NovelToon NovelToon
Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.

Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.

Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.

Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.

Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.

Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."

Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.

Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.

Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.

Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:

"Aku mau pergi utuh."

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: TANPA KELAS

Pagi itu, kakek berdiri di ambang pintu dengan cangkul di tangan. Tubuhnya masih kurus, tulang-tulang bahu menonjol di balik kemeja yang longgar, tapi matanya sudah tidak sesayu minggu lalu. Mahesa melihat dari balik jendela, jantungnya berdegup seperti burung yang menemukan celah di sangkar.

Kakek bisa kerja lagi. Setelah berminggu-minggu terbaring karena kelelahan dan demam, setelah batuk yang tidak kunjung reda, setelah malam-malam yang diisi dengan suara napas berat dan erangan pelan—kakek bangun pagi ini dengan cangkul di tangan.

Mahesa ingin berlari. Ingin memeluk kakek. Tapi kakinya—kaki kanan yang bengkak dan besar—hanya bisa membiarkannya berjalan pincang ke ambang pintu.

"Kakek hati-hati," katanya. Suara serak. Selalu serak.

Kakek menoleh. Tersenyum. Senyum yang tipis, yang membuat keriput di wajahnya semakin dalam. "Kakek cari ubi. Nanti kita makan sayur."

Lalu pergi. Langkahnya pelan, tidak seperti dulu. Tapi pergi. Keluar dari rumah. Menuju dunia yang sama yang sudah lama tidak Mahesa masuki.

Mahesa duduk di beranda. Menunggu.

---

Sore. Kakek pulang. Cangkulnya hanya menggendong setengah keranjang ubi—kecil-kecil, tidak seberapa. Tapi kakek tersenyum. "Tanah masih lembek," katanya, meletakkan keranjang di lantai dengan suara pelan. "Minggu depan lebih baik."

Mahesa mengangguk. Tapi matanya tidak melihat ubi. Matanya melihat bahu kakek yang bergetar. Tangan yang gemetar saat meletakkan keranjang. Napas yang tersengal-sengal.

Dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak diucapkan tapi terbaca jelas di kerut dahi kakek.

Uang. Uang untuk sekolah.

Mahesa sudah kelas lima. Seharusnya, dua minggu lalu, dia sudah duduk di bangku paling belakang. Mencoba fokus pada tulisan guru di papan hitam sambil berusaha mengabaikan bisik-bisik tentang kakinya. Tapi dua minggu lalu kakek terbaring demam. Dan uang untuk beli seragam? Tidak ada.

"Celana?" tanya Mahesa pelan. Padahal dia sudah tahu jawabannya.

Kakek diam. Menatap ubi di keranjang seolah ubi itu bisa berbicara. Bisa meminta maaf. Bisa menjanjikan sesuatu.

Mahesa tahu. Tiga bulan di rumah—karena kaki, karena kakek sakit, karena tidak ada ongkos—membuat tubuhnya tumbuh tanpa disadari. Celana seragam yang dulu longgar, sekarang tidak muat. Bukan hanya celana. Sandal sekolahnya hilang entah ke mana. Mungkin terbawa banjir kecil bulan lalu. Mungkin dicuri. Di kampung ini, sandal yang utuh adalah barang mewah.

Dan kakinya. Kaki kanan yang terbungkus kain kasar, membentuk gunung aneh yang tidak simetris dengan kaki kiri. Kaki gajah. Penyakit yang membuatnya menjadi monster di mata teman-teman. Tapi yang lebih buruk dari menjadi monster adalah—kaki itu sakit. Bukan sakit yang datang dan pergi. Tapi sakit yang menetap, seperti penghuni yang menolak bayar sewa.

Dua kilometer ke sekolah. Jalan tanah berbatu, naik turun, melewati sungai kecil yang harus diwati dengan batu-batu licin. Mahesa pernah mencoba, dua bulan lalu, berjalan tanpa sandal. Pulang dengan telapak kaki lecet dan berdarah, dan kaki kanannya membengkak seperti balon sampai kakek harus mengompres dengan air hangat dan doa panjang.

"Tidak apa," kata Mahesa. Suaranya terlalu cepat, terlalu riang. "Sudah biasa tidak sekolah."

Kakek menatapnya. Mata tua yang mengerti kebohongan.

Malam itu, Mahesa berbaring di tikar dengan kaki kanan di atas bantal dari kain bekas. Atap bocor di sudut barat, tapi hujan belum turun. Hanya angin yang menerobos celah-celah dinding, membawa suara jangkrik dan sesekali tawa dari rumah-rumah jauh.

