Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.28
DEG.
Alisa langsung menahan nafas. Wajahnya yang sejak tadi sudah memerah kini benar-benar seperti kepiting rebus.
“M-Menggoda?” ulangnya lirih nyaris tak terdengar.
Tante Hani mengangguk santai, seolah yang baru saja ia katakan adalah hal paling biasa di dunia.
“Iya. Memangnya kenapa? Kalian sudah sah sebagai suami istri.”
“Maksud Hani bukan yang aneh-aneh,” sela Mama Hesti cepat saat melihat Alisa makin panik. “Cuma… lebih menunjukkan perhatian sebagai istri.”
“Tapi kalau bisa sekalian romantis, ya bagus juga.” Tante Hani terkekeh jahil.
“Hani…” tegur Mama Hesti malu.
Sementara Nenek Astari hanya tersenyum geli melihat kedua putrinya itu.
Alisa sendiri sudah tidak tahu harus menaruh wajahnya di mana. Jantungnya berdetak tidak karuan hanya karena membayangkan dirinya harus ‘memulai’ lebih dulu dengan Harlan.
“M-Mas Harlan orangnya sangat tenang…” gumamnya pelan. “Aku takut malah terlihat aneh.”
“Justru laki-laki seperti Harlan biasanya paling tidak tahan kalau istrinya mulai manja,” balas Tante Hani tanpa ragu.
“Tante!” pekik Alisa spontan, makin malu.
Mama Hesti sampai menepuk lengan adiknya pelan.
“Kamu ini jangan terlalu terang-terangan.”
“Lho, memang salah? Kasihan mereka. Sudah tiga bulan menikah, tapi masih seperti orang PDKT.”
Ucapan itu membuat Alisa makin salah tingkah.
Sebenarnya… bukan berarti ia tidak pernah memikirkan hal itu. Sebagai wanita normal dan sudah menjadi istri Harlan, tentu pernah terlintas keinginan untuk lebih dekat dengan suaminya.
Apalagi Harlan selalu bersikap begitu lembut.
Terlalu lembut, sampai membuat Alisa takut merusak kenyamanan yang sudah ada.
“Alisa,” panggil Nenek Astari lembut, menarik perhatian gadis itu kembali.
“Iya, Nek?”
“Apa… Kamu mencintai Harlan?”
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba membuat Alisa diam terpaku. Wajah Harlan seketika terlintas jelas di benaknya.
Cara pria itu memperhatikannya diam-diam. Cara Harlan selalu mendahulukan dirinya. Cara Harlan menunggu tanpa pernah menuntut apa pun.
Perlahan, wajah Alisa kembali memerah. Kali ini bukan karena malu… melainkan karena sadar akan sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan.
“Aku…” lirihnya pelan.
Mama Hesti dan Tante Hani ikut menatapnya penuh perhatian.
Alisa menunduk gugup, lalu meremas jemarinya sendiri sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Jujur… aku mulai menyayangi Mas Harlan.”
Jawaban itu membuat ketiga wanita di ruangan tersebut tersenyum hampir bersamaan.
“Kalau begitu, tidak ada yang perlu kamu takutkan,” ucap Nenek Astari pelan.
“Terkadang, hubungan suami istri memang bukan soal siapa yang lebih dulu memulai. Tapi tentang siapa yang berani membuka hati lebih dulu.” lanjut beliau lembut.
Alisa terdiam mendengar ucapan itu. Sementara Tante Hani kembali menyeringai jahil.
“Kenapa tidak kamu coba dengan memakai itu.” sambung Tante Hani, menunjuk ke arah tote bag yang ada di pangkuan Alisa.
Sontak, hal itu membuat Alisa menunduk. Menatap tote bag yang belum sempat ia buka dan belum tahu apa isi di dalamnya.
“Ini? Memangnya, ini apa, ya?” tanya Alisa spontan menatap bingung ke arah Tante Hani.
“Nanti juga kamu tahu. Ingat, pakai itu biar kamu tahu. Suamimu itu normal atau tidak.”
Ucapan itu membuat tubuh Alisa langsung membeku.
“Suamimu itu normal atau tidak.”
Kalimat Tante Hani sukses membuat otaknya berhenti bekerja beberapa detik. Hingga akhirnya, suara Tante Hani kembali terdengar, membangunkan Alisa dari lamunannya.
“Sudah, jangan cuma bengong. Dibuka dong dan lihat apa isinya.”
Alisa menelan ludah. Entah kenapa firasatnya mendadak aneh saat melihat tote bag itu lagi.
Meski ragu-ragu, Alisa pun akhirnya membuka tote bag itu secara perlahan. Mama Hesti tampak pura-pura sibuk dengan ponselnya, sementara Tante Hani malah maju sedikit penuh antusias.
