NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:860
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Pagar rumah itu terbuka perlahan dengan bunyi berderit yang samar, seolah ikut merespons perasaan Nayla yang tidak menentu. Gadis itu berdiri diam beberapa detik di depan gerbang besar rumahnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, tempat paling aman untuk kembali tapi justru terasa seperti tempat yang paling ingin ia hindari.

Nayla mengangkat pandangannya.

Rumah itu berdiri megah di hadapannya. Putih, besar, rapi, dan terlihat sempurna dari luar. Siapapun yang melihat pasti akan berpikir betapa beruntungnya orang yang tinggal di dalamnya.

Namun hanya Nayla yang tahu betapa dinginnya tempat itu, betapa sepinya dan betapa menyakitkannya setiap sudut di dalamnya.

Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Ia berusaha menenangkan diri, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa melewati semuanya.

Seperti biasanya.

Selalu seperti itu.

Langkah kakinya mulai bergerak pelan memasuki halaman. Suara sepatu yang beradu dengan lantai keramik terdengar jelas di tengah sunyi malam. Langit sudah gelap, hanya lampu-lampu taman yang menyala redup menerangi jalannya.

Ini sudah malam dan Nayla baru saja pulang dari danau, tempat yang beberapa jam lalu terasa begitu menenangkan.

Tempat di mana ia bisa tertawa.

Tempat di mana ia bisa melupakan semuanya—

Walau hanya sebentar, bersama Endra. Nayla menunduk pelan, mengingat kembali kejadian tadi.

Endra sempat memaksanya untuk ikut masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu bersikeras ingin memastikan Nayla baik-baik saja.

Namun Nayla menolak, bukan karena ia tidak mau ditemani. Tapi karena ia tahu apa yang akan terjadi jika Endra berhadapan dengan papanya.

Ia tidak mau menambah masalah, ia tidak mau melihat Endra dalam bahaya. Meski di sisi lain, ia tahu Endra hanya ingin melindunginya. Dan itu selalu berhasil membuat Nayla bertahan.

Langkah Nayla sampai di teras rumah. Ia berhenti sejenak di depan pintu utama. Tangannya menggantung di udara, ragu untuk menyentuh gagang pintu. Seolah begitu pintu itu terbuka semua kenyataan akan langsung menghantamnya tanpa ampun.

Namun ia tidak punya pilihan.

Ini rumahnya.

Atau setidaknya tempat di mana ia harus kembali.

Perlahan, Nayla membuka pintu.

Ceklek.

Pintu terbuka dan seperti yang sudah ia duga, sepi.

Tidak ada suara.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada kehangatan.

Hanya beberapa pekerja rumah yang terlihat sibuk dengan tugas masing-masing. Mereka sekilas melirik, lalu kembali melanjutkan pekerjaan seolah Nayla tidak lebih dari bayangan yang lewat.

Nayla tersenyum tipis.

Kering.

Ia sendiri tidak tahu kenapa masih berharap.

Padahal sudah jelas rumah ini memang selalu seperti ini. Bahkan saat makan malam bersama pun, semuanya terasa seperti formalitas.

Tidak ada obrolan hangat.

Tidak ada tawa.

Begitu selesai semua langsung kembali ke dunia masing-masing.

Seperti orang asing yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama. Rumah ini lebih mirip tempat singgah.

Bukan tempat pulang.

“Rumah dibangun untuk menciptakan lapangan kerja…”

Nayla berbisik pelan.

Kalimat itu terasa lebih masuk akal.

Karena yang hidup di dalamnya bukan keluarga, tapi sistem.

Tanpa sadar, langkah Nayla sudah sampai di depan tangga. Ia hendak naik, ingin segera mengunci diri di kamarnya dan menjauh dari semuanya.

Namun langkahnya terhenti. Matanya menangkap sosok seseorang di ruang tengah.

Seorang laki-laki.

Berpakaian serba hitam.

Jaket hitam.

Kaos hitam.

Celana jeans hitam.

Berdiri dengan santai, namun aura yang ia bawa tidak pernah benar-benar bisa ditebak.

Jevan.

Kakak pertamanya.

Nayla menatapnya sekilas lalu membuang pandangannya. Seperti biasa, tidak ada sapaan.

Tidak ada kata.

Tidak ada hubungan.

Padahal mereka saudara.

Namun rasanya seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama. Nayla bahkan tidak tahu apa yang sering dilakukan Jevan di luar. Ia sering pulang larut malam. Kadang bahkan dini hari.

