Song Jiao, di kehidupan pertamanya dia adalah Jenderal Wanita terkuat yang berhasil menguasai Dunia, tapi hidupnya berakhir begitu cepat karena sebuah penyakit bawaan yang belum ada obatnya.
Tetapi jiwa berdarah-darah Song Jiao tidak diterima di Surga maupun Neraka, hingga pada akhirnya dia harus menjalani kehidupan kedua sebagai Song Jiao yang lain, yaitu putri Raja yang kehilangan statusnya setelah gagal mengkudeta Kekuasaan Kaisar yang tidak lain adalah Kakaknya sendiri.
Terbangun di tubuh gadis muda kurus yang lemah di akhir musim dingin, ingatan asing diterima Song Jiao begitu membuka mata, dan dari dalam ingatan itu dia tau hidupnya tinggal sebatang kara, dimana orangtuanya meninggal sebelum datangnya musim dingin, lalu para pelayan yang tersisa pergi setelah mengambil seluruh harta milik keluarga Song Jiao.
Tanpa harta, tanpa kekuatan, juga tanpa orang yang bisa diandalkan. Sanggupkah Song Jiao menjalani kehidupan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuhnya Kota Xuanshan
Qin Tianyu tersenyum cerah begitu mendapatkan informasi akurat dari Song Jiao tentang jumlah kekuatan musuh di Kota Xuanshan.
Dengan tambahan Kavaleri Xue Long yang dibawa serta Xue Wudi, kekuatan musuh di Kota Xuanshan memang kuat, tetapi Qin Tianyu tidak gentar menghadapi mereka.
"Segera bersiap! Sebenarnya lagi kita akan memulai serangan ke Kota Xuanshan!"
Mendengar perintah Qin Tianyu, muncul senyuman di wajah semua orang, sebuah senyuman yang menunjukkan semangat juang pasukan Kavaleri Harimau Besi.
"Adik, kali ini sebaiknya kamu bergabung dengan pasukan besar!"
Qin Zixuan tidak ingin Song Jiao membahayakan diri dengan maju lebih dulu membuka serangan.
"Baik, aku dan pasukan Kavaleri wanita akan bergerak begitu meriam berhasil menghancurkan benteng Kota Xuanshan!"
Qin Zixuan mengangguk. "Kita bersama-sama akan maju menyerang Kota Xuanshan, dan sebelum terbitnya matahari pagi kita pasti bisa mengalahkan seluruh musuh di tempat itu!"
Jika dulu Qin Zixuan tidak akan sepercaya diri seperti sekarang ini, tapi dengan adanya bantuan besar yang diberikan adiknya, dia percaya diri waktu semalam cukup untuk merebut Kota Xuanshan dari cengkraman Kekaisaran Xue Long.
Di sisi lain, sang pangeran Xue Wudi cepat meningkatkan kekuatan pertahanan Kota Xuanshan, meski waktu saat ini sudah malam hari, dan sangat jarang atau tidak pernah terjadi yang namanya serangan musuh di malam hari.
Tidak pernah terjadi bukannya akan terus seperti itu sampai kapanpun.
Pangeran Xue Wudi memiliki keyakinan kalau musuhnya saat ini akan menjadi pihak pertama yang melakukan serangan di malam hari, sebuah serangan yang bisa mendatangkan keuntungan besar atau justru sebaliknya.
Jika serangan benar-benar dilakukan di malam hari, tentunya musuh sudah siap melakukan serangan di tengah minimnya cahaya, berbanding terbalik dengan pasukannya yang hanya memiliki sedikit persiapan, dan yang jelas tidak ada yang memiliki pengalaman berperang di malam hari.
"Ada pergerakan. Mereka mendekat, tapi entah kenapa aku merasa mereka menghentikan langkah, meski saat ini jarak mereka dengan dinding Kota Xuanshan masih sangat jauh!"
Xue Wudi memiliki pendengaran yang sangat tajam, tapi dia saat ini tengah dibuat bingung oleh pendengarnya sendiri.
Sebelum mendapatkan penjelasan dari kebingungannya, suara ledakan terdengar dari kejauhan, dan saat itu juga terlihat bola api menyala terang terbang dengan kecepatan tinggi menuju dinding bentang Kota Xuanshan.
Bukan satu bola api yang menyala terang, tapi ada lebih dari dua benda serupa, dan saat benda itu menghantam dinding benteng Kota Xuanshan, dentuman terdengar bersamaan dengan runtuhnya dinding yang dihantam bola api, membuat dinding benteng di bagian lain bergetar, termasuk bagian dimana lokasi Xue Wudi berada.
"Yang barusan itu, apa mungkin itu yang disebut-sebut sebagai senjata penghancur benteng milik Kavaleri Harimau Besi?"
Sambil bicara, Xue Wudi merawa bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri seiring dengan datangnya rasa takut.
Tetapi sebisa mungkin dia mencoba tetap tenang, tapi ketenangannya itu runtuh setelah sebuah bola api menghantam bagian dinding benteng yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berada.
"Se-semuanya turun tingalkan bagian atas benteng!"
