Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.
Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.
Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.
Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.
Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Ketegangan di dalam kamar tidur utama sayap barat kastel telah mencapai titik didih.
Kebenaran yang baru saja dilemparkan oleh Emmeline mengenai siapa pria yang "merusaknya" enam tahun lalu tidak hanya menghancurkan harga diri sang Countess, tetapi juga membalikkan semua narasi murahan yang telah disusun rapi oleh matriark keluarga Stone itu.
Wajah Countess Stone berganti-ganti warna dari merah padam menjadi abu-abu pucat. Rasa malu yang teramat sangat menghantam dadanya ketika menyadari bahwa dia baru saja menyebut putranya sendiri, sang Alpha tertinggi kebanggaan keluarga, dengan sebutan "laki-laki murahan".
Ditambah lagi, kelancangan Genevieve yang berteriak histeris di dalam kamar menantunya benar-benar merusak sisa-sisa wibawa aristokrat yang coba dia pertahankan.
"Cukup! Kau tidak berhak bicara, Genevieve! Aku tidak mengizinkanmu untuk membuka mulutmu lagi di sini!" bentak sang Countess tiba-tiba, melayangkan tatapan mata yang tajam dan penuh amarah kepada gadis London Utara itu.
Genevieve tersentak, seketika menutup mulutnya dengan wajah kaku berantakan.
Countess menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa keangkuhannya yang telah berserakan di lantai marmer.
Dia menegakkan punggungnya yang gemetar, menatap Emmeline dengan kebencian yang masih menyala kuat di balik matanya.
"Kau boleh saja memenangkan argumen ini, Emmeline. Tapi ingat satu hal," desis sang Countess, suaranya bergetar menahan harga diri. "Aku tidak akan pernah membiarkan putraku merangkak padamu, Gadis Barat! Darah Stone tidak akan pernah tunduk dan mengemis di bawah kaki wanita sepertimu!"
Mendengar kalimat kolot itu, sebuah kekehan geli yang luar biasa renyah lolos begitu saja dari bibir ranum Emmeline.
Dia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap ibu mertuanya dengan tatapan mata yang dipenuhi kilat erotis yang nakal sekaligus sangat intimidatif.
"Oh, Ibu mertua..." Emmeline berbisik, nadanya terdengar sangat santai namun menghancurkan. "Kau salah besar. Putramu, Kyle... dia memang setiap hari sangat suka merangkak di antara kakiku. Dia bahkan sangat suka memuaskanku dengan cara merangkak hanya dari arah bawah di atas ranjang ini. Tubuh kekarnya itu selalu berlutut dengan sukarela demi membuatku mendesah."
"Ha-ha-ha-ha!"
Tiba-tiba, sebuah ledakan tawa yang luar biasa keras pecah di dalam ruangan itu.
Eleanor, istri dari William, tidak bisa lagi membendung rasa gelinya. Aturan bangsawan, protokoler kaku kastel, dan segala topeng formalitas yang dia pakai selama bertahun-tahun runtuh seketika mendengarkan kelancangan Emmeline yang luar biasa berani.
"Ya Tuhan, Emme! William juga paling suka posisi itu! Pria-pria Stone memang memiliki kegilaan yang sama jika sudah di atas ranjang!" seru Eleanor di sela-sela tawa renyahnya.
Deg.
Eleanor mendadak membeku. Dia baru saja menyadari apa yang baru saja lolos dari mulutnya sendiri.
Tatapan mata mata sang Countess yang kini berbalik menatapnya dengan pandangan membunuh yang sangat horor seketika membuat kakak ipar Kyle itu langsung menutup mulut dan kembali terdiam seribu bahasa, meskipun bahunya masih berguncang menahan tawa.
Di sudut lain, Genevieve terdiam sepenuhnya. Tenggorokannya mendadak terasa tercekat seperti terikat tali tambang.
Kata-kata Emmeline mengenai bagaimana Kyle memujanya dari bawah ranjang seolah melemparkan ingatan Genevieve kembali pada kejadian empat tahun yang lalu.
Saat itu, Kyle pulang ke kastel ini hanya untuk dua hari karena urusan militer. Genevieve yang putus asa mencoba menyelinap masuk ke dalam kamar Kyle tengah malam, merangkak naik ke atas ranjang pria itu dengan gaun malam sutra yang sengaja diturunkan.
Namun, alih-alih mendapatkan dekapan hangat, Genevieve justru dihadiahi kata-kata dingin yang rasanya jauh lebih menyakitkan daripada sebuah tendangan fisik di wajahnya.
