NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

​"Eh, gue denger-denger katanya kelas kita bakal ada murid baru," bisik seorang siswa di sudut kelas.

​"Lo tahu dari mana?" tanya temannya penasaran.

​"Gue nggak sengaja kemarin dengerin kepala sekolah bilang sama Bu Mawar soal itu."

​"Kira-kira cewek apa cowok ya? Semoga aja cowok biar populasi cogan di kelas kita nambah. Bisa cuci mata terus tiap hari!" timpal siswa lainnya dengan tawa terkikik.

​"Bener banget! Kita bisa nyaingin kegantengan cowok kelas sebelah," sahut yang lain.

​"Tapi kalau murid barunya cewek gimana?"

​"Ya selagi cantik sih oke-oke aja, yang penting nggak dua muka," jawab mereka kompak.

​Ziva hanya diam. Ia duduk di bangkunya, mencoba mengabaikan obrolan teman-temannya. Ia sudah sangat paham bagaimana sistem di sekolah ini bekerja. Murid-murid dari keluarga kurang mampu atau mereka yang dianggap kurang berprestasi memang sering ditempatkan di kelasnya. Namun, ceritanya akan berbeda jika murid tersebut berwajah rupawan atau berasal dari keluarga kaya; mereka akan langsung dimasukkan ke kelas unggulan, terlepas dari bagaimana kualitas otaknya.

​Ziva tidak memiliki minat sedikit pun untuk bergabung dalam gosip murahan itu. Ia memilih menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangan di atas meja. Rasa kantuk yang luar biasa menyerang matanya, efek dari begadang semalaman mengerjakan tugas makalah milik Sanya, kakak tirinya.

​Sanya tidak mengerjakan tugasnya sendiri? Tentu saja tidak. Bagi Sanya, tugas sekolah hanyalah beban yang bisa dilimpahkan kepada adik tirinya yang pintar. Sanya tidak perlu bersusah payah; cukup memejamkan mata, dan keesokan paginya tugas itu sudah selesai di tangan Ziva. Sangat mudah, bukan?

​Suasana kelas hari ini cukup riuh karena guru mata pelajaran Bahasa Inggris berhalangan hadir dan hanya menitipkan tugas melalui guru piket. Karena siswa kelas Ziva sudah terbiasa dengan materi tersebut, tugas itu selesai dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Sisa waktu jam kedua pun digunakan untuk hal-hal yang tidak produktif, mulai dari bermain ponsel, membuat konten video, hingga sekadar tidur dan bergosip.

​"Eh, mau ke mana lo, Ziva?" tanya Karlota saat melihat Ziva berdiri dari duduknya.

​"Gue mau ke UKS," jawab Ziva datar.

​Mendengar kata UKS, Karlota langsung panik. Ia segera mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Ziva. "Lo sakit apa? Pucat banget!"

​Ziva tersenyum kecil sambil menurunkan tangan Karlota. "Gue nggak sakit, Karlota. Cuma ngantuk banget, pengen tidur sebentar."

​"Huft, syukurlah. Mau gue temenin nggak?" tawar Karlota. Ia sendiri sudah bosan mendengar ocehan murid-murid di kelas.

​"Nggak perlu, gue cuma mau tidur sebentar. Nanti pas istirahat gue balik lagi," tolak Ziva halus.

​"Oke. Nanti istirahat langsung ke kantin aja ya. Mau gue susul ke UKS atau lo langsung ke sana?"

​"Gue langsung ke kantin aja," jawab Ziva sebelum beranjak keluar kelas.

​"Ziva ke mana, Karlota?" tanya Angga, ketua kelas yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.

​"Budek lo?" sinis Karlota menatap Angga tajam.

​"Budek? Apaan tuh? Singkatan baru ya?" Angga tampak bingung.

​"Budek! Gitu aja nggak tahu. Katanya ketua kelas, singkatan dasar saja nggak paham, lulusan mana lo?" cecar Karlota kesal.

​"Nggak lihat lo telinga gue dari tadi gue sumpelin headset?" Angga membela diri.

​"Salah siapa punya telinga disumpelin segala! Harusnya lo itu mengamankan dan menjalin hubungan baik antar teman sekelas. Itu tugas ketua kelas yang benar, bukannya enak-enakan main HP lihat konten 18+!"

​Angga melotot mendengar tuduhan Karlota. "Heh, gue nggak lihat gituan ya! Nggak usah fitnah! Gue cuma lihat Superman, bukan yang plus plus plus!"

​"Mana gue tahu. Lagian gue cuma asal tebak, dasar gorila!" seru Karlota.

​"Apa lo? Dasar monyet!" balas Angga.

