NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

Rafli memarkir mobilnya sedikit jauh dari rumah Anisa. Hari ini dia dan Anisa berencana ke kantor Restu.

Anisa menitipkan Hanif pada Arista, dia nggak mau ambil resiko , lagi pula kasihan Hanif kalau terlalu lama di dalam mobil, takut nanti mabuk dan sakit.

Semalam dia sudah menghubungi kakaknya dan menjelaskan sedikit maksud dan tujuannya.

Arista ikut prihatin dengan kondisi yang sedang Anisa alami. Arista mendukung sepenuhnya niat dan tujuan adiknya, serta saling menguatkan.

Bagaimana pun mereka hanya tinggal berdua, suami yang mereka anggap sebagai pelindung dan tempat mereka berkeluh kesah tak bisa mereka harapkan lagi.

Semua yang tampak di mata hanya formalitas belaka, sekarang Anisa harus selangkah lebih cepat. Sebelum semua terlambat.

Mobil yang di kendarai Restu sudah meninggalkan garasi dan perlahan melaju di jalanan beraspal.

Rafli pun bergerak maju dan memasuki halaman rumah besar Anisa. Rafli tersenyum.

" Sudah dari kecil jadi ratu, tak kekurangan harta sedikit pun. Itu yang membuat aku cukup sadar diri dan memilih mundur walau tak teratur" Rafli bermonolog.

[ Mas Rafli bisa minta tolong bawain tas perlengkapan Hanif] sebuah pesan dari Anisa masuk ke gawainya.

[ Bisa banget Bu Anisa. Siap meluncur] Rafli mengetik balasan.

Rafli bergegas menuju pintu utama rumah Anisa, di sana sudah berdiri Anisa dengan Hanif di gendongannya.

Dua buah tas berisi perlengkapan milik Hanif tergeletak di lantai, sementara Anisa menjinjing tas tangannya. Rafli menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Segera Rafli mengangkat ke dua tas tersebut dan melenggang ke luar. Anisa tak lupa mengunci pintu sebelum benar-benar meninggalkan rumahnya.

" Kenapa nggak pakai baby sitter, uang Bu Anisa banyak nggak akan habis buat gaji satu baby sitter, satu art dan satu sopir." Rafli bicara tanpa menoleh. Dia membuka bagasi dan menyimpan tas itu di sana.

" Rumah sebesar itu di tinggali cuma berdua, kalau suami Bu Anisa pulang, kalau nggak pulang apa Bu Anisa nggak merasa takut dan kesepian?" tanya Rafli.

" Apalagi sekarang ada Hanif yang butuh perhatian, sekarang mungkin Hanif masih bisa Bu Anisa gendong ke mana mana , nanti kalau sudah umur satu tahun ke atas sudah butuh perhatian dan tenaga extra."

Sambil bicara tangan Rafli juga membukakan pintu mobil untuk Anisa. Setelah di rasa semua rapi, Rafli duduk di belakang kemudi. Dia melirik Anisa sebentar , lalu menghela nafas.

" Maaf Bu Anisa, bukan maksud saya ikut campur , tapi saya hanya menyarankan saja. Paling tidak dengan memperkerjakan mereka ,kan bisa mengurangi angka pengangguran " Rafli memberi alasan.

Anisa terdiam , dia sedang mempertimbangkan saran dari Rafli. Selama ini dia memang mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri. Dia pikir karena belum punya anak, jadi semua bisa dia handle sendiri.

" Nanti saya bilang dulu sama mas Restu. Kalau nanti dia nggak setuju, saya tetap akan memperkerjakan mereka." jawab Anisa.

" Bagus. Jangan biarkan harta Bu Anisa tersimpan sia-sia"

"Maksudnya?." tanya Anisa tak paham

" Maksudnya simple aja, harta Bu Anisa jangan di biarin jadi penunggu bank , ambil dan manfaatkan. Dengan menggaji orang , minimal uang yang udah bosan nongkrong di bank jadi bermanfaat buat orang lain."

" Dari gaji yang mereka terima, ada banyak nyawa yang mereka hidupi dan biayai. Jadi uang yang nongkrong di bank tadi merasa bermanfaat buat orang lain. Uang itu bisa jalan-jalan dan bisa menghirup udara segar, dari pada nongkrong terus di brankas, udah pengap, gelap lagi."

Kalimat Rafli terdengar enteng dan konyol, tapi maksud dan tujuannya langsung mengenai sasaran, tak ada kalimat yang seolah menggurui.

Anisa tersenyum, dia suka kalimat yang Rafli utarakan. Dan Anisa tergerak hatinya untuk menuruti saran dari Rafli.

" Apa kamu nanti bisa bantu aku carikan baby sitter, art dan sopir sekaligus." tanya Anisa menatap Rafli dari kaca spion.

