NovelToon NovelToon
BAYANG BAYANG MASA LALU

BAYANG BAYANG MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dinarta Firdaus

Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYEMBUHAN

​Mendengar penjelasan itu, dinding pertahanan Kirana yang tadinya sekeras batu karang mulai retak. Ada rasa perih yang menjalar di dadanya. Ia tahu persis bagaimana rasanya terjebak dalam trauma, tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa Bimo—pria yang selalu terlihat dominan dan tak terkalahkan—sebenarnya bertarung dengan iblis yang sama mengerikannya di dalam kepala sendiri.

​"Aku tidak menceritakan ini untuk membuatmu merasa kasihan padaku," lanjut Bimo buru-buru, seolah bisa membaca pikiran Kirana. "Aku menceritakannya agar kamu tahu, bahwa apa yang terjadi dulu bukan salahmu. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Akulah yang rusak."

​Selama beberapa menit berikutnya, hanya ada suara rintik hujan yang menghantam atap seng toko bunga. Kirana mencoba mencerna setiap kalimat Bimo. Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun kepingan-kepingan masa lalu dengan sudut pandang yang baru.

​Jika diibaratkan dengan ilmu botani yang ia tekuni, hubungan mereka dulu seperti memaksakan tanaman asplenium yang menyukai kelembapan tinggi untuk tumbuh di bawah terik matahari gurun yang membakar. Bukan tanamannya yang salah, bukan pula mataharinya; melainkan ekosistemnya yang dipaksakan.

Kini, formulasi itu tampaknya coba diubah oleh Bimo. Pria itu tidak lagi membawa variabel trauma yang meledak-ledak. Ia membawa ketenangan yang telah diuji oleh waktu dan konseling medis.

​"Lalu, kenapa krisan putih?" tanya Kirana lagi, suaranya kini melunak, kehilangan aksen defensifnya.

​Bimo menatap buket kecil di pangkuannya. "Psikiaterku bilang, untuk menyembuhkan rasa bersalah yang besar, kita harus belajar melepaskan ego. Krisan putih bagiku adalah simbol ketulusan yang bersih dari nafsu untuk memiliki. Setiap kali aku membeli bunga ini darimu, aku sedang mengingatkan diriku sendiri:

'Dia hidup dengan baik, dia bisa tersenyum lagi, dan itu sudah lebih dari cukup, bahkan jika kamu tidak lagi ada di dalam hidupnya.'"

​Kirana membalikkan badannya, membelakangi Bimo. Ia tidak ingin pria itu melihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Setitik air hangat lolos membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Kirana merasa beban berat yang selama ini menggelayuti bahunya—rasa bersalah karena telah melarikan diri, rasa takut bahwa ia adalah penyebab trauma Bimo—luruh begitu saja.

​Hujan mulai mereda menjadi gerimis tipis ketika jam dinding di toko Lumina menunjukkan pukul enam sore. Sudah waktunya toko untuk tutup.

​Bimo berdiri, merapikan kemejanya yang sudah hampir kering, lalu meletakkan cangkir teh yang telah kosong ke atas meja kecil. Ia mengambil buket krisannya dengan hati-hati.

​"Terima kasih atas tehnya, Kirana. Dan terima kasih karena sudah mendengarkan," kata Bimo dengan senyuman hangat yang tulus. Ia berjalan menuju pintu, memakai kembali sepatunya yang berada di luar dengan gerakan yang sopan.

​Kirana memperhatikannya dari ambang pintu batinnya yang kini sedikit terbuka. "Bimo," panggil Kirana tepat sebelum pria itu melangkah turun ke trotoar.

​Bimo menghentikan langkahnya, menoleh dengan penuh antisipasi, namun tetap menjaga tubuhnya agar tidak terlihat terlalu mendesak. "Ya?"

​Kirana menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara sore yang segar memenuhi paru-parunya.

"Hari Selasa depan... kamu tidak perlu duduk di luar jika cuacanya buruk. Toko ini memiliki beberapa kursi di bagian dalam yang bisa digunakan pengunjung untuk menunggu bunga mereka selesai dirangkai."

​Mendengar ucapan itu, mata Bimo membelalak kecil. Sebuah binar kebahagiaan yang sangat murni terpancar dari wajahnya yang lelah. Ia tidak melompat kegirangan, ia tidak mencoba mendekat untuk memeluk Kirana. Ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur penghormatan yang penuh dengan rasa syukur.

​"Terima kasih, Kirana. Sampai jumpa hari Selasa," ucap Bimo lirih.

​Ia kemudian berbalik dan berjalan menyusuri trotoar yang basah, memeluk buket krisan putih kecilnya seolah itu adalah benda paling berharga di seluruh alam semesta.

​Kirana memperhatikan punggung itu hingga menghilang di tikungan jalan. Ia kemudian menutup pintu kaca tokonya, membalik papan tanda menjadi 'CLOSED', dan mematikan beberapa lampu utama. Namun, malam ini, tidak ada lagi ketakutan di dalam kegelapan. Kirana tahu, pintu hatinya yang selama ini terkunci rapat dari dalam, kini telah diketuk dengan cara yang benar. Bukan dengan kapak kemarahan, melainkan dengan ketukan jemari yang sabar, penuh dengan penerimaan dan kedamaian yang baru.

1
Ara putri
mampir ya kak. Jika berkenan mampir juga keceritaku TUAN AYAZ, TOLONG BERHENTI!
Dinarta Firdaus: baik kakak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!