​"Gorila!"

​"Monyet!"

​"Lo gorila!"

​"Lo monyet!"

​"Udah! Sesama hewan kebun binatang dilarang adu bacot!" Daniel menyela percekcokan mereka dengan nada jengkel.

​"Diam lo, KUDANIL!" teriak Karlota dan Angga bersamaan.

​Daniel melongo. Padahal maksudnya baik, tapi justru ia yang kena semprot.

Demian, yang duduk di dekatnya, tertawa puas. "Yang sabar ya, Bro. Emang sih, sebangsa monyet lebih pintar, hahaha."

​Angga mengabaikan ejekan itu dan kembali bertanya, "Jadi, Ziva ke mana?"

​"UKS," jawab Karlota singkat sebelum menenggelamkan wajahnya ke meja, mencoba memejamkan mata untuk meredam rasa suntuk.

​Mimpi Buruk dan Kenyamanan yang Asing

​Sesampainya di UKS, Ziva langsung menuju salah satu brankar dan merebahkan dirinya. Rasa kantuk yang berat membuatnya terlelap dengan cepat. Namun, ia tidak menyadari ada seseorang yang terus memperhatikannya sejak ia melangkah masuk.

​Pria itu adalah Mahendra. Dengan langkah tanpa suara, ia mendekati brankar Ziva seolah-olah seorang perampok yang sedang menjalankan misi rahasia. Ia menatap intens wajah Ziva; mata yang terpejam, hidung mungil, pipi chubby, dan bibir merah muda alami yang begitu mengundang. Mahendra merasa ada gelora aneh di dadanya. Ia ingin sekali mencicipi bibir itu, memastikan ia adalah orang pertama yang melakukannya.

​Tangannya bergerak perlahan, mengusap pucuk kepala Ziva dengan penuh kasih sayang. Saat ia hendak menarik tangannya kembali, tiba-tiba Ziva meraih dan memeluk tangan Mahendra dengan erat, seolah tangan itu adalah guling yang paling nyaman di dunia. Mahendra terpaku, namun tak lama kemudian senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia segera duduk di kursi sebelah brankar, membiarkan tangannya tetap dalam pelukan Ziva. Menang banyak, pikirnya.

​Namun, kedamaian itu pecah saat Ziva mulai meracau dalam tidurnya. Air mata mengalir deras dari sudut matanya, membasahi bantal.

​"Jangan... hiks... jangan... Ziva mohon, jangan..." Ziva bergerak gelisah, tubuhnya bergetar hebat.

​Mahendra panik.

Ia berusaha membangunkan Ziva dengan lembut. "Ziva, bangun. Hey, sayang, bangun!" Ia mengusap wajah Ziva dengan cemas, namun usahanya sia-sia. Ziva justru semakin histeris.

​"Ampun... hiks... tolong... jangan..." Isak tangis Ziva terdengar sangat memilukan, menusuk langsung ke relung hati Mahendra. Ia tidak tahu apa yang dialami Ziva di alam mimpinya, tapi melihat gadis itu menangis ketakutan membuatnya merasa sangat sakit. Rasa khawatir itu berubah menjadi kemarahan besar; ia bertekad akan memberikan pelajaran kepada siapa pun yang berani membuat gadisnya seperti ini.

​"Sayang, ada aku di sini. Jangan takut. Buka matanya, aku di sini," bisik Mahendra tepat di telinga Ziva, bagaikan magnet yang menarik Ziva kembali ke dunia nyata.

​Perlahan, kelopak mata Ziva terbuka. Ia menatap Mahendra dengan pandangan kabur dan napas yang memburu.

​"Mahen..." panggil Ziva lirih.

​Mahendra langsung membawa Ziva ke dalam dekapannya, memberikan kehangatan dan ketenangan. Ziva terisak di dada Mahendra, mengeratkan pelukannya seolah sedang mencari pegangan di tengah badai.

​"Keluarkan semuanya. Jangan ditahan, tumpahkan saja semuanya," ujar Mahendra lembut. Kalimat itu justru membuat pertahanan Ziva runtuh total. Ia kembali menangis tersedu-sedu, dadanya sesak hingga sulit untuk bernapas.

​Tangan Mahendra terkepal erat di punggung Ziva. Ia benar-benar membenci keadaan ini. Jika disuruh memilih, ia lebih suka Ziva yang nakal dan keras kepala daripada Ziva yang serapuh ini. Ia bersumpah dalam hati untuk mencari tahu penyebab kesedihan Ziva dan membalas siapa pun yang menyakiti gadisnya.

​"Mereka jahat..." gumam Ziva di sela isakannya.

