Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALAN-JALAN
Naya melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang kini sudah dipenuhi uap hangat beraroma menenangkan.
"Wah, makasih banyak ya, Bi. Aromanya enak banget," seru Naya tersenyum lebar.
"Sama-sama, Nona Naya. Kalau begitu, saya permisi tunggu di luar kamar ya, kalau Nona butuh bantuan atau sudah selesai, panggil saja saya," ucap pelayan itu ramah sebelum berjalan keluar dan menutup pintu kamar mandi dengan rapat.
Setelah memastikan pintu terkunci, Naya perlahan melepas dasternya dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam air hangat.
Sensasi nyaman langsung menyergap seluruh otot tubuhnya yang tegang setelah pertarungan brutal kemarin sore.
"Haaaah... nikmat banget," gumam Naya sambil memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya di pinggiran bathtub.
Tangannya bergerak perlahan di bawah air, mengusap perut buncitnya yang kini terasa jauh lebih ringan.
Anehnya, setiap kali dia berendam atau beristirahat, dia bisa merasakan getaran energi kecil dari dalam rahimnya, seolah bayi di dalamnya juga sedang ikut menikmati air hangat.
"Kamu suka ya di dalam sana? Nyaman banget kayaknya," bisik Naya sambil tersenyum kecil, berbicara pada perutnya sendiri.
"Tapi jujur ya, Ibu masih syok, Ayah kamu itu ternyata monster taring, serem banget kalau dipikir-pikir," curhat Naya pada anaknya.
Dug
Perut Naya tiba-tiba berkedut pelan, memberikan tendangan kecil yang lembut sebagai balasan ucapan ibunya.
"Eh, kamu nendang? Berarti kamu belain ayahmu, ya? Dasar anak durhaka, baru juga di dalam perut belum lahir," ucap Naya tertawa, sudah melupakan rasa takut nya pada ayah bayi nya yang ternyata bukan manusia biasa.
Naya menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit untuk berendam sampai rasa pegal di pinggangnya benar-benar berkurang.
Setelah dirasa cukup, dia menyabun diri dan membilas tubuhnya dengan cepat.
Selesai mandi, Naya meraih handuk dan melilitkannya ke tubuh, lalu berjalan keluar dari kamar mandi dengan langkah yang sangat hati-hati agar tidak terpeleset.
Begitu membuka pintu kamar mandi, Naya terkejut melihat dress cantik berwarna biru muda sudah disiapkan di atas kasur, lengkap dengan pakaian dalam yang baru.
"Pelayan di sini sigap banget, ya. Padahal aku belum minta baju ganti," gumam Naya sambil memakai baju tersebut.
Setelah selesai berpakaian dan menyisir rambutnya yang setengah basah, Naya berjalan menuju pintu kamar utama.
Rasa bosan mulai menyerangnya karena terus-menerus dikurung di dalam ruangan yang luas ini, dia ingin melihat seperti apa isi mansion ini.
CEKLEKK
Naya membuka pintu kamar nya perlahan dan melongok kan kepalanya keluar, di sepanjang koridor yang luas, suasananya sangat sepi dan bersih mengkilap.
"Nona Naya? Anda sudah selesai mandinya?"
Naya menoleh ke arah kanan dan mendapati pelayan paruh baya yang tadi sudah berdiri di dekat dinding koridor sambil tersenyum ramah.
"Eh, iya Bi, sudah," jawab Naya agak canggung.
"Oh ya, aku bosan di dalam kamar terus. Boleh gak kalau aku jalan-jalan ke lantai bawah? Atau keliling mansion ini sebentar?" tanya Naya, padahal dirinya adalah Nyonya rumah nya.
"Tentu saja boleh, Nona. Yang Mulia Alexander sudah berpesan bahwa Anda bebas pergi ke mana saja di dalam mansion ini," jawab Pelayan itu membungkuk pelan.
Naya mengembuskan napas lega, akhirnya, ada sedikit kebebasan.
"Makasih ya, Bi. Oh iya, siapa nama Bibi? Dari tadi aku panggil Bibi terus, kayaknya kurang sopan," tanya Naya melihat wanita paruh baya itu.
