NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

‎"Selamat malam, Risa."

‎‎Suara itu membuat Risa menoleh dengan terkejut. Begitu melihat Regan, ia segera memberi senyum sopan.

‎‎"Selamat malam, Pak Regan. Maaf, saya tidak menyadari Bapak ada disini juga."

‎‎Regan mengangguk santai, lalu melirik keranjang belanjaan Risa yang hanya berisi barang-barang kebutuhan sederhana. Ia menatap sekeliling, tidak melihat orang lain di dekat wanita itu.

‎‎"Kamu sendirian?" tanyanya pelan.

‎‎Risa mengangguk, "Iya, Pak, saya sendirian."

‎‎"Sudah malam begini, jalanan juga mulai sepi di beberapa tempat. Apa suami kamu tidak akan menjemput?" tanya Regan lagi.

‎‎Mendengar pertanyaan itu, senyum di wajah Risa sedikit memudar, namun ia tetap menjawab dengan tenang.

‎‎"Tidak, Pak. Tidak ada yang menjemput, dan saya pun sudah terbiasa menggunakan transportasi umum."

‎‎Regan mengerutkan dahi samar, merasa heran apakah suaminya Risa tidak khawatir membiarkan istrinya keluar malam sendirian seperti ini. Namun ia tidak ingin terlihat mengorek terlalu dalam, hanya ingin memastikan.

‎‎"Tapi malam-malam begini kurang aman untuk wanita berjalan sendirian, apalagi naik transportasi umum," ucapnya lagi dengan nada yang lebih lembut dari biasanya. "Apakah memang tidak ada siapapun yang bisa menjemput?"

‎Risa menggeleng perlahan, matanya memancarkan ketenangan yang menyembunyikan sedikit kesedihan.

‎‎"Memang tidak ada, Pak. Tapi saya sudah terbiasa, jadi tidak masalah. Rumah kontrakan saya juga tidak terlalu jauh dari sini, hanya butuh lima belas menit jika berjalan kaki."

‎‎Regan terdiam sejenak. Ia merasa ada sesuatu yang terasa tidak pas, tapi menghormati batas pribadi Risa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berkata dengan nada tenang namun tegas.

‎‎"Kalau begitu, selesai belanja nanti, ikut saya saja. Saya antar sampai depan rumah. Tidak baik berjalan sendirian malam-malam begini."

‎‎Risa terkejut mendengar tawaran itu, segera menggeleng dengan sopan. "Tidak usah repot-repot, Pak Regan. Saya bisa pulang sendiri, sungguh---”

‎‎"Tidak repot," potong Regan singkat. "Ini juga searah dengan jalan pulang saya. Anggap saja sebagai tanggung jawab pimpinan agar karyawannya pulang dengan selamat. Tidak ada penolakan untuk hal ini."

‎‎Melihat ketegasan dalam tatapan mata Regan, Risa akhirnya hanya bisa mengangguk kecil sambil tersenyum.

‎‎"Baiklah… terimakasih banyak, Pak."

-

‎Setelah membayar barang belanjaannya, keduanya keluar dari minimarket dan menuju mobil Regan yang terparkir di depan minimarket. Regan membukakan pintu penumpang untuk Risa, sikap yang membuat wanita itu sedikit terkejut, namun ia segera masuk dan duduk, meletakkan kantong belanjaannya di pangkuannya.

‎‎Begitu Regan masuk dan menyalakan mesin, kendaraan itu pun perlahan melaju menyusuri jalanan yang mulai lengang. Suasana di dalam mobil terasa tenang, hanya terdengar suara deru mesin yang halus.

‎‎"Tadi kamu bilang rumahmu tidak terlalu jauh. Sebenarnya di daerah mana?" tanyanya sambil sesekali melirik kaca spion.

‎‎"Di kontrakan sederhana tidak jauh dari sini, Pak. Hanya sekitar lima menit lagi lurus ke depan, lalu belok kiri," jawab Risa dengan suara lembut.

‎‎Regan mengangguk paham, ‎‎"Kamu dan suami kamu tinggal di kontrakan? Memang apa pekerjaan suami kamu?"

‎‎Pertanyaan itu terucap begitu saja, namun begitu terlintas, Regan baru sadar ia mungkin bertanya terlalu jauh. Ia berniat menambahkan kalimat penenang, tapi Risa sudah menjawab lebih dulu dengan nada tenang dan tanpa beban.

‎‎"Saya tinggal di kontrakan itu sendirian, Pak. Saya dan suami saya sedang dalam proses perceraian,"

‎‎Regan sedikit terkejut mendengar jawaban itu, dia menoleh ke arah Risa.

‎‎"Maaf..." ucapnya segera dengan nada lembut, sedikit merasa bersalah. "Saya tidak bermaksud mengorek urusan pribadimu, sungguh."

‎Risa menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis menenangkan.