​Mahendra terus mengusap punggung Ziva dengan gerakan menenangkan.

"Ada aku di sini. Semuanya akan baik-baik saja. Percaya sama aku."

​Tiga puluh menit berlalu. Ruangan UKS terasa sangat sunyi, hanya menyisakan isak kecil dari Ziva. Mahendra telah mengunci pintu ruangan itu, memastikan tidak ada seorang pun yang mengganggu momen mereka.

​"Sudah tenang, hm?" tanya Mahendra saat Ziva akhirnya melepaskan pelukannya. Ziva mengangguk kecil.

​"Maaf, baju lo jadi basah," cicit Ziva malu saat melihat noda air mata di kemeja Mahendra.

​Mahendra tersenyum tipis. Ia menangkup kedua pipi Ziva agar gadis itu menatap matanya. "Tidak perlu minta maaf. Jangan pendam semuanya sendiri. Kamu bisa cerita apa pun sama aku."

​Ziva hanya diam, menatap kosong ke depan. Bayang-bayang masa lalunya kembali menghantui.

​"Mau pulang saja?" tawar Mahendra. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Ziva jika ia membiarkannya tetap di sekolah dalam kondisi seperti ini.

​Ziva menggeleng pelan. Jika ia pulang sekarang, ia tahu ayah dan ibu tirinya akan mengamuk. Ia sudah cukup lelah dengan segalanya.

​"Yakin? Nggak apa-apa pulang, nanti aku yang minta izin. Kamu perlu istirahat di rumah," bujuk Mahendra lagi.

​"Gue nggak akan bisa istirahat di rumah, Mahendra. Percuma gue pulang. Lebih baik gue di sini," jawab Ziva dalam hati, meski ia tetap membisu di hadapan Mahendra.

​Mahendra menghela napas panjang. Ini adalah pertama kalinya ia membujuk seorang perempuan dengan begitu sabar, dan ia tahu hanya untuk Ziva-lah ia akan melakukannya.

​"Mau balik ke kelas?" tanya Mahendra setelah beberapa saat.

​"Nggak usah ke kelas, ya. Guru-guru lagi rapat sama kepala sekolah. Mau ikut aku ke suatu tempat?"

​Ziva mengangguk tanpa berpikir panjang. Ia memang membutuhkan ketenangan, jauh dari kebisingan sekolah. Mahendra tersenyum tipis. Ia berjongkok dan dengan cekatan memasangkan sepatu ke kaki Ziva. Ziva terpaku melihat perlakuan Mahendra; pria itu memperlakukannya seperti seorang putri.

​"Sudah. Mau digendong?" tawar Mahendra.

​"Bisa sendiri," jawab Ziva mencoba turun dari brankar. Namun, baru saja kakinya menyentuh lantai, Mahendra langsung mengangkat tubuh Ziva ke dalam gendongan koala.

​"Mahendra! Turunin!"

​"Maaf, kaget ya? Aku gendong saja, nggak usah jalan nanti capek. Tubuh kamu ringan banget, sayang. Belum makan, ya?" ucapan lembut itu meluruhkan pertahanan Ziva.

​Ziva akhirnya menyerah dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Mahendra. Aroma mint yang segar dari tubuh Mahendra terasa sangat menenangkan. Bagi Mahendra sendiri, jantungnya sudah berdisko, berdetak liar tak terkendali. Ini pertama kalinya jantungnya berulah secepat ini, dan itu karena Ziva.

​Mahendra melangkah keluar dari UKS. Sepanjang koridor, ia terus mengusap punggung Ziva. Ia berniat membawa gadis itu ke tempat rahasia yang sering ia kunjungi jika butuh ketenangan.

​"Mau turun..." bisik Ziva di dada Mahendra.

​"Tidak perlu. Di sini sepi, tidak ada yang bakal lihat. Percaya sama aku," jawab Mahendra meyakinkan.

​Ziva akhirnya terdiam, membiarkan dirinya dibawa pergi oleh Mahendra. Untungnya, koridor memang sedang sepi karena sebagian besar siswa berada di kantin atau lapangan basket. Bagi Mahendra, sebenarnya tidak masalah jika mereka tertangkap basah oleh siswa lain. Sebaliknya, ia justru ingin menunjukkan kepada siapa pun bahwa Ziva kini adalah miliknya.

​Meski ia harus menghormati keinginan Ziva untuk merahasiakan hubungan mereka, Mahendra tetap bersabar. Ia yakin, lambat laun Ziva akan menerima cinta dan ketulusannya dengan sepenuhnya, tanpa paksaan. Selama ia masih memiliki napas, tidak akan ada orang lain yang boleh memiliki Ziva selain dirinya, Mahendra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!