Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN IRFAN.
Gema teriakan Irfan di luar rumah besar keluarga Bramasta membuat suasana di dalam ruang tamu semakin mencekam. Arumi tampak memeluk Kenjo, putranya yang baru berusia empat tahun, dengan sangat erat. Kenjo yang belum mengerti apa-apa hanya bisa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ibunya, ketakutan mendengar suara ayahnya yang meledak-ledak.
"Arumi! Keluar kau! Bawa Kenjo ke sini!" teriak Irfan sambil menggedor pintu jati itu dengan brutal.
Adam berdiri dengan rahang yang mengeras. Ia melirik kakaknya yang mulai pucat pasi. "Mbak, bawa Kenjo ke kamar atas. Biar aku yang hadapi pria itu."
"Jangan, Adam... Mas Irfan sedang kalap. Aku takut dia berbuat nekat," bisik Arumi dengan suara gemetar.
"Percaya padaku, Mbak. Dia tidak akan berani menyentuh seujung kuku pun dari kalian selama aku masih bernapas," tegas Adam. Ia memberikan kode pada Aurel untuk mendampingi Arumi ke atas.
Aurel merangkul bahu kakak iparnya. "Ayo, Mbak. Kita ke atas dulu demi Kenjo."
Begitu pintu depan dibuka oleh Adam, Irfan hampir saja tersungkur ke dalam. Wajahnya yang dulu selalu terlihat rapi kini berantakan, nafasnya bau alkohol, dan matanya merah penuh kebencian.
"Di mana anakku? Di mana Kenjo?!" bentak Irfan langsung menuding wajah Adam.
Adam bersedekap, menghalangi jalan masuk dengan tubuh tegapnya. "Kenjo sedang istirahat. Dan dia tidak butuh melihat ayahnya dalam keadaan memuakkan seperti ini, Mas."
"Jangan sok mengaturku, Bocah!" Irfan tertawa sinis, langkahnya limbung namun suaranya tajam. "Dengar baik-baik. Kalau Arumi tetap keras kepala ingin bercerai, aku akan pastikan hak asuh Kenjo jatuh ke tanganku. Aku punya pengacara hebat, dan aku akan membuktikan di pengadilan bahwa Arumi tidak stabil secara mental karena tekanan kehamilannya!"
Adam tidak bergeming. Ia menatap Irfan dengan tatapan menghina yang paling dalam. "Kau ingin mengambil Kenjo? Setelah apa yang kau lakukan di Maldives? Kau pikir hakim akan memberikan anak itu pada pria yang menelantarkan istrinya yang sedang hamil demi wanita simpanan?"
"Jangan bawa-bawa urusan Maldives!" teriak Irfan kalap. "Itu urusan pribadiku! Tapi Kenjo adalah darah dagingku. Aku punya uang, aku punya fasilitas. Dan kau tahu apa yang paling ditakuti Arumi? Dia tidak akan bisa hidup tanpa Kenjo. Jika dia ingin tetap bersama anaknya, suruh dia cabut gugatan cerai itu sekarang juga!"
Irfan menyeringai licik, ia merasa telah memegang kartu as yang paling mematikan untuk melumpuhkan pertahanan Arumi. Baginya, Kenjo hanyalah alat tawar-menawar agar ia tetap bisa mendapatkan kemewahan hidup bersama keluarga Bramasta.
"Kau benar-benar rendah, Mas," ucap Adam dengan suara rendah yang menggetarkan udara. "Kau menjadikan anakmu sendiri sebagai sandera untuk menutupi kebusukanmu."
"Sebut saja apa yang kau mau, Adam. Tapi itulah kenyataannya. Arumi akan hancur tanpa anak itu. Pilihannya hanya satu: tetap jadi istriku, atau kehilangan Kenjo selamanya!"
Adam melangkah maju, memperkecil jarak hingga ia bisa mencium bau alkohol dari napas Irfan. Ia tidak lagi menatap Irfan dengan kemarahan, melainkan dengan ketenangan yang mematikan.
