Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuang Para Eksklusif
Taman eksklusif di pinggiran Seoul itu tampak memukau dengan dekorasi lampu gantung kristal yang kontras dengan hijaunya rerumputan yang tertata rapi. Aroma bunga mawar dan melati yang segar memenuhi udara, menyambut kedatangan para elite bisnis Korea Selatan.
Keluarga Sinclair turun dari mobil mewah mereka, seketika menjadi pusat perhatian. William Sinclair melangkah dengan wibawa seorang pemimpin besar, sementara di sampingnya, Rosetta Sinclair tampil memukau dalam balutan gaun nude brokat yang memeluk tubuhnya dengan sangat anggun. Kecantikan Rosetta seolah tidak memudar oleh waktu, memancarkan aura nyonya rumah yang berkelas.
Di belakang mereka, mengikuti dengan langkah yang serasi, adalah Nathaniel Luca dan Alessia Seraphine Sinclair.
Nathaniel tampil sangat maskulin dengan tuxedo hitam. Bahunya yang lebar dan otot yang proporsional di balik setelan mahalnya membuat beberapa putri kolega bisnis mulai berbisik-bisik kagum. Sementara itu, Alessia tampil cantik namun tetap terlihat dewasa, sebuah perubahan gaya yang konsisten ia tunjukkan sejak memulai "misi"-nya.
"Ingat, Nathan, Al," bisik William pelan saat mereka melangkah menuju area utama. "Ini bukan sekadar makan malam. Kolega Ayah, Tuan Park, membawa putra tunggalnya yang baru pulang dari London. Kalian harus bersikap ramah."
"Tenanglah, Al," bisik Nathaniel sangat rendah, hampir tidak terdengar oleh orang lain. Tangannya yang bebas menepuk pelan tangan Alessia di lengannya, sebuah gestur pelindung yang kini memiliki makna jauh lebih dalam bagi mereka berdua.
"Kak, jangan biarkan mereka mengambilku," gumam Alessia lirih di balik senyum formalnya yang ia tunjukkan pada tamu-tamu lain.
Nathaniel tidak menjawab dengan kata-kata, namun tatapan matanya yang tajam seolah sedang memindai setiap sudut taman, mencari siapa "putra tunggal" yang berani mendekati miliknya malam ini. Di bawah gemerlap lampu taman yang indah, sebuah drama kecemburuan dan rahasia besar siap meledak di tengah-tengah perjodohan kelas atas ini.
Suasana di meja makan panjang bertaplak damas itu dipenuhi denting alat makan perak dan tawa basa-basi yang sangat akrab di telinga kalangan elite. Namun bagi Alessia, setiap gelak tawa itu terdengar seperti lonceng peringatan. Ia memilih untuk tetap menunduk, memotong wagyu steaknya dengan presisi, mencoba mengabaikan tatapan putra Tuan Park yang duduk tepat di seberangnya.
Pemuda itu, yang baru saja kembali dari London, duduk dengan posisi tubuh yang sangat angkuh. Ia sesekali menyesap red winenya sambil memandang sekeliling dengan tatapan merendahkan, seolah taman mewah ini masih kurang megah untuk seleranya.
"Ini putrimu, William?" tanya Tuan Park tiba-tiba, memecah obrolan bisnis tentang saham properti. Matanya yang tajam menatap Alessia dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang menilai kualitas sebuah aset.
"Iya, Alessia. Beri salam, Sayang," pinta William dengan nada bangga.
Alessia meletakkan garpunya, lalu mendongak dengan ekspresi wajah yang datar, jauh dari kesan ramah yang biasanya ia tunjukkan. "Halo Tuan Park, saya Alessia," ujarnya singkat. Ia tidak suka cara keluarga Park menatap orang lain seperti objek investasi.
Tuan Park terkekeh, lalu menoleh pada putranya sebelum kembali menatap William. "Bagaimana kalau kita jodohkan saja anakmu dengan anakku? Mereka tampak serasi, bukan?"
Uhukk!
Suara Nathaniel yang tersedak air mineralnya memecah keheningan sesaat di meja itu. Wajahnya yang semula tenang kini memerah, bukan hanya karena air yang masuk ke saluran napasnya, tapi karena emosi yang mendidih di balik dadanya.
"Nathan... pelan-pelan," ucap Rosetta lembut, segera menyodorkan selembar tisu kain pada putra angkatnya itu dengan raut khawatir.
