NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: TAMU TAK DIUNDANG DARI MASA LALU

Suara dentingan bel perunggu di gerbang depan Villa Al-Ricci biasanya menandakan kedatangan kurir dokumen atau kolega bisnis Matteo yang kaku.

Namun siang ini, suara itu diikuti oleh deru mesin mobil-mobil sport yang cempreng dan suara tawa yang melengking, memecah ketenangan taman yang biasanya sunyi.

Alesha, yang sedang asyik memilah-milah benang di ruang tengah sambil mengenakan kaus oblong longgar dan celana pendek, mengerutkan kening.

Marcello, sang kepala pelayan, masuk dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya.

"Nyonya... ada tamu. Teman-teman dari Nona... maksud saya, teman-teman dari mantan calon mempelai, Kiara," lapor Marcello dengan suara bergetar.

Belum sempat Alesha menjawab, sekelompok wanita tiga orang tepatnya sudah melenggang masuk seolah-olah mereka pemilik tempat itu.

Mereka adalah perwujudan dari kemewahan Roma yang berlebihan, rambut yang tertata kaku oleh hairspray, perhiasan yang berkilauan di bawah lampu kristal, dan aroma parfum yang begitu kuat hingga membuat Alesha ingin bersin.

"Oh, jadi ini dia?" salah satu dari mereka, seorang wanita dengan rambut pirang platina bernama Bianca, mengangkat kacamata hitamnya dan menatap Alesha dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Kudengar Matteo menikahi 'pilihan darurat' karena Kiara lebih memilih menghirup udara segar di Paris daripada menjadi perawat di rumah ini."

Wanita di sampingnya, Sofia, menutup mulutnya sambil berpura-pura terkejut.

"Kasihan sekali. Dia terlihat seperti... apa istilahnya? Produk diskon di akhir musim? Kau tahu, yang diletakkan di keranjang pojok karena tidak ada yang mau membelinya."

Mereka tertawa serempak, suara yang terdengar seperti gesekan amplas di telinga Alesha. Alesha meletakkan gulungan benangnya dengan tenang.

Ia berdiri, meregangkan tubuhnya sejenak, lalu menatap ketiga wanita itu dengan pandangan yang mendadak berubah tajam.

"Produk diskon?" Alesha mengulang kalimat itu dengan nada datar.

Ia berjalan mendekati Bianca, mengelilinginya perlahan seperti predator yang sedang memeriksa mangsanya.

"Menarik sekali kalian datang ke sini untuk membicarakan mode, padahal kalian sendiri terlihat seperti korban kecelakaan di toko tekstil."

Tawa mereka terhenti.

Bianca mendengus.

"Apa katamu? Kau tahu berapa harga gaun custom ini?"

Alesha berhenti tepat di depan Bianca.

Ia menarik ujung kain gaun sutra berwarna fanta yang dikenakan wanita itu.

"Gaun ini? Potongan dadanya miring tiga derajat ke kiri, membuat posturmu terlihat seperti udang yang sedang sakit punggung. Dan warnanya... fanta? Di musim panas seperti ini? Kau terlihat seperti permen karet yang sudah dikunyah terlalu lama dan menempel di trotoar."

Wajah Bianca memerah padam.

Sebelum dia sempat membalas, Alesha sudah beralih ke Sofia.

"Dan kau, Sofia," Alesha menunjuk tas tangan kulit buaya berwarna zamrud yang didekap wanita itu dengan bangga.

"Hermès Birkin, ya? Sayang sekali, garis jahitan di bagian bawahnya terlalu simetris untuk barang asli. Kulit buaya asli tidak akan memiliki pola yang seberulang itu. Itu barang super-fake dari pasar gelap Napoli, bukan? Kuharap kau tidak membayar lebih dari dua ratus Euro untuk sampah plastik itu."

Sofia tersentak, refleks menyembunyikan tasnya di belakang punggung.

"Kau... kau hanya iri! Kau tidak tahu apa-apa tentang kemewahan!"

"Aku tidak tahu tentang kemewahan? Aku tahu tentang kualitas," balas Alesha sengit.

Ia menatap wanita ketiga yang paling diam, yang mengenakan gaun brokat yang sangat rumit.