Saat itu, Kyle mendorongnya kasar hingga terjatuh ke lantai dan berkata dengan suara baritonnya yang kejam: "Aku bahkan lebih sudi menuntaskan hasratku dengan tanganku sendiri setiap malam sampai mati, daripada harus menyentuh tubuhmu, Genevieve. Karena aku tidak akan pernah mengkhianati kekasihku."
Dan sekarang... wanita yang ada di dalam hati Kyle selama enam tahun itu sedang berdiri tegak di hadapannya, mengandung darah daging dengan takhta kepemilikan yang mutlak.
Brak.
Pintu kamar kembali terbuka, dan sosok maskulin dengan tinggi 190 sentimeter melangkah masuk dengan aura dominasi yang sangat pekat.
Kyle Stone kembali lebih cepat dari perkiraan. Begitu melintasi ambang pintu, sepasang mata kelam sang Alpha K langsung menangkap keberadaan ibu, kakak ipar, dan mantan calon tunangannya yang sedang menatap istrinya.
Aura membunuh Unit Wraith seketika memenuhi ruangan, membuat suhu kamar mendadak turun drastis. Kyle melangkah lebar, mengabaikan keberadaan ketiga wanita itu, dan langsung membawa tubuh ramping Emmeline ke dalam dekapannya yang luar biasa protektif.
"Ada apa ini, Ibu? Kenapa kamar pribadiku ramai sekali?" tanya Kyle, suaranya terdengar sangat berat, dingin, dan dipenuhi oleh ancaman yang tidak main-main.
Pria itu langsung menundukkan kepalanya, menatap wajah pucat Emmeline dengan kelembutan yang kontras. "Kamu mual lagi, Sayang? Sesuatu membuatmu tidak nyaman?"
Tangan besar Kyle yang kasar dan dipenuhi jaringan parut langsung bergerak turun, merayap masuk ke balik gaun tidur Emmeline untuk mengelus perut ratanya dengan gerakan sirkular yang sangat lembut dan posesif, seolah sedang menenangkan pasukan kecilnya di dalam sana.
Melihat perhatian yang begitu luar biasa dari Kyle kepada Emmeline, sang Countess tidak bisa lagi menahan rasa malunya.
Dengan wajah yang kaku dan memerah, dia berbalik kasar. Eleanor segera mengekor di belakang mertuanya, melangkah keluar dari kamar dengan kepala tertunduk, menahan sisa-sisa tawa dan rasa canggung yang luar biasa.
Namun, di tengah ruangan, Genevieve tidak bergerak sama sekali. Tubuhnya mematung. Keputusasaan, kecemburuan yang membakar, dan penolakan selama bertahun-tahun tampaknya telah merusak kewarasan di dalam otak gadis kaku itu.
Dengan mata yang membelalak dan napas yang memburu, Genevieve menatap Kyle, lalu mengucapkan hal gila yang keluar dari batas nalar seorang wanita bangsawan.
"Kyle... aku siap tidur denganmu saat istrimu sedang hamil!" seru Genevieve dengan suara yang bergetar hebat karena keputusasaan yang mendalam.
"Aku tahu wanita hamil tidak bisa memuaskanmu setiap saat! Aku bisa menjadi pelarian untukmu, Kyle! Aku benar-benar mencintaimu... aku bisa memuaskan tubuhmu sama seperti wanita pantai barat ini!"
Genevieve melangkah mendekat, air mata mulai mengalir di wajah ayunya yang kini tampak menyedihkan. "Tolong, Kyle... aku bahkan rela jika hanya dijadikan teman tidurmu di kastel ini. Kumohon, jadikan aku pelarianmu selama dia tidak bisa melayanimu..."
Deg.
Emmeline tertegun di dalam dekapan Kyle. Batinnya berteriak dengan rasa syok yang nyata.
Gadis ini sudah gila? Kenapa dari luar dia terlihat seperti wanita bangsawan yang baik-baik saja dan terhormat? Dia benar-benar membutuhkan seorang psikiater secepatnya!
Namun, bukannya menjawab atau memaki kelancangan gadis gila di hadapannya, Kyle Stone justru memberikan respons yang jauh lebih gila dan tak terduga.
Sebuah senyuman smirk yang teramat kejam dan penuh gairah gelap terukir di wajah tampan sang Alpha.
Tanpa melepaskan pandangannya dari Emmeline, tangan kekar Kyle bergerak ke atas, memegang kerah kemeja linen hitamnya sendiri. Dengan satu sentakan kasar, Kyle membuka kemejanya, membiarkan kain mahal itu terlepas dan terjatuh begitu saja ke atas lantai, menyisakan tubuh telanjangnya yang kokoh dengan celana panjang formal.
