"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Sumpah di Atas Ombak
Kapsul baja itu terombang-ambing dengan kasar dihempas ombak laut yang sedingin es. Hujan gerimis telah berubah menjadi badai ringan, menyamarkan keberadaan benda logam kecil tersebut di tengah samudra yang gelap gulita.
Dua kilometer dari posisi mereka, cakrawala menyala merah. Api melahap Pelabuhan Barat, memuntahkan asap hitam pekat ke udara. Tiga helikopter Il Morte terbang rendah menyusuri garis pantai, lampu sorot berdaya tinggi mereka menyapu permukaan air bagaikan mata predator yang kelaparan, mencari sisa-sisa target yang mungkin selamat dari ledakan Sektor Nol.
Di dalam kapsul yang sempit dan basah kuyup, napas ketiga orang itu memburu.
Xavier menarik palka atas hingga nyaris tertutup sepenuhnya, hanya menyisakan celah sekecil jari untuk ventilasi udara. Pria itu menggeser tubuh besarnya, memposisikan dirinya menutupi Aletta untuk melindunginya dari hawa dingin dan percikan air laut.
Di sudut seberang, Diego mengerang tertahan. Tangan kanannya menekan kuat bahu kirinya yang tertembus peluru. Darah kental merembes keluar, bercampur dengan air laut yang menggenang di dasar kapsul, menciptakan aroma anyir yang memuakkan.
"Bertahanlah, Diego," perintah Xavier, suaranya rendah namun bergetar oleh otoritas mutlak. Pria itu merobek sisa kemeja basahnya dan melemparkan kain itu pada tangan kanannya. "Ikat lukamu. Pelurunya menembus bersih, kau tidak akan mati hanya karena ini."
"S-siap, Bos," desis Diego dengan gigi gemeretak menahan sakit, membebat bahunya sekuat tenaga.
Aletta menggigil hebat. Bibirnya mulai membiru karena suhu air laut yang ekstrem, namun matanya tetap menyala terang penuh kesadaran. Ia menyentuh dada Xavier yang telanjang dan dingin, merasakan detak jantung suaminya yang berdebar kuat dan stabil.
"Helikopter itu bergerak menjauh ke arah timur, Xavier," bisik Aletta, mengintip dari celah palka. "Tapi cepat atau lambat mereka akan memperluas radius pencarian menggunakan sonar laut. Jika kita tetap mengapung di sini, kita akan tertangkap saat matahari terbit."
Xavier menunduk, menempelkan dahinya ke dahi Aletta, mengalirkan sisa panas tubuhnya pada sang istri.
"Mereka tidak akan menemukan kita, Sayang," bisik Xavier dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Sang Raja Mafia mengangkat pergelangan tangan kirinya. Ia memutar bezel jam tangan Patek Philippe berlapis titanium hitamnya sebanyak tiga kali berlawanan arah jarum jam, lalu menekan sebuah tombol tersembunyi di baliknya. Sebuah lampu LED merah berkedip redup di balik kaca jam tersebut.
"Sinyal marabahaya Black-Ops klan Vassiliev telah aktif," ucap Xavier. "Itu memancarkan frekuensi gelombang sangat rendah yang tidak bisa dideteksi oleh radar militer standar."
Hening menyelimuti mereka selama belasan menit yang terasa seperti penyiksaan. Ombak terus mengombang-ambingkan kapsul hingga membuat perut mual. Aletta memejamkan mata, memeluk erat tubuh suaminya, menjaga dengan nyawanya hard drive berisi aib dunia yang terselip aman di balik pakaian dalamnya.
Hingga akhirnya, sebuah bayangan raksasa membelah kabut laut tepat di depan mereka.
Bukan suara baling-baling helikopter, melainkan dengungan mesin elektrik yang sangat halus nyaris tak terdengar. Sebuah yacht katamaran berlapis cat penyerap radar yang seluruh lampunya dimatikan, muncul bagaikan kapal hantu dari balik kegelapan malam.
Palka samping kapal itu terbuka. Dua orang pria berseragam taktis hitam melemparkan jaring baja dan mengaitkannya ke pengait kapsul. Dengan cepat, winch hidrolik menarik kapsul itu masuk ke dalam lambung kapal hantu tersebut.
Begitu kapsul ditarik masuk dan palka kapal tertutup rapat, lampu kabin menyala.
Xavier menendang pintu kapsul hingga terbuka sepenuhnya. Ia melangkah keluar lebih dulu, lalu berbalik dan mengangkat Aletta dari dalam kapsul dengan mudahnya, memeluk erat tubuh istrinya yang gemetar kedinginan. Dua tenaga medis langsung bergegas membawa tandu untuk mengevakuasi Diego yang mulai kehilangan kesadaran akibat kehilangan banyak darah.
Seorang pria paruh baya dengan bekas luka goresan panjang di mata kirinya melangkah maju, lalu menunduk dalam-dalam. Ia adalah Kapten Orlov, komandan armada hantu Vassiliev.