"Dan kau, sayang, gaun brokatmu itu berasal dari koleksi dua tahun lalu. Di Roma, memakai pakaian musim lalu ke rumah seorang Al-Ricci adalah sebuah penghinaan terang-terangan. Kau terlihat seperti gorden tua di rumah nenekku."

Ruang tamu itu mendadak sunyi. Marcello yang berdiri di sudut ruangan berusaha keras untuk tidak meledakkan tawa.

Ia belum pernah melihat sosialita-sosialita sombong ini bungkam dengan begitu telak.

"Kalian datang ke sini untuk menghinaku karena aku bukan Kiara?" Alesha melangkah maju, membuat mereka mundur selangkah.

"Kiara mungkin punya wajah cantik yang bisa dipajang, tapi dia tidak akan pernah bisa membedakan mana sutra asli dan mana nilon murah. Kalian datang ke rumahku, menghina suamiku dengan menyebutnya beban, dan menghinaku karena aku menggantikan posisi pengkhianat itu? Keluar."

"Kau tidak bisa mengusir kami! Kami teman keluarga!" pekik Bianca.

"Aku adalah Nyonya Al-Ricci di rumah ini," suara Alesha merendah, dingin dan penuh ancaman.

"Jika kalian tidak keluar dalam hitungan tiga, aku akan mengambil gunting kainku dan secara sukarela 'merombak' gaun-gaun mahal kalian menjadi kain lap pel.Percayalah, aku sangat ahli dalam memotong sesuatu yang tidak berguna."

Melihat kilatan liar di mata Alesha, ketiga wanita itu sadar bahwa ancaman itu bukan main-main. Dengan wajah merah padam karena malu dan marah, mereka berbalik dan bergegas keluar menuju mobil mereka, bahkan hampir tersandung sepatu hak tinggi mereka sendiri.

Alesha menghela napas panjang setelah pintu besar itu tertutup.

Ia mengacak rambutnya yang berantakan.

"Tuhan, orang kaya benar-benar melelahkan," gumamnya.

Ia hendak kembali ke gulungan benangnya saat ia merasakan kehadiran seseorang. Alesha mendongak ke arah balkon lantai dua yang menghadap ke ruang tamu.

Di sana, di balik bayang-bayang pilar marmer, Matteo duduk di kursi rodanya. Pria itu sudah berada di sana sejak awal, menonton seluruh drama "pembantaian" tersebut tanpa mengeluarkan suara.

Alesha menantang tatapannya.

"Apa? Kau mau memarahiku karena mengusir teman-teman mantan kekasihmu?"

Matteo tidak menjawab dengan omelan. Sebaliknya, ia perlahan memutar kursi rodanya agar lebih dekat ke pinggiran balkon.

Cahaya matahari yang masuk dari jendela besar menerpa wajahnya.

Dan di sana, Alesha membeku.

Sudut bibir Matteo terangkat.

Bukan seringai sinis, bukan pula tawa mengejek. Itu adalah senyum tipis, sangat tipis namun tulus. Sebuah senyum yang membuat wajah kakunya tampak jauh lebih muda dan... tampan.

"Palsu, ya?" suara Matteo bergema, terdengar jauh lebih ringan dari biasanya.

"Aku selalu benci tas itu, tapi tidak pernah tahu alasannya sampai kau menjelaskannya tadi."

Alesha mengerjapkan matanya, terpana.

"Kau... kau tersenyum?"

Matteo segera menghilangkan senyum itu, kembali ke wajah datarnya yang biasa, namun kilatan di matanya tidak bisa berbohong.

"Kau adalah bencana, Alesha. Tapi harus kuakui, melihat mereka lari ketakutan dari seorang wanita dengan kaus oblong adalah hiburan terbaik yang pernah kulihat di rumah ini dalam sepuluh tahun terakhir."

Matteo memutar kursi rodanya untuk kembali ke ruang kerjanya.

"Marcello, bawakan teh untuk Nyonya. Sepertinya dia baru saja membakar banyak kalori untuk menghina orang."

Alesha berdiri mematung di tengah ruangan, menatap punggung Matteo yang menghilang di balik pintu.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, dan kali ini bukan karena amarah.

"Dia benar-benar tersenyum," bisik Alesha pada diri sendiri.

Ia kembali duduk dan mengambil benangnya, namun kali ini ada senyum kecil yang terselip di wajahnya juga.

Penjara emas ini, entah bagaimana, mulai terasa sedikit lebih hangat.

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!