NovelToon NovelToon
Ku Pilih Takdirku Sendiri

Ku Pilih Takdirku Sendiri

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir Kisah

Aula utama Grand Ballroom di Hotel Mulia Jakarta telah bertransformasi menjadi sebuah taman surga vertikal. Ribuan bunga mawar putih murni, aster, dan anggrek bulan segar yang diimpor langsung dari Belanda bergantung indah di langit-langit langit, menyebarkan aroma harum yang menenangkan ke setiap sudut ruangan. Cahaya lampu gantung kristal raksasa berpendar lembut, memantulkan kilau keemasan di atas karpet beludru merah maroon yang membentang dari pintu utama hingga ke pelataran pelaminan.

Hari ini adalah puncak dari segala badai, air mata, dan konspirasi berdarah yang selama bertahun-tahun mengoyak jiwa Sintia Arunika. Hari ini, di bawah saksi mata para kolega bisnis papan atas, pemuka agama, dan puluhan kamera media yang berjaga dengan tertib, sebuah lembaran takdir yang baru siap dipahat.

Di tengah-tengah aula, sebuah meja kayu jati putih berukir khas nusantara telah disiapkan untuk prosesi yang paling sakral: Akad Nikah.

Kenzi Hutama duduk dengan posisi tegak, memancarkan aura wibawa maskulin yang begitu megah. Pria oriental itu mengenakan beskap tradisional Jawa modern berwarna putih tulang dengan sulaman benang emas yang rumit di bagian kerah, dipadukan dengan kain batik tulis bermotif Sido Mulyo—sebuah lambang pengharapan akan kemuliaan dan kebahagiaan hidup yang langgeng. Meskipun wajahnya tampak tenang secara profesional, ketegangan emosional yang teramat pekat tersirat dari helaan napasnya yang berat dan jemarinya yang sesekali bertautan kuat.

Di hadapannya, duduk sang penghulu dari Kantor Urusan Agama, didampingi oleh Bramantyo yang bertindak sebagai wali hakim, serta beberapa saksi kehormatan dari jajaran direksi Hutama Group.

Pintu ganda aula perlahan terbuka lebar. Alunan lembut musik kecapi dan suling Sunda yang syahdu mulai mengalun, menggetarkan sanubari siapa saja yang mendengarnya.

Sintia Arunika melangkah masuk dengan keanggunan seorang ratu sejati. Ia mengenakan kebaya kebaya brokat panjang sewarna dengan beskap Kenzi, yang melekat indah di tubuhnya yang anggun. Rambut hitamnya disanggul rapi dengan hiasan ronce melati yang menjuntai di bahunya, menyebarkan keharuman suci di setiap langkah kaki yang ia ambil. Di samping kirinya, Arka berjalan kecil dengan setelan jas mini berwarna hitam, jemari mungilnya menggenggam erat tangan Sintia, bertindak sebagai perisai kecil sekaligus pengantar sang bunda menuju pelaminan kebahagiaan.

Sintia duduk di samping Kenzi. Detik itu juga, atmosfer di sekitar meja akad mendadak berubah menjadi sangat intens, sarat akan muatan emosional yang meluap-luap.

****

"Saudara Kenzi Hutama bin Abraham Hutama," suara sang penghulu bergaung melalui pengeras suara, terdengar berat dan khidmat. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Sintia Arunika binti Ahmad Wijaya dengan maskawin berupa logam mulia seberat seratus gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."

Kenzi menarik napas dalam-dalam, mengunci pandangan matanya pada wajah Sintia yang berada di sampingnya. Dengan satu hentakan napas yang mantap, rahang tegasnya mengatup sebelum ia menyuarakan janji setianya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Sintia Arunika binti Ahmad Wijaya dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" ucap Kenzi dengan satu tarikan napas yang sangat lantang, tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"SAH!"

Seketika itu juga, air mata Sintia Arunika yang sejak tadi ia tahan di pelupuk matanya tumpah tak terbendung lagi. Sintia nampak berderai air mata saat Kenzi mengucapkan ijab kabul dengan begitu lancar dan penuh penekanan jiwa. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan wajah, membiarkan tangis keharuannya pecah tanpa suara di sela alunan doa yang dipanjatkan oleh penghulu.

Suasana sangat penuh dengan haru biru. Air mata yang mengalir di pipi Sintia sore ini bukan lagi air mata kepedihan akibat dikhianati oleh Rian, bukan pula air mata ketakutan akibat racun Suci. Ini adalah air mata pembebasan. Sintia merasa bahwa ia diberikan kesempatan kedua untuk menemukan kebahagiaannya dengan Kenzi yang tulus—pria yang selama tujuh tahun ini rela membuang egonya, bertahan dalam keheningan, dan tetap menggenggam wasiat mendiang ayahnya demi melindunginya di saat dunia menghempaskannya ke dalam lumpur penderitaan.