Otot-otot dadanya yang bidang berkilat, perutnya yang tercetak kotak-kotak sempurna bergerak seiring napasnya yang memburu, memperlihatkan deretan tato militer dan jaringan parut taktis yang teramat seksi sekaligus mengerikan.
Sebelum Emmeline sempat memprotes tindakan suaminya, Kyle dengan kecepatan kilat khas prajurit elit langsung memajukan tubuh masifnya.
Tangan besarnya menyusup ke belakang leher Emmeline, menarik tengkuk istrinya dengan paksa namun sarat akan kelembutan yang mengunci.
Kyle langsung membungkam bibir ranum Emmeline dengan sebuah ciuman yang luar biasa panas, kasar, dan menggila.
"Mmpff..." Emmeline melotot karena syok.
Kyle melumat bibir Emmeline dengan dominasi yang menghancurkan, memasukkan lidahnya dengan dalam untuk mengklaim setiap sudut mulut istrinya di depan mata Genevieve.
Ciuman itu begitu berisik, basah, dan dipenuhi oleh gairah kepemilikan yang absolut, seolah Kyle sedang memamerkan secara nyata bagaimana cara dia menghancurkan pertahanan wanita yang dicintainya.
Genevieve tertegun di tempatnya. Tubuhnya gemetar hebat, matanya membelalak menyaksikan tontonan erotis yang begitu vulgar tepat di depan wajahnya. Dia ingin Menangis, menyadari bahwa dia tidak lebih dari sekadar debu di mata pria itu.
Emmeline benar-benar syok di dalam kungkungan suaminya.
Pikirannya berputar hebat. Ada apa dengan suaminya? Pintu kamar mereka tidak terkunci, dan Genevieve sedang berdiri di sana menyaksikan mereka! Apa Kyle sudah kehilangan akal sehatnya?!
Kyle menjauhkan bibirnya sedikit, menyisakan benang saliva tipis di antara mereka, namun tangan besarnya tetap mengunci pinggang Emmeline erat-erat.
Dengan napas yang memburu di sela-sela ciuman panasnya, Kyle menolehkan kepalanya sedikit ke arah Genevieve, melayangkan tatapan mata yang dipenuhi oleh penghinaan yang teramat kejam.
"Jangan pergi dulu, Genevieve," desis Kyle dengan suara bariton yang teramat serak dan dipenuhi gairah gelap. "Kau harus menyaksikan sendiri bagaimana caraku bercinta dan memuja tubuh istriku di atas ranjang ini... sebelum kau berani menawarkan dirimu yang tidak berharga itu untuk menjadi pelarianku."
Mendengar kalimat mematikan itu, harga diri Genevieve hancur berkeping-keping hingga tidak berbentuk lagi. Dia benar-benar merasa seperti seorang pelacur murahan yang baru saja diludahi di wajahnya sendiri.
Sambil menangis, Genevieve berbalik, berlari sekencang mungkin keluar dari kamar mewah itu dan membanting pintu ek ganda dengan sangat keras.
Brakkkk!
Begitu suara bantangan pintu mereda, menyisakan keheningan yang kembali pekat di dalam kamar, Emmeline langsung mengumpulkan seluruh tenaganya.
Plak!
Emmeline memukul dada bidang telanjang Kyle dengan telapak tangannya, menghasilkan suara tamparan kulit yang cukup keras.
Dia mundur, menatap suaminya dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang merona merah padam antara gairah dan rasa syok.
"Kau gila, Kyle Stone?!" teriak Emmeline dengan suara melengking, dadanya naik turun di balik gaun tidur sutranya yang sudah berantakan akibat ulah suaminya.
"Kau benar-benar ingin bercinta denganku di depan gadis itu tadi?! Kenapa aku tiba-tiba merasa merinding dengan kegilaanmu?!"
Kyle tidak marah karena dipukul. Sebaliknya, pria itu justru meledak dalam tawa baritonnya yang sangat renyah dan seksi. Dia melangkah maju lagi, kembali merangkap pinggang Emmeline untuk mengikis jarak di antara mereka.
"Aku sendiri juga kaget dengan tindakanku barusan, Baby... Hahaha!" Kyle tertawa lepas, mengecup hidung Emmeline dengan gemas sebelum kembali mengelus perut rata istrinya dengan tatapan memuja.
"Tapi itu adalah cara tercepat untuk membuat perempuan gila itu tahu... bahwa jangankan menyentuh tubuhnya, melihatnya saja sudah membuatku ingin muntah. Hanya tubuhmu dan anak-anak kita yang bisa membuatku menggila seumur hidup."