menatapku cukup lama dengan pandangan yang serius dan meyakinkan. "Dengarkan aku, Tari. Kamu harus mulai belajar percaya pada nilai dirimu sendiri. Kamu berbakat menulis, itu fakta nyata, bukan sekadar pujian kosong belaka."
Aku tersenyum—senyum yang kali ini datang tulus dari dasar hati yang mulai merasa bahagia.
***
Pukul 11.30 siang, kami berdua berdiri bersiap meninggalkan kafe, berjalan keluar menuju halaman depan.
Hujan gerimis sudah berhenti sepenuhnya. Langit masih tampak mendung kelabu, namun ada celah‑celah kecil di antara awan yang mulai terbuka, dan dari sanalah sinar matahari pagi menyelinap turun—tipis namun hangat, persis seperti secercah harapan yang perlahan mulai tumbuh kembali.
"Bolehkah aku mengantarkanmu pulang?" tawar Aldo seraya mengeluarkan kunci mobil dari saku jaketnya.
"Tak usah repot‑repot, aku bisa memesan taksi daring sendiri saja," tolakku halus.
"Tapi—"
"Aldo…" aku menatapnya dengan lembut namun tegas. "Terima kasih untuk segalanya hari ini. Untuk waktumu, untuk tehnya, dan… terima kasih karena sudah mau mendengarkan ceritaku dengan sabar."
Aldo tersenyum tulus. "Sama‑sama. Dan terima kasih kembali karena kamu mau datang dan berkenalan denganku. Aku tahu betul situasi pertemuan ini sama sekali tak ideal bagimu."
"Memang tak ada hal yang benar‑benar ideal di dunia ini," jawabku.
"Namun kita selalu punya kesempatan untuk berusaha menjadikannya lebih baik," tambahnya.
Aku mengangguk setuju.
Aldo mengulurkan tangannya ke arahku. "Senang sekali bisa bertemu denganmu, Tari."
Aku menyambut uluran tangannya. Telapak tangannya terasa hangat dan bersahabat. Genggamannya pas—tidak terlalu kuat hingga menyakitkan, namun juga tak terlalu lemah dan lemas. Persis seperti ia sudah paham seberapa jauh ia boleh bersikap.
"Aku juga senang sekali bertemu denganmu, Aldo," jawabku tulus.
Kami pun saling melepaskan genggaman.
Aldo berjalan menuju mobilnya—sebuah sedan berwarna hitam yang terparkir rapi di sudut tempat parkiran. Aku berdiri diam di trotoar, menatap punggungnya yang menjauh perlahan.
Namun sebelum masuk ke dalam mobil, Aldo berbalik badan kembali ke arahku.
"Tari!" serunya.
"Iya?" jawabku agak meninggikan suara.
"Besok kita bertemu lagi ya, di waktu yang sama?"
Aku tersenyum lepas. "Janji ya?"
"Janji," jawabnya mantap sambil mengangguk.
Ia pun masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, lalu melaju perlahan meninggalkan halaman kafe itu.
Aku masih berdiri diam di sana, menatap mobil hitam itu hingga lenyap sepenuhnya di tikungan jalan raya.
Aku baru saja berpisah dari kekasihku kemarin sore.
Aku sendiri sadar, hatiku belum sepenuhnya lepas dari masa lalu itu.
Namun aneh… kenapa rasanya dadaku terasa jauh lebih ringan dan lega dibandingkan sebelumnya?
Aku menarik napas panjang, membuka aplikasi pemesanan kendaraan di ponselku, dan segera memesan tumpangan untuk pulang.
Di dalam hatiku, ada sesuatu yang baru mulai tumbuh perlahan.
Mungkin itu harapan yang baru.
Atau mungkin belum apa‑apa.
Namun satu hal yang pasti: untuk pertama kalinya setelah berhari‑hari terpuruk, aku tak lagi merasa sendirian berhadapan dengan dunia.