Kenzi berbalik badan, mengulurkan tangan kanannya. Sintia, dengan jemari yang masih bergetar hebat, menyambut tangan kokoh itu dan mencium punggung tangan suaminya dengan penuh takzim. Kenzi kemudian mengecup kening Sintia dengan kelembutan yang begitu dalam, sebuah kecupan sakral yang meruntuhkan seluruh sisa trauma masa lalu Sintia, menyatukan dua jiwa yang sempat terpisah oleh kejamnya badai takdir.

Arka yang duduk di kursi samping mendongak, wajah polosnya memancarkan senyuman paling tulus yang pernah ia miliki. Ia tidak lagi melihat bayangan ketakutan; di dalam pelukan hangat Sintia dan dekapan kuat Kenzi, bocah itu tahu bahwa ia telah menemukan rumah yang sesungguhnya.

****

Sementara gema kebahagiaan dan tawa suka cita memenuhi ruang ballroom mewah hotel bintang lima, sebuah pemandangan yang seratus persen bertolak belakang sekaligus mengerikan terjadi di dalam sel isolasi Lembaga Pemasyarakatan Wanita Pondok Bambu.

Udara di dalam sel berukuran dua kali dua meter itu terasa sangat pengap, berbau lembap dan pesing yang pekat. Suci Wahyuni duduk meringkuk di sudut lantai semen yang retak-retak. Seragam tahanan berwarna oranye yang longgar membungkus tubuhnya yang kini tampak kurus kering bagai tengkorak hidup. Sepasang mata elangnya yang dulu memancarkan pesona manipulatif yang beringas, kini tampak cekung, merah, dan dipenuhi oleh delusi kegilaan yang akut.

Sejak semua dokumen pembuktian forensik mengenai racun sianida di gelas Sintia dinyatakan valid oleh pengadilan, dan seluruh jaringan koneksi gelapnya memutuskan hubungan, Suci menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa keluar dari tempat terkutuk ini. Ancaman hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati telah mengunci rapat-rapat masa depannya.

"Sintia... Kenzi... Hari ini kalian menikah, kan? Kalian tertawa di atas penderitaanku..." bisik Suci, suaranya berupa desisan parau yang merindingkan kuduk, bergetar di antara kesunyian sel.

Ia menatap selembar kain seprai tempat tidur yang telah ia robek-robek dan ia lilitkan menjadi sebuah tali tambang darurat yang tebal. Kegilaan di dalam otaknya telah mencapai titik nadir. Baginya, daripada harus membusuk di dalam sel yang kotor, melihat Sintia menguasai Kenzi dan membesarkan Arka sebagai anak orang kaya, lebih baik ia mengakhiri semuanya dengan tangannya sendiri—sebuah bentuk penolakan terakhir terhadap takdir kekalahannya.

Dengan mata yang melotot liar penuh dendam yang mengkristal, Suci berdiri di atas ember plastik yang dibalik. Ia mengalungkan ujung tali kain itu ke lehernya, mengikatkannya pada jeruji besi ventilasi atas sel.

"Aku tidak kalah... Aku tidak akan pernah membiarkan kalian melihatku membusuk di sini... Aku akan menghantui kalian sampai ke neraka!" jerit Suci dalam hati.

BRAKK!

Ember plastik itu ditendang kasar. Tubuh Suci Wahyuni tersentak hebat, bergelantungan di tengah udara sel yang sunyi. Napasnya tercekik, wajah cantiknya membiru seketika dengan lidah yang menjulur paksa keluar, menahan rasa sakit yang teramat sangat selama beberapa detik sebelum akhirnya seluruh denyut nadinya berhenti total.

Sementara Suci Wahyuni tewas bunuh diri di sel tahanannya, tidak ada satu orang pun yang menangisi kepergiannya. Wanita ular yang sepanjang hidupnya menggadaikan nurani demi kemewahan materi itu akhirnya mati dalam kesendirian yang paling mutlak, meninggalkan jasadnya yang kaku berayun di balik jeruji besi sebagai tumbal dari keserakahannya sendiri.

****

Di sudut lain ibu kota, tepat di depan sebuah layar televisi besar yang terpasang di etalase sebuah toko elektronik di pinggir jalan raya yang berdebu, dua sosok manusia berdiri mematung di bawah terik matahari yang menyengat.

Alfandi Rian Mahesa, sang mantan suami, berdiri dengan pakaian yang teramat lusuh. Kemejanya robek di bagian lengan, jalannya agak pincang, dan wajahnya dipenuhi flek hitam akibat terlalu sering terpapar debu jalanan. Di sampingnya, Anne, sang ibu yang rambut putihnya mencuat kusut tak terurus, berdiri sambil memegangi sebuah bungkusan plastik berisi nasi bungkus sisa yang mereka dapatkan dari belas kasihan orang.

