NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gudang NO. 7

Jarum jam menunjukkan pukul 23.27, menyisakan tiga puluh tiga menit lagi menuju tengah malam. Di dalam kabin mobil, suasana terasa begitu sunyi. Robert fokus mengendalikan kemudi, sementara Primus duduk di kursi belakang dengan mata terpejam.

Primus sama sekali tidak sedang beristirahat. Justru sebaliknya, isi kepalanya sedang berputar dengan sangat cepat. Aurora baru dikenalnya hari ini, namun gadis itu sudah mengambil risiko teramat besar dengan menyerahkan flashdisk tersebut. Jika bukan karena keberanian Aurora, Primus mungkin belum menemukan petunjuk penting tentang pencurian miliaran dolar di Aurelia Maritime. Namun kini, akibat bantuan tersebut, Aurora justru menjadi target yang terancam.

"Itu kesalahanku," gumam Primus pelan.

Robert yang mendengar gumaman itu melirik dari kaca spion. "Tuan Muda," ucapnya memecah keheningan, "saya sudah lama mengenal keluarga Aristokrat. Percayalah, orang-orang seperti mereka tidak membutuhkan alasan untuk menyakiti orang lain."

Tatapan Primus seketika berubah dingin. Robert benar. Masalah utamanya bukanlah Aurora, melainkan dirinya sendiri. Musuh-musuhnya kini mulai panik, dan orang yang panik biasanya akan melakukan kesalahan fatal.

Pukul 23.48, mobil mereka mulai memasuki kawasan Pelabuhan Timur. Wilayah ini jauh lebih sepi dibandingkan pelabuhan utama. Berderet gudang tua yang sebagian besar sudah terbengkalai berdiri di sepanjang jalan. Lampu penerangan yang hanya menyala di beberapa titik menciptakan bayangan panjang, menambah kesan mencekam pada atmosfer malam itu.

Robert memperlambat laju kendaraan. "Gudang nomor tujuh," katanya.

Primus melempar pandang ke depan. Sebuah bangunan besar berdiri kokoh di ujung dermaga dengan cat yang mengelupas dan pintu besi berkarat. Namun, ada satu detail yang langsung menarik perhatian mereka: lampu di dalam gudang itu menyala. Mereka memang sedang ditunggu.

Robert membuka laci dasbor, mengeluarkan sebuah pistol, lalu menyodorkannya. "Tuan Muda, ambil ini."

Primus melirik senjata api itu sebelum menggelengkan kepala. "Tidak perlu."

"Ini jebakan."

"Aku tahu. Justru karena itu," jawab Primus sambil membuka pintu mobil dan melangkah keluar, "aku akan masuk."

Robert tidak tinggal diam. Ia segera ikut turun dari mobil. "Saya ikut."

Primus menatap pria tua di hadapannya itu selama beberapa detik, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Terima kasih."

Tepat pukul 23.59, keduanya sudah berdiri di depan pintu gudang nomor tujuh. Angin laut berembus kencang, membawa suara deburan ombak yang menghantam tepi dermaga. Begitu jam beralih ke pukul 00.00, pintu besi di hadapan mereka terbuka perlahan dengan suara derit panjang yang menggema, seolah sebuah undangan sunyi untuk masuk.

Primus melangkah memimpin di depan dengan Robert yang mengawal ketat di belakangnya. Begitu menapakkan kaki di dalam gudang, mereka langsung menyadari ada yang tidak beres. Tempat itu terlalu sepi. Tidak ada penjaga, tidak ada suara, bahkan tidak ada pergerakan sama sekali. Hanya ada sebuah lampu yang menggantung di langit-langit, menyinari sebuah kursi logam kosong di tengah ruangan. Aurora tidak ada di sana.

"Sudah kuduga," gumam Primus.

Seketika itu juga, terdengar suara tepuk tangan berirama dari lantai atas. Primus mendongak ke arah balkon besi gudang. Di sana berdiri seorang pria jangkung dengan setelan mahal dan rambut yang tersisir rapi, menampilkan wajah yang sangat familier bagi Primus.

Saat mata mereka saling mengunci, pria itu tersenyum semakin lebar. "Selamat malam, sepupuku."

Tubuh Robert seketika menegang. Pria di atas sana bukanlah sosok sembarangan. Dia adalah Victor Aristokrat, salah satu kandidat pewaris terkuat di dalam keluarga, sekaligus pria yang dikenal luas sebagai tangan kanan Adrian.

"Jadi kau," ucap Primus dengan nada yang teramat tenang.

Victor tertawa kecil. "Kau terdengar kecewa."

"Aku berharap yang datang adalah orang yang lebih penting."

Senyum di wajah Victor sempat menyusut sebelum kembali terkembang, kali ini dengan kesan yang jauh lebih dingin. "Kau memang sudah berbeda sekarang. Tidak seperti dulu."

Primus memilih untuk tidak membalas ucapan itu. Matanya bergerak menyapu sekeliling ruangan, menghitung posisi tersembunyi dan mengalkulasi kemungkinan jebakan. Victor yang menyadari gerak-gerik itu kembali bersuara sambil bersandar pada pagar balkon. "Kau mencari Aurora? Sayang sekali, kau terlambat."

Mendengar hal itu, Robert spontan mengepalkan tinjunya. Namun, Primus tetap berdiri dengan ketenangan yang luar biasa. Ketenangan yang justru mulai membuat Victor merasa tidak nyaman.

"Kalau dia sampai mati," kata Primus dengan suara rendah, "aku akan membunuh semua orang yang terlibat."

Suasana di dalam gudang mendadak membeku. Bahkan beberapa pria bersenjata yang mulai bermunculan dari balik bayangan pun ikut terdiam. Namun, Victor justru meledak dalam tawa yang sangat keras, seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol.

"Kau? Sendirian? Mau membunuh kami semua?"

Primus tetap menatapnya tanpa ekspresi. Entah mengapa, tatapan dingin itu perlahan-lahan mengikis tawa Victor hingga akhirnya terhenti sepenuhnya.

Tepat saat itu, ponsel di saku Victor berdering. Ia mengangkatnya dengan sikap yang awalnya santai. Namun hanya dalam hitungan detik, ekspresi wajahnya berubah drastis. Senyumnya lenyap, matanya membelalak, dan ia menatap Primus dengan pandangan tidak percaya.

"Mustahil..." gumam Victor dengan tenggorokan kering. Untuk pertama kalinya malam itu, kepanikan yang nyata terbaca di wajahnya.

Pesan laporan yang baru saja ia terima menyatakan bahwa target Aurora tidak ditemukan di lokasi penyekapan karena seseorang telah lebih dulu membebaskannya. Belum sempat ia mencerna informasi itu, pesan berikutnya masuk dan membuat jantungnya mencelos: Aurora sekarang berada di dalam kediaman utama keluarga Aristokrat, di bawah perlindungan langsung dari Hector.

Mata Victor melebar sempurna. Sementara itu, di tengah keheningan gudang, senyum tipis akhirnya terukir di wajah Primus.

Sejak awal, Primus memang tidak pernah datang ke gudang ini untuk menyelamatkan Aurora. Ia datang hanya untuk melihat siapa orang yang cukup bodoh untuk menggunakan Aurora sebagai umpan.

Bersambung...

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!