Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Sore mulai turun di Kota Heimdall.
Cahaya matahari melemah.
Bayangan bangunan memanjang di jalanan.
Grachius berjalan tanpa arah pasti.
Namun langkahnya tetap tenang.
Pikirannya masih dipenuhi hal-hal yang ia lihat sebelumnya.
Kemiskinan.
Ketimpangan.
Dan…
apa yang dilakukan para dewa.
Tiba-tiba—
suara kasar memecah suasana.
“Hei! Berhenti di situ!”
Grachius menoleh sedikit.
Di sebuah gang sempit—
beberapa pria mengelilingi dua orang.
Seorang pria muda.
Dan seorang gadis.
“…berikan saja.”
Nada suara itu mengancam.
Pria muda itu berdiri di depan gadis itu.
Melindungi.
“Kami tidak punya apa-apa.”
Salah satu preman tertawa.
“Kalau begitu… kalian punya masalah.”
Grachius berhenti.
Matanya menatap ke arah itu.
Sunyi sejenak.
Lalu—
ia berjalan masuk ke gang itu.
Langkahnya tidak tergesa.
Namun jelas.
Para preman itu menoleh.
“Siapa lagi ini?”
Grachius berhenti beberapa langkah dari mereka.
“…pergi.”
Satu kata.
Datar.
Mereka terdiam sejenak.
Lalu—
tertawa.
“Kau pikir siapa dirimu?”
Salah satu dari mereka melangkah maju.
Tangannya mencoba mendorong Grachius.
Namun—
berhenti.
Tidak menyentuh.
Karena Grachius sudah bergerak lebih dulu.
Buk.
Satu pukulan.
Pria itu jatuh.
Sunyi.
Yang lain langsung maju.
Namun—
gerakan Grachius terlalu cepat.
Tidak berlebihan.
Tidak brutal.
Namun… tepat.
Beberapa detik—
dan semuanya selesai.
Para preman itu tergeletak.
Mengaduh.
Tidak ada yang berani bangkit.
Grachius berdiri.
Tenang.
“…pergi.”
Kali ini—
tidak ada yang membantah.
Mereka bangkit dengan susah payah.
Lalu kabur.
Sunyi kembali.
Grachius menoleh ke dua orang di belakangnya.
Pria muda itu masih berdiri.
Namun tegang.
Gadis itu bersembunyi di belakangnya.
“…terima kasih.”
Grachius tidak menjawab.
Ia hanya menatap mereka.
“…nama kalian?”
Pria itu sedikit terkejut.
“…Finn.”
Ia menunjuk ke gadis di belakangnya.
“Ini adikku… Sasha.”
Grachius mengangguk pelan.
“Grachius.”
Sunyi sejenak.
Finn mengamati Grachius.
Lebih lama.
Matanya menyipit.
“…kau bukan orang biasa.”
Grachius tidak menyangkal.
“…aku tahu.”
Jawaban itu sederhana.
Sasha sedikit keluar dari belakang Finn.
Menatap Grachius.
“…kau juga membenci mereka?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Namun—
tepat.
Grachius tidak menjawab langsung.
Namun tatapannya berubah.
“…ya.”
Satu kata.
Namun cukup.
Finn menghela napas pelan.
“…kami juga.”
Sunyi.
“…para dewa…”
Ia mengepal tangannya.
“…tidak pernah peduli pada orang seperti kami.”
Sasha menunduk.
“…mereka hanya mengambil.”
Kata-kata itu sederhana.
Namun berat.
Grachius menatap mereka.
Beberapa detik.
Lalu—
ia berbicara.
“…aku akan membunuh mereka.”
Sunyi.
Tidak ada yang bergerak.
Finn membeku.
Sasha menatapnya lebar.
“…apa?”
Grachius tidak mengalihkan pandangan.
“…para dewa.”
Suaranya tetap tenang.
“…aku akan membunuh mereka.”
Angin berhembus pelan.
Sunyi.
Finn menelan pelan.
“…kau serius?”
“Ya.”
Jawaban tanpa ragu.
Beberapa detik berlalu.
Finn menatapnya lebih dalam.
Rambut putih.
Highlight merah-kuning.
Mata—
seperti matahari.
“…tunggu…”
Ia mundur setengah langkah.
“…itu berarti…”
Sasha juga menyadari.
“…ramalan itu…”
Mereka saling berpandangan.
Lalu kembali ke Grachius.
“…kau…”
Sunyi.
“…orang itu.”
Grachius tidak menjawab.
Namun—
ia tidak menyangkal.
Angin berhembus.
Dan di gang sempit itu—
tiga orang berdiri.
Terhubung oleh satu hal yang sama—
kebencian.
Dan mungkin—
takdir.
...----------------...
...----------------...
Langit mulai gelap.
Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu.
Grachius berjalan bersama dua orang di sampingnya—
Finn dan Sasha.
Langkah mereka santai.
Namun percakapan mereka… tidak ringan.
“Jadi kau benar-benar dari hutan?” tanya Finn.
Grachius mengangguk pelan.
“…aku tidak pernah keluar sebelumnya.”
Sasha menatapnya dengan sedikit kagum.