" In Syaa Allah nanti saya bantu. Tapi kalau di yayasan bisa mahal , Bu. Dari pada ke yayasan mendingan uangnya kasih ke saya aja, Bu. Nanti saya bantu carikan, biasanya di kampung saya ,suka banyak orang yang nyari kerja di perumahan."

" Kenapa mau kerja di perumahan. Kenapa nggak di mall atau di kantor."

" Banyak faktor Bu Anisa. Faktor ijazah, faktor usia , dan faktor pengalaman."

" Kalau kerja di perumahan kan , nggak perlu pakai ijazah, paling KTP . Dan kata mereka enaknya kerja di perumahan, gajinya utuh, karena makan dan kebutuhan pribadi mereka,sudah ditanggung sama bos mereka." Rafli menjelaskan panjang lebar.

Anisa menyimak penjelasan Rafli, hingga tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki pelataran rumah Arista.

Arista yang sudah menunggu sejak tadi , langsung menyambut kedatangan mereka. Dia tersenyum lebar, melihat Hanif yang baru turun dari mobil dan masih tidur dalam gendongan.

Sementara Rafli mengeluarkan tas Hanif dari dalam bagasi.

" Assalamualaikum." Rafli memberi salam.

" Waalaikumsalam." jawab Arista senyumnya tak mau hilang. Dia senang karena bisa seharian bermain dengan Hanif.

Dia beberapa hari ini sedikit sibuk, jadi belum sempat ke rumah Anisa. Begitu mendengar Anisa akan menitipkan Hanif padanya , dia dengan antusias menyambutnya dengan gembira.

" Mbak , aku titip Hanif sebentar. Nanti sore aku ke sini lagi.Aku langsung jalan ya, mbak, maaf udah kesiangan soalnya." Anisa mengulurkan Hanif ke tangan Arista.

" Lama juga gak apa, pergilah. Hati-hati." pesan Arista.

Anisa mengangguk , dan langsung masuk kembali ke dalam mobil. Sampai lupa mengenalkan Rafli pada Arista. Sebaliknya Arista juga sepertinya terlalu gembira menyambut Hanif, jadi nggak sempat bertanya.

"Kita ke mana dulu Bu Anisa?" tanya Rafli.

" Kita ke kantornya dulu,mas." jawab Anisa.

Rafli mengangguk setuju.

" Apa nggak sebaiknya kita ke rumahnya dulu, Bu" usul Rafli.

" Kenapa harus ke sana dulu. Sekarang udah jam 9, kemungkinan mas Restu udah ada di kantor."

" Apa salahnya kita coba, siapa tahu pak Restu masih di sana. Mungkin mampir sarapan." kata Rafli sambil menjalankan mobilnya.

" Hmmm...boleh juga,kalau begitu kita ke sana dulu."

Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Tak ada kemacetan berarti, karena pada jam jam tertentu baru terjadi kemacetan. Umumnya pada saat jam kerja pagi, dan sore hari ketika jam kerja pulang.

" Stop di sini, mas. Jangan terlalu dekat ke dapan rumahnya." kata Anisa.

Mobil pun berhenti di ujung pagar ,tepat di bawah pohon kersen. Anisa menurunkan kaca sedikit. Benar dugaan Rafli,ternyata mobil mas Restu masih terparkir di sana. Padahal jam masuk kantor sudah lewat.

Dari.dalam rumah keluar seorang wanita mengenakan daster rumahan. Yang jelas itu bukan ibu mertuanya. Karena di lihat dari postur tubuhnya terlihat masih muda.

( Apa itu Lina. Tapi kata Bu Ratih , Lina pulang kampung. Terus itu siapa? Apa pembantu baru di rumah ibu. Secara ibu kan sudah mulai sepuh.)

Tak lama sosok pria yang sangat dia kenal keluar dari dalam rumah. Mereka terlibat obrolan, tampaknya wanita itu sedikit marah, terlihat dari gerakannya yang menghentakkan kakinya ke lantai sebelum masuk lagi ke dalam rumah .

( Kalau memang dia art di situ, kenapa sikapnya seperti bukan art. Apa mas Restu punya adik perempuan, atau sepupu. Sikapnya seperti orang yang sudah sangat akrab.)

Mobil yang di kendarai Restu pun akhirnya keluar. Anisa menutup kaca , dan menunduk.

" Jangan langsung di ikuti mas, tunggu sebentar. Takutnya dia malah curiga."

Rafli mengangguk.

Selang beberapa menit, Rafli bersiap tancap gas. Tapi Anisa tiba-tiba mencegahnya.

" Tunggu, mas. Itu ada mobil yang berhenti di depan pintu pagar. Saya ingin lihat dulu sebentar."

Tak lama seseorang keluar dari pintu kemudi. Dia sepertinya sedang mencocokkan alamat, kemungkinan taxi online.

