Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16- Batas yang mulai kabur
Batas yang Mulai Kabur
Mobil melaju meninggalkan Bandung dengan suasana yang kembali hening. Kalimat Wira tadi masih menggantung di kepala Mona.
“Tidak semua yang selesai itu benar-benar selesai.”
Mona menatap keluar jendela. Langit mendung, jalanan basah sisa hujan semalam dan pikirannya pun ikut tidak tenang.
“Jadi…” Mona berbicara pelan tanpa menoleh. “Bapak masih punya perasaan sama dia?”
Wira tidak langsung menjawab. Tangannya tetap stabil di setir, tatapannya fokus ke jalan, tapi rahangnya sedikit mengeras.
“Aku tidak tahu,” jawabnya akhirnya.
Mona mengernyit. “Tidak tahu itu maksudnya apa?”
“Tidak semua hal bisa dijelaskan dengan satu jawaban.”
Mona terdiam. Jawaban itu terlalu khas Wira. Dingin, logis, tapi juga… tidak memberi kepastian apa pun dan itu yang membuatnya semakin sulit dimengerti.
Beberapa jam kemudian mereka tiba di Jakarta. Perjalanan selesai, tapi suasana di antara mereka tidak benar-benar kembali normal.
Di kantor pusat, pekerjaan langsung menumpuk seperti biasa.
Mona kembali ke mode sekretaris profesional. Jadwal, email, meeting, laporan. Semua berjalan seperti tidak ada yang terjadi, tapi Mona sadar satu hal… ia jadi lebih sering melirik Wira tanpa sadar dan Wira juga… lebih sering diam memperhatikannya.
Sore hari, suasana kantor mulai sepi. Mona masih berada di ruang kerja Wira untuk merapikan dokumen terakhir.
“Besok jam delapan ada meeting investor,” ucapnya sambil membaca tablet.
“Batalkan.”
Mona langsung menoleh. “Hah? Kenapa?”
Wira bersandar di kursinya. “Aku ada urusan.”
“Urusan dengan Sandra?” Pertanyaan itu keluar lagi.
Lebih cepat dari yang seharusnya dan Mona langsung menyesal.
Namun Wira tidak marah. Dia hanya menatap Mona lama.
“Kenapa kamu selalu membawanya ke percakapan?”
Mona membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia sendiri tidak tahu jawabannya.
“Karena…” Mona berhenti sejenak. “Karena dia penting buat Bapak.”
Wira terdiam. Ruangan itu kembali sunyi, lalu perlahan, Wira berdiri. Ia berjalan mendekati Mona. Langkahnya pelan, tapi cukup untuk membuat Mona sedikit mundur tanpa sadar.
Wira berhenti tepat di depannya. Jarak mereka terlalu dekat, terlalu pribadi untuk sekadar hubungan atasan dan sekretaris.
“Kalau dia penting,” kata Wira pelan. “Kenapa kamu yang terlihat terganggu?”
Deg
Mona langsung membeku. “Aku tidak—”
“Kamu tidak pandai berbohong,” potong Wira.
Mona menggigit bibirnya karena itu benar. Ia tidak pandai menyembunyikan perasaannya, tapi ia juga tidak mengerti perasaannya sendiri.
Wira menatapnya lebih dalam.
Seolah mencoba membaca sesuatu yang bahkan Mona sendiri belum mengerti.
“Mona.”
“Iya…”
“Kamu takut kehilangan posisi kamu?” Pertanyaan itu membuat Mona langsung mengangkat wajahnya.
“Hah?”
“Sebagai sekretaris.”
Mona mengerjap. “Kenapa Bapak berpikir begitu?”
“Karena itu satu-satunya alasan yang masuk akal.”
Mona langsung kesal. “Selalu saja kerja, kerja, kerja. Bapak kira semua hal itu soal pekerjaan?”
Wira diam, untuk pertama kalinya, dia tidak langsung membalas.
Mona sendiri terkejut dengan nada suaranya barusan. Terlalu emosional, tidak profesional. Ia langsung menunduk.
“Maaf…”
Namun Wira tidak membiarkan percakapan itu selesai begitu saja.
“Kamu tidak perlu takut,” katanya pelan.
Mona menatapnya bingung. “Apa?”
“Posisimu tidak akan diganti.” Jawaban itu seharusnya menenangkan.
Tapi entah kenapa... justru terdengar berbeda. Lebih dalam dari sekadar pekerjaan.
Malamnya, Mona pulang dengan pikiran penuh. Ia berjalan pelan di trotoar dekat rumahnya. Angin malam terasa dingin, tapi yang lebih dingin adalah pikirannya sendiri.
“Aku kenapa sih…” gumamnya.
Ia berhenti sejenak. Menatap langit malam.
Wira Aditama, pria itu benar-benar membuat hidupnya kacau. Bukan karena marah, bukan karena tekanan kerja, tapi karena… ia mulai terlalu sering memikirkannya.
Sementara itu, di tempat lain. Wira duduk sendirian di ruang kerjanya yang sudah sepi. Lampu hanya menyala sebagian. Di atas meja, ada laporan yang belum ia sentuh lagi, tapi pikirannya tidak di sana. Ia memikirkan Mona. Cara gadis itu menatapnya tadi siang, cara Mona marah tanpa sadar dan cara Mona… terganggu setiap kali nama Sandra muncul.
Wira menghela napas pelan. “Ini tidak seharusnya terjadi,” gumamnya.
Namun justru karena itu… ia semakin sadar satu hal, ia mulai kehilangan kendali. Bukan pada pekerjaan, tapi pada perasaannya sendiri.
Beberapa hari kemudian… Kantor Aditama Group kembali ramai seperti biasa, namun rumor lama mulai muncul lagi dan kali ini lebih kuat karena orang-orang mulai menyadari sesuatu:
Wira tidak lagi bersikap seperti dulu pada sekretarisnya dan Mona… tidak lagi sekadar sekretaris biasa. Mereka terlalu sering bersama, terlalu dekat, terlalu berbeda dari hubungan profesional dan di antara semua orang yang mulai memperhatikan itu… ada satu orang yang juga mulai bergerak.
Sandra. Dan kali ini… dia tidak datang sebagai masa lalu yang sekadar lewat, tapi sebagai seseorang yang belum mau menyerah.