“…itu berarti ini pertama kalinya kau lihat kota?”
“Ya.”
Jawaban singkat.
Finn tertawa kecil.
“…dan langsung mau bunuh dewa.”
Grachius tidak bereaksi.
“…itu memang tujuanku.”
Sunyi sejenak.
Namun anehnya—
tidak terasa canggung.
Karena Finn dan Sasha…
mengerti.
Beberapa langkah berlalu.
Grachius akhirnya bertanya.
“…kuil di kota ini.”
Finn meliriknya.
“Kenapa?”
“…aku ingin tahu.”
Finn terdiam sejenak.
Lalu menghela napas pelan.
“…kota ini menyembah satu dewa.”
Grachius menatapnya.
“Sagitta.”
Angin malam berhembus.
“…jadi semua kuil di sini…”
“Adalah kuilnya.”
Sunyi.
Grachius menatap ke depan.
“…yang terbesar?”
Finn mengangkat tangannya.
Menunjuk ke arah jalan utama.
“Di pusat kota.”
Jalan itu lebih besar.
Lebih terang.
“…kau tidak akan melewatkannya.”
Grachius mengangguk pelan.
Langkahnya melambat.
“…terima kasih.”
Finn menoleh.
“…kau mau ke sana sekarang?”
Grachius tidak menjawab langsung.
Namun—
ia berhenti berjalan.
“…ya.”
Sasha sedikit terlihat khawatir.
“…hati-hati.”
Grachius menatap mereka berdua.
“…jaga diri kalian.”
Finn tersenyum tipis.
“…kami selalu begitu.”
Tanpa kata tambahan—
Grachius berbalik.
Berjalan sendiri.
Menuju pusat kota.
Jalan semakin ramai.
Namun juga lebih tertata.
Bangunan lebih besar.
Lebih megah.
Dan di kejauhan—
ia melihatnya.
Sebuah bangunan besar.
Menjulang.
Dengan pilar-pilar tinggi.
Kuil.
Grachius berhenti di bayangan.
Mengamati.
Malam telah tiba.
Namun aktivitas di dalam belum berhenti.
Ia bergerak diam-diam.
Mendekat.
Ke sisi bangunan.
Sebuah jendela.
Ia mengintip.
Di dalam—
ruangan luas.
Dengan patung besar di tengah.
Sagitta.
Digambarkan berdiri gagah.
Tenang.
Seolah… pelindung.
Di depannya—
persembahan.
Buah-buahan.
Dan—
seorang gadis.
Gadis yang sama.
Dari daerah kumuh.
Tangan dan kakinya terikat.
Matanya penuh ketakutan.
Orang-orang kuil berdiri di sekeliling.
Mereka berdoa.
Grachius diam.
Tatapannya… berubah.
Lalu—
cahaya muncul.
Dari udara kosong.
Turun.
Menyinari persembahan.
Seperti—
sesuatu yang mengambil.
Beberapa detik.
Dan—
gadis itu…
hilang.
Buah-buahan juga.
Tidak ada jejak.
Sunyi.
Grachius tetap diam.
Mengamati.
Menunggu.
Beberapa menit berlalu.
Ritual selesai.
Orang-orang kuil mulai pergi.
Satu per satu.
Hingga ruangan itu kosong.
Sunyi.
Grachius bergerak.
Masuk.
Langkahnya pelan.
Namun pasti.
Ia berdiri di depan patung itu.
Menatapnya.
“…pelindung?”
Nada suaranya dingin.
Patung itu—
terlalu sempurna.
Terlalu “baik”.
Tidak sesuai.
Dengan apa yang ia lihat.
Dengan apa yang ia tahu.
Tangannya perlahan bergerak.
Ia menarik pedangnya.
Enjin.
Energi mengalir.
Tenang.
Namun tajam.
Grachius mengangkat pedangnya.
Tidak ragu.
Satu gerakan—
SHRAKK.
Pedang itu memotong.
Bersih.
Leher patung.
Beberapa detik—
lalu—
KRAAASH.
Kepala patung jatuh.
Suara keras menggema.
Menghancurkan kesunyian.
Grachius tidak menunggu.
Ia langsung berbalik.
Berjalan keluar.
Tanpa melihat ke belakang.
Namun satu hal pasti—
itu bukan sekadar patung yang runtuh.
Itu—
awal dari sesuatu yang lebih besar.
Dan kali ini—
langit…
mungkin akan merasakannya.
...----------------...
...----------------...
Keheningan malam di Kota Heimdall—
hancur dalam sekejap.
Beberapa detik pertama—
sunyi.
Lalu—
“Apa itu?!”
Teriakan muncul dari dalam kuil.
Langkah kaki berlari.
Cepat.
Panik.
Pintu utama terbuka keras.
Beberapa orang keluar dengan wajah tegang.
Orang-orang kuil.
“Periksa di dalam!”
Beberapa penjaga langsung masuk kembali.
Sementara yang lain berjaga di luar.
Kerumunan mulai terbentuk.
Orang-orang sekitar mendekat.
“Ada apa?”
“Suara dari kuil…”
“Terjadi sesuatu?”
