.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENASARAN
Aroma harum bunga teratai salju mendadak mengalir melewati halaman depan kediaman Keluarga Ji yang tanpa pagar, menyapu bersih sisa-sisa bau minyak wangi murahan dan debu gerbang yang hancur kemarin sore.
Sesosok gadis dengan gaun sutra putih bersih melangkah masuk dengan keanggunan yang sanggup membuat waktu seolah berjalan lebih lambat. Rambut hitamnya yang panjang disanggul rapi dengan tusuk konde perak berbentuk Phoenix, membingkai wajah yang begitu jelita hingga pantas disebut sebagai mahakarya di dunia fana. Lin Yue’er, Nona Muda dari Keluarga Lin, telah tiba.
Di belakangnya, dua pelayan wanita berjalan dengan kepala tertunduk, membawa kotak-kotak hadiah yang dibungkus kain sutra biru. Kehadiran Lin Yue’er di kediaman pembantu logistik seperti Keluarga Ji bagaikan sebuah mutiara yang mendadak jatuh ke dalam kubangan lumpur—terlalu berkilau dan tidak selaras.
Lin Yue’er melangkah dengan tenang, sepasang mata jernihnya menyapu halaman rumah. Dia mengira akan langsung disambut oleh Ji Huang yang biasanya akan berlari kencang, memasang wajah tampan yang dibuat-buat, atau memamerkan puisi-puisi murahan demi menarik perhatiannya seperti yang sering pemuda itu lakukan di masa lalu.
Namun, pemandangan di teras kamar ujung justru membuat langkah kaki Lin Yue’er terhenti seketika.
Di sana, di atas sebuah kursi bambu yang sudah agak reyot, Ji Huang sedang selonjoran dengan posisi tubuh yang sangat tidak terhormat. Jubah luarnya dipakai asal-asalan dengan kancing yang meleset, salah satu kakinya diangkat ke atas sandaran kursi, dan dia hanya mengenakan sandal jepit kayu yang biasa dipake pelayan dapur. Tangan kanannya sibuk melempar kulit kuaci ke tanah, sementara tangan kirinya memegang botol arak beras setengah kosong.
"Tuan Muda Ji Huang," panggil Lin Yue’er, suaranya terdengar jernih seperti denting lonceng angin, namun memiliki nada dingin yang biasa dia gunakan untuk menjaga jarak dari para pemuda bangsawan.
Ji Huang yang sedang membidik seekor semut di lantai dengan kulit kuaci, perlahan menengok. Dia melihat Lin Yue’er dari atas sampai bawah, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat malas.
"Ah, Nona Lin," jawab Ji Huang tanpa berniat berdiri atau merapikan posisi duduknya. Dia malah menguap kecil, membuat wajah tampannya terlihat sangat acuh tak acuh. "Ada apa datang ke sini? Kalau mau mengantar surat pembatalan perjodohan, kasih saja ke ayahku di dalam. Urusan administrasi begitu membuat kepalaku pusing."
Para pelayan di belakang Lin Yue’er langsung menarik napas tajam. Berani-beraninya pemuda sampah ini berbicara dengan nada ketus dan malas kepada dewi kota kekaisaran!
Lin Yue’er sendiri sedikit mengernyitkan alisnya yang indah. Perubahan sikap Ji Huang benar-benar nyata. Tidak ada lagi binar pemujaan atau tatapan mesum di mata pemuda itu. Sepasang mata Ji Huang sekarang terasa sangat luas, sedalam lautan hampa, dan... dipenuhi rasa bosan yang amat sangat besar terhadap kehadirannya.
"Tuan Muda Ji salah paham," kata Lin Yue’er, mengendalikan emosinya dengan sempurna sambil melangkah mendekat ke teras. "Aku datang ke sini bukan untuk membatalkan apa pun. Aku mendengar berita tentang insiden kemarin sore. Keluarga Wang bertindak terlalu jauh, dan karena masalah ini bermula dariku, aku merasa bertanggung jawab untuk menjenguk keadaanmu."
Lin Yue’er memberi isyarat, dan pelayannya meletakkan kotak hadiah di meja dekat Ji Huang. "Ini adalah Ginseng Darah berusia seratus tahun dari kediaman militerku. Ini sangat bagus untuk memulihkan luka dalam."
Ji Huang melirik kotak itu sekilas, lalu kembali melempar kuaci ke mulutnya. KRETEK. "Oh, terima kasih. Taruh saja di sana. Nanti biar Xiao Cui buatkan sup. Tapi omong-omong, Nona Lin, sekarang kamu sudah melihatku kan? Aku sehat walafiat, tidak kurang satu bagian tubuh pun. Jadi... apakah kunjungan menjenguk ini sudah selesai?"
Lin Yue’er tertegun. Dia mengusirku?
Sepanjang hidupnya, para pemuda jenius dari sekte besar akan bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan kesempatan mengobrol dengannya selama lima menit. Namun pria di depannya ini baru saja berbicara beberapa patah kata dan sudah terang-terangan menunjukkan ekspresi wajah yang berkata: 'Cepatlah pulang, kamu mengganggu waktu rebahanku.'
Rasa penasaran dan harga diri Lin Yue’er yang tinggi sebagai seorang jenius kultivasi mendadak bergejolak. Dia melangkah selangkah lagi, menatap tajam ke dalam mata Ji Huang.