‎‎"Tidak apa-apa, Pak. Bukan hal yang perlu disembunyikan lagi. Memang benar, kami sudah tidak serumah lagi."

‎‎Suasana hening menyelimuti ruang dalam mobil. Tidak ada lagi percakapan, hanya suara angin yang berdesir samar di luar dan cahaya lampu jalan yang melintas perlahan, menerangi wajah mereka. Kesunyian itu terasa nyaman, tidak kaku - seolah keduanya sama-sama membiarkan pikiran melayang, menghormati batas satu sama lain tanpa perlu banyak kata.

‎‎Tak lama kemudian, mobil Regan mulai melambat. Roda kendaraan berbelok pelan ke sisi jalan, hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pagar besi sederhana yang dicat warna hijau pudar. Di baliknya tampak sebuah rumah berukuran tidak terlalu besar, dengan halaman kecil yang dipenuhi beberapa tanaman pot.

‎"Disini, Pak," ucap Risa memecah keheningan, suaranya lembut namun jelas.

‎‎Regan mematikan mesin, sehingga suasana menjadi semakin sunyi. Ia menatap rumah di hadapannya, lalu menoleh ke arah Risa dengan tatapan yang lembut.

‎‎"Istirahatlah yang cukup hari ini. Besok adalah hari pertamamu kerja, jadi jangan sampai datang dalam keadaaan lelah," lanjutnya dengan nada yang tegas namun hangat.

‎‎Risa menatapnya, merasakan perhatian yang tulus di balik kata-katanya.

‎‎"Baik, Pak. Dan terimakasih sudah mengantar saya pulang," jawabnya sopan.

‎‎"Sama-sama." balas Regan sambil mengangguk pelan. "Kalau nanti di kantor ada kesulitan apapun, jangan sungkan untuk bicara. Saya harap kamu merasa nyaman bekerja di sana."

‎"Baik, Pak." ucap Risa dengan senyuman hangat, "Kalau begitu selamat malam,"

‎‎Regan mengangguk perlahan, "Selamat malam juga, Risa."

‎‎Risa membuka pintu mobil dan turun sambil membawa kantong belanjaannya. Ia berdiri sejenak di samping kendaraan, melambaikan tangan kecil sebagai tanda perpisahan, sebelum berjalan menuju pagar.

‎‎Regan menunggu sampai pintu rumah itu tertutup rapat dan lampu ruangan menyala, baru kemudian ia melajukan mobilnya kembali.

-

-

‎‎Risa meletakkan kantong belanjaannya di atas meja makan, lalu berjalan menuju jendela dan mengintip ke luar. Terlihat cahaya lampu mobil Regan yang perlahan menjauh dan menghilang. Senyum tipis terukir di bibirnya, tanpa sadar jantungnya berdegup sedikit lebih kencang mengingat perhatian dan kebaikan pria itu malam ini.

‎‎"Orang yang baik…" gumamnya pelan pada diri sendiri.

‎‎Belum sempat Risa melangkah pergi dari dekat jendela, ponsel di saku bajunya tiba-tiba bergetar perlahan. Suara notifikasi pesan masuk terdengar jelas memecah keheningan malam itu.

‎‎Ia merogoh sakunya, lalu melihat layar ponselnya. Begitu tertera nama Raga sebagai pengirim, senyum yang tadi terukir di bibirnya perlahan menghilang, digantikan raut wajah yang kembali datar dan dingin.

‎‎Risa terdiam sejenak, jemarinya sempat ragu sebelum akhirnya membuka pesan itu.

‎‎[ Risa, kita perlu bicara. Jangan menghindari aku terus. Aku tahu kamu mengajukan gugatan cerai, tapi ini bukan jalan terbaik. Besok sore tunggu aku di kafe tempat langganan kita. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. ]

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
plong ya ris, akhrnya bsa lepas
〈⎳ FT. Zira
desak teruss ....ntar pas mau nikah, kabur ya mel🤣
〈⎳ FT. Zira
perhatiannya berlapis🤭
vj'z tri
tunggu nanti w ketawa ngakak disaat/Smug//Smug//Smug//Smug/ ada kata menyesal dari mulut mu
°RhaiKen™
ehh.. jangan dulu pak dokter 🤣🤣 biar sidang nya selesai dulu resmi bercerai nah baru deh kasih kesaksian 🤣🤣🤣✌️
🔥Violetta🔥: Mulut pak dokter sudah gatel pengen ngomong 😂😂😂
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗
🔥Violetta🔥: Asiap 🙏😁
total 1 replies
nayla tsaqif
Klo amelia tau raga mandul sblm mrk nikah,, amelia pasti kabur thor,, berubah haluan ngejar regan,,, 😌
🔥Violetta🔥: Depak aja dia kalau berani deketin pak Bos, kak 😂😂😂
total 1 replies
partini
mantap , menunggu berapa bab lagi sidang nya Thor
🔥Violetta🔥: Betul Kakak.. biar cepat cerai 😁
total 1 replies
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!