Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Arka baru selesai mandi, rambutnya masih agak basah dengan handuk yang tersampir di lehernya, menguarkan aroma sabun yang segar.
Arka berjalan menghampiri istrinya ke meja makan sambil tersenyum hangat.
"Sudah selesai masaknya, Dek?" tanya Arka sembari melirik deretan lauk yang tampak menggugah selera.
Lilis mendongak, menyambut suaminya dengan senyuman manis yang tulus. "Sudah, Mas. Mau makan langsung?"
Arka mengangguk cepat, tangannya terulur untuk mengacak pelan rambut Lilis dengan gemas sebelum menarik kursi untuk duduk.
"Boleh," sahut Arka semangat.
"Mas sudah lapar banget dari tadi mencium aroma masakan kamu."
Arka mulai menyuapkan sendok pertama ke dalam mulutnya, mengunyah perlahan sambil meresapi bumbu masakan Lilis yang meresap sempurna. Lilis yang duduk di hadapannya memperhatikan ekspresi suaminya dengan tatapan penuh harap dan sedikit cemas.
"Enak nggak, Mas?" tanya Lilis memastikan.
Arka tersenyum lebar, lalu mengangguk mantap tanpa ragu. "Enak. Apa aja yang kamu masak semuanya enak. Kenapa nanya gitu?" Arka balik bertanya.
"Nggak ada sih. Cuma aku baru pertama kali buat lauk ini. Lihat resep di medsos, enak banget lihatnya, jadi aku langsung penasaran mau coba masak buat Mas," aku Lilis jujur, matanya berbinar senang karena eksperimen memasaknya kali ini berhasil.
Setelah membereskan semua piring kotor di dapur hingga bersih, Lilis melangkah menuju ruang tamu. Di sana, Arka sudah menunggu dengan posisi duduk.
"Lilis, sini duduk di samping Mas," panggil Arka sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya.
Lilis menghampiri dan duduk di tempat yang diminta. Ia menatap suaminya dengan pandangan penasaran. "Ada apa, Mas? Mas mau ngomong sesuatu ya?" tanya Lilis langsung pada intinya.
"Iya, sini duduknya deketan dikit," sahut Arka pelan.
Lilis pun menggeser duduknya hingga benar-benar menempel di sisi sang suami. Arka memantau Lilis sejenak, menatap lekat ke dalam mata istrinya sebelum akhirnya membuka suara.
"Mas boleh minta sesuatu?" tanya Arka.
"Minta apa, Mas? Kok aku jadi curiga gini," seloroh Lilis.
"Mas boleh minta kamu berhenti ngajar?" ucapnya pelan namun terdengar tegas.
Mendengar permintaan yang begitu mendadak itu, Lilis langsung terdiam. Senyum yang tadinya menghiasi wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh raut wajah yang membeku kaku..
Arka tidak membuang waktu, ia segera menggenggam tangan Lilis erat, berusaha menenangkan sekaligus meyakinkan istrinya.
"Mas tahu... Mas tahu banget kalau ini adalah cita-cita kamu dari dulu," ujar Arka.
"Mas tahu... Mas tahu banget kalau ini cita-cita kamu dari dulu," ujar Arka.
"Tapi, coba kamu lihat apa yang terjadi belakangan ini. Mas nggak sanggup kalau harus terus-terusan cemburu buta. Mas benar-benar nggak tenang kalau kamu diganggu pria lain di sekolah, dan Mas tersiksa kalau akhirnya kita harus berantem hanya karena masalah pekerjaan."
Ia menghela napas, lalu menyambung dengan suara yang lebih dalam dan tulus, "Mas cuma ingin kamu jadi ibu rumah tangga saja, fokus di rumah sama Mas. Mas sanggup kok mencukupi kebutuhan kita, dan Mas ingin kita punya waktu yang tenang tanpa harus memikirkan urusan sekolah atau orang-orang yang bikin kita salah paham lagi. Tolong, pertimbangkan ini ya, Sayang?"
"Kalo aku nggak ngajar, kerja aku ngapain dong, Mas?" tanya Lilis.
"Ya ngurus suami. Nanti kalau ada dedek bayi, ngurus dedek bayinya. Fokusnya cuma buat keluarga kita saja di rumah," jawab Arka tenang.
Lilis menunduk sejenak, menghela napas panjang sebelum kembali menatap Arka. "Aku pikirkan dulu ya, Mas. Lagi pula, aku nggak bisa gitu aja berhenti ngajar. Ada tanggung jawab sama murid-murid di sekolah," ujarnya.
Arka mengangguk pelan, jemarinya mengusap punggung tangan Lilis dengan lembut, namun tatapannya tetap menuntut sebuah kepastian. "Nggak apa-apa, Sayang. Tapi secepatnya ya, dibuat surat pengunduran dirinya."
"Iya, Mas," jawab Lilis pelan, meski dalam hatinya masih ada ganjalan yang besar.
Malam harinya, Arka sudah rapi mengenakan jaket kesayangannya dan menyemprotkan parfum hingga aromanya memenuhi ruangan. Arka mulai mencari keberadaan istrinya.
"Sayang?" panggilnya ke arah ruang tengah, namun tidak ada jawaban.
"Dek?" panggilnya lagi sembari melangkah ke dapur.
"Dek Lilis?"
"Di teras, Mas," sahut Lilis dari depan.
Arka langsung melangkah cepat menuju ke sana. Matanya menyipit melihat istrinya sedang berjongkok. "Ngapain malam-malam di sini? Udah dingin, nanti kamu sakit," tegur Arka dengan nada khawatir.
Lilis menoleh, lalu tersenyum tipis. "Lupa tadi belum sempat nyiram bunga di depan, Mas. Kasihan bunganya kering kalau tidak disiram," jawabnya santai.
Pandangan Lilis kemudian beralih pada penampilan suaminya yang sangat rapi. Ia mengendus aroma maskulin yang menguar kuat dari tubuh Arka.
"Mas mau ke mana? Harum banget," tanya Lilis.
Arka berhenti melangkah, menatap Lilis dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan penuh kekaguman. Ia mengulas senyum yang membuat hati Lilis berdesir.
"Udah, nggak apa-apa. Tetap cantik kok di mata Mas, kamu pakai apa saja juga cantik."
suka aja sama ceritanya.