Bisikan berubah menjadi kegaduhan.
Di dalam—
para Hiereus berlari menuju ruang utama.
Napas mereka terengah.
Jubah mereka bergesekan saat mereka bergegas.
Dan saat mereka sampai—
mereka berhenti.
Membeku.
“…tidak mungkin…”
Di tengah ruangan—
patung itu.
Telah berubah.
Tubuhnya masih berdiri.
Namun—
kepalanya…
tergeletak di lantai.
Terpisah.
Sunyi.
“…siapa yang berani…”
Salah satu Hiereus mundur setengah langkah.
Wajahnya pucat.
“Ini… penistaan!”
Yang lain langsung berteriak.
“Cari pelakunya!”
“Segel semua pintu!”
“Tidak ada yang boleh keluar dari area ini!”
Kepanikan mulai berubah menjadi kemarahan.
Beberapa penjaga berlari keluar.
Menyebar ke jalan-jalan sekitar.
Di luar—
kerumunan semakin besar.
Orang-orang mulai berbisik.
“Patungnya… dihancurkan?”
“Siapa yang berani melakukan itu…”
“Ini kutukan…”
“Ini hukuman…”
Suasana berubah.
Dari penasaran—
menjadi takut.
Dan juga—
marah.
Di antara kerumunan—
beberapa orang hanya diam.
Mereka tidak berbicara.
Namun mata mereka…
menyimpan sesuatu.
Sesuatu yang berbeda.
Sementara itu—
di kejauhan—
sebuah bayangan bergerak menjauh.
Tenang.
Tanpa tergesa.
Grachius.
Langkahnya tidak berubah.
Namun—
di belakangnya—
kekacauan mulai menyebar.
Ia tidak menoleh.
Tidak peduli.
Namun—
ia tahu.
Ini baru permulaan.
Dan di dalam kuil—
para Hiereus berdiri di depan patung yang rusak.
Wajah mereka tegang.
“…ini bukan manusia biasa.”
Salah satu dari mereka berbicara pelan.
“Tidak mungkin.”
Yang lain menatap ke arah potongan kepala patung itu.
“…ini… tantangan.”
Sunyi.
“…kepada dewa.”
Angin malam masuk melalui pintu yang terbuka.
Membawa rasa dingin.
Dan untuk pertama kalinya—
rasa itu muncul.
Bukan marah.
Bukan hinaan.
Namun—
kekhawatiran.
Di atas langit—
tidak ada yang berubah.
Namun di bawah—
sesuatu telah terguncang.
Dan seseorang—
baru saja memulainya.
...----------------...
...----------------...
Berita itu menyebar dengan cepat.
Seperti api yang menjalar di malam hari.
Dari pusat kota—
menuju jalan-jalan kecil—
hingga akhirnya mencapai tempat yang jarang diperhatikan.
Daerah kumuh di Kota Heimdall.
Seorang pria berlari kecil.
Napasnya terengah.
“Patungnya…!”
Orang-orang menoleh.
“Patung dewa di kuil… dihancurkan!”
Sunyi.
Beberapa detik—
tidak ada yang bereaksi.
Seolah mereka tidak percaya.
“…apa?”
“Lehernya dipotong!”
Suara mulai muncul.
“Siapa yang berani…”
Namun—
berbeda dari pusat kota—
tidak ada rasa takut yang tumbuh.
Yang muncul…
adalah sesuatu yang lain.
Harapan.
Seorang wanita tua tertawa pelan.
“…akhirnya.”
Seorang pria mengangkat kepalanya.
“…itu dia.”
Anak-anak yang sebelumnya diam—
mulai mendekat.
“…orang dari ramalan…”
Bisikan berubah menjadi suara.
“Dia datang…”
“Dia benar-benar datang…”
Wajah-wajah yang sebelumnya kosong—
perlahan berubah.
Ada cahaya di mata mereka.
Bukan karena kebahagiaan sederhana.
Namun karena sesuatu yang lebih dalam.
Keyakinan.
Seorang pria mengepal tangannya.
“…kalau itu benar…”
“…maka para dewa…”
Ia tidak melanjutkan.
Namun semua mengerti.
Seorang ibu memeluk anaknya.
“…mungkin kita tidak harus hidup seperti ini selamanya.”
Sunyi.
Namun bukan sunyi yang berat.
Sunyi yang penuh harap.
Di sudut lain—
Finn berdiri.
Di sampingnya—
Sasha.
Mereka saling berpandangan.
“…itu dia.”
Finn mengangguk pelan.
“…tidak mungkin orang lain.”
Sasha menatap ke arah pusat kota.
Matanya sedikit bergetar.
“…dia benar-benar melakukannya…”
Finn tersenyum tipis.
“…dan itu baru permulaan.”
Angin malam berhembus.
Namun kali ini—
tidak terasa dingin.
Untuk pertama kalinya—
tempat itu tidak terasa seperti akhir.
Namun—
awal.
Dan di antara mereka—
sebuah nama mulai terbentuk.
Belum diucapkan.
Namun sudah terasa.
Seseorang—
yang akan mengguncang langit.
Dan mungkin—
mengubah dunia.