NovelToon NovelToon
Jiwa Ditubuh Maya

Jiwa Ditubuh Maya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Teen Angst
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.

Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"

Apa yang terjadi pada Maya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 - Permen

Jamie mendekat beberapa langkah lagi. Wajahnya berusaha terlihat santai, tetapi Bobby bisa melihat kegelisahan di matanya. Keringat tipis terlihat di pelipisnya meski malam itu tidak terlalu panas.

“Tadi gue nggak sengaja dengar,” ulang Jamie.

“Dengar apa?” tanya Bobby sambil memasukkan ponselnya ke saku.

“Yang soal barang khusus itu.”

Bobby memasang ekspresi seolah baru mengerti.

“Oh, itu.”

“Iya.”

“Terus kenapa?”

Jamie tampak ragu-ragu. Jelas dia sedang menimbang apakah sebaiknya melanjutkan pembicaraan ini atau tidak. Namun rasa penasarannya akhirnya menang.

“Gue mungkin butuh bantuan.”

Bobby menyilangkan tangan. “Bantuan itu mahal.”

Jamie mendecakkan lidah pelan. “Itu bukan masalah.”

“Semua orang bilang gitu di awal.”

“Gue serius!”

Bobby sengaja membiarkan suasana hening beberapa detik. Ia ingat betul pesan Maya sebelum mereka berpisah. Jangan langsung setuju. Orang yang langsung membantu itu mencurigakan. Karena itu Bobby tetap memasang wajah datar.

Jamie memicingkan mata. Karena dia merasa pernah bertemu Bobby sebelumnya, tapi luma dimana.

“Nama gue Jamie. Dan... apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Jamie.

Bobby sontak membuang muka dan menggeleng. "Nggak! Kita nggak pernah ketemu! Udah! Jangan buang waktu gue!" ujarnya seolah hendak pergi.

“Kalau soal bayaran, gue sanggup! Plis! Gue lagi butuh banget!

“Butuh buat bunuh orang maksudnya?" balas Bobby.

Jamie mulai terlihat kesal. “Hush! Lo bahkan belum tahu apa yang gue mau!”

“Dan gue nggak terlalu pengen tahu!"

Jawaban itu membuat Jamie semakin gelisah.

Di kejauhan, Maya yang mengawasi dari balik halte bus hampir tersenyum. Bobby ternyata jauh lebih berbakat berakting daripada yang ia kira.

Jamie mengusap wajahnya. “Denger.”

“Nah?”

“Gue cuma lagi cari seseorang.”

“Seseorang banyak.”

“Yang punya koneksi.”

Bobby mengangkat alis. “Koneksi apa?”

Jamie terdiam.

Bobby menunggu. Namun Jamie jelas tidak berani bicara terang-terangan di tengah jalan.

Akhirnya dia berkata pelan, “Pokoknya barang yang susah dicari.”

“Hm.”

“Lo tadi bilang punya kenalan.”

“Punya.”

“Bisa kenalin?”

Bobby pura-pura berpikir.

“Bisa sih.”

Mata Jamie langsung berbinar.

“Tapi gue nggak mau.”

Wajah Jamie langsung membeku.

“Hah?”

“Ribet.”

“Kenapa?”

“Karena urusan beginian biasanya bikin masalah.”

Jamie mulai frustrasi. “Aku akan bayar!"

“Masalah tetap masalah.”

“Berapa pun.”

“Lo kaya?”

Jamie hampir menjawab iya, lalu teringat kondisi sebenarnya. Kalau warisan itu benar-benar jatuh ke tangan Maya, dia tidak akan punya apa-apa. Pikiran itu membuat wajahnya mengeras. Dia tidak boleh membiarkan itu terjadi.

Selama Maya masih ada, seluruh masa depannya terancam. Kehidupan yang selama ini dia nikmati. Semua bisa hilang.

Jamie mengepalkan tangan. “Aku serius!"

Bobby memperhatikannya.

“Aku sanggup bayar berapapun!"

“Segitunya?”

“Iya.”

“Lo bisa kasih tahu mau gunain barangnya buat apa?”

Jamie langsung terdiam. “Bukan urusan lo.”

“Kalau bukan urusan gue, ya bukan urusan gue juga buat bantu.”

Jamie hampir mengumpat..Beberapa detik kemudian ia menarik napas panjang.

“Oke.”

“Oke apa?”

“Anggap aja gue lagi punya masalah.”

“Semua orang punya masalah.”

“Dan gue butuh bantuan!"

Bobby pura-pura menghela napas. Dia memandang Jamie beberapa saat. Lalu akhirnya berkata, “Gue nggak janji akan bantu."

Jamie langsung terlihat lega.

“Tapi gue bisa coba tanya orang," lanjut Bobby.

“Serius?”

“Cuma tanya aja."

“Itu cukup!"

“Dan kalau orangnya nolak, ya udah.”

Jamie mengangguk cepat. “Gue ngerti.”

Bobby lalu mengeluarkan ponselnya. Jamie segera menyebutkan nomornya. Bobby mencatatnya. Kemudian memberikan nomor miliknya.

“Kalau ada kabar, gue hubungi.”

“Kapan?”

“Beberapa hari.”

Jamie tampak tidak sabar.

“Cepetan ya!"

“Gue bukan kurir instan.”

Jamie menahan diri untuk tidak membalas. “Maaf.”

Bobby nyaris tertawa. Ia tidak pernah menyangka akan melihat Jamie meminta-minta seperti ini.

“Kalau memang ada kabar,” lanjut Bobby, “gue kasih tahu tempat ketemunya.”

Jamie mengangguk. “Oke.”

“Dan jangan banyak tanya.” Bobby meliriknya sekali lagi. “Lo kelihatan putus asa.”