Alisa mengernyit bingung saat tangannya menyentuh kain halus yang lembut di dalam sana. Karena penasaran dengan benda itu, Alisa pun akhirnya menarik keluar barang yang ada di dalam tote bag itu.
Alisa memperhatikan benda itu beberapa detik. Sebuah kain dengan satin, terdapat renda di beberapa bagian, ada talinya juga.
“Ini….” ucapnya, lalu beberapa detik kemudian ia terdiam saat tahu benda apa itu.
DEG.
Matanya membulat sempurna. Tak kuasa lagi menyembunyikan keterkejutannya.
Wajahnya langsung merah padam saat sadar benda yang sedang ia pegang itu adalah… sebuah lingerie yang sangat… terbuka.
“TANTE HANIII!!”
Pekikannya menggema satu ruangan. Mama Hesti spontan menutup wajah karena malu sendiri.
Sementara Tante Hani, ia malah tertawa puas melihat reaksi Alisa yang kaget bercampur malu.
“Hani…” Mama Hesti kembali menegur, walau kali ini beliau sendiri ikut menahan senyum.
Nenek Astari menggeleng pelan, melihat kelakuan putri bungsunya.
“Sudah, jangan terlalu menggoda Alisa.” ucap Nenek Astari pada akhirnya. Membuat Tante Hani berhenti tertawa.
“Ih, padahal aku serius.” Tante Hani menyandarkan tubuh santai. “
“Hani! Kamu ini keterlaluan! Sepertinya Kakak sudah salah mempercayai orang.” sambung Mama Hesti.
“Kenapa? Apanya yang salah? Bagus, kan? Itu adalah edisi terbatas. Makanya aku ambil yang itu,” jawab Tante Hani malah terlihat bangga dengan kado pilihannya.
“Tapi… Aku nggak mungkin pakai ini!”
Alisa buru-buru memasukkan kembali lingerie itu ke dalam tas seperti sedang menyembunyikan barang bukti kriminal.
Nenek Astari terkekeh pelan melihat cucunya hampir meledak karena malu.menatapnya hangat.
“Harlan itu sabar. Sangat sabar malah. Tapi bukan berarti dia tidak punya perasaan sebagai seorang pria, apalagi suami.”
Ucapan itu membuat Alisa terdiam. Ia tahu, Harlan selalu menjaga dirinya dengan sangat hati-hati. Tidak pernah memaksa. Bahkan terlalu berhati-hati sampai Alisa kadang bertanya-tanya…
Apa pria itu takut menyentuhnya?
“Jangan-jangan kamu sebenarnya juga penasaran?” ucap Tante Hani menyeringai jahil lagi.
“TANTE!” pekik Alisa untuk yang kedua kalinya.
Tawa langsung pecah memenuhi ruangan. Alisa benar-benar tidak kuat lagi menghadapi mereka bertiga.
***
Malam harinya.
Alisa berdiri di depan lemari kamar sambil menatap tote bag yang ia sejak tadi ia pegang.
Malam ini, keduanya memutuskan untuk menginap di rumah itu. Karena itulah, saat ini Alisa sudah berada di kamar yang biasa Harlan tempati saat pulang ke rumah utama.
Sementara Harlan, masih berada di ruang kerja Kakeknya. Dan sejak tadi pikirannya kacau gara-gara obrolan siang tadi.
“Pakai itu…”
“Buka hati lebih dulu…”
“Suamimu normal atau tidak…”
Kata demi kata itu, kembali terngiang-ngiang di benak Alisa. Membuatnya merasa sedikit frustasi.
“Aaargh…” Alisa menjambak pelan rambutnya sendiri.
Dengan ragu, Alisa pun mulai memberanikan diri membuka kembali tote bag tersebut.
Lingerie merah marun itu kembali terlihat. Cantik. Elegan. Membuat jantung yang melihatnya pasti akan dibuat berdebar tidak karuan.
Alisa menggigit bibir bawah gugup.
“Aku cuma melihat saja… tidak berniat memakainya.” gumamnya lirih.
Tapi… Lima menit kemudian.
Alisa kembali berdiri kaku di depan cermin dengan wajah merah menyala. Menatap tak percaya dirinya sendiri.
“K-Kenapa jadi dipakai…” gumamnya lagi.
Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari luar kamar. Lalu, terdengar suara Harlan, meminta izin untuk masuk kedalam kamar.
“Alisa?”
DEG.
Seketika, Alisa langsung panik setengah mati.
“I_iya?!”
“Aku masuk, ya?”
“TUNGGU!!”
Dan… Klik.
Terlambat sudah. Pintu kamar sudah terbuka. Menampilkan Harlan yang tengah membeku di ambang pintu.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah. Mereka saling menatap satu sama lain dengan sangat intens.
ayolah Harlan, Alisa saling ngobrol,saling pandang mata siapa tahu udah ada cinta