William tertawa kecil melihat reaksi Nathaniel, tanpa menyadari badai yang sedang berkecamuk di dalam hati pria itu. "Perjodohan? Itu terserah pada anakku. Alessia adalah putriku satu-satunya, kebahagiaannya adalah yang terpenting bagiku. Aku tidak ingin memaksanya dalam ikatan yang tidak ia inginkan."
Tuan Park tampak sedikit kecewa dengan jawaban diplomatis William. Ia kemudian melirik Nathaniel yang baru saja selesai merapikan diri. "Hm... menurut Nathaniel gimana? Kamu kan yang paling tahu keseharian Alessia. Apa adikmu ini sudah punya tambatan hati?"
William menoleh pada Nathaniel, menyertakan pria itu dalam diskusi sensitif ini. "Bagaimana menurutmu, Nathan? Apa Tuan Muda Park ini cocok untuk adikmu?"
Nathaniel meletakkan tisunya, matanya yang tajam sempat beradu dengan mata Alessia selama satu detik yang sangat intens, sebuah tatapan yang sarat akan rasa posesif dan peringatan.
"Kembali lagi, Ayah," jawab Nathaniel dengan suara baritonnya yang kini terdengar sangat rendah dan dingin. "Kebahagiaan Alessia adalah fokus utama kita. Dan menurut pengamatan saya... Alessia membutuhkan seseorang yang benar-benar memahaminya, bukan sekadar status sosial atau perjodohan formal."
Alessia tersenyum tipis di balik gelas airnya. Ia tahu Nathaniel sedang melayangkan serangan halus pada keangkuhan putra Tuan Park.
———
Suasana di dalam mobil mewah keluarga Sinclair mendadak berubah menjadi tegang. Cahaya lampu jalanan Seoul yang berpendar masuk ke kabin, menerangi wajah Nathaniel yang tampak sangat serius. Jemarinya bergerak lincah di atas layar tabletnya, sementara matanya yang tajam tidak melepaskan setiap detail informasi yang masuk dari orang kepercayaannya.
Nathaniel tidak akan membiarkan siapa pun yang memiliki rekam jejak buruk mendekati Alessia, apalagi seorang pria angkuh yang baru saja kembali dari London itu.
"Ayah," panggil Nathaniel dengan suara rendah namun tegas. Ia menggeser tabletnya ke arah William yang duduk di kursi belakang bersamanya. "Sekretarisku baru saja menemukan ini. Informasi yang tidak akan muncul di permukaan profil bisnis keluarga Park."
Di layar tablet itu, terpampang beberapa tangkapan layar dari akun media sosial privat milik putra Tuan Park. Foto-fotonya jauh dari kesan pria terpelajar lulusan London; ia tampak dikelilingi banyak wanita di kelab malam berbeda, dengan gaya hidup yang sangat liar dan tidak bertanggung jawab.
"Dia sering bermain wanita, Ayah. Rekam jejaknya di London juga cukup bermasalah dengan beberapa skandal yang berhasil ditutupi keluarganya," lanjut Nathaniel. Rahangnya mengeras, kemarahannya yang tertahan membuat auranya terasa sangat dominan di dalam mobil.
William menerima tablet itu, mengenakan kacamata bacanya sejenak, lalu menghela napas panjang. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan yang besar, melainkan kekecewaan yang mendalam.
"Iya, Ayah juga pernah dengar selentingan itu di kalangan dewan komisaris," jawab William tenang, namun suaranya menyiratkan ketegasan. Ia melirik Alessia yang duduk di kursi depan, yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka dengan napas tertahan.
"Itulah sebabnya Ayah tadi mengatakan bahwa kebahagiaan Alessia adalah yang utama. Ayah tidak akan pernah menyerahkan putri Ayah pada pria seperti itu, sekaya apa pun keluarganya," tegas William sembari mengembalikan tablet itu pada Nathaniel.
Nathaniel menerima kembali tabletnya. Ada rasa lega yang luar biasa menyusup di dadanya, namun ia tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tetap profesional. Di cermin spion tengah, matanya sempat beradu dengan mata Alessia.
Alessia memberikan senyuman tipis yang sangat manis, sebuah tatapan penuh terima kasih karena Nathaniel telah menjadi "benteng" pelindungnya malam ini. Nathaniel membalasnya dengan anggukan kecil, seolah berjanji bahwa selama ia masih bernapas, tidak akan ada pria brengsek yang bisa menyentuh Alessia.