"Panggil saya Bibi Sari saja, Nona. Itu sudah lebih dari cukup," jawab Pelayan itu menunduk sopan, senyumnya tetap ramah.
"Oke, Bibi Sari. Kalau gitu, aku mau keliling ya. Bibi nggak usah ikut, aku cuma mau jalan-jalan santai kok," ucap Naya sambil melangkah mantap menyusuri mansion Alexander yang lantainya terasa sangat dingin di balik sandal rumah yang dia kenakan.
Naya menyusuri mansion Alexander yang luas dengan dinding-dinding penuh lukisan klasik yang megah, dia merasa seperti sedang berada di dalam museum daripada rumah tinggal.
Saat mencapai puncak tangga besar, dia melihat seorang pria bertubuh tegap berdiri di bawah sana, rambutnya dicukur rapi dan dia mengenakan setelan jas formal berwarna gelap.
Itu pasti James, si tangan kanan yang dibilang Alexander.
Naya menuruni anak tangga dengan perlahan, begitu sampai di lantai bawah, pria itu langsung membungkuk dalam-dalam.
"Selamat pagi, Nona Naya. Saya James. Ada yang bisa saya bantu?" sapa James dengan nada yang kaku tapi sangat hormat.
"Ah, James ya? Tadi Alexander bilang kalau aku mau jalan-jalan, aku bisa minta ditemenin sama kamu, tapi kalau kamu sibuk, nggak apa-apa kok," ucap Naya menatap James dengan sedikit rasa sungkan.
"Tugas utama saya sekarang adalah memastikan kenyamanan dan keamanan Nona. Ke mana Anda ingin pergi?" jawab James menggeleng cepat.
Naya mengedarkan pandangannya ke ruangan luas yang tampak seperti ruang tamu utama dengan jendela-jendela besar yang memperlihatkan pemandangan taman belakang yang sangat luas.
"Aku mau ke taman itu. Boleh?" tanya Naya.
"Tentu, Nona. Mari saya antar," jawab James sopan.
James memandu Naya melewati pintu kaca besar yang langsung terhubung ke taman mansion.
Begitu pintu terbuka, udara segar pagi hari langsung menyambut mereka, taman itu sangat indah, dipenuhi bunga-bunga yang mekar dan pepohonan rindang.
Naya berjalan perlahan, menikmati udara bersih yang terasa sangat berbeda dengan kepenatan di penthouse nya kemarin, dia duduk di bangku taman yang terletak di bawah pohon besar.
"Nona, apakah Anda membutuhkan camilan atau minuman? Saya bisa segera menyiapkannya," tanya James yang berdiri tidak jauh dari bangkunya, tetap berjaga dengan sigap.
James, jangan berdiri di situ terus, duduk aja kali. Aku nggak akan lari kok, lagian perut aku udah segede gini, mau lari ke mana coba?" ucap Naya melirik James, merasa sedikit tidak enak melihat pria itu terus berdiri tegak.
"Terima kasih atas perhatiannya, Nona, tapi saya lebih nyaman berdiri, ini sudah menjadi tanggung jawab saya," jawab James, sopan.
"Jujur aku masih bingung dengan semua ini, kemarin Alexander bilang aku Ratu-nya, hari ini dia bilang anak ini penerusnya. Jujur aja, aku masih bingung harus bersikap gimana sama dia," ucap Naya mengusap perutnya yang tiba-tiba bergerak sedikit.
"Yang Mulia jarang sekali menaruh perhatian pada siapa pun, Nona. Apa yang Anda lihat dan rasakan, itu adalah cara beliau menunjukkan bahwa Anda sangat berharga baginya," ucap James melangkah sedikit mendekat, suaranya kini lebih santai.
Naya terdiam, menatap bunga-bunga yang bergoyang tertiup angin.
"Tapi aku berbeda dengan kalian, aku hanya manusia biasa, aku punya kehidupan sendiri sebelum semua ini terjadi. Dia tiba-tiba datang, bikin hidup aku jungkir balik, dan sekarang aku di sini, hamil anak seorang vampir," ucap Naya pelan.
makasih ka author, semangat terus sehat selalu. 🙏🙏
semangat ka 💪💪💪💪