Pernah sekali Nayla melihatnya pulang pukul dua pagi, dengan wajah lelah namun tetap dingin.

Jevan adalah teka-teki. Dan Nayla sudah terlalu lelah untuk mencoba memahaminya.

Mereka saling melewati.

Tanpa menyentuh.

Tanpa menyapa.

Tanpa peduli.

Seolah keberadaan satu sama lain tidak berarti.

Nayla mempercepat langkahnya, ia hanya ingin sampai ke kamar.

Mengunci pintu dan menangis dalam diam seperti biasanya.

Namun langkahnya kembali terhenti. Suara itu, suara perdebatan kemudian disusul tangisan.

Dari arah ruangan orang tuanya.

Jantung Nayla berdegup kencang.

Kakinya terasa berat namun entah kenapa ia melangkah mendekat.

Pelan.

Hati-hati.

Seolah takut suara langkahnya terdengar karena kamar orang tuanya memang berlawanan arah dengan kamarnya. Dan ia seharusnya tidak berada di sana. Namun rasa penasaran atau mungkin rasa takut membuatnya tetap berdiri di dekat pintu.

“Mau sampai kapan?!” suara perempuan itu pecah.

Mama.

“...Nayla itu anak kandung kamu! Setidaknya jangan lukai dia demi aku!”

Nayla membeku.

Napasnya tertahan.

“Aku sudah cukup!” bentakan papanya terdengar.

“Luka itu masih ada, Nova! Bahkan ninggalin bekas!”

“Aku sudah bilang semuanya itu tidak benar!” suara mamanya bergetar. “Itu fitnah! Kenapa kamu masih percaya?!”

“Jangan cari alasan kalau bukti sudah jelas!”

“Jangan siksa dia lagi… aku mohon…”

Tangisan itu semakin jelas dan Nayla tidak bisa bergerak, kakinya seperti tertancap di lantai.

“Saya sudah memaafkan kamu…” suara papanya dingin. “…tapi tidak dengan anak itu.”

Dunia Nayla seakan berhenti. Tapi mamanya masih bicara, masih memohon.

“Dia anak kamu… darah daging kamu… dia tidak salah… tolong berhenti…”

Namun yang datang bukan jawaban, melainkan ancaman.

“Berhenti memohon untuk dia!” suara papanya meninggi. “Kalau kamu tidak mau anak bajingan itu aku musnahkan!”

Deg.

Nayla menutup mulutnya. Air mata langsung mengalir tanpa bisa ditahan. Kepalanya menggeleng.

Tidak.

Tidak mungkin.

Itu tidak benar.

Itu tidak mungkin, namun suara itu terlalu jelas.

Terlalu nyata.

“Anak bajingan…”

Kalimat itu terngiang di kepalanya.

Berulang.

Menusuk.

Menghancurkan.

Apa maksudnya?

Apa arti semua ini?

Apakah…

Apakah selama ini ia bukan anak kandung papanya?

Tubuh Nayla melemas.

Tangannya gemetar.

Ia ingin pergi.

Ia harus pergi.

Namun kakinya tidak mau bergerak. Air matanya jatuh semakin deras. Dan akhirnya ia memaksa.

Satu langkah mundur.

Lalu satu lagi.

Dan satu lagi.

Ia harus pergi dari sana.

Sekarang.

Sebelum semuanya benar-benar menghancurkannya. Namun saat ia berbalik ia terdiam. Sosok itu berdiri tepat di belakangnya.

Devan.

Dengan pakaian rumah dan wajah yang basah. Seolah ia juga menangis, tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya tidak ada amarah di mata Devan.

Tidak ada kebencian.

Yang ada hanya sesuatu yang sulit dijelaskan. Namun Nayla tidak punya waktu untuk memahaminya.

Pikirannya kacau.

Dadanya sesak.

Dunianya runtuh.

Tanpa mengatakan apapun ia berlari menuruni tangga.

Cepat.

Tanpa arah.

Tanpa tujuan.

Ia bahkan tidak peduli masih mengenakan seragam. Tidak peduli dengan siapa pun yang melihat. Yang ia tahu hanya satu ia harus pergi dari rumah itu.

Dari semua itu.

Dari kenyataan yang baru saja menghancurkannya.

Air matanya terus mengalir, langkahnya semakin cepat. Dan dalam pikirannya hanya ada satu pertanyaan.

Yang terus berulang.

Tanpa jawaban.

Apakah selama ini ia bukan anak kandung papanya?

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!