Segera perintah meninggalkan benteng Kota Xuanshan keluar dari mulut Xue Wudi, dan saat itu juga seluruh prajurit yang ada di atas benteng lari terbirit-birit meninggalkan pos jaga masing-masing.
"Bersiap menghadapi serangan langsung!"
Menghindari meriam, Xue Wudi merasa tempatnya berada saat ini telah aman, dan jika itu pertarungan langsung, dia masih memiliki keyakinan bisa mengalahkan musuh.
Tetapi begitu Kavaleri Harimau Besi pemegang busur silang otomatis maju melakukan serangan, Xue Wudi kembali dikejutkan dengan senjata baru milik musuh.
Meski sama-sama memiliki busur silang sebagai senjata, tapi busur silang prajurit Xue Long jauh tertinggal dibandingkan busur silang otomatis milik musuh mereka, membuat senjata itu terlihat seperti lelucon di medan perang.
Sadar senjata musuh jauh lebih baik dibandingkan senjata prajurit Xue Long, sang Pangeran Xue Wudi mencoba menggunakan penduduk Kota Xuanshan sebagai tameng hidup, tapi apa yang ingin dilakukannya sudah lebih dulu diketahui oleh Song Jiao yang sudah begitu dekat dengan Xue Wudi.
"Jangan harap bisa menggunakan penduduk kota sebagai tameng atas apa yang akan menimpa kalian semua!"
Song Jiao berteriak, dan saat itu juga dia bergerak sangat cepat menyerang musuh yang mencoba menggunakan penduduk Kota Xuanshan sebagai tameng hidup.
Tetapi teriakan Song Jiao justru memancing Penguasa Kota Xuanshan, yang mana pria itu yakin wanita yang dilihatnya saat ini adalah salah satu wanita yang membunuh putranya, juga yang membakar habis seluruh kediamannya.
Mengerahkan seluruh kekuatannya, Penguasa Kota Xuanshan menerjang maju ke arah Song Jiao, tapi dia justru menabrakkan diri ke ujung tombak Song Jiao yang runcing dan tajam, membuatnya mati sebelum sempat menuntut balas atas kematian putranya.
"Penguasa Kota!"
"I-itu Penguasa Kota sudah mati!"
Mendengar suara-suara itu Song Jiao akhirnya tau kalau yang baru mati di tangannya adalah sosok Penguasa Kota yang putranya sore tadi mati di tangannya.
"Berterimakasihlah padaku karena dalam waktu singkat kau bisa kembali berkumpul dengan putramu!"
Song Jiao menarik keluar tombaknya yang tertancap di dada Penguasa Kota Xuanshan, dan begitu saja dia menendang tubuh pria yang telah kehilangan nyawa.
Di sisi prajurit Kota Xuanshan yang melihat kematian Penguasa Kota, mereka segera kehilangan semangat, dan kejadian ini dimanfaatkan oleh prajurit wanita yang mengikuti Song Jiao.
Tidak ada pengampunan bagi musuh, dan cepat 100 prajurit wanita melakukan pembantaian pada prajurit Kota Xuanshan, memberikan kematian dengan sedikit rasa sakit.
Xue Wudi berada di tempat yang jauh, dan dia baru tau kematian Penguasa Kota dan seluruh pasukan Kota Xuanshan beberapa waktu kemudian, dimana dia saat ini mulai terdorong mundur oleh musuh, bahkan Jenderal dan para Komandan yang berusaha melindunginya, beberapa dari mereka telah gugur, menyisakan sebagian yang hampir semuanya telah terluka.
"Mundur! Tinggalkan Kota Xuansha..."
Ucapan Xue Wudi menggantung, lebih dulu sebuah anak panah besi menancap sempurna di lehernya juga di bagian kening yang membuat pria itu seketika jatuh tersungkur, dan nyawanya tidak tertolong.
Kematian Xue Wudi yang begitu cepat mengejutkan semua orang yang berada di sisinya, tapi keterkejutan itu justru dimanfaatkan oleh Qin Tianyu dan Qin Zixuan menyerang mereka yang lengah, mendapatkan kemenangan tanpa mengeluarkan tenaga yang berlebihan.
Kematian Xue Wudi dan para petinggi prajurit Xue Long di Kota Xuanshan menjadi pukulan telak bagi prajurit Xue Long yang tersisa di medan perang, dan saat mereka baru memutuskan ingin menjatuhkan senjata, anak panah yang tidak memiliki mata lebih dulu mengakhiri hidup mereka, sama sekitar tidak menyisakan musuh dalam keadaan hidup di Kota Xuanshan.
Bahkan jika ada penduduk Kota yang mengangkat senjata dan melakukan perlawanan, hidup mereka tidak akan berakhir baik.
Pada akhirnya siapapun yang mengangkat senjata bakalan mati, dan tepat saat matahari pagi terbit dari ufuk timur perang berakhir, menyisakan mayat-mayat yang mulai dibersihkan, dimana kemenangan telah menjadi milik pasukan di bawah kepemimpinan Qin Tianyu, dan sejak hari ini Kota Xuanshan kembali ke pangkuan Kekaisaran Huangtian.