"Kau bicara soal pengacara hebat, Mas? Kau lupa siapa yang kau hadapi?" Adam merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah dokumen kecil yang baru saja dikirimkan Rian melalui pesan singkat. "Aku sudah menyiapkan bukti semua transaksi hotel dan tiket pesawatmu atas nama wanita itu. Dan bukan itu saja..."
Adam menatap mata Irfan dalam-dalam. "Aku punya rekaman suara saat kau mengancam Arumi tadi. Di depan hukum, pria yang mengancam akan memisahkan ibu dari anaknya sebagai alat pemerasan, tidak akan pernah mendapatkan simpati dari hakim manapun."
Wajah Irfan mulai berubah pucat, namun ia masih mencoba bertahan. "Rekaman itu tidak sah!"
"Mungkin tidak sah sebagai bukti utama, tapi akan sangat sah untuk menghancurkan reputasimu di kantor pusat. Dan satu lagi, Mas..." Adam tersenyum tipis. "Aku sudah membekukan semua aset perusahaan yang mengalir ke rekening pribadimu atas izin dewan komisaris pagi ini. Kau tidak punya uang untuk membayar pengacara hebat, bahkan untuk membayar uang sewa apartemen simpananmu pun kau tidak akan mampu."
Irfan terkesiap, ia terhuyung mundur. "Kau... kau tidak berhak melakukannya!"
"Aku berhak karena kau telah melanggar kode etik perusahaan dan mencoreng nama baik keluarga besar," tegas Adam. "Sekarang, pergi dari sini. Jika kau berani menyebut nama Kenjo lagi untuk mengancam Mbak Arumi, aku pastikan kau akan mendekam di penjara bukan karena kasus perselingkuhan, tapi karena kasus pencemaran nama baik dan pemerasan."
Di lantai atas, Arumi terduduk lemas di balik pintu kamar. Ia mendengar semua percakapan itu. Air matanya luruh saat menyadari betapa kejamnya pria yang selama ini ia anggap sebagai imamnya. Aurel memeluknya erat, mencoba memberikan kekuatan yang ia miliki.
"Dia mau mengambil Kenjo, Adel... dia tahu Kenjo adalah nyawaku," isak Arumi sesenggukan.
"Tenang, Mbak. Ada Adam. Ada kita semua. Pria seperti dia tidak akan pernah menang melawan kebenaran," bisik Aurel menenangkan.
Di luar, Irfan akhirnya mundur dengan sumpah serapah yang tidak jelas. Ia memacu mobilnya pergi dengan kasar, meninggalkan debu yang mengepul di halaman rumah. Adam menutup pintu dengan bantingan pelan namun mantap, lalu bersandar di sana sambil mengatur napasnya.
Aurel turun dari tangga dan menghampiri suaminya. Ia melihat tangan Adam yang terkepal hingga memutih. "Kau hebat, Adam. Kau benar-benar menjaganya."
Adam menatap Aurel dengan mata yang lelah. "Dia menyentuh titik terlemah Mbak Arumi, Adel. Dia tahu kakaku bisa memberikan segalanya asal Kenjo tetap bersamanya. Pria itu benar-benar sudah kehilangan hati nuraninya."
Aurel menggenggam tangan Adam, mencoba melemaskan kepalan tangan itu. "Lalu, apa rencana kita selanjutnya? Dia tidak akan diam saja setelah kau permalukan seperti itu."
"Aku akan mempercepat proses cerai Mbak Arumi. Dan aku akan menyewa pengawal untuk menjaga Kenjo dua puluh empat jam," jawab Adam. "Aku tidak akan membiarkan bayang-bayang Irfan merusak masa depan Kenjo."
Namun, di tengah ketegangan itu, ponsel Adam bergetar. Sebuah pesan masuk dari Ansel di Jakarta.
“Bos, gawat! Ada beberapa orang asing mencari keberadaan Irfan di kantor Jakarta. Mereka bilang Irfan punya hutang besar pada pihak ketiga yang berhubungan dengan kelompok Subandi.”
Adam memejamkan mata. Masalah ini ternyata lebih dalam dari sekadar perselingkuhan. Irfan bukan hanya pengkhianat cinta, tapi dia juga telah menjerumuskan dirinya ke dalam lubang hitam yang bisa menyeret seluruh keluarga Bramasta ke dalamnya.