"Tuan Muda Ji, mari kita bicarakan hal yang sebenarnya," kata Lin Yue’er, suaranya merendah, dipenuhi dengan aura penyelidikan. "Seluruh kota sedang gempar. Mereka bilang kamu menghancurkan pedang kultivator ranah Qi Condensation tingkat tiga hanya dengan sebatang ranting pohon kering. Bahkan Penatua Huo dari Sekte Harimau Barat bersujud kepadamu. Kemampuan macam apa itu? Sejak kapan Keluarga Ji memiliki warisan teknik Maksud Pedang setinggi itu?"
Ji Huang memutar botol araknya, lalu menatap Lin Yue’er dengan wajah yang sangat polos, cenderung watados alias wajah tanpa dosa.
"Teknik Maksud Pedang? Warisan rahasia?" Ji Huang terkekeh geli, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nona Lin, kamu sepertinya terlalu banyak membaca buku dongeng pendekar di perpustakaan tokomu. Mana ada hal fana seperti itu."
"Lalu bagaimana kamu menjelaskan apa yang terjadi kemarin?!" desak Lin Yue’er, tidak mau kalah oleh wajah polos Ji Huang.
"Sudah kubilang pada ayahku, itu murni keberuntungan dan mukjizat dari ketampananku," jawab Ji Huang dengan logika nyelenehnya yang mutlak sambil menepuk dadanya sendiri. "Kemarin sebelum tidur, aku rajin berdoa kepada dewa-dewa di langit agar tubuh lemahku dilindungi. Saat pengawal itu menyerang, aku hanya asal mengibaskan ranting karena panik melihat pedang besar. Siapa sangka pedang pengawal itu ternyata keropos dan patah sendiri? Mungkin dia beli di pasar loak."
"Dan Penatua Huo?!" Lin Yue’er melangkah lebih dekat, hingga jarak mereka hanya terpisah beberapa jengkal. Aroma tubuhnya yang harum menusuk hidung Ji Huang. "Kultivator tingkat sembilan tidak akan bersujud karena pedang keropos, Ji Huang!"
Ji Huang tidak mundur, dia hanya bersandar lebih dalam ke kursi bambunya, menatap Lin Yue’er dengan pandangan sayu. "Orang tua itu? Dia kan sudah kakek-kakek, Nona Lin. Kemarin siang cuacanya sangat panas, dan dia melompat-lompat sambil berteriak seperti harimau gila. Jelas saja dia mendadak terkena serangan angin fana, sesak napas, lalu pingsan dan jatuh bersujud ke arahku. Aku bahkan kasihan melihatnya. Makanya kubilang, kultivator zaman sekarang itu kurang istirahat dan kebanyakan minum pil pahit."
Lin Yue’er menatap Ji Huang tanpa berkedip selama hampir satu menit penuh. Jawaban Ji Huang benar-benar bodoh, tolol, dan tidak masuk akal. Tetapi cara Ji Huang menyampaikannya begitu tenang, begitu yakin, dan tanpa ada secercah pun kebohongan fana atau kegugupan di wajahnya.
Bagi orang bodoh, mereka akan mengira Ji Huang bener-bener beruntung. Tetapi bagi Lin Yue’er yang memiliki bakat persepsi yang tajam, sikap "tolol" Ji Huang ini terasa seperti sebuah kabir tebal yang sengaja dipasang untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih besar dan mengerikan di baliknya.
Gaya cueknya, caranya memandang dunia dengan sebelah mata, dan penolakannya yang mutlak terhadap ketenaran... ini bukan sikap seorang sampah. Ini adalah sikap seorang pakar agung yang sudah bosan dengan urusan fana!
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lin Yue’er merasa hatinya berdebar bukan karena cinta, melainkan karena rasa penasaran yang teramat sangat pekat terhadap seorang pria. Ji Huang yang sekarang bagaikan sebuah teka-teki kuno yang diselimuti kabut misteri, sangat kontras, sangat konyol, namun memikat di saat yang sama.
"Begitu ya... keberuntungan murni," Lin Yue’er perlahan mundur satu langkah, sebuah senyuman tipis yang sangat jarang terlihat mendadak merekah di bibir indahnya, membuat kedua pelayannya terperangah syok. "Tuan Muda Ji, aku akan memegang kata-katamu. Tetapi perjodohan kita... aku memutuskan untuk tidak membatalkannya untuk sementara waktu."
Ji Huang yang baru saja akan meneguk araknya langsung tersedak keras. UHUK! UHUK!
Dia menatap Lin Yue’er dengan mata melotot tidak percaya. "Hah?! Apa kamu bilang? Jangan bercanda, Nona Lin! Bukankah kamu sangat membenciku yang dulu? Kenapa sekarang malah tidak mau batal? Menikah itu merepotkan, tahu! Tolong batalkan saja, aku mohon dengan sangat!"
Lin Yue’er tidak menjawab. Dia hanya membalikkan badannya dengan anggun, jubah sutra putihnya berkibar ditiup angin sore. "Aku akan sering datang berkunjung untuk melihat 'keberuntungan' Tuan Muda Ji yang lain di masa depan. Selamat beristirahat siang, Tuan Muda."
Dengan langkah kaki yang ringan dan senyuman misterius, Lin Yue’er berjalan keluar dari halaman kediaman Ji, meninggalkan Ji Huang yang kini duduk melongo di kursi bambunya dengan botol arak yang tergantung lemas di tangannya.
"Sialan..." Ji Huang menepuk jidatnya dengan wajah meratapi nasib yang amat sangat tragis. "Mengapa wanita di dunia fana ini jalan pikirannya rumit sekali? Aku bertingkah konyol agar dia menjauh, kenapa dia malah makin penasaran? Merusak ketenangan rebahanku saja!"