Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Suasana mendadak sunyi.
Kai menunduk sejenak.
Lalu—
" Ha... haha... hahaha... "
Ia tertawa kecil.
" Hah... sepertinya... aku harus menggunakan sedikit. "
Ia mengayunkan pedangnya ke samping.
Wuusshh...
Aura merah mulai muncul.
Awalnya tipis.
Lalu perlahan menyelimuti tubuhnya seperti api yang berdenyut.
Udara di sekitarnya berubah.
Tekanan... meningkat.
" Kalau aku menyerah... aku benar-benar akan terlihat payah. "
Amane yang melihat itu langsung membeku.
Matanya membesar.
Tubuhnya merinding.
" A-apa... apaan itu... "
Kai mulai berjalan pelan.
Langkahnya tenang.
Namun setiap langkah terasa berat—seolah menekan tanah.
Lalu—
Hilang.
Dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari pandangan.
" ?! "
Amane refleks mengangkat pedangnya.
Tapi—
Tebas!
Kai sudah berada di depannya.
Serangannya turun lurus dengan kecepatan luar biasa.
Amane menahan.
Namun—
KRRAAK!
Pedang kayunya... hancur.
Terbelah menjadi potongan kecil.
Yang tersisa hanya gagangnya di tangan Amane.
Waktu seperti berhenti.
Mata Amane membesar.
Keringat dingin mengalir dari pelipisnya.
Sementara di hadapannya—
Kai berdiri.
Pedangnya berhenti hanya beberapa inci dari tubuh Amane.
Aura merahnya yang masih berdenyut perlahan menghilang.
Yang lain yang melihat Kai berhasil mematahkan pedang kayu Amane langsung bersorak.
" Woah, dia berhasil mendaratkan serangan ke Amane! "
" Hebat, hebat! "
Suara kagum langsung terdengar dari beberapa orang di sekitar arena. Mereka yang sejak tadi hanya menonton dengan rasa penasaran dan sempat mengejek kini benar-benar menunjukkan keterkejutan mereka.
Bagi mereka, bisa menembus pertahanan Amane saja sudah luar biasa, apalagi sampai mematahkan pedang kayunya dalam satu serangan.
Terkecuali Cecil.
Sejak awal, memang hanya dia yang masih memandang Kai dengan kesal. Wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan.
" Grr, dasar mesum... lancang sekali. "
Amane sendiri masih berdiri diam di tempatnya. Tatapannya tertuju lurus pada Kai, sementara sisa gagang pedang kayu masih berada di tangannya. Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya ia membuka mulut.
" Anda bisa menggunakan Rein Force ya. "
Kai yang ditanya seperti itu langsung memasang ekspresi seolah-olah ia sendiri baru menyadari hal tersebut. Ia sedikit memiringkan kepala, lalu menatap Amane dengan wajah bingung.
" Eh? Itu tadi Rein Force ya? "
Begitu mendengar jawaban itu, nada suara Amane langsung meninggi.
" Apa? "
" Anda menguatkannya tanpa sadar? "
" Bagaimana caranya? "
Kai menatap pedang kayu yang masih berada di tangannya. Wajahnya terlihat seolah sedang benar-benar berpikir, seakan ia juga berusaha mencari jawaban atas pertanyaan itu.
" Walaupun ditanya bagaimana caranya... "
" Aku hanya bergerak tanpa berpikir, atau bagaimana ya... "
Di balik ekspresi santainya, Kai justru berpikir lain.
Gawat... untung saja aku bisa menahan diri. Kalau sampai kelewatan, bisa-bisa...
Namun pikiran itu tidak ia lanjutkan.
Kai lalu menaruh pedang kayunya di belakang leher, bersandar santai sambil tersenyum tipis.
" Aku rasa itu karena Marina menyemangatiku dengan bilang semangat. "
Ucapan itu membuat suasana yang tadi tegang mendadak berubah aneh sesaat.
Lalu, tiba-tiba terdengar suara datar dari belakang Kai.
" Dengan kata lain itu semua berkatku, kan? "
" Sebagai ucapan terima kasih, cukup traktir pom pom aja. "
Suara yang muncul begitu mendadak itu membuat Kai langsung berteriak kaget.
" Hah?! "
Ia menoleh cepat ke belakang.
" Maksudmu pom pom itu monster sweet of gold and silver, kan? "
Nada suaranya penuh keterkejutan, seolah tidak menyangka Marina akan muncul dan menagih sesuatu dengan ekspresi sedatar itu.
Sementara itu, Amane yang mendengar penjelasan Kai soal bagaimana ia bisa menggunakan Rein Force justru semakin tidak mengerti. Keningnya berkerut, dan matanya menunjukkan kebingungan yang semakin dalam.
" A-apa apaan itu... "
" Logika macam apa itu... "
Beberapa saat kemudian, Amane tersenyum.
Namun kali ini, senyumnya sangat lembut.
" Jadi orang yang paling lengah di sini... "
" ternyata adalah saya sendiri. "
Nada suaranya pelan, seakan ia sedang mengakui sesuatu pada dirinya sendiri.
Dan tepat pada saat itu, tanpa ia sadari, baju bagian depannya perlahan terbelah menjadi dua.
Robekannya lurus dari bagian depan, membuat bagian tubuh depannya hampir terlihat.
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin