NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|32|Sesal Yang Tertunda

Tiga hari setelah Aruna pulang.

Siang itu matahari di Skyline terik. Aruna baru selesai bersih-bersih di dapur rumah barunya, saat bel berbunyi. Ia buka pintu.

Kurir dengan map cokelat di tangan. “Undangan atas nama Bapak Wijaya.”

Tangan Aruna berhenti. Ia tahu isi map itu tanpa perlu buka.

Di ruang tamu, Wijaya duduk di sofa, napasnya sudah lebih teratur. Bayu lagi bantu pasang tirai.

“Undangan apa, Run?” tanya Wijaya.

Aruna ragu sedetik. Lalu ia buka map itu.

Kartu tebal, warna emas. Tulisan timbul.

“Devara Mahesa dan Alana Utamo. Dengan penuh bahagia mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i pada resepsi pernikahan kami…”

Udara di ruangan mendadak berat.

Wijaya mengambil undangan itu dari tangan Aruna. Jarinya gemetar. Ia baca pelan. Lalu mendadak… ia tertawa kecil.

“Anak itu,” bisiknya. “Akhirnya dia mau menikah juga.”

Aruna menatapnya bingung.

Wijaya mendongak. Matanya berkaca. “Aku belum ketemu dia sejak di New York. Dulu waktu sekarat, dia yang urus semuanya. Diam-diam. Nggak pernah minta pujian. Aku dengar dari Marisa.”

Wijaya berdiri, meski masih pakai tongkat. “Kita harus datang. Aku mau peluk anak itu. Dia udah dewasa.”

Aruna tercekat. “Pa…”

“Apa?” Wijaya menoleh.

Aruna tidak bisa jawab. Karena di kepalanya masih ada ingatan: Devara mencekiknya di kamar, Devara mengurungnya, Devara berbisik “Kamu milik saya”. dengan mata merah.

Tapi Wijaya tidak tahu.

............

Hari H. Gedung resepsi, malam.

Aruna tidak mau datang. Tapi Wijaya ngotot. “Ini hari bahagia anak itu, Run. Kita harus ada.”

Jadi mereka datang. Wijaya pakai jas. Aruna pakai dress sederhana warna navy. Bayu di sampingnya, waspada.

Begitu masuk, semua mata tertuju ke Wijaya. Tamu-tamu berbisik. “Itu Pak Wijaya… bukannya…”

Lalu Devara muncul.

Jas hitam rapi. Wajah datar. Di sebelahnya Alana tersenyum sempurna.

Wijaya langsung maju. Tanpa pikir panjang, ia memeluk Devara erat. Sangat erat. Seperti memeluk anaknya sendiri.

“Terima kasih, Devara,” bisik Wijaya. Suaranya pecah. “Terima kasih udah jaga Aruna waktu Aku nggak bisa jaga dia”

Devara kaku. Tubuhnya tegang. Ia tidak balas pelukan itu. Hanya berdiri kaku, mata menatap lurus ke atas kepala Wijaya.

Di belakang Wijaya, Aruna menunduk. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Karena jarak mereka cuma dua meter. Karena bau parfum Devara masih sama.

Devara melirik ke arah Aruna. Sekilas. Tatapan itu dingin. Jauh. Seperti menatap orang asing.

Dan itu lebih sakit daripada tatapan marah.

Resepsi berjalan.

Makan. Sambutan. Tawa.

Wijaya duduk di meja utama, wajahnya sumringah. Ia masih cerita ke Marisa betapa bangganya dia sama Devara.

Aruna duduk di pojok, diem. Bayu nemenin, tapi ia tahu Bayu juga ngerasa nggak enak.

Sampai Alana naik ke panggung. Ambil mikrofon. Tersenyum manis.

“Aku mau berterima kasih ke satu orang,” katanya. “Ke Devara. Karena dia yang sabar menghadapi aku, menjaga aku"

"Bukannya Aruna mantan istri Devara ya, cepet banget baru cerai langsung nikah lagi" para tamu berbisik tepat dibelakang Wijaya.

Wijaya dengar dengan jelas, nafasnya perlahan mulai sedikit sesak. Ia menoleh ke Aruna. “Menikah..?, apa maksut dari orang-orang itu Run?”

Aruna menelan ludah. “Nggak, Pa. Nggak bener” sambil menggeleng cepat.

Alana berjalan mendekati Wijaya setelah melihat kepanikan dari Aruna. Ia lanjut bicara, tanpa sadar “Ya ampun, Pak Wijaya belum tahu ya? Aruna kan nikah kontrak demi lunasin utang anda.. Dia jual diri.” tertawa hambar.

Waktu berhenti.

Wijaya menatap Aruna. Lalu menatap Devara.

“Aruna,” suaranya bergetar. “Dia… kamu?”

Aruna tidak jawab. Air matanya jatuh.

Dan cukup.

Wajah Wijaya memucat. Tangannya mencengkeram dada. Napasnya tersengal.

“Pa!” Aruna berteriak.

Wijaya jatuh dari kursi.

Gedung mendadak gaduh. Teriakan. Kursi berjatuhan. Marisa menjerit.

Bayu langsung angkat Wijaya. “Ambulans! Sekarang!”

Dan di tengah kekacauan itu, mata Aruna bertemu mata Devara.

Untuk pertama kalinya malam itu, Devara bergerak.

Wajahnya hilang kaku. Yang ada cuma panik. Panik asli. Bukan akting.

Ia menerobos kerumunan, mendorong kursi, lari ke arah Wijaya yang sudah tergeletak.

“Pak!” teriak Devara. Suaranya pecah.

Tapi petugas medis sudah datang. Mendorong brangkar masuk. Wijaya dibawa keluar, wajahnya pucat, tangannya masih berusaha meraih Aruna.

Devara berhenti di tengah jalan. Ia menatap punggung Wijaya yang dijauhkan darinya.

Lalu ia menatap Aruna.

Dan untuk pertama kalinya, Devara Mahendra lari keluar dari acaranya sendiri. Meninggalkan Alana. Meninggalkan tamu. Meninggalkan pernikahannya yang akan berlangsung setengah jam lagi.

Karena ia tahu, jantung Wijaya kumat… karena ulahnya.

Devara keluar dari gedung resepsi seperti orang kesetanan.

Udara malam Skyline menghantam wajahnya, tapi ia tidak merasa dingin. Dadanya sesak. Matanya panas. Di kepalanya cuma ada satu suara Gara-gara gue. Jantung Pak Wijaya kumat gara-gara gue.

HP di sakunya bergetar tanpa henti. Sekali. Dua kali. Sepuluh kali. Nama Alana berkedip di layar.

Ia tarik HP itu, angkat tangan—

BRAKK!

HP itu terhempas ke aspal. Layar pecah. Baterai mental. Bergetar terakhir kali sebelum mati.

“Brengsek!” teriaknya.

Suara itu pecah, keras, bikin beberapa tamu yang masih di lobi menoleh.

Alana keluar nyusul. Gaun putihnya kusut. “Devara! Kamu mau ke mana?! Tamu masih—”

“Aku ke rumah sakit!” bentaknya tanpa nengok. “Pak Wijaya masuk ICU gara-gara aku!”

Alana terdiam. Wajahnya pucat. “Tapi pernikahan kita—”

“SAYA GAK PEDULI!”

Suaranya menggema di parkiran. Kunci mobil di tangannya bergetar.

Ia masuk mobil, injak gas sampai ban menjerit. Di belakang, Alana masih berdiri kaku, gaun pengantinnya kotor kena aspal.

RS Skyline, 20 menit kemudian.

Devara parkir sembarangan. Lari masuk IGD tanpa peduli orang liat.

“Wijaya! Pak Wijaya di mana?!” bentaknya ke suster.

“Pak, tenang dulu—”

“SAYA BILANG DI MANA?!”

Suster itu terkejut. Salah satu dokter satpam langsung narik lengannya. “Pak Devara, kalau Bapak bikin gaduh, kami usir.”

Tapi sebelum satpam sempat nyentuh, suara Aruna muncul dari belakang.

“Devara, cukup.”

Devara menoleh.

Aruna berdiri di depan pintu ICU. Rambutnya berantakan. Matanya bengkak. Bayu di sampingnya, muka tegang. Marisa duduk di kursi, menutup wajah.

Devara melangkah maju. “Dia gimana?”

Aruna menatapnya lama. Lama banget. Sampai Devara ngerasa ditusuk.

“Denyut jantungnya nggak stabil,” jawab Aruna pelan. “Dokter masih usaha.”

Devara mengangguk. Tangannya mengepal. "...maaf.”

“Maaf?” Aruna tertawa kecil. Suaranya pecah. “Anda pikir maaf bisa balikin jantung Papa, Dev?”

“Aku nggak tahu Alana bakal ngomong gitu di depan Wijaya,” desis Devara. “Sumpah, aku nggak—”

“ Alana benar, Istri kamu gak salah. Tapi seharusnya dia gak bilang itu didepan papa!” teriak Aruna akhirnya pecah juga. “Kamu yang ngurung aku, kamu yang nahan aku, kamu yang bikin aku kayak tawanan! Dan sekarang Papa tahu, terus dia jatuh gara-gara aku!”

Devara terdiam. Rahangnya mengeras. Ia mau jawab, tapi nggak ada kata yang cukup.

Dari dalam ICU, bunyi alat kedip makin cepat. BIP. BIP. BIP.

Suster lari masuk. “Dokter, pasien drop!”

Warna di wajah Devara hilang.

Ia mundur selangkah. Sandar ke dinding. Geser turun sampai duduk di lantai.

HP-nya masih bergetar di saku jas, padahal udah pecah. Bunyi berisik, nyaring, nggak berhenti.

Ia cabut HP itu, genggam, lalu banting lagi ke lantai.

Kali ini sampai hancur berkeping.

Aruna menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia nggak lihat Devara yang dingin, yang mengendalikan. Ia lihat pria yang hancur. Yang takut. Yang baru sadar kalau dendamnya bisa bunuh orang.

Di dalam ICU, alarm masih berbunyi.

Dan Devara hanya bisa duduk di lantai, kepala di tangan, menunggu kabar yang mungkin akan menghukumnya seumur hidup.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!