Jamie terdiam. Lalu tersenyum hambar. “Mungkin memang begitu.”

Beberapa menit kemudian mereka berpisah. Jamie berjalan menuju parkiran dengan langkah cepat. Sementara Bobby berbelok masuk ke gang kecil tempat Maya menunggu.

Begitu melihat Bobby muncul, Maya langsung mengangkat alis. “Gimana?”

Bobby mengangkat kedua tangannya. “Motor baru, gue datang!”

Maya terkekeh kecil. “Berhasil?”

“Berhasil banget.” Bobby lalu menceritakan seluruh percakapan mereka.

Maya mendengarkan dengan tenang. Semakin lama Bobby bercerita, semakin puas ekspresinya. Tepat seperti yang ia duga.

Saat Bobby selesai bercerita, Maya mengangguk pelan.

“Bagus.”

“Cuma bagus?”

“Bagus banget.”

“Nah gitu dong.”

Maya memasukkan kedua tangan ke saku jaket. “Sekarang kita lanjut.”

“Lanjut apa?”

“Ke pasar!”

Bobby berkedip. “Pasar?”

“Iya.”

“Buat apa?”

Maya berjalan lebih dulu. “Nanti juga tahu.”

Sekitar dua puluh menit kemudian mereka tiba di pasar malam yang masih ramai. Lampu-lampu toko menyala terang. Pedagang kaki lima memenuhi sisi jalan. Suara tawar-menawar terdengar dari berbagai arah.

Bobby masih bingung. “Maya..."

“Hm?”

“Kita ngapain di sini?”

“Belanja.”

“Belanja apa?”

Maya tidak menjawab. Ia malah masuk ke sebuah toko sembako kecil. Pemilik toko yang sudah tua menyapa ramah.

“Mau cari apa, Neng?”

Maya mulai melihat-lihat isi etalase. Beberapa menit kemudian matanya berhenti pada sesuatu. Permen, bentuknya kecil dan bulat. Dikemas menyerupai tablet obat. Maya langsung mengambil beberapa bungkus.

Bobby yang melihat itu mengernyit. “Permen?”

“Ya.”

“Lu jauh-jauh ke sini buat beli permen?”

Maya membayar lalu keluar toko. “Bukan sekadar permen.”

“Terus?”

Maya melempar satu bungkus ke arah Bobby. Cowok itu menangkapnya. Lalu membaca kemasannya.

“Ini tetap permen.”

“Pinter!”

“Jangan ngeledek!"

Maya tersenyum tipis. “Kadang sesuatu nggak perlu berbahaya buat bikin orang menunjukkan sifat aslinya.”

Bobby masih belum paham. Namun ia sudah terlalu sering mengikuti rencana Maya untuk tahu satu hal. Kalau Maya membeli sesuatu, biasanya ada alasannya. Alasan itu jarang sederhana.

“Kita sebenarnya mau ngapain?” tanya Bobby lagi.

Maya memasukkan bungkusan permen ke tasnya. “Kita lagi kasih kesempatan.”

“Ke siapa?”

“Jamie.”

“Kesempatan buat apa?”

Maya menatap langit malam sesaat. Lalu menjawab tenang.

“Kesempatan buat membuktikan seberapa jauh dia mau pergi karena keserakahannya sendiri.”

Bobby langsung merinding. Kadang-kadang dia lupa bahwa gadis yang berdiri di depannya ini bukan lagi Maya yang dulu. Di balik wajah remaja itu ada seseorang yang berpikir beberapa langkah lebih jauh daripada kebanyakan orang.

1
Orbadi Sianturi
lam2
Orbadi Sianturi
ok
Auraliv
mantaps
Nia Juniawati
sangat sangat bagus baguuuusss baaaagguuuss banget ceritanya kak /Heart//Heart//Heart//Heart/
W I 2 K
bacanya kyk realita...
Rommy Wasini Khumaidi
boleh ketawa nggak thor🤣🤣lucu banget aktingnya Bobby
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq benci dan trauma dengan nama norma. blh dng aq maki2 si norma ini.
Ass Yfa
woo yg dikasih obat pak Darto kiraib kasih ke Jamie
Rommy Wasini Khumaidi
pasti obatnya dikasih pak Darto,kirain mau dikasih ke Jamie tuh obat
Ass Yfa
Weh ..Rangga muncul gaesss....Polisi ganteng
W I 2 K
cicak masuk perangkap.. 🤣🤣🤣, g usah kasih ampun pedofil Darto
Auraliv
lanjutttt
Rommy Wasini Khumaidi
bukanya barang² Maya sudah dibakar habis thor,waktu Maya mau laporin Jamie ke polisi?
Desau: itu barang yg tersisa kak
total 1 replies
istianah istianah
selesaikan dulu masalah maya kak, author,. baru masalah friska di atur sebaik mungkin, 😍😍 semngattt kak
Rommy Wasini Khumaidi
waduh siapa lagi ini,main kroyokan
mery harwati
Priska bikin ramuan obat bwt siapa itu? Jomie kah? Angel kah? Atw Darto? 🤔
Atw ramuan bwt orang lain?
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq salfoo. disini pria muda, dibawah pria tua
Desau: maaf kak, harusnya pria muda. awalnya aku terlanjur nulis pria tua, tapi ngeditnya tergesa gesa jd gk ke edit semua. karna tiba2 dapat ide terkait tokoh sambudi ini 😅
total 1 replies
mery harwati
Rangga aq kasih kopi ya sebelum kau bantu selidiki kasus Maya 💪
mery harwati
Rangga The Hot Police Man muncul euy 🤣💪 Dita mana Rangga? Udah punya anak belum kau sama Dita?
Tiara Bella
wah Rangga polisi yg itu bukan ya...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!