Sepasang mata mereka yang cekung menatap nanar ke arah layar televisi yang sedang menyiarkan secara langsung prosesi pernikahan megah Sintia Arunika dan Kenzi Hutama. Di layar itu, Sintia tampak begitu cantik bak bidadari, tersenyum bahagia sambil menggandeng tangan Kenzi dan memeluk Arka di atas pelaminan yang bertabur bunga seharga miliaran rupiah.

"Rian... Lihat itu, Rian..." ratap Anne, suaranya melengking pilu, gemetar oleh rasa sesal dan jilatan keserakahan yang terlambat. Ia mencengkeram lengan kurus anaknya hingga kukunya yang kotor menusuk kulit Rian. "Itu Sintia... Mantan menantuku yang dulu selalu baik padaku, yang selalu membelikan aku perhiasan emas... Dia sekarang menikah dengan pemilik Hutama Group! Dia kaya raya, Rian! Kenapa... Kenapa bukan kita yang ada di sana?!"

Rian tidak menjawab. Air mata penyesalan yang teramat panas mengalir bebas melewati pipinya yang kusam dan kotor. Dadanya terasa sesak, bagai dihantam oleh gada besi yang sangat besar. Ia mengingat bagaimana dulu ia dengan angkuh melemparkan surat cerai ke wajah Sintia, bagaimana ia mengusir wanita suci itu demi mengejar nafsu sesaat bersama Suci yang berujung pada kebangkrutan mutlak.

"Sudah terlambat, Bu... Sudah habis semuanya..." bisik Rian, suaranya tercekat di tenggorokan, terdengar seperti rintihan anjing yang sekarat di tepi selokan.

Di atas pelaminan megah Grand Ballroom, Sintia Arunika bersandar di dada bidang Kenzi Hutama. Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit biru yang cerah, tersenyum lega mengetahui bahwa keadilan Tuhan telah tunai ditegakkan. Badai telah berlalu, racun telah musnah, dan kini, di bawah naungan cinta Kenzi yang tulus, ia akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya yang abadi.

TAMAT

1
A.R
jangan jdi org yg baik hati mau mengadopsi anak dari mantan suami mu,itu tanda km blum move on Krn wajah anak itu sebelas duabelas sama mantan suami mu,jadi perempuan jgn lemah atau merasa ibah,,,
cinta semu 2
keluarkan sumpah serapah u wahai istri sah ...jgn takut & gentar ..Krn semesta ikut terluka melihat istri sah terzolimi ...biarkan keluarga Rian menuai badai ....
Anonim
KAU DULU YANG AKAN MATI LAKNATULLAH..
Li Qiqiu
bakar 🔥🔥🔥🔥
Li Qiqiu
Astaga...
astaga
btw, kak. aku suka gaya cerita kakak...
falea sezi
lanjut
Mumtaz Zaky
kok kenji payah. kan dia berkuasa masa lawan satu cewe aja gak bisa
SisAzalea
hanya Rian si bodoh yg tergiur pada perempuan murahan seperti mu Suci
Rani Saraswaty
kenzi loo kn sdh di cekoki obt gk jls itu, knp msh anteng aja sih...kyk dibiarin kliaran biar bs bls yaa🙄
Arieee
bagus,, 👍👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Ma Em
Si Suci sdh gila otaknya konslet mau berbuat apa saja demi menyingkirkan Sintia agar Suci bisa bersama Kenzi , semoga Sintia selamat dan minuman yg sdh ada racun nya tersenggol atau gimana asal tdk diminum oleh Sintia .
Anonim
BUNUH ANAK HARAM ITU SINTIA.. KELAK DIA YANG AKAN MEMBALAS KAN DENDAM PADAMU
Ma Em
Semoga tdk berhasil Suci jebak Kenzi cepatlah orang datang keruangan Kenzi untuk menolong Kenzi dari jerat licik si Suci , lalu Suci jebloskan saja ke penjara .
Ma Em
Kesombongan Rian dan gundiknya runtuh setelah pengacara Sintia membacakan tuntutan dari Sintia , makanya kalau Rian kalau usaha modal dari itu jgn merasa berkuasa diambil sama yg punya Rian bisa bangkrut baru Rumah an baru sadar dan menyesal .
Ma Em
Semangat Sintia rebut kembali harta dan uang yg sdh dipakai membangun rumah dan uang untuk membantu Rian kuras habis jgn sampai tersisa buat Rian dan Suci juga Bu Ane jadi gembel .
Ma Em
Seru Thor , ditunggu balas dendam untuk Rian, Suci juga Bu Ane dari Sintia buat mereka menangis darah Sintia , buat Rian hdp nya jadi gembel agar Sintia puas melihat Rian dan Suci hdp nya menderita .
Serena Muna: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!