Ia memejamkan mata. Dan bermimpi.

---

Dia ada di kelas. Bukan kelasnya yang bocor dengan papan tulis retak, tapi kelas yang terang, dengan lantai keramik yang dingin di telapak kaki. Dia duduk di bangku, dan di sebelahnya—Siti. Rambut Siti dikuncir dua, pita merah menggantung di ujungnya. Siti tersenyum, bukan senyum mengejek yang Mahesa kenal di dunia nyata, tapi senyum hangat, yang mengatakan kamu temanku.

"Mahesa, baca ini," kata Siti, menyodorkan buku cerita dengan gambar kuda poni di sampulnya.

Mahesa membaca. Kata-kata mengalir lancar dari mulutnya, tidak terbata-bata. Kuda poni itu berlari melintasi padang. Angin meniup rambutnya yang panjang dan indah...

Teman-teman lain di sekelilingnya bertepuk tangan. Bukan tepukan mengejek. Tepukan sungguhan. "Pintar," kata seorang guru yang wajahnya kabur. "Mahesa paling pintar."

Dia bisa tulis. Bisa baca. Bisa menjadi sesuatu. Bukan monster. Bukan anak cacat yang duduk di pojokan. Bukan beban.

Dia bisa menjadi...

---

Bangun.

Hanya kakek yang mendengkur pelan di seberang ruangan, tubuhnya melengkung seperti tanda tanya. Hanya kaki gajah yang berdenyut-denyut, mengingatkan pada kenyataan. Hanya rumah reyot yang sepertinya semakin miring ke kiri setiap bulan, dindingnya retak-retak seperti kulit kering. Hanya masa depan yang tidak ada. Yang tidak pernah ada.

Mahesa menatap langit-langit. Ada jaring laba-laba di sudut, menggantung rapuh. Dia membayangkan dirinya seperti laba-laba itu—menenun jaring dari benang tipis, berharap menangkap sesuatu, tapi tahu bahwa satu hembusan angin bisa menghancurkan segalanya.

---

Pagi berikutnya, kakek duduk di sampingnya dengan Al-Quran tua di pangkuan. Buku itu milik nenek, dibawa dari kampungnya puluhan tahun lalu. Sampulnya usang, halaman-halamannya kekuningan, tapi tulisan di dalamnya masih jelas. Masih hidup.

"Nenekmu bisa baca," kata kakek, membuka halaman pertama dengan jari-jari yang berbintik-bintik hitam. "Dia yang ajar kakek. Sekarang kakek ajar Mahesa."

Mereka mulai dari huruf hijaiyah. Alif. Ba. Ta. Kakek mengucapkannya dengan suara serak yang penuh usia, dan Mahesa mengulang. Lagi. Lagi. Sampai suara mereka bertemu di tengah ruangan, menjadi sesuatu yang hampir seperti nyanyian.

"Lagi," kata kakek ketika Mahesa salah.

"Lagi," kata Mahesa ketika kakek lupa urutan.

Kaki Mahesa terangkat di atas bantal—posisi paling nyaman yang bisa ditemukan. Buku diletakkan di lantai, karena meja sudah tidak ada (dijual dua tahun lalu untuk biaya pengobatan pertama). Cahaya masuk dari jendela kecil, cukup untuk melihat huruf-huruf yang tercetak, cukup untuk membuat bayangan kakek memanjang di dinding seperti penjaga kuno.

Mereka belajar dari hafalan kakek. Dari apa yang kakek ingat dari nenek, dari pengajian-pengajian di masjid sebelum kaki Mahesa terlalu sakit untuk berjalan jauh. Kadang kakek salah. Kadang Mahesa mengoreksi, dan kakek tertawa, suara batuk-batuk yang penuh kehangatan.

"Hijaiyah sudah," kata kakek setelah dua minggu. "Sekarang huruf Latin. Huruf sekolah."

Kakek menggambar di lantai dengan jari. A. B. C. Garis-garis tak sempurna di debu, tapi Mahesa melihatnya seperti harta karun. Dia menyusun huruf-huruf itu di kepala, membentuk kata, membentuk suara, membentuk dunia.

Baca. Lambat. Tapi bisa.

---

Suatu sore, Mahesa berhasil membaca kalimat pertama dari buku cerita bekas yang kakek pinjam dari tetangga.

"An... ana... anak... ke... kecil..." Dia berhenti, napasnya pendek, jantungnya berdegup. "Anak kecil berjalan ke sekolah."