"Selamat datang di Leviathan, Bos, Nyonya," ucap Orlov dengan nada hormat dan lega. "Radar kami mendeteksi pergerakan besar-besaran armada musuh di darat. Sesuai Protokol Merah yang Anda perintahkan sebelumnya, seluruh mansion dan aset utama klan di kota telah dievakuasi. Kami beroperasi dalam mode siluman sepenuhnya."
"Kerja bagus, Orlov," jawab Xavier dingin. "Bawa kapal ini ke perairan internasional sekarang juga. Jauhi rute perdagangan. Aku ingin kita menghilang dari muka bumi."
"Sesuai perintah Anda." Orlov kembali menunduk dan segera menuju ruang kemudi.
Xavier tidak membuang waktu. Ia membawa Aletta menyusuri lorong kapal menuju kabin utama di dek bawah. Begitu pintu kabin terkunci di belakang mereka, Xavier langsung menyalakan pemanas ruangan hingga suhu maksimal.
Tanpa banyak bicara, Xavier melepaskan mantel basah dan sisa pakaian Aletta yang menempel dingin di kulitnya. Gerakannya cepat namun penuh kelembutan. Ia mengambil handuk tebal dari lemari dan membungkus tubuh istrinya rapat-rapat, lalu menggosok lengan dan punggung Aletta untuk mengembalikan suhu tubuhnya.
Saat Xavier tengah mengeringkan rambut Aletta, gadis itu menghentikan tangannya. Aletta merogoh pakaian dalamnya yang basah, mengeluarkan hard drive hitam yang menjadi penyebab kekacauan malam ini.
Benda kecil itu diserahkan ke tangan Xavier.
"Buku Besar Il Morte," bisik Aletta, menatap mata suaminya lekat-lekat. "Ribuan triliun dolar, rahasia negara, identitas para penguasa bayangan, dan daftar orang-orang yang memerintahkan kematian ibumu... semuanya ada di dalam sini, Xavier."
Xavier menatap benda kecil berbentuk kotak itu. Napasnya tertahan. Selama lima tahun, ia memburu hantu. Ia membantai setiap pesaing, menghancurkan kartel, dan menguliti musuh-musuhnya hidup-hidup untuk mencari keadilan bagi ibunya. Dan malam ini, kunci dari dendam terbesarnya diserahkan secara harfiah oleh tangan istrinya sendiri.
Xavier meletakkan hard drive itu ke atas meja kaca. Pria itu kemudian jatuh berlutut di hadapan Aletta.
Aletta terkesiap. Sang Raja Mafia, pria yang membuat seluruh Eropa gemetar, pria yang baru saja menenggelamkan fasilitas rahasia tanpa berkedip, kini berlutut di hadapannya.
Xavier memeluk pinggang Aletta, membenamkan wajahnya di perut istrinya yang terbalut handuk. Bahu lebar pria itu bergetar samar. Untuk pertama kalinya sejak ibunya tiada, Xavier Vassiliev melepaskan beban emosional yang selama ini mencabik-cabik kewarasannya.
"Kau menyelamatkanku," bisik Xavier serak, suaranya teredam. "Ayahmu mungkin mengawali neraka ini... tapi kau, Aletta... kau yang mengakhirinya dan menyerahkan kuncinya padaku. Aku berhutang nyawa dan jiwaku padamu."
Hati Aletta mencelos. Mata gadis itu berkaca-kaca. Ia menunduk, membelai rambut gelap suaminya yang basah, lalu perlahan ikut merendahkan tubuhnya hingga ia berlutut di lantai kabin, berhadapan sejajar dengan Xavier.
Aletta menangkup wajah tegas itu, mengusap rahangnya dengan ibu jarinya.
"Kau tidak berhutang apa pun padaku, Suamiku," ucap Aletta lembut namun diwarnai ketegasan baja yang tak tergoyahkan. "Penderitaanmu adalah penderitaanku. Musuhmu adalah musuhku."
Aletta menoleh sekilas ke arah hard drive di atas meja, lalu kembali menatap mata kelabu badai suaminya.
"Mulai besok, kita akan mendekripsi data itu," lanjut Aletta, suaranya berubah menjadi desisan dingin sang Ratu Mafia. "Kita akan membocorkan rahasia mereka. Kita akan membuat para politikus korup itu saling membunuh, dan kita akan memburu sisa petinggi Il Morte satu per satu. Kita akan membalas dendam ibumu, Xavier."
Mata Xavier menggelap. Kesedihan di matanya menguap, digantikan oleh gairah mematikan dan kebanggaan luar biasa pada wanita yang ia nikahi. Pria itu mencondongkan tubuhnya, meraup bibir Aletta dalam ciuman yang sarat akan janji darah dan kehancuran bagi dunia yang berani mengusik mereka.
Di dalam lambung kapal siluman yang membelah samudra itu, sepasang penguasa dunia bawah tanah tengah menyusun rencana kiamat bagi musuh-musuh mereka.