Benar saja. Tak lama dari dalam rumah muncul sosok perempuan yang usianya mungkin sama dengan Anisa. Mengenakan dress warna hitam , panjang sebetis dengan langkah sedikit tergesa.

Tangannya sibuk memainkan gawainya, mungkin sedang menghubungi seseorang.

Perempuan itu tampak asing bagi Anisa, karena dia belum pernah lihat sebelumnya. Kalau pun itu sepupu Restu, pasti Anisa mengenalinya. Karena pada saat pernikahan mereka , saudara dari Restu datang semua.

Saudara dan family dari pihak Restu hanya sedikit , jadi Anisa bisa menghafal wajah mereka.

Sebagai seorang wanita, instingnya mulai berjalan. Dia merasa perempuan itu dan restu ada sesuatu.Dan Anisa merasa di bohongi , itu hal pertama yang Anisa rasakan.

" Kita ikuti dia aja, mas." kata Anisa datar. Tapi ada kegelisahan di sorot matanya.

Rafli menarik nafas , dia tak ingin banyak bertanya.

Setelah sekitar 30 menit, mobil yang di ikuti Rafli masuk ke sebuah restoran . Rafli pun ikut membelokkan mobilnya ke sana. Dan parkir tepat di samping taxi online tadi.Anisa mengenakan kaca mata hitamnya, berniat turun dan masuk ke dalam resto.

Tapi urung, dan menutup pintunya kembali. Perempuan tadi tampak menelpon seseorang, Anisa sempat berpikir kalau orang yang sedang di hubungi perempuan itu adalah Restu, suaminya.

Tapi ternyata salah, dari dalam restoran muncul sosok pria memakai jaket hitam dan topi hitam, Sera kaca mata hitam.

Perempuan itu menyambut dengan senyum dan pelukan, tak lupa cipika cipiki . Mereka pun bergandengan tangan memasuki restoran.

Semua adegan di depan mata, di dokumentasikan oleh Anisa.

" Mas Rafli kenal dengan mereka?". Tanya Anisa sambil melihat ke arah Rafli yang kedapatan sedang memperhatikannya.

Rafli menggeleng.

" Sudah cukup jadi paparazi nya?." tanya Rafli sambil tersenyum.

Anisa mengangguk.

" Kita ke dalam, mas."

" Lho.. nggak jadi ke kantor pak Restu?" tanya Rafli .

" Nggak jadi. Tadi aku udah tanya ke sekretarisnya, dia ada di kantor."

Berdua berjalan beriringan memasuki resto, tampak suasana sedikit lengang. Anisa mencari perempuan dan sosok pria tadi, dan memberi kode pada Rafli untuk mengikutinya.

Rafli pun menurut, mereka memilih tempat duduk di sebelah perempuan tadi, dengan posisi saling membelakangi.

Tak lama seorang karyawan resto mendatangi, lalu menyerahkan buku menu.

" Mas Rafli mau pesan apa?".

" Apa saja, asal di traktir, saya pasti makan." jawab Rafli nyengir.

" Kalau nanti aku kasih racun bagaiman."

" Ya ..paling mati." jawab Rafli kembali nyengir.

Anisa memilih menu untuk mereka berdua.

" Bagaimana kabar kamu, Lin. Apa selama di sana kamu baik-baik saja. Bagaimana mereka memperlakukanmu?."

Terdengar obrolan dari balik punggung Anisa.

" Sejauh ini Restu masih baik, sedangkan ke dua orang tuanya sepertinya masih nggak bisa menerima aku, mas."

"Bagaimana pun kamu harus tetap bertahan, sesuai rencana dari awal."

" Tapi aku jenuh, mas. Nggak bisa ke mana-mana."

" Hanya butuh waktu beberapa bulan lagi. Bersabarlah. Kalau kamu bersabar , semua pasti lancar."

" Tapi aku kangen kamu, mas." perempuan itu menggelendot manja.

" Mas juga kangen."

Tubuh Anisa gemetar. Entah siapa yang ada di balik punggungnya, yang pasti Anisa merasa mereka sedang merencanakan sesuatu.

Anisa menatap Rafli dengan pandangan entah, tapi Rafli mengkode untuk diam dan tetap duduk tenang. Dia menunjukkan hpnya kalau dia sedang merekam percakapan mereka.

Anisa mengangguk pelan dan mengikuti hal yang sama. Kali ini Anisa malah merekam di sertai video.

Menu yang mereka pesan pun datang. Anisa sudah tak bernafsu menyantapnya. Dia sudah merasa kenyang lebih dulu, saat mendengar nama suaminya di sebut.

Aku harus tanya sama Bu Ratih dan pak Darto. Sebenarnya apa yang sudah mereka sembunyikan. Karena sejak kedatangannya kemarin, mereka berdua bersikap aneh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!