Kakek menatapnya. Mata kakek berkaca-kaca, tapi tidak menangis. Hanya mengangguk, berulang kali, seolah mengangguk bisa mengeluarkan kata-kata yang tersangkut di tenggorokan.

"Pintar," kata kakek akhirnya. Suara itu pecah di tengah jalan, tapi tetap sampai ke telinga Mahesa. "Mahesa pintar."

Pintar. Kata itu menghantam dada Mahesa seperti batu yang dilempar dengan lembut. Tidak sakit, tapi membuatnya terengah. Pintar. Dia pernah mendengar guru mengatakannya di kelas, tapi selalu untuk anak lain. Selalu untuk Siti, atau untuk Dika, atau untuk siapa pun yang bukan dirinya. Pintar adalah kata yang tidak pernah ditujukan padanya—anak cacat yang duduk di pojokan, yang sering absen, yang tidak bisa berlari saat jam istirahat.

Tapi sekarang kakek mengatakannya. Dengan suara bergetar. Dengan mata yang melihat sesuatu di dalam Mahesa yang bahkan Mahesa sendiri tidak yakin ada.

Hangat. Kata itu hangat, seperti sinar matahari pagi yang menembus jendela kecil mereka. Tapi di balik kehangatan itu, ada sesuatu yang menusuk. Menyakitkan.

Karena Mahesa tahu. Tahu bahwa pintar tidak cukup. Tidak akan mengubah kakinya. Tidak akan mengembalikan sekolah yang sudah menjadi milik orang lain—milik anak-anak yang bisa berjalan dua kilometer tanpa merintih, yang punya celana muat dan sandal utuh. Tidak akan membuatnya normal.

Pintar adalah penghiburan. Penghiburan yang pahit, seperti obat yang harus ditelan meski tahu tidak bisa menyembuhkan.

---

Malam itu, setelah kakek tidur, Mahesa berlatih menulis di lantai dengan kapur bekas yang kakek temukan di pasar. Dia menulis namanya. M-A-H-E-S-A. Huruf-huruf itu miring, tidak rapi, tapi dia mengenalinya. Dia menulis kata pintar. P-I-N-T-A-R. Lalu mencoretnya. Lalu menulis lagi. Lalu mencoret lagi.

Sampai lantai penuh dengan namanya dan kata yang tidak bisa dia miliki sepenuhnya.

Di pojok ruangan, laba-laba itu masih ada, menenun jaringnya yang rapuh. Mahesa menatapnya, dan untuk pertama kalinya, dia tidak iri. Karena setidaknya, laba-laba itu punya benang. Punya sesuatu untuk ditenun.

Dia punya huruf. Punya suara kakek yang serak. Punya mimpi-mimpi di malam hari yang selalu berakhir dengan bangun.

Mungkin itu cukup. Untuk sekarang.

Kakek bangun di tengah malam. Melihat Mahesa masih duduk. Melihat lantai penuh kapur.

"Belum tidur?" tanya kakek.

Mahesa menggeleng. "Belajar, Kek."

Kakek berjalan mendekat. Pelan. Susah payah. Duduk di samping Mahesa.

"Kakek bangga," katanya. "Kamu tidak butuh sekolah. Kamu punya kelas sendiri. Di sini."

Mahesa menatap kakek. Mata tua itu berbinar di cahaya bulan.

"Tapi Kek, aku mau sekolah," bisik Mahesa. "Seperti anak lain. Seperti Siti. Aku mau... normal."

Kakek diam. Lalu mengulurkan tangan. Menyentuh pipi Mahesa.

"Normal itu apa?" tanyanya. "Kamu punya otak. Kamu punya hati. Kamu punya kakek. Itu lebih dari cukup."

Mahesa menangis. Diam-diam. Di malam sunyi. Di samping kakek.

Karena kakek benar. Mungkin dia tidak punya kelas. Tapi dia punya rumah. Punya kakek. Punya huruf-huruf yang bisa dia rangkai menjadi kata.

Besok, dia akan belajar lagi. Membaca lagi. Menulis lagi. Di rumah. Di kelas tanpa dinding. Di sekolah tanpa guru.

Tapi dengan kakek. Dengan buku nenek. Dengan kapur bekas.

Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk mimpi yang berulang. Untuk pintar yang mungkin tidak berguna.

Itu cukup.

Karena dia tidak butuh kelas untuk belajar. Dia punya rumah. Punya kakek. Punya dirinya sendiri.

Malam ini, itu cukup.

---

1
sandra
novel yg luar biasa kk😍 sangat menyentuh cerita nya
di tunggu up nya kk.. semangat